23 Februari 2014

Luweng Sampang

Sudah dari lama, teman seperjalanan saya penasaran dengan Luweng Sampang. Makanya, hari ini kami berminat untuk ke situ. Hari ini kami menyewa mobil untuk jalan-jalan seharian. Kalau pakai kendaraan umum, takut nggak keburu. Sayang, kan, sudah jauh-jauh ke Jogja, cuma dapat dua-tiga tempat wisata karena habis waktu di jalan?
Luweng Sampang terletak di desa Sampang, Kecamatan Gedangsari, Gunungkidul. Desa ini letaknya di perbatasan antara D.I. Yogyakarta dan Jawa Tengah. Walau masuk daerah D.I. Yogyakarta, untuk menuju Luweng Sampang nampaknya lebih mudah melalui Klaten, yang sudah masuk Jawa Tengah. Jadi kalau dari kota Yogyakarta mau ke Luweng Sampang, harus keluar masuk perbatasan beberapa kali.
Luweng Sampang. Air terjun dengan batuan raksasa yang bercorak seperti kue lapis.
Baik penumpang maupun sopir belum pernah ke Luweng Sampang, dan patokan kami hanyalah blog orang-orang yang sudah pernah ke sana. Jadi, sama seperti kisah-kisah di blog-blog itu, kami juga nyasar. (Jujur saja, hampir semua blog pribadi yang saya kunjungi lebih banyak menceritakan pengalaman nyasarnya daripada tentang Luweng Sampang itu sendiri.)
Kami menuju desa Sampang dari Klaten ke arah selatan. Pak Sopir berpegangan pada petunjuk di googlemaps yang sudah dia hafalkan dari warnet di dekat rumahnya. Kalau kami para penumpang, berpatokan pada blog-blog orang tadi. Dan inilah yang jadi sumber nyasar kami. Desa-desa di daerah gunung kidul kan nggak selalu ada di googlemaps, yang ada kecamatan. Jadi yang kami kejar kecamatannya dulu. Masalahnya, kecamatan Gedangsari ini ternyata bentuknya memanjang ... dan kami datang ke ujung yang salah.
Tipikal jalanan di daerah Gunungkidul.
Jadi, dari Klaten, kami ke arah selatan, menuju ke arah desa Wedi, lalu terus ke arah Cawas, arah timur. Nah, pas nanya orang, malah disuruh balik arah. Ternyata kami kelewatan. Harusnya dari desa Wedi, kami ambil jalan ke arah Gantiwarno (yang sebetulnya adalah kecamatan lain yang berbatasan di dekat desa Sampang ini). Jadilah kami berhenti dan bertanya di setiap perempatan dan pertigaan jalan.
Berangkat jam 8:30 dari hotel, sampai di Luweng Sampang jam 11:00. Ini akibat dari nyasar. Tapi kami tidak menyesal karena pemandangannya bagus! Kalau yang belum tahu apa itu Luweng Sampang, bisa dilihat di gambar. Luweng Sampang adalah air terjun yang konon kabarnya adalah salah satu tempat pertapaan Sunan Kali Jaga. Di balik air terjun, ada ceruk yang memang bisa dimasuki orang. Menurut penjaganya, sampai sekarang masih banyak orang yang bertapa semalaman di sini untuk mendapatkan karir dan rejeki. Tentunya saya tidak bertanya-tanya lebih lanjut tentang perihal persyaratan semedi ini. Soalnya tujuan utama kami kan bukan ngalap berkah, melainkan foto-foto.
Bebatuan di sungai yang merupakan kelanjutan dari air terjun di Luweng Sampang.
Karena kami datang di tengah musim hujan, namun di hari yang cerah, pemandangannya sangat bagus. Airnya jernih dan cukup banyak. Kabarnya, kalau musim kemarau airnya kecoklatan dan sedikit. Lumayan lama juga kami foto-foto di sini. Setelah puas, kami lanjut ke arah selatan untuk jalan-jalan di pantai!
Kabupaten Gunungkidul selama ini selalu identik dengan kekeringan. Padahal dibalik itu, tersimpan keindahan alam yang mengagumkan. Untuk membantu perekonomian setempat, nampaknya ada dorongan untuk “menciptakan” tempat wisata di masing-masing desa. Hampir sepanjang jalan kami menemukan papan petunjuk untuk tempat wisata. Ada agrowisata, ada air terjun, ada gua, dan juga gunung. Di perjalanan ke arah Wonosari, kami melewati tempat wisata Gunung Api Purba Nglanggeran. Karena masalah waktu, kami tidak masuk kemari. Tapi, kapan-kapan boleh juga nih!
Tempat wisata Gunung Api Purba Nglanggeran.


Pantai Sundak, Krakal, Drini, Sepanjang, Kukup, dan Baron

Dari Luweng Sampang, melewati Wonosari, kami menuju ke selatan. Menjelang area pantai, ada pos retribusi dari pemerintah daerah yang menjual karcis masuk obyek wisata Gunungkidul. Harga tiket Rp 4.000,- per orang. Di tiket yang dijual tertulis pantai Baron, Kukup, Sepanjang, Drini, Krakal, dan Sundak. Nantinya, di setiap pantai-pantai itu akan ada pos retribusi parkir yang harganya Rp 5.000,- per mobil (ada karcis resmi).
Berangkat dari Luweng Sampang jam 11:30, sampai di pantai pertama kami jam 13:00. Pantai yang pertama kami kunjungi adalah pantai Sundak. Pantai Sundak adalah pantai pasir putih yang indah dan bersih. Waktu kami kemari, pengunjungnya sangat sedikit. Warung makan juga sedikit. Tapi kalau dari dilihat dari tempat parkirnya yang luas, harusnya di akhir pekan tempat ini dipenuhi orang.
Pantai Sundak dengan pasir putihnya yang halus.
Dari pantai Sundak, kami menuju ke pantai Krakal. Perjalanan hanya sekitar 15 menit dengan mobil. Pantai Krakal juga berpasir putih, tapi tidak selandai pantai Sundak. Selain itu, di sini lebih banyak bangunan semi permanen untuk warung dan rumah makan. Nampak lebih siap untuk menjadi tujuan wisata. Kami makan siang di sini. Walau kebanyakan rumah makan/warung tutup atau buka namun sepi, ada satu rumah makan yang ramai. Warung Makan Bu Supilah namanya. Waktu kami datang saja, mereka sedang mempersiapkan makanan dalam kotak kardus. Dan ada beberapa orang dengan seragam instansi pemerintah sedang makan siang di sana. Tidak salah juga, karena ikan bakar di sini memang enak.
Pantai Krakal. Di sini bisa makan siang enak!
Dari pantai Krakal, kami melanjutkan perjalanan ke pantai Drini. Di tengah jalan, kami menyempatkan diri untuk membeli buah srikaya di pinggir jalan. Rp 10.000,- harusnya dapat 7 buah, tapi ditambahi oleh penjualnya menjadi sekitar 12 buah. Sopir kami cuma tertawa saja waktu kami cerita. Katanya, “Mbak nggak nawar sih, mereka jadi nggak enak hati kalau cuma ngasih sedikit.” Tapi mungkin juga karena sepi. Sepanjang perjalanan, kami hanya bertemu sedikit wisatawan.
Pantai Drini juga berpasir putih. Di sini ada banyak kapal nelayan. Area pantai ini cukup panjang. Ada tebing tinggi di salah satu sisi, dan ada batu karang besar yang membentuk pulau kecil di dekat pantai. Pemandangannya bagus, dan ada daerah yang menyerupai teluk kecil yang landai. Bisa berenang-renang dengan tenang di teluk kecil ini, tanpa takut terkena ombak laut selatan yang ganas.
Pantai Drini; di sini ada teluk kecil yang aman untuk berenang-renang.
Dari pantai Drini, kami menuju ke pantai Sepanjang. Perjalanan sekitar 10 menit. Pantai Sepanjang sedikit istimewa dibandingkan pantai lain, karena ada jalan aspal yang memanjang di pinggir pantai, dan warung-warung makan berjajar di sepanjang jalan itu. Warung-warung itu umumnya berupa lesehan dan menghadap ke arah pantai. Jadi, orang bisa langsung memarkirkan mobil di dekat warung makan pilihannya dan makan di situ sambil menikmati deburan ombak. Di pantai lain, tempat parkir mobil agak jauh dari warung makan di tepi pantai. Kalau malam hari, mungkin nikmat menyantap ikan bakar sambil melihat laut di sini.
Pantai Sepanjang, dengan warung-warung lesehan tepat di bibir pantai.
Selanjutnya kami ke pantai Kukup. Jaraknya sekitar 10 menit dari pantai Sepanjang. Pantai Kukup sudah mengenal konsep jebakan turis. Dari tempat parkir ke bibir pantai, kami harus melewati jalan yang kiri-kanannya warung penjual makanan dan suvenir. Yang banyak dijual adalah kepiting asin dan keripik rumput laut. Di sini pasirnya putih tapi kasar, tidak sehalus pasir di pantai Sundak. (Ini menurut saya, yah.) Pemandangannya bagus, ada karang besar yang membentuk pulau dan ada tebing yang hijau ditumbuhi berbagai jenis tanaman. Pantai ini tidak hanya putih, namun juga hijau. Ada banyak tanaman sejenis pandan yang tumbuh hingga tepi pantai. Di sini, ada lebih banyak pelancong dibandingkan di pantai-pantai sebelumnya.
Pantai Kukup yang hijau.
Dari pantai Kukup, kami ke pantai Baron. Seingat saya, dulu waktu masih kecil pantai Baron ini yang pertama kali menjadi tempat wisata. Waktu saya datang di Januari lalu, ingatan saya tidak salah. Pantai ini ramai. Ada banyak penjual buah, penjual makanan, pelancong, dan ada banyak nelayan. Tapi kalau dari segi keindahan, pantai ini kalah dengan pantai-pantai yang sebelumnya sudah saya datangi. Di pantai Baron, pasirnya lebih coklat, dan areanya sempit, karena pantai Baron adalah teluk yang kiri-kanannya adalah bukit hijau yang lumayan tinggi. Selain itu, karena kami datang saat sore hari, pantai dipenuhi perahu nelayan yang hanya menyisakan sedikit ruang untuk berjalan-jalan.
Pantai Baron yang dipenuhi perahu nelayan.


Pantai Ngobaran

Dari pantai Baron, kami ke pantai Ngobaran. Pantai Ngobaran tidak berada di areal pantai yang sama. Letaknya lebih ke barat lagi. Perjalanan dari pantai Baron ke pantai Ngobaran sekitar 45 menit. Pantai Ngobaran tidak sama dengan pantai-pantai yang tadi kami kunjungi. Kalau sebelumnya kami mendatangi pantai yang landai, maka pantai Ngobaran adalah pantai dengan tebing yang lumayan terjal. Saat kami tiba di pantai Ngobaran, sudah menjelang sunset. Air sedang pasang, jadi tidak mungkin untuk turun tebing menuju ke pantai.
Tempat ibadat penganut Kejawan di Pantai Ngobaran.
Khasnya pantai Ngobaran adalah pura dan tempat ibadat umat Kejawan. Kalau kita datang ke kompleks tempat ibadat Kejawan, kita akan menemukan prasasti (modern) yang menjelaskan bahwa tempat itu adalah tempat ziarah untuk Prabu Brawijaya V dan Raja Majapahit VII. Di sini juga ada patung-patung yang wujudnya menyerupai tokoh-tokohperwayangan. Kalau mau ke puranya, masih harus berjalan mendaki tebing. Katanya ada tempat ibadah umat agama lain, tapi saya tidak melihatnya (atau tidak tahu bedanya). Di sini kami bertemu dengan beberapa wisatawan lokal yang berniat foto-foto sunset. Jadi, begitu matahari mulai mendekati cakrawala, semua orang langsung menuju ke tepi tebing untuk foto-foto.
Sunset di Pantai Ngobaran.
Sebelum matahari benar-benar tenggelam, kami sudah berangkat menuju kota Yogyakarta. Bukan apa-apa, karena belum hafal jalan di area situ, dengan jalanan perbukitan khasnya Gunungkidul yang berkelok-kelok, kami tidak mau terjadi apa-apa sepanjang perjalanan. Setelah sekitar 2 jam perjalanan, kami pun tiba kembali di kota Yogyakarta.


Perempatan Tugu

Begitu sampai di kota Yogyakarta, kami langsung mencari tempat makan. Setelah berunding, pilihan jatuh ke gudeg. Karena warung-warung gudeg yang terkenal di dekat UGM (Gudeg Bu Ahmad, Gudeg Yu Djum) sudah tutup semua, maka akhirnya pilihan dijatuhkan ke Gudeg Tugu. 
Gudeg Tugu, yang terletak di perempatan tugu. Gudeg di sini lebih berkuah, hampir sama dengan gudeg Solo. Berbeda dengan gudeg Yogya yang cenderung kering dan berwarna gelap. Gudeg Tugu bukan warung, melainkan lesehan pinggir jalan di emperan toko, dengan penjual yang duduk di pojokan halaman rumah di bawah atap seng. Gudeg ini hanya buka sore hingga malam hari, jadi memang cocok untuk yang hobi nongkrong di pinggir jalan malam-malam. Walaupun tempatnya seadanya, rasanya enak dan pelanggannya banyak. Dari tempat makan ini, kami menyempatkan diri jalan ke perempatan tugu, yang jaraknya tidak sampai lima menit jalan kaki.
Tugu Yogyakarta. Malam-malam pun orang berfoto ria di sini.
Tugu di perempatan tugu ini sering menjadi icon ataupun simbol kota Yogyakarta. Tugu ini dibangun oleh Sultan Hamengkubuwana I, dan dianggap sebagai patokan arah saat sultan hendak bermeditasi ke arah gunung Merapi. Saat kami mengunjungi tugu, ada banyak orang sedang foto-foto juga di situ. Sekitar jam 10 malam, kami pun kembali ke hotel untuk beristirahat.
Cerita tambahan, yah. Sekitar jam 11 malam kami merasakan ada gempa. Gempanya lumayan kuat. Kebetulan kami memang belum tidur. Kami pun buru-buru keluar kamar. Ada satu keluarga yang panik turun melewati tangga darurat, sambil membawa anak mereka yang menangis keras-keras karena ketakutan. Untung kami di lantai 3. Kalau yang di lantai 5, pasti lebih capek lagi turun tangganya. Pusat gempat ada di daerah Kebumen, jadi sebetulnya lumayan jauh dari Yogyakarta. Hanya saja, yang namanya gempa pasti bikin panik orang-orang. 
Tepat waktu habis gempa, sebelum keluar kamar, saya sempat menelepon ke resepsionis, bertanya, “Mas, baru saja gempa yah?” Mas-mas di resepsionis menjawab, “Di sini nggak kerasa Mbak. Tapi tadi ada tamu yang juga menanyakan hal yang sama.” Dan begitu sampai di lantai dasar, saya iseng tanya ke petugas yang ada, ternyata kebanyakan juga tidak merasakan gempa. Oo... gempanya tidak terasa di lantai dasar.
~bersambung~

0 Komentar:

Posting Komentar