18 Agustus 2018

Saat saya berkunjung ke Kamboja, saya tertarik dengan kisah tentang raja pendiri Kerajaan Khmer, yaitu Jayavarman II. Di awal abad ke-9, beliau mendirikan Kerajaan Khmer setelah menyatakan diri merdeka dari kekuasaan bangsa Jawa1). Tidak jelas bangsa Jawa mana yang menguasai sekitaran Kamboja, karena di sekitar masa ini kekuatan militer dan ekonomi yang besar di sekitaran Asia Tenggara kemungkinan adalah milik Kerajaan Sriwijaya2) atau milik Wangsa Syailendra3). Istilah “Jawa” sendiri sebenarnya membingungkan; karena menurut catatan pedagang Arab di jaman dahulu kala, Pulau Sumatera dan Pulau Jawa sama-sama disebut dengan istilah “Jawa”.4) Untuk yang ingin mempelajari lebih lanjut mengenai penggunaan istilah "Jawa" di dalam prasasti dari Jayavarman II, boleh membaca artikel karangan Arlo Griffits yang dimuat di dalam Jurnal Archipel.5)
Salah satu peninggalan Kerajaan Khmer: Angkor Wat.
Walaupun menarik, mengenai polemik asal-usul dan sejarah Kerajaan Sriwijaya ataupun Wangsa Syailendra tidak akan dibahas di sini. Saya lebih akan membahas tentang bagaimana Jayavarman II menyikapi kebebasannya dari kekuasaan bangsa lain.
Beliau mengangkat diri sebagai raja di atas sebuah bukit yang disebut dengan Mahendraparvata (saat ini namanya adalah Phnom Kulen) dan menyebut dirinya sebagai raja jagad raya (dalam bahasa lokal disebut sebagai Kamraten Jagad ta Raja). Pengangkatan dirinya ini tentunya mendapatkan dukungan dari masyarakat setempat, jadi kemungkinan dia memang memiliki latar belakang keluarga aristokrat. Sayangnya tidak pernah ada cerita mengenai asal-usul Jayavarman II ini. Bahkan nama aslinya dan dari keluarga apa dia berasal juga tidak ada yang tahu.
Yang jelas, begitu dia mengangkat diri menjadi raja, Jayavarman II berusaha untuk mengendalikan raja-raja yang lebih kecil di daerah sekitarnya. Kemungkinan usahanya ini berhasil, karena Kerajaan Khmer kemudian perlahan berkembang menjadi besar. Namun perkembangan arsitektur kerajaan Khmer baru berkembang setelah cucunya yang menjadi raja, yaitu Indravarman I. Beliau ini mulai mendirikan waduk yang luas dan candi yang cukup besar.
Makin lama, raja-raja Khmer gemar membangun waduk yang luas untuk mengelola irigasi dan candi nan mewah yang bisa digunakan untuk ritual keagamaan masyarakat banyak. Angkor Wat adalah salah satu buktinya. Sebetulnya polanya hampir mirip dengan Wangsa Syailendra, yang membangun banyak candi di sekitaran Jawa Tengah dan Yogyakarta, termasuk Candi Borobudur. Padahal, walau peninggalannya banyak, sampai sekarang kisah asal-usul Wangsa Syailendra, atau bahkan nama negara tempat pemerintahannya, tidak ada yang tahu secara pasti.
Borobudur, salah satu peninggalan Wangsa Syailendra.
Nah, kembali membahas tentang kemerdekaan. Setelah kemerdekaan didapat, lalu apa? Kalau melihat sejarah Kerajaan Khmer, mereka mengisi kemerdekaan dengan pembangunan. Selain membangun waduk dan kanal untuk irigasi, mereka juga membangun candi untuk pemujaan dan tempat belajar. (Iya, ada candi-candi yang dibangun untuk menjadi universitas atau tempat belajar publik.)
Kalau kita di Indonesia, yang hidup di masa merdeka ini? Apa yang dilakukan untuk mengisi kemerdekaan? Yang jelas, selayaknya sebuah negara yang terus berkembang, kemerdekaan ini diisi dengan pembangunan. Nah, pembangunan tidak harus membangun bangunan megah. Tidak semua orang harus jadi tukang batu atau pengukir patung. Di jaman modern ini, dimana dunia nyata dan dunia maya sudah bercampur menjadi satu, pembangunan dunia maya juga perlu digalakkan.
Pembangunan dunia maya, menurut pendapat saya pribadi, bukan berarti kita harus mengembangkan jaringan 5g atau menciptakan satelit canggih yang membantu penetrasi internet. (Ya kalau yang kualifikasinya memenuhi sih, silakan saja. Tapi saya sepertinya tidak punya kemampuan untuk itu.) Pembangunan dunia maya adalah bagaimana kita menciptakan dunia maya yang mendukung perkembangan bangsa Indonesia. Apa itu? Yang jelas, dimulai dengan penyebaran informasi yang akurat.
Tidak seperti jaman Wangsa Syailendra, yang tentunya penyebaran informasi bersifat lisan, saat ini penyebaran informasi lebih banyak dalam bentuk tertulis dan digital. Jadi, kalau saat ini kita hanya tahu tentang Wangsa Syailendra dari prasasti peninggalan mereka yang jumlahnya paling seratusan, data diri orang yang sudah meninggal tiga tahun yang lalu di facebook bisa dilihat orang sampai ke foto-foto pribadinya. Kebayang kan, betapa banyaknya informasi yang beredar, bahkan yang menyangkut ranah pribadi individual.
Pembangunan LRT (Light Rail Transit) di Jakarta. 
Begitu banyaknya informasi yang beredar sehingga orang semakin lama semakin susah menyaring kualitas dari informasi yang beredar. Nah, di sinilah muncul peran blogger dalam pembangunan dunia maya. Kita bisa posting tentang cara mewarnai rambut, tentang cara memakai hijab yang cantik, kisah jalan-jalan, atau pendapat pribadi tentang politisi tertentu. Semuanya sah-sah saja. Tapi tentunya, blogger sendiri juga perlu menjaga kualitas postingannya. Kalau pendapat pribadi, paling tidak, tidak menyebarkan fitnah. (Kalau maksudnya memang menjelek-jelekkan orang, ya tidak masalah, asal faktanya benar.) Kalau menceritakan kisah pribadi, ya tidak bohong. Dengan kita menjaga kualitas postingan kita, harapannya sih, pembaca mendapatkan informasi yang lebih berkualitas tanpa kebingungan memilih-milih.
Mungkin ada yang berpendapat, kemerdekaan semestinya diisi dengan kebebasan. Tapi sayangnya, kebebasan juga ada harganya. Tinggal di hutan tanpa ada yang mengatur, juga menimbulkan masalah. Hidup sendiri, berarti kalau ada masalah tidak ada yang membantu dan hal kecil bisa berarti fatal. (Boleh baca buku “Into the Wild” oleh Jon Krakauer.) Hidup bersama, berarti harus saling menjaga satu sama lain dan menghormati nilai-nilai bersama. Artinya salah benar tidak ditentukan oleh diri sendiri, namun oleh nilai-nilai masyarakat. (Boleh baca “Crime and Punishment” oleh Fyodor Dostoevsky.)
Di masa pembangunan ini, dimana blogger juga berperan aktif secara ekonomi maupun politik (bahkan kadang-kadang juga dalam hal keamanan negara), tentunya postingan dan pendapat kita menjadi bagian dari pendapat publik. Salah satu bagian dari tanggung jawab kita sebagai warga negara dan masyarakat, sebagai blogger yang menjadi salah satu corong suara masyarakat, adalah menjaga kualitas informasi di dunia maya. Termasuk dengan menyeleksi informasi yang ditampilkan di blog masing-masing. Jangan sampai di masa yang akan datang ada kerancuan informasi, sama seperti orang jaman dahulu yang rancu mengenai nama “Jawa”.
Untuk memberikan informasi akurat bagi generasi mendatang.
Catatan: Postingan ini adalah pendapat pribadi untuk menyambut ulang tahun kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 2018.

1) https://en.wikipedia.org/wiki/Khmer_Empire
2) https://id.wikipedia.org/wiki/Sriwijaya
3) https://id.wikipedia.org/wiki/Wangsa_Sailendra
4) https://medium.com/@siwaratrikalpa/the-two-javas-3e798e8a1bd8
5) Griffiths, Arlo. The Problem of the Ancient Name Java and the Role of Satyavarman in Southeast Asian International Relations Around the Turn of the Ninth Century CE. In: Archipel, volume 85, 2013. pp. 43-81. (DOI : https://doi.org/10.3406/arch.2013.4384)

33 Komentar:

  1. Setuju dengan menjaga kualitas informasi di dunia maya tersebut Mba. Karena jejak digital ini kadang jahat banget (bagi yang pernah tersandung kasus misalnya). Kita bebas, tapi tetap ada ruangnya.

    BalasHapus
  2. Kurasa memang benar adanya kalau duluuu ..., sebenarnya suatu daratan seperti Jawa dan Sumatera satu kesatuan wilayah daratan, ngga terpisah oleh lautan seperti sekarang ini.


    Sependapat, informasi yang kita cantumkan di blog harus sedetil mungkin sesuai fakta.

    BalasHapus
  3. Saya lebih ke perayaannya. ikut lomba karung jatuh mlulu, karungnya kependekan. Dicurangi. he he he.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha ... berarti harus ganti haluan ikut lomba makan krupuk.

      Hapus
  4. internet surganya informasi tapi bisa juga jadi boomerang buat kita sendiri kalau kitanya gampang kesulut sama info-info hoax.. apalgi skrang yng lagi booming itu ttg politik..

    antra satu kubu ke kubu lainnya terlihat saling berlomba buat menjatuhkan.. setidaknya itu yang saya liat.. agak miris. pengen tutup telinga sama mata, tapi selalu aja terjebak di pembahasan itu lagi, itu lagi...

    semoga kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik.. Aminn..

    ngomog-ngomong pembukaan ASIAN Games bagus banget tau.. eheheh #OOT

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya.... nonton kok, di TV. Boleh lah, tim panggungnya berbangga hati karyanya dipuji banyak orang.

      Hapus
  5. Yaa intinya Mengisi kemerdekaan tidak harus dengan bermacam-macam aneka perlombaan.😄

    Bisa juga dengan mengunjungi tempat2 bersejarah yang mempunyai nilai atau kenangan sebelum kemerdekaan.

    Atau juga melihat hasil karya pembangunan negara kita setelah hampir 73 tahun merdeka..😄😄

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mengunjungi tempat-tempat bersejarah tuh, oke banget. Tapi kalau terus ternyata tempatnya nggak terawat, jadi bete sendiri.

      Hapus
    2. Nah...di sini problemnya. Apalagi jika tidak ada guide. bagaimana saya bisa tau, sejarah tempat yang saya kunjungi?

      Hapus
    3. Ahaha ... betul juga. Mungkin masalahnya di promosinya ya.

      Hapus
  6. Wha, baru tau saya kalo bangsa Jawa ada 'keterlibatan' dalam kerajaan di Kamboja.

    Boleh saran nggak ya mba? lebih enak dibaca pas gambarnya diperbesar biar proporsional aja gitu ehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Usul ditampung. Saya sengaja pakai gambar yang ukurannya nggak besar biar uploadnya gampang dan ringan kalau dibuka di handphone. Tapi sebenarnya sih, soal tampilan bisa dicoba. Nanti saya uji coba dulu ya. Terima kasih masukannya.

      Hapus
  7. saya juga suka mengunjungi tempat-tempat bersejarah di mana pun. soalnya dari tempat-tempat seperti ini saya bisa belajar banyak tentang sejarah sebuah negara, kota, ataupun suku.
    selain itu tempat bersejarah fotogenik juga sih. hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahaha ... iya. Tempat-tempat bersejarah, apalagi yang dari jaman dahulu kala, biasanya bentuknya unik dan cocok untuk foto-foto. Makanya saya suka jalan-jalan ke candi-candi.

      Hapus
  8. Wah tulisan ini layak dianalisis oleh guru sejarah. Biar mendebatkannya secara ilmiah. Terutama paragraf pertama. Mohon izin shere di grup internal. Ingin diskusi dengan beberapa teman-teman guru sejarah. Izin.

    Terima kasih telah menghadirkan konsep jas merah. Walau kisahnya tentang negeri seberang tetapi masih layak untuk didiskusikan oleh pegiat sejarah. Terima kasih telah menghadirkan artikel yang berkualitas. salam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silakan, Pak Guru. Memang ilmu hanya bisa berkembang dengan diskusi yang dewasa dan terbuka.

      Hapus
  9. Sekarang informasi mudah didapat, cuma emang balik lagi ke pengguna yang mesti pinter ngolah informasi yang didapat, apalagi sekarang banyak banget hoax bertebaran. BTW Referensi buku nya banyak, nampaknya mbak dee suka baca buku nih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar. Mencari info yang benar itu juga tergantung minat dan usaha si pengguna. Hahaha ... dulu pas kuliah hobi banget baca buku. Setelah kerja, jadi semakin jarang.

      Hapus
  10. wah, artikel ini keren sekali Mbak Dyah.
    setuju banget kalau dengan adanya kita (blogger) ikut serta menyebarkan info dan menyuarakan publik.
    kualitas tulisan dan informasi di dalamnya harus jelas, jangan sampai salah.
    jadi kita benar2 harus mendapat informasi dari sumber yang benar pula.
    terima kasih sudah sharing :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah berkunjung. Betul, tapi mencari sumber yang benar itu juga PR di dunia internet. Apa boleh buat, saat ini memang memilah berita harus menjadi skill yang diajarkan di sekolah juga.

      Hapus
  11. Setuju sekali, Mba..saat ini informasi semakin susah sekali disaring. Beruntung sekali bisa jadi blogger yang dapat memberikan informasi bermanfaat buat semua orang. Semoga jangan sampai ikutan sebar fitnah atau hoax yang nggak banget...

    BalasHapus
  12. Woow... Kerajaan Sriwijaya bisa sampai ke Kamboja ya wilayahnya? Kalo Majapahit, wilayahnya sampai mana ya Mbak? Wkwk... Jadi tertarik pengen belajar sejarah lagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah... perkara yang pengaruhnya sampai Kamboja itu Sriwijaya atau bukan, juga masih jadi perdebatan sih. Tapi memang, info sepintas begini jadi bikin ingin belajar sejarah. (Majapahit? Wah, saya belum browsing-browsing lagi nih.)

      Hapus
  13. Baru tahu kalau ada bangsa Jawa dulu memiliki kekuasaan yang melebihi Indonesia saat ini. Jangan-jangan waktu pelajran sejarah, saya tidur ya, hehehe.
    Salam blogger, semoga bisa mengisi kemerdekaan dengan informasi yang akurat di dunia maya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahaha... saya juga baru tahu, kok.

      Hapus
  14. Harapannya sih begitu mbak. Bloger (khususnya bloger Indonesia) bisa membuat konten yang sesuai dengan fakta di lapangan, tanpa ada embel-embel tulisan hoax atau informasi yang masih simpang siur kebenarannya.

    Setahu saya candi ya dibangun khusus buat ibadah, ternyata ada juga yang dibuat jadi universitas :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Istilah candi sebetulnya merujuk pada bangunan kuno dari batu. Jadi, fungsinya bisa macam-macam. Kalau nggak salah, candi segaran di Trowulan bentuknya kolam lho.

      Hapus
  15. Waaah sayangnya pas ke siamrep dulu, aku ga sempet datangin angkor wat. Krn wkt itu lbh tertarik utk melihat dan membaca sejarah ttg museum s21 nya dan ladang pembantaian di pnom penh.. Makana di angkor wat aku cm transit sehari. Dulu itu mikirnya, ah, pasti bagusan borobudur, makanya ga kesana. . Yg mengenai sejarah2 masa lalu gini, aku senang bacanya.. Kdg2 sampe bayangin, gimanaaa cara org zaman dulu, dgn keterbatasan teknologi bisa membangun candi semegah itu :o

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Kak. Jaman sekarang sudah ada bor dengan mata intan, GPS buat menentukan arah dan letak, dan juga ada crane untuk mengangkat barang-barang. Jaman dulu kayaknya semuanya hand-made. Kebayang betapa ribetnya pembuatan candi-candi itu.

      Hapus