9 Mei 2020


Hampir dua tahun yang lalu saya jalan-jalan ke sebuah museum yang menarik di Tokyo, Jepang. Edo-Tokyo Museum, demikian namanya, adalah museum yang menggambarkan kehidupan masyarakat Tokyo di jaman Edo. Berhubung ternyata saya belum pernah menulis tentang museum yang saya kunjungi bersama dengan teman saya ini, kayaknya bisa juga nih buat mengisi blog sementara saya nggak bisa pergi kemana-mana untuk mencari bahan isian blog yang lebih baru.
Ke museumnya sudah dua tahun yang lalu. Tapi baru sekarang nulis artikelnya. Males banget ya?
Edo adalah nama kota Tokyo sebelum tahun 1868. Edo sendiri artinya adalah “muara”. Tidak salah juga, karena kota Edo memang letaknya di tepi teluk. Pusat kota Edo adalah kastil Edo yang dibangun di tahun 1457. Kastil ini dikuasai oleh klan Tokugawa di tahun 1603 dan menjadi kiblat politik selama bertahun-tahun sampai dengan restorasi Meiji di tahun 1868. Kini kastil Edo menjadi istana Kaisar Jepang.
Nah, karena kota Edo adalah pusat politik di era kekuasaan klan Tokugawa, maka jaman tersebut juga sering disebut sebagai jaman Edo. Jadi, Edo adalah nama Tokyo di jaman Edo. (Eh, jelas kan ya?) Kehidupan masyarakat kota Edo (sekarang Tokyo) di jaman Edo tentunya berbeda jauh dengan kehidupan masyarakat kota Tokyo sekarang. Selain adanya pergeseran budaya, tentunya juga ada perbedaan teknologi dan kemajuan jaman.
Edo-Tokyo Museum adalah museum dimana pengunjung bisa mempelajari budaya masyarakat jaman Edo, sejarah Jepang di jaman Edo, dan juga mencoba merasakan kehidupan masyarakat di kaman itu. Tidak hanya memamerkan barang-barang jaman dulu, museum ini juga memiliki diorama kehidupan jaman Edo yang bisa dimasuki oleh pengunjung.
Miniatur yang menggambarkan Tokyo di jaman Edo.
Pertama kali masuk, kita akan melewati jembatan yang mewakili jembatan Nihonbashi yang merupakan titik 0 di kota Tokyo. Di bawah replika jembatan, kita bisa melihat diorama gedung teater tradisional Jepang. Dari jembatan ini kita akan dibawa ke tempat pameran yang terkait dengan kastil Edo. Selain terdapat miniatur kastil Edo, ada juga lukisan yang menggambarkan keadaan kastil Edo.
Setelah itu kita dibawa turun ke lantai berikutnya dan kita dapat melihat seperti apa kehidupan masyarakat di jaman Edo. Ada diorama rumah-rumah di jaman Edo yang disebut Nagaya. Menurut saya bentuknya lebih mirip dengan rumah petak di Jakarta. Bedanya, rumah petak jaman dulu terbuat dari kayu. Rumah petak adalah rumah orang kebanyakan karena dari jaman Edo harga tanah di sekitar Tokyo sudah mahal. Rumah petak ini umumnya disewakan oleh tuan tanah dan setiap unitnya terdiri dari ruang utama dengan bagian tepinya untuk tidur atau aktivitas lainnya. Sumur, toilet, dan tempat sampah terdapat di area bersama dan dipakai oleh seluruh penghuni di kompleks tersebut.
Karena orang masak, makan, dan tidur di rumah yang terbuat dari kayu dan rumah-rumah itu berdempet-dempet, maka sering terjadi kebakaran. Ada satu sesi di dalam museum yang membahas tentang kebakaran di jaman itu. Selain ada peta yang menggambarkan tentang kebakaran-kebakaran besar di jaman Edo, ada juga penggambaran tentang tim pemadam kebakaran yang konon selalu bekerja setiap hari karena kebakaran adalah bagian yang rutin di dalam kehidupan masyarakat Edo.
Sampai-sampai ada peta salah satu kebakaran hebat di Tokyo jaman itu.
Di bagian lain, digambarkan juga publikasi di jaman Edo, termasuk replika cetakan-cetakan di jaman itu. Penulis novel dan buku adalah jabatan yang cukup terpandang di masyarakat Edo, dan novel yang diterbitkan sangatlah beragam – dari kisah sejarah, satire politik, sampai kisah erotis – sebelum kemudian secara bertahap pemerintah jaman Edo melakukan sensor untuk karya-karya itu. Toko buku adalah toko yang menjadi favorit banyak orang pada waktu itu. Untuk yang kurang mampu membeli buku, ada juga persewaan buku.
Selain bagian yang menggambarkan kehidupan sehari-hari, ada juga bagian dari museum yang menceritakan tentang perekonomian di jaman Edo. Selain menjelaskan tentang distribusi makanan dari daerah pertanian (dari sekitar Osaka) ke pusat kota di Tokyo, museum ini juga menjelaskan tentang konsep pertokoan di jaman Edo. Di jaman itu, cikal-bakal toserba sudah ada di pusat kota.
Bagian terakhir dari Edo-Tokyo Museum adalah bagian yang menggambarkan kehidupan seni di jaman Edo. Distrik hiburan adalah salah satu bagian yang penting dalam budaya masyarakat Jepang. Di bagian ini, museum menampilkan replika kereta yang dipakai di dalam perayaan dan kuil yang bisa dipindahkan dan dibawa untuk arak-arakan.
Museum ini juga memiliki replika gedung teater kabuki. Kabuki adalah drama klasik Jepang. Di jaman Edo, kabuki hanya boleh dimainkan oleh pria, jadi seluruh tokohnya, baik pria maupun wanita harus diperankan oleh pemain pria. Padahal sebelumnya teater kabuki justru diprakarsai oleh seorang penari wanita. Walaupun tidak ada wanita yang naik panggung di teater kabuki, pertunjukkan ini tetap populer hingga saat ini.
Berfoto di depan diorama teater kabuki.
Area replika distrik hiburan cukup besar di museum ini, karena di jaman Edo, dan sampai sekarang, daerah hiburan memiliki pengaruh besar bagi masyarakat. Peningkatan perputaran ekonomi, kasak-kusuk politik, dan juga metode penyebaran informasi bagi masyarakat tetap paling afdol melalui arena hiburan rakyat. Terakhir para pengunjung bisa berfoto-foto di depan diorama gedung teater tradisional Jepang yang tadinya dilihat oleh pengunjung dari atas jembatan saat pertama kali masuk museum.
Edo-Tokyo Museum terletak di stasiun Ryogoku, sebuah stasiun kereta Metro di jalur Oedo Line. Alamat lengkapnya adalah 1-4-1 Yokoami, Sumida-ku, Tokyo 130-0015. Letaknya masih di tengah kota, tidak terlalu jauh dari Akihabara, Asakusa, dan Tokyo SkyTree. Gedung museumnya sendiri unik karena bentuknya lebih mirip gudang dan museumnya terletak di lantai 5 dan 6. Pintu masuk museum di lantai 6. Jadinya, untuk ke museum ini kita harus naik eskalator yang cukup panjang.
Salah satu hal yang menyenangkan dari mengunjungi museum adalah kita bisa mempelajari budaya dan kebiasaan ataupun pengetahuan yang tidak umum kita jumpai di kehidupan sehari-hari. Itulah sebabnya saya suka jalan-jalan ke museum. Museum di Jakarta juga banyak yang juga menarik, lho. Hmm ... jadi ingin bongkar-bongkar foto-foto dulu, siapa tahu ada kunjungan ke museum lain yang belum sempat ditulis di blog. Sementara belum bisa jalan-jalan, yah sudah, lihat-lihat kenangan jalan-jalan yang ada dulu saja. Stay safe!

2 Komentar:

  1. Menarik banget nih museumnya, bisa mengetahui gimana kehidupan masyarakat Jepang di zaman Edo.

    Selama ini sih aku taunya sejarah Jepang cuma dari anime doang, tapi itukan udah banyak tercampur ama fiksi, tapi kalo ngunjungi museum ini jadi bisa tau sejarah aslinya.

    Udah gitu banyak hal menarik juga yang bisa diketahui dari museum ini, kayak kebakaran yang udah kayak agenda rutin sampe novel erotis pun ada di zaman setua itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Edo jaman dulu sudah menjadi kota metropolitan, lho. Walau metropolitan kuno, tetap saja penduduknya banyak dan relatif maju untuk jamannya. Cuma, kebakarannya itu yang menyeramkan yah.

      Hapus