9 April 2014


Asyik! Jalan-jalan lagi! Kali ini menyeberang lautan ke Tanah Minang untuk ... jalan-jalan dan wisata kuliner! Menginap di Padang selama dua malam, tapi jalan-jalannya kemana-mana. Berikut perjalanan kami ...

Hari 1 : Sawahlunto


Berangkat dari Jakarta sekitar jam 9 pagi, tiba di bandar udara Internasional Minangkabau sekitar jam 10:30 pagi. Sekitar jam 11 siang kami keluar bandara. Tanpa ditunda-tunda, kami langsung bergerak ke Sawahlunto. Untuk transportasi, kami memutuskan untuk menyewa mobil selama tiga hari penuh. Karena kami berempat, biaya bisa dibagi merata. Lumayan, kan. Selain itu, tidak terlalu banyak waktu terbuang karena menunggu kendaraan umum. (Belakangan kami juga nyadar kalau sopir kami itu suka melambatkan mobil dan membelokkan mobil ke jalan-jalan yang tidak perlu. Makanya kami tidak bisa pergi ke banyak tempat. Lain kali harus lebih hati-hati dalam memilih mobil rental.)

Sawahlunto terletak sekitar 95 kilometer dari kota Padang. Perjalanan kami dari bandara ke Sawahlunto sekitar 2,5 jam, dengan berjalan lambat-lambat karena hujan dan kabut. Sawahlunto terletak di area perbukitan, jadi tidak heran kalau perjalanan kami juga harus menembus kabut. Ada dua tempat yang kami kunjungi di Sawahlunto, yaitu Museum Gudang Ransoem dan Lubang Mbah Soero.

Museum Goedang Ransoem
Museum Gudang Ransoem dulunya adalah dapur umum untuk orang rantai, yaitu para tahanan yang menjadi pekerja di tambang batu bara di jaman Belanda. Wajan, kuali, dan tungku yang dipajang disana ukurannya luar biasa. Maklum, jumlah orang yang diberi makan di masanya bisa mencapai ribuan orang. Di tembok terpasang foto-foto tempo dulu yang menunjukkan keseharian di dapur umum di masa kejayaannya. Di area museum ini juga dipamerkan granat dari jaman perang yang ditemukan di dekat situ, dan juga ada ruang pameran pakaian pengantin dan seni budaya dari berbagai suku/daerah di sekitar Sawahlunto. Harga tiket masuk Rp 4.000,- per orang.

Kuali tempat memasak makanan di dapur umum tambang batu bara jaman Belanda
Masih di jalan yang sama, setelah melewati rumah-rumah penduduk yang dulunya adalah barak pekerja tambang, kami tiba di Lobang Mbah Soero.

Lobang Mbah Soero adalah lubang pertama yang dibuka sebagai jalan tambang batubara di Sawahlunto. Nama tempat ini diambil dari nama salah satu mandor para pekerja di sini, yaitu Mbah Soero. Lubang ini aslinya panjangnya mencapai beberapa kilometer dan bertingkat-tingkat. Akan tetapi yang dibuka untuk turis hanya sekitar 200 m, dan hanya di tingkat pertama (total jalan di dalam gua hanya sekitar 15 menit).

Lobang Mbah Soero, sedang ada renovasi saat kami datang
Tadinya sempat deg-degan juga karena di internet beredar kabar bernuansa mistis yang terkait dengan lubang tambang tersebut. Tapi saat masuk, tidak ada rasa merinding dan tidak ada rasa takut. Lubang tambang yang dibuka untuk wisata sudah bersih, terang (ada lampu penerangan), dan segar (ada pipa sirkulasi udara yang baik). Jadi pengunjung bisa berjalan dengan tenang dan meraba dinding batubara yang basah terkena rembesan air. Kalau melewati lorong yang menurun ke tingkat di bawah (tingkat dua), terdengan suara aliran air karena tingkat-tingkat yang di bawahnya dipenuhi oleh air rembesan dari sungai Ombilin.

Bagian dalam Lobang Mbah Soero, dengan dinding batu bara asli
Di dalam gua ini juga bisa foto-foto, jadi masih bisa narsis di dalam gua. Jumlah orang yang boleh masuk per jamnya terbatas, karena masalah sirkulasi oksigen di dalam gua. Untung waktu kami datang, pengunjungnya hanya grup kami saja.

Di dekat gua, ada Info Box, yaitu gedung informasi yang juga merangkap sebagai museum kecil untuk memberikan informasi tambahan tentang lubang Mbah Soero. Di sini ada patung para pekerja tambang, dan juga foto-foto orang rantai yang dipekerjakan secara paksa di sini. Ada juga pameran sisa-sisa rantai dan perlengkapan yang dipergunakan para pekerja ini.

Info Box di areal Lobang Mbah Soero
Karena saat meninggalkan gua hari sudah menjelang sore, maka kami kembali ke Padang untuk check in hotel. Sepanjang perjalanan saya masih sempat menikmati lagi kota Sawahlunto. Di kota ini ada banyak gedung-gedung peninggalam kolonial Belanda. Selain itu, di jalan juga masih dapat ditemui rumah gadang yang nampak tua namun terurus dengan baik. Di tengah kota, terlihat Silo yang masih berdiri kokoh dari jaman kolonial dulu, dan di atas bukit ada tulisan “Sawahlunto” bak di Hollywood.

 
Tulisan Sawahlunto, dilihat dari Info Box Lobang Mbah Soero


 Hari 2: Istana Pagaruyung dan Bukittinggi


Hari ini jadwalnya padat. Soalnya mau ke Istana Pagaruyung dan ke Taman Panorama Ngarai Sihanok. Walaupun begitu, karena nuansanya liburan, tetap saja semua orang bangunnya kesiangan! Berangkat dari hotel jam 07:00 pagi, makan pagi sebentar, lalu langsung berangkat ke Batusangkar. Tujuannya adalah untuk melihat Istano Basa Pagaruyung, yang merupakan tempat kediaman raja-raja Minangkabau jaman dahulu kala. Akan tetapi di perjalanan kami sempat mampir-mampir sebentar di tempat wisata lain. Di perjalanan menuju Istana Paguruyung, kami melewati Lembah Anai dan Danau Singkarak.

Air terjun Lembah Anai, difoto dari dalam mobil yang melaju
Lembah Anai adalah deretan bukit di Padang Panjang, di jalan utama penghubung antara kota Padang dan kota Bukittinggi. Landmark dari Lembah Anai adalah Air Terjun Lembah Anai yang letaknya persis di pinggir jalan. Orang yang sedang melakukan perjalanan dari Padang ke Bukittinggi dapat menikmati air terjun ini, bahkan tanpa perlu menghentikan mobilnya. Di dekat air terjun ini ada jembatan rel kereta api yang sudah tidak digunakan lagi.

Jalan raya Padang-Bukittinggi, dengan latar belakang rel kereta api tua di Lembah Anai
Tepat sebelum menuju ke Batusangkar, tempat Istana Pagaruyung, kami berbelok sebentar menuju danau Singkarak. Danau Singkarak dikenal oleh turis sebagai tempat Tour de Singkarak, pertandingan sepeda di alam terbuka. Di bidang kuliner, danau ini dikenal sebagai tempat penangkapan ikan bilih, yang bisa dijadikan kudapan dan lauk. Saat kami tiba di tepi danau, cuaca mendung dan sedikir berkabut, sehingga pantai di seberang tidak dapat terlihat dengan jelas. Rasanya seperti menghadap laut tenang, dengan batas cakrawala jauh di mata – tapi dingin.

Danau Singkarak
Dari Danau Singkarak, barulah kami melanjutkan perjalanan ke Istana Pagaruyung. Istano Basa Pagaruyung yang ada sekarang sebenarnya adalah replika dari istana aslinya yang sudah habis terbakar di tahun 2007. Di sini pengunjung bisa menyewa pakaian tradisional Minangkabau dan berfoto-foto. Ada juga sisa-sisa barang-barang dari istana aslinya yang sempat diselamatkan saat terjadi kebakaran di tahun 2007. Pemandangan di sini bagus banget. Kalau berkunjung, jangan sampai melewatkan kunjungan ke lantai 3 untuk memfoto pemandangan di sekitar istana. Harga tiket masuk Rp 7.000,- Untuk sewa pakaian tradisional, biayanya Rp 30.000,-, belum termasuk foto oleh tukang foto di situ. Ada juga penyewaan kuda di luar istana, dengan harga tersendiri.

Istano Basa Pagaruyung
Setelah puas berfoto-foto di Istano Basa Pagaruyung, kami melanjutkan perjalanan ke Taman Panorama Bukittinggi. Tujuan utamanya adalah melihat Ngarai Sihanok yang termahsyur keindahannya itu. Di perjalanan, terutama di area Batusangkar, kami banyak menjumpai rumah-rumah tradisional yang terawat dan masih dihuni. Rumah gadang yang ada di Batusangkar, menurut saya, jauh lebih bagus dibandingkan yang ada di Sawahlunto. Di Bukittinggi, selain rumah gadang, ada juga rumah-rumah jaman kolonial. Oh ya, di tengah jalan kami menyempatkan diri mampir ke Pandai Sikek untuk mencari oleh-oleh kain tenun dan sarung khas Minangkabau.

Karena kami makan siang di Pasar Wisata Bukittinggi, di daerah Pasar Ateh, maka kami berkesempatan untuk mampir ke Jam Gadang dan berfoto-foto di situ. Jam Gadang adalah landmark kota Bukittinggi, yang mana semua wisatawan yang datang ke sini wajib berfoto dengan Jam Gadang ini. Di sekitar Jam Gadang, banyak penjual makanan, termasuk nasi kapau dan sate khas Bukittinggi. Untuk bersantai sambil makan dan mengobrol, tempat ini cocok untuk dijadikan pilihan.

Jam Gadang di Bukittinggi
Dari Jam Gadang, kami naik kereta kuda (delman) menuju ke Taman Panorama/Lobang Jepang. Jalan di sekitar pasar sangat macet, dan kereta kuda memerlukan waktu sekitar 15-20 menit untuk mengantar kami tiba di Taman Panorama. Taman Panorama adalah taman yang dibangun oleh pemerintah setempat sebagai tempat wisata dan tempat menikmati keindahan Ngarai Sihanok.

Ngarai Sihanok, difoto dari Taman Panorama
Ngarai Sihanok adalah lembah curam yang ada di Kabupaten Agam, dan menjadi batas kota Bukittinggi. Di dasar ngarai ada sungai Sihanok yang juga menjadi obyek wisata tersendiri. Di Taman Panorama juga ada Lobang Jepang yang merupakan bunker yang dibangun di masa penjajahan Jepang. Lobang Jepang ini sebenarnya panjang, namun yang menjadi area turis hanya sampai dinding ngarai Sihanok yang tepat berada di bawah Taman Panorama. Menurut penulis, Taman Panorama ini kurang terawat. Kalau dimaksudkan untuk tujuan wisata nasional, masih banyak yang harus dirapikan dari taman ini. Tiket masuk ke Taman Panorama dan Lobang Jepang Rp 8.000,-

Ngarai Sihanok, difoto dari dasar ngarai
Keluar dari Taman Panorama, hujan turun. Jadi kami tidak sempat pergi jauh-jauh. Cukup makan sore di salah satu rumah makan di dasar ngarai sambil menikmati tebing-tebing yang masih alami, dan lalu mampir membeli oleh-oleh khas Bukittingi sebelum kembali ke Padang. Oh ya, dalam perjalanan menuju tempat beli oleh-oleh, kami melewati rumah tempat kelahiran Bung Hatta. Lumayan, tanpa sengaja dapat deh, satu tempat bersejarah di sini.


Rumah kelahiran Bung Hatta


Hari 3: Pantai Carocok dan Puncak Langkisau


Hari terakhir liburan. Jadi harus dimaksimalkan! Tujuan terakhir kami adalah Pantai Carocok. Jam 9 pagi berangkat dari hotel, keliling kota Padang sebentar, baru kemudian lanjut ke daerah Painan, tempat di mana Pantai Carocok berada. Tapi sebelum keliling bareng-bareng naik mobil dengan teman-teman, saya memutuskan untuk bangun pagi dan jalan-jalan di Pantai Padang.

Pantai Padang di pagi hari
Pantai Padang adalah pantai sunset, karena menghadap ke barat. Kalau pagi, tempat ini tidak terlalu ramai. Tapi kalau sore hari, warung dan pedagang makanan berjajar di sepanjang pantai. Sepeda motor berjajar parkir di sepanjang jalan, dan orang lalu-lalang sambil menikmati makanan atau sekedar jalan-jalan. Pagi hari di Pantai Padang enak untuk jogging atau jalan santai. Pantai Padang adalah pantai berbatu dengan dinding batu buatan untuk memecah ombak dan mencegah abrasi.

Jembatan Siti Nurbaya
Kota Padang adalah kota bisnis, bukan kota wisata. Tempat pemberhentian yang menarik di sini adalah Jembatan Siti Nurbaya dan daerah Pecinan yang masih menyimpan banyak kuil cina dan rumah-rumah dari jaman dahulu kala. Tapi begitu keluar Padang, ke arah utara maupun selatan, pemandangannya membuat berdecak kagum.

Pulau di seberang Pantai Carocok
Pantai Carocok terletak di selatan kota Padang. Perjalanan ditempuh sekitar 2 jam. Pantai Carocok istimewa dibandingkan pantai-pantai lain umumnya karena pantai ini memiliki pulau-pulau kecil yang landai dan berpasir putih. Pulau-pulau ini jaraknya hanya 10 menit naik kapal kecil, jadi masih terlihat jelas dari bibir pantai. Air laut di sini tenang, sehingga cocok untuk segala jenis wisata air, termasuk banana boat dan waterskiing.

Pantai Carocok yang berbatu-batu sedimen dan berkarang
Walaupun pulau-pulaunya indah, Pantai Carocok sendiri tidak sepenuhnya berpasir putih. Sebagian besar areal pantai justru dipenuhi karang dan batu-batu sedimen. Untuk berjalan di atas karang-karang itu, dibangun jembatan permanen yang memungkinkan pengunjung berjalan di atas karang-karang dan mengamati kerang-kerang dan ikan-ikan kecil, tanpa perlu menginjak karang yang tajam-tajam itu. Untuk yang hobi kuliner, pantai ini cocok untuk menjadi tujuan wisata. Ada banyak warung makan ada di sini. Oh ya, tiket masuk harganya Rp 5.000,-

Dari Pantai Carocok, kami melanjutkan perjalanan ke Puncak Bukit Langkisau, untuk melihat pemandangan garis pantai Sumatera Barat. Puncak Langkisau adalah tempat olah raga paralayang. Di puncak bukit ini, ada “landasan” tempat persiapan untuk “terbang”, dan juga windsock yang menjadi alat petunjuk arah angin. Pemandangan di sini, asli, bagus banget! Terutama pemandangan Pantai Salido dan Pantai Sago. Kalau bisa datang ke sini seharian, boleh juga mencoba olah raga paralayang!

Pemandangan dari Puncak Bukit Langkisau
Dari Puncak Langkisau, kami kembali ke Padang sebentar untuk menambah belanja oleh-oleh, lalu berangkat ke bandara untuk pulang kembali ke Jakarta. Sebenarnya, selain tempat wisata, Sumatera Barat juga afdol untuk menjadi tempat wisata kuliner. Tak ketinggalan, kami juga mencicipi berbagai hidangan khas Suamtera Barat yang membuat terbayang-bayang sampai sekarang. Untuk wisata kulinernya, akan dibahas khusus di artikel berikutnya. Nyam!

(selesai)

1 Komentar:

  1. ini paket liburan yg asik :D
    informasi yg sangat berguna..
    kunjungi juga kami di Tour De Singkarak : Sport & Island 4D 3N
    makasii..

    BalasHapus