13 Juli 2019

Bulan April yang lalu saya sekeluarga berkesempatan untuk jalan-jalan ke Penang, Malaysia. Tujuan utama kami adalah George Town. Keistimewaan dari kota George Town ini adalah, pusat kota tuanya merupakan Situs Warisan Dunia UNESCO. Pusat kotanya luasnya  sekitar 2,6 km2, lho. Bisa puas jalan-jalan di sini.
Jalan-jalan ke George Town nggak akan puas kalau cuma melihat-lihat bangunan dan karya seni, tanpa mencicipi makanan khas setempat. Kami sekeluargapun juga tidak mau ketinggalan mencobai beberapa makanan khas Penang. Berikut beberapa tempat wisata kuliner yang kami coba:

Nasi kandar
Nasi kandar.
Nasi Kandar di kawasan Little India
Nasi kandar sebetulnya adalah nasi gurih dengan pilihan lauk, sesuai yang tersedia. Hidangan yang populer di Malaysia ini dibawa oleh pedagang muslim dari India. Oleh sebab itu, lauk yang disediakan di rumah makan penjual nasi kandar umumnya bumbunya tajam sebagaimana umumnya masakan India. Buat yang mencari makanan halal, nasi kandar adalah salah satu pilihan karena dijamin halal.
Kami sekeluarga makan di rumah makan Ros Mutiara di kawasan Little India. Menurut papan keterangannya, rumah makan ini sudah ada sejak tahun 1948. Penjualnya mengerti bahasa Melayu jadi tidak ada masalah dalam berkomunikasi dengan kami yang orang Indonesia ini. Oh ya, di Little India ada beberapa rumah makan nasi kandar, jadi ada banyak pilihan.
Rumah makan ini menyediakan pilihan dua jenis nasi: nasi putih biasa atau nasi berbumbu yang butir-butirnya panjang. Karena kami penasaran, kami semua memilih nasi yang butirnya panjang semacam nasi briyani itu. Bumbunya sangat berasa. Pilihan lauk dapat dilihat di etalase. Pembeli bisa memilih sendiri lauk apa yang diinginkan. Saya tidak terlalu ingat lauk apa saja yang kami pilih, yang jelas ada telur dan ada ayam juga. Total pengeluaran kami bertiga adalah RM 38,30.

street vendor
Pedagang di Chulia Street Night Hawker Stalls.
Chulia Street Night Hawker Stalls
Tempat wisata kuliner yang satu ini sudah terkenal sekali sebagai surga makanan di malam hari di George Town. Bertempat di Chulia Street, area ini di malam hari dipenuhi oleh pedagang kaki lima yang berjualan makanan. Para pembeli bisa duduk di meja-meja mungil yang disediakan di pinggir jalan. Ada juga warung-warung yang menjual minuman yang menyediakan tempat duduk.
Sesuai namanya, tempat ini baru ramai pedagang di malam hari. Di siang hari, tempat ini adalah deretan ruko-ruko tua. Saat kami sekeluarga datang kemari, seluruh tempat duduk sudah dipenuhi oleh pengunjung dan seluruh penjual dikerubungi oleh calon pembeli. Untuk bisa dapat tempat duduk, kami harus mondar-mandir dan menunggu dengan sabar.
Pilihan makanan ada banyak, dari mie, kuetiaw, laksa, dan lain-lain. Harga bervariasi dari satu penjual ke penjual yang lain. Oh ya, nggak ada keterangan halal, ya. Nah, bisa dikatakan, berbagai macam makanan khas Penang ada di sini. Saya makan semacam kuetiaw dengan bakso kecil-kecil dan adik saya makan fried oyster, yaitu semacam omelet telur dengan kerang.

jetty chew
Ci cong fan di area makan Jetty Chew.
Area makan di Chew Jetty
Di depan area Chew Jetty, di kawasan Clan Jetty, ada tempat makan yang sudah buka dari pagi. Karena waktu itu kami memang hendak ke Clan Jetty, kami mampir makan pagi di sini.
Kami memesan kaya toast, lengkap dengan telur setengah matang dan secangkir kopi. Kaya toast adalah roti bakar yang diisi kaya, yaitu campuran santan, telur, gula, dan pandan. Kaya toast adalah makanan yang umum dijumpai di Malaysia. Lumayan, dapat sarapan pagi a la Malaysia.
Selain itu, kami juga memesan chi cong fun (atau disebut juga ci cong fan) Makanan ini bentuknya seperti kuetiaw yang digulung-gulung dan disiram kecap asin plus kecap wijen. Camilan khas area Kanton di China ini juga umum dijual di Malaysia. Katanya di Medan makanan ini juga banyak dijual.

Penjual asam laksa di George Town, Penang.
Asam Laksa Penang di My Own Cafe
Di hari kedua kami di George Town, kami ingin mencoba asam laksa Penang yang terkenal itu. Browsing sana-sini mencari penjual asam laksa ternama, saya tidak berhasil menemukan tempat makan yang mudah dijangkau dan sejalan dengan tempat-tempat yang kami kunjungi. Di saat itulah tiba-tiba kami menemukan My Own Cafe di Cannon Street. Tempat makan yang memampang tulisan Penang asam laksa langsung menarik perhatian kami. Jadi, masuklah kami kemari.
Asam laksa adalah suguhan laksa (sejenis mie) dengan kuah ikan yang rasanya asam dan pedas. Asam laksa yang saya makan rasanya benar-benar asam dan pedas. Jujur saja, saya kurang suka makanan yang masam begitu. Tapi bolehlah, mencoba makanan khas Penang ini.
Oh ya, My Own Cafe ini menyebutkan bahwa makanan yang disediakan tidak mengandung babi. Jadi, hidangan selain asam laksa, seperti kuetiaw dan nasi goreng, juga bisa dimakan oleh yang mencari makanan yang tidak mengandung babi.

Ho Ping Cafe Penang
Kedai kopi Ho Ping.
Kedai Kopi Ho Ping
Kedai kopi ini adalah salah satu tempat kuliner yang menyediakan minuman (antara lain kopi) yang bekerja sama dengan pedagang makanan kaki lima di sekitarnya. Kedai kopi ini terletak di perempatan antara Penang Road dan Kampong Malabar. Kedai kopi ini menjual banyak makanan, termasuk kuetiaw, nasi goreng, mie goreng khas Penang, dan juga asam laksa. Kabarnya, kedai kopi ini sangat terkenal di antara penduduk George Town.
Orang boleh duduk di kedai kopi ini untuk makan, dengan syarat: paling tidak harus ada pesanan satu minuman per meja. Kenapa? Ya jelas, yang punya meja adalah pedagang minuman, termasuk kopi. Kan kedai kopi. Aturan di tempat ini (dan juga di pusat kuliner lain di George Town) adalah: makanan dibayar pada saat diantar ke meja. Berhubung saat kami mencoba kedai ini kami sudah masih kenyang, jadi kami cuma membeli es kopi saja. Catatan tambahan, tempat ini tutup setiap hari Selasa.

charsiu penang
Penjual charsiu enak di Penang.
Wai Kei Cafe
Di hari ketiga, kami berjalan-jalan mencari makan pagi. Saat perut sudah mulai kelaparan, kami menemukan tempat makan ini. Masuklah kami kemari, dan menemukan meja sudah hampir penuh dengan orang-orang yang tidak makan, namun hanya minum mengobrol. Babi panggang yang menggantung di di etalase diabaikan para pengunjung. Aneh kan? Ternyata, stok makanan char siew (charsiu alias babi panggang merah) di kios Wai Kee belum datang. Para pengunjung yang setia menunggu ini adalah penggemar charsiu yang rupanya menjadi hidangan favorit di tempat ini.
Wai Kei Cafe terletak di Chulia Street. Menurut internet, hidangan favorit di cafe ini adalah charsiu. Nasi campur dengan lauk charsiu plus babi panggang, ngohiang, sate, dan siomay babi juga ada. Favorit semua orang adalah charsiu. Konon, siang hari stok charsiu di sini bisa habis terbeli. Oh ya, charsiu-nya memang enak banget. Di mulut langsung lumer. Pantas tempat ini populer di kalangan penduduk setempat.

es cendol es kacang penang
Es cendol dan es kacang khas Penang.
Penang Road Famous Teochew Chendul
Penjual es cendol khas Penang yang sudah mulai berjualan sejak tahun 1936 ini adalah bagian dari sejarah kota George Town. Berhubung kami kebetulan lewat, kamipun mampir untuk mencicipi es cendol yang terkenal itu. Dan ... memang es cendol yang dijual di sini rasanya enak. Selain es cendolnya, yang juga layak dicicipi adalah ice kacang alias es kacang merah. Ada juga rojak Penang, yaitu potongan-potongan buah yang diberi bumbu petis dan ditaburi kacang yang diremukkan.
Tempat makan ini terletak di sekitaran Penang Road, tepatnya di Lebuh Keng Kwee. Rumah makannya rame banget. Untuk bisa dapat tempat duduk harus antre menunggu orang yang sedang makan. Untuk yang sedang makanpun, juga sebenarnya agak kurang nyaman karena sudah ditunggui oleh pengunjung yang baru datang. Untuk yang tidak merasa perlu makan di tempat, ada “cabang”-nya beberapa puluh meter dari rumah makan utama, berupa gerobak dorong yang menjual es kacang. Jangan ditanya antrenya, panjang banget.
Tempat yang memang populer ini juga terkenal di kalangan turis. Jadi, yang antre di sini tidak hanya orang lokal namun juga turis asing. Untuk yang ingin tempat makan cendol khas ini di tempat yang lebih nyaman, sebenarnya Penang Road Famous Teochew Chendul buka cabang di tempat lain. Tapi saya hanya tahu rumah makan utama yang di Lebuh Keng Kwee ini.
Itulah tempat-tempat wisata kuliner yang dikunjungi oleh kami sekeluarga saat bewisata ke George Town, Penang, Malaysia. Ada yang mau menambahkan tempat wisata kuliner yang lain?
Selanjutnya
Artikel ini sudah yang terbaru.
Sebelumnya
Posting Lama

10 Komentar:

  1. Penang ini memang surganya makanan yaaa, nggak bisa puas kalau cuma sehari dua hari doang, karena terlalu banyak makanan enaknya, sampai ada international food festival juga hehehehe. Jadi mau ke Penang lagi, icip-icip beberapa rekomendasi yang mba berikan :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya... soalnya makanan di sana kan bervariasi akibat pengaruh budaya internasional. Jadi rasanya memang unik.

      Hapus
  2. wah jadi kangen Pulau Penang, udah lama aku nggak kesini lagi.
    kangen sama nasi kandar & pasembor.
    kalo aku sih belum pernah nyobain kedai-kedai di atas, soalnya selalu jajan di warung halal melayu atau india mamak.
    yang pasti sama-sama enak lah ya kalo makanan di Penang :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah, sama saja enaknya. Kan taste orang sana...

      Hapus
  3. Wah, ternyata di Penang ada es cendol juga ��

    BalasHapus
  4. Nice post mba.
    Penang tuh kota populer bagi warga area Sumatera yang yang ingin berobat. Sepertinya kualitas medis di sana lebih baik dari yang ada di sini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin juga karena Penang lebih dekat daripada Jakarta?

      Hapus
  5. Kayak mirip lotek nasi kandar sekilas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beda... itu dengan lauk. Seperti nasi Padang.

      Hapus