20 Juli 2020

Saya termasuk orang yang tidak suka wisata ke tempat-tempat yang bernuansa horror atau memiliki sejarah yang menakutkan. Makanya waktu saya pergi ke Phnom Penh di Kamboja, saya tidak berminat untuk jalan-jalan ke tempat-tempat peringatan kekejaman Khmer Merah. Saya juga nggak suka film horror dan tidak pernah tertarik dengan gosip-gosip yang bernuansa hantu atau kisah menyeramkan.

Alasannya simple, saya nggak suka mimpi buruk. Bangun malam-malam gara-gara ketakutan berasa ada monster yang muncul di belakang kita, nggak lucu kan? Tapi sebetulnya bangun malam-malam karena ketakutan itu lebih banyak dialami oleh anak-anak daripada orang dewasa, lho. Saya sendiri sebetulnya sudah lama nggak merasa berasa mimpi buruk. Jangan sampai lah ya ...

Gangguan tidur yang membuat orang terbangun malam-malam sebetulnya tidak langka, ya. Mungkin semua orang pernah mengalaminya. Tapi jenis gangguannya bervariasi, dari yang hanya untuk periode tertentu, sampai yang berkelanjutan dan butuh penanganan khusus.

Wisata bisa jadi menyenangkan. Tapi ...

Ada satu jenis gangguan yang bisa terjadi, namun lebih umum pada anak-anak, yaitu night terror. Night terror bukan mimpi buruk ya, karena night terror adalah episode dalam tidur dimana anak mengalami gejala ketakutan seperti berteriak-teriak, memukul-mukul, dan menangis, namun tetap dalam kondisi tidur. Kalau mimpi buruk, ya mimpi yang menakutkan yang umumnya masih bisa kita ingat saat terbangun.

Episode gangguan night terror ini dapat terulang dan terjadi pada sepertiga awal fase tidur malam. Bahkan, kadang-kadang night terror disertai dengan sleepwalking, atau orang melakukan hal-hal seolah bangun padahal sedang dalam kondisi tidur. Umumnya, penderita tidak ingat apa yang terjadi pada malam dia mengalami gangguan. Akan tapi, orang lain yang ada di dekatnya, apalagi orang tua, tentunya khawatir kalau hal ini terjadi terus-terusan.

Penyebab gangguan night terror belum dapat ditentukan dengan pasti, namun umumnya yang mengalami gangguan ini memang anak-anak karena belum matangnya sistem saraf pusat. Anak-anak yang mengalami night terror umumnya akan sembuh dengan sendirinya saat mulai beranjak dewasa, mungkin karena sistem syarafnya semakin matang.

Kurang tidur, kelelahan, stres, dan demam bisa menjadi faktor yang dapat menyebabkan terjadinya night terror. Oleh sebab itu, jika anak pernah mengalami gejala gangguan seperti berteriak-teriak, ketakutan yang luar biasa, menangis, atau bahkan halusinasi, orang tua perlu memperhatikan aktivitas harian anak-anaknya. Bahkan kalau perlu, jadwal kegiatan, termasuk makan dan tidurnya dicatat dengan lengkap.

Untuk anak-anak yang mengalami gejala night terror, orang tua perlu tetap tenang dan membantu anak-anak melewatinya. Jangan membangunkan anak saat mengalami episode night terror. Hal ini bisa membuatnya merasa terganggu dan lebih mudah marah. Dampingi saja, dan peluk jika anak membolehkannya. Kalau hal ini disertai dengan tindakan seperti orang bangun (misalnya mengambil barang atau berjalan), pastikan barang-barang berbahaya dijauhkan dari anak. Tunggu sampai dia tertidur.

Buat orang tua yang senang wisata keluarga, tentunya akan khawatir kalau saat sedang jalan-jalan anak mengalami gangguan tidur. Apalagi kalau sebelumnya anaknya pernah mengalami hal tersebut. Nah, berikut beberapa trik yang dapat dilakukan oleh orang tua untuk mengurangi resiko night terror saat jalan-jalan:

Pendekatan pada anak

Kalau anak pada dasarnya tidak suka berada di tempat baru (misalnya, kamar hotel) atau tidak suka bertemu orang banyak (misalnya, keramaian di tempat wisata), hal ini harus dikomunikasikan pada anak terlebih dahulu. Untuk anak kecil, yang masih bisa tidur bersama orang tuanya, mungkin perlu diyakinkan bahwa orang tua tetap akan menjaganya bahkan saat tidur. Jangan memaksa anak untuk melakukan hal-hal yang tidak disukai. Nanti ketika mereka semakin besar, rasa keingintahuan mereka akan membuat mereka ingin melakukan hal-hal baru yang menarik.

Jadwal yang menyenangkan anak

Yang jelas kalau jalan-jalan bersama dengan anak, nomer satu ya maunya si anak, ya. Bepergian ke tempat yang memang disukai anak (misalnya melihat dinosaurus atau patung Gundam kalau memang hobinya itu) pastinya membantu anak merasa nyaman saat jalan-jalan. Jadwal harus cukup longgar, jadi anak tidak kecapaian. Walaupun dia nampak masih senang melihat-lihat banyak hal, tapi tetap saja sebenarnya badannya bisa kecapaian.

Jaga beberapa rutinitas yang menyenangkan anak

Mungkin anak suka dibacakan cerita sebelum tidur, atau dia suka dibuatkan minuman segar di pagi hari, hal ini juga bisa tetap dilakukan saat bepergian. Kalau anak memiliki rutinitas yang tidak umum, seperti harus menghitung sampai tujuh sebelum mandi atau menaruh boneka beruang buluk di sampingnya sebelum tidur, ya ikuti saja. Yang agak repot adalah kalau anak hobinya main game online, ya. Nggak bisa lepas handphone bahkan saat mengunjungi tempat suci sekalipun. Tapi kalau ada sesuatu yang menarik perhatian mereka, mereka pasti akan melepaskan game dan memilih menikmati hal baru itu.

Makan sehat dan istirahat cukup

Menjaga kesehatan anak dengan makan-makanan yang bergizi dan teratur tetap harus dilakukan meski sedang jalan-jalan. Mungkin, di saat bepergian makanannya tidak biasa dimakan di rumah. Jadi, perlu ada bekal tambahan yang pasti disukai anak. Kalau anak di rumah memang sudah dibiasakan mencoba berbagai makanan, bisa dicoba untuk makan makanan lokal. Kalau anak tidak suka, bekal tambahan bisa membantu agar anak tetap makan meskipun jalan-jalan ke tempat yang jauh. Selain makan yang teratur, tentunya istirahat juga harus teratur. Oleh sebab itu, mengatur jadwal menjadi penting. Saran saya sih, kalau bawa anak kecil, jangan ikut tour kelompok yang jadwalnya padat. Jalan-jalan sendiri saja ke tempat yang menyenangkan.

Konsultasi dulu sebelum berangkat

Kalau merasa anak mengalami gangguan night terror, orang tua bisa berkonsultasi dengan dokter dulu. Kalau gangguannya cukup parah, mungkin rencana wisata bisa dibatalkan dulu. Cari dokter nggak ribet, kok. Supaya praktis, konsultasi saja lewat halodoc. Cukup download aplikasinya dan konsultasikan masalahnya dengan dokter yang berpengalaman dan terverifikasi. Praktis dan terpercaya.

Yang paling penting, orang tua memberikan rasa aman pada anak, dan orang tua merasa nyaman dengan hubungannya dengan anak tersebut. Ini hal yang paling utama yang membantu anak tumbuh dewasa dan, semoga, juga bisa lepas dari gangguan tidurnya.

8 Komentar:

  1. Anakku yg pertama sepertinya nurun banget aku sifat dan hobinya mba :D. Krn aku paling sukaaaaak banget ke tempat2 extreme yg mana pernah terjadi hal2 berdarah dulunya, makanya tempat kayak killing field pnom Penh,s21, lubang buaya, museum Jend Nasution dan Ahmad Yani, itu slalu jd favoritku .

    Nah si kakak, yg sempet ngeliat foto2ku pas di Kamboja, lgs minta tuh diajakin kesana.mungkjn Krn aku srg cerita soal sejarah kali yaaa, jd dia bukannya takut malah penasaran mau liat lgs. Kalo sdg ga pandemi udh aku book ini tiketnya ksana :D.

    Yg bikin aku happy sih, pas aku bungy jumping di Macau tower aja, itu si Kaka lgs minta ikutan juga wkwkwkwkwk. Sayangnya Krn umurnya baru 6 THN dan berat badan blm cukup, jd ga bisa. Tapi aku janjiin, kalo berat badan dan tinggi di udh sesuai, bakal balik LG utk bungy bersama :D.

    Tp aku ga maksa yaa soal begini. Si Kaka mungkin nurunin aku sifatnya, tp si adek bertolak belakang. Dia justru ga mau yg extreme begitu. Makanya kalo ngajakin dia jalan2, aku jg ga maksa dia utk main ato melihat yg extreme. Takut anaknya trauma juga :D.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Anak memang beda-beda. Tapi untung juga ada yang mau nemenin mamanya plesiran horor begitu ya. Kalau anak-anak pada takut, kan susah juga.

      Hapus
  2. bagaimana menjaga mood anak itu sendiri penting sekali, hanya saja kadang kita bertentangan dengan keinginan anak itu sendiri

    BalasHapus
  3. night teror udah kayak judul film misteri

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lha gangguannya emang misteri juga. Apa coba yang bikin orang ketakutan malam-malam? Kan itu misteri juga ...

      Hapus
  4. Kalau kata orang jaman dulu yang kuno, gejala anak yang tidur berteriak teriak tersebut Krn ada makhluk tak kasat mat yang ganggu. Padahal dalam dunia kedokteran hal itu bisa dijelaskan dan termasuk salah satu gangguan kesehatan mental

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Dan sebetulnya gangguan ini bisa hilang dengan sendirinya sih.

      Hapus