16 Desember 2017

Keindahan kota Colmar, apalagi bagian kota tuanya, sudah terkenal ke seluruh dunia. Sampai-sampai, di Malaysia dibangun kompleks wisata Colmar Tropicale untuk memuaskan keinginan orang-orang di Asia Tenggara menikmati suasana kota tua Colmar namun dengan biaya yang terjangkau. Saya sih belum pernah berkunjung ke Colmar Tropicale, jadi saya tidak bisa membandingkan. Tapi yang jelas, rumah-rumah tua di sekitaran Colmar, Perancis ini memang cantik banget seperti di desanya Belle di film Beauty and the Beast.
Di Colmar, tersedia kereta wisata untuk area kota tua.
Kami menginap di Colmar selama tiga malam. Walaupun kami juga menyempatkan diri untuk pergi ke kota atau desa lain di sekitaran Colmar, tapi memang waktu yang kami habiskan di sini cukup lama. Jadi, saya bisa puas-puasin diri untuk mengamati detil rumah tua khas Alsace. Spot-spot yang cantik bisa kami lewati tiga-empat kali. Di tempat-tempat yang menarik, kami bisa berlama-lama memandangi detil ukiran atau bentuk rumah, sambil menikmati udara Colmar yang sejuk. Jadi, walaupun di sini saya menuliskannya sebagai pengalaman di hari ke-5, sebenarnya ada beberapa tempat yang kami lewati atau kami kunjungi di waktu lain selama kami menginap di Colmar.
Daerah paling terkenal di Colmar adalah La Petite Venice. Daerah Petite Venice ini adalah daerah yang dilalui oleh kanal, dimana rumah-rumah tua berbaris di pinggir kanal, seperti di Venesia, Italia. Dulunya, daerah Petite Venice ini adalah daerah tempat tinggal pedagang ikan, pedagang daging mentah, dan pembuat kerajinan kulit. Sekarang tempat ini menjadi tempat wisata utama turis di Colmar. Salah satu kegiatan yang paling disukai oleh turis adalah naik sampan di sepanjang kanal sambil mendengar petugas menceritakan sejarah Colmar.
La Petite Venice.
Berhubung waktu di Strasbourg kami tidak jadi naik kapal menyusuri sungai, jadinya waktu di Colmar kami memutuskan untuk mencoba boat tour di sepanjang La Petite Venice. Ada dua penyelenggara boat tour di Colmar. Yang satunya, pos berangkatnya dari dekat rumah makan La Krutenau; yang satunya lagi, pos berangkatnya dari dekat jembatan Saint Pierre. Harganya sama, EUR 6 per orang. Satu sampan bisa muat 8 orang. Kami memilih kapal yang berangkat dari dekat jembatan Saint Pierre.
Jarak yang ditempuh sebetulnya pendek. Perjalanan kapal total 30 menit. Sepanjang perjalanan, guide kami bercerita tentang budaya Colmar jaman dahulu. Misalnya, ada masanya dimana warna cat tembok ditentukan dari apakah penghuninya Katholik atau Protestan. Ukiran di kusen jendela bisa menjadi sumber informasi, apakah anaknya pemilik rumah sudah menikah atau belum. Ada juga warna atau ukiran yang menunjukkan jenis pekerjaan pemilik rumah. Terus ditunjukkan juga toilet jaman dulu ... yang hanya berupa lubang di lantai teras yang menjorok ke atas sungai! Tentunya sekarang semua itu sudah tidak berlaku lagi. Guide kami bercerita dalam bahasa Inggris dan Perancis secara bergantian, karena penumpang sampan yang lain adalah turis lokal Perancis.
Naik sampan di kanal di La Petite Venice.
Di sepanjang kanal, terdapat banyak kafe dan restoran, untuk yang ingin berleha-leha sambil menikmati pemandangan di sekitar kanal. Di ujung kanal (di batas akhir sampan wisata boleh lewat), terdapat pasar tradisional, yang disebut sebagai le marché couvert. Pasar ini tidak buka di hari Senin, jadi kami sebenarnya berkunjung ke pasar ini keesokan harinya (di hari keenam perjalanan kami di Perancis). Tapi ceritanya sekalian di sini saja ya.
Di pasar, kami belanja daging sapi asap berbumbu dan buah-buahan untuk makan. Daging asap berbumbu, kalau tidak salah ingat harganya EUR 14 untuk seperempat kilo lebih sedikit. Buah-buahan yang dijual tergantung musimnya. Di bulan September yang lalu, yang sedang musim (dan paling murah) adalah buah plum. Jadinya hampir tiap hari kami makan buah plum. Selain daging dan buah, di sini juga dijual berbagai jenis keju dan sayur-sayuran. Catatan: Di sini tidak dijual makanan halal. Untuk yang mencari makanan halal, harus mencari tukang daging halal yang ada di tempat lain di Colmar.
Pasar di kota tua Colmar.
Seperti layaknya kota wisata di Perancis, di Colmar juga ada beberapa museum. Namun, karena kami tidak berminat untuk masuk ke museum (penyebab utamanya sih, sebetulnya pelit), jadi kami hanya foto-foto di depannya saja.
Colmar adalah kota kelahiran Frédéric Auguste Bartholdi, perancang patung Liberty di New York. Rumah tempat kelahiran Pak Bartholdi ini dijadikan Museum Bartholdi. Di dekat situ, ada Restoran Bartholdi, yang konon menyajikan masakan dari resep keluarga Bartholdi. Tapi saya nggak makan di situ, ya.
Selain Museum Bartholdi, di Colmar juga ada Museum Unterlinden, Museum Boneka (Musée du Jouet), Museum Hansi, dan juga Musée d'Histoire Naturelle et d'Ethnographie. Di antara semua museum itu, yang paling terkenal adalah Museum Unterlinden yang menyimpan barang-barang bersejarah dari Colmar dan sekitarnya. Tapi karena harga tiket masuknya EUR 13, kami memilih memuaskan diri bolak-balik di sekitar gedungnya saja. Hahaha!
Patung di halaman Museum Bartholdi.
Salah satu bangunan yang dikenal banyak turis karena mencolok adalah Koïfhus yang dulunya adalah gedung bea cukai. Mulai digunakan sejak tahun 1480, gedung ini sudah berulang kali direnovasi sampai akhirnya terlihat seperti sekarang ini. Bangunan ini tidak akan terlewatkan karena atapnya mencolok dan gedungnya besar.
Akan tetapi, bangunan yang paling menarik dari bangunan-bangunan kuno yang ada adalah La Maison Pfister. Rumah yang sudah berdiri sejak tahun 1537 ini, pertama kali dimiliki oleh ahli pembuat topi bernama Ludwig Scherer. (Ingat film tentang kerajaan Eropa jaman dulu, dimana tokoh-tokoh perempuannya sering terlihat memakai topi yang berbulu-bulu atau topi yang hiasannya banyak? Nah, jaman dahulu, topi termasuk karya seni dan harganya lumayan juga.) Rumah ini khas karena seluruh bagian temboknya dilukis, dan kayu-kayu rangkanya diukir indah.
Detil di sudut La Maison Pfister. Temboknya dipenuhi lukisan.
Ada juga rumah yang bentuknya unik, dihiasi dengan banyak patung kepala, yang dikenal dengan sebutan La Maison des Têtes. Rumah yang didirikan di tahun 1609 ini sekarang berfungsi sebagai hotel. Iseng-iseng lihat di Booking.com, ternyata harga kamar per malamnya sekitar empat juta rupiah! Wow!
Pada dasarnya, keliling kota tua Colmar sebenarnya adalah berputar-putar menikmati rumah-rumah tradisional khas Alsace (half-timbered houses) dan melihat monumen atau patung-patung (beberapa di antaranya karya Pak Bartholdi) yang menarik. Kalau tidak tertarik dengan arsitektur atau sejarah, atau kurang menyukai seni ukir/seni lukis, setengah hari jalan di Colmar sudah akan merasa cukup. Tapi untuk kami bertiga yang cinta seni dan bentuk-bentuk bangunan, tiga malam menginap di sini juga belum cukup. Hahaha!
Rumah khas Alsace. Ciri khas kota tua Colmar.
Kemanapun kami mondar-mandir di kota tua Colmar, kami menjumpai patung-patung yang menjadi monumen penghormatan kepada tokoh-tokoh yang dianggap penting. Yang paling saya ingat adalah patung Roesselmann yang dibuat oleh Auguste Bartholdi. Jean Roesselmann adalah pahlawan lokal yang membela kemerdekaan Colmar dari serangan penguasa Strasbourg di tahun 1262. Patungnya sendiri dibuat di tahun 1888. Menurut sejarah, di jaman dahulu, kota-kota di Eropa kadang-kadang merupakan kerajaan kecil atau daerah merdeka yang tidak tunduk pada raja manapun. Dan, seperti sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa, masing-masing daerah atau kerajaan itu bisa berperang satu sama lain. Jadi, peta Eropa sekarang dan, misalnya, 300 tahun yang lalu, akan sangat jauh berbeda.
Selain patung-patung sebagai monumen, di Colmar juga terdapat beberapa pancuran dan sumur. Di abad pertengahan, pancuran dan sumur adalah tempat orang mengambil air untuk kehidupan sehari-hari dan juga tempat bersosialisasi. Jaman sekarang, hanya turis yang mondar-mandir di dekat pancuran atau sumur untuk foto-foto.
Roesselmann Fountain. Pancuran dengan patung Jean Roesselmann di atasnya.
Selayaknya kota tua Eropa, gedung utama Colmar kuno adalah gereja. Di jaman dahulu kala, seluruh kegiatan sosial masyarakat berpusat di gereja. Tidak heran, ada banyak gereja di Colmar. Bahkan, ada beberapa gereja yang letaknya berdekatan. Ada juga bangunan yang dulunya gereja namun sekarang sudah berubah fungsi. Umumnya, gereja-gereja tua ini merupakan saksi bisu sejarah kota Colmar sejak abad pertengahan.
Apartemen tempat kami menginap letaknya cuma selemparan batu dari Eglise des Dominicans atau gereja Dominican. Gereja ini cukup unik. Gereja kuno di Eropa umumnya terlihat mewah, tapi gereja Dominican terlihat polos dan kaku. Hanya pintunya yang diukir-ukir, sedangkan temboknya polos dan terlihat tua. Bentuk gereja yang sederhana memang merupakan salah satu ciri khas gereja Ordo Dominican di abad pertengahan. 
Mengagumi lukisan kuno yang dibuat di tahun 1473.
The Madonna of the Rose Bower.
Di dalam gereja ini ada lukisan yang sangat terkenal, yaitu The Madonna of the Rose Bower. Lukisan ini dilukis di tahun 1473 oleh Martin Schongauer. Martin Schongauer adalah pelukis kelahiran Colmar yang terkenal di periode Holy Roman Empire di abad pertengahan. (Holy Roman Empire adalah daerah kekaisaran di Jerman dan sekitarnya di tahun 900-an sampai tahun 1500-an. Mohon dibedakan dengan Kekaisaran Romawi Kuno di jamannya Asterix dan Obelix.)
Ada juga satu gereja yang tidak terlalu jauh, yaitu Église Saint-Martin atau Saint-Martin’s Collegiate Church atau gereja Saint-Martin. Gereja ini adalah gereja Katholik. Gereja yang ukurannya cukup besar (dibandingkan gereja kuno lain di Colmar) ini sering juga disebut sebagai katedral, meskipun sebetulnya bukan. Alun-alun di dekat gereja ini dikenal dengan nama La Place de La Cathédrale. Gereja yang bernuansa gothic ini didirikan di tahun 1234 dan sudah beberapa kali mengalami renovasi.
Gereja Saint-Martin. Ada sarang burung bangau di puncak atapnya.
Supaya jalan-jalan di Colmar lebih maksimal, sangat disarankan untuk mendatangi Office de Tourisme yang letaknya di dekat Museum Unterlinden. Di sini, sebaiknya mengambil peta turis (tourist map) dan mempelajari tempat-tempat yang menarik supaya tidak ada yang terlewatkan. Keseluruhan titik kunjungan tourist trail di peta turis sebenarnya bisa dilewati dalam sehari. Jadi, kalau memang kejar tayang harus mengunjungi seluruh tempat menarik (tanpa masuk ke dalam atau memperhatikan detil bangunan, ya) dalam sehari, ya bisa saja.
Jujur saja, tinggal di Colmar benar-benar menyegarkan pikiran dan jiwa. Apalagi kami memang hanya muter-muter di kota tua saja. Jadi kami tidak terlalu “teracuni” oleh gedung modern. Setiap harinya, kami cukup puas melihat gedung kuno, kafe, penjual pernak-pernik dan makanan, serta monumen yang indah. Kalau kebetulan sedang berkunjung ke Eropa, saya sarankan mampir ke Colmar. Nggak akan rugi.
Koïfhus dan kafe-kafe di sekitarnya.
Di hari selanjutnya, kami mengunjungi sebuah desa yang tak kalah cantiknya, yaitu desa Eguisheim. Tunggu artikel selanjutnya ya.

(Bersambung.)

0 Komentar:

Posting Komentar