1 Desember 2017

Hari ini kami check out dari hotel cukup pagi. Setelah menyempatkan makan pagi roti dan beragam keju, kami pun bergerak menuju stasiun. Hari ini kami harus berpisah dengan kota Strasbourg yang cantik, dan naik kereta menuju ke kota Colmar. Walaupun kami naik kereta ke Colmar, namun tujuan wisata kami hari ini sebetulnya adalah kastil kuno yang disebut dengan Le Château du Haut-Kœnigsbourg. Kisah kunjungan ke kastil kuno ini akan diceritakan di artikel selanjutnya ya. Saat ini saya mau cerita tentang perjalanan menuju ke tempat penginapan kami di Colmar.
Ada gunung-gunung di kejauhan. Ini ladang gandum ya, bukan sawah.
Berbeda dengan perjalanan kereta dari Paris ke Strasbourg, sepanjang perjalanan dari Strasbourg ke Colmar kami disuguhi pemandangan bukit-bukit dan pegunungan yang cantik. Daerah timur Perancis memang lebih berbukit-bukit, apalagi kalau kita bergerak ke arah selatan. Colmar adalah kota wisata yang cukup dekat dengan Swiss. Satu jam perjalanan dengan mobil sudah bisa membawa turis dari kota Basel di Swiss ke Colmar, Perancis. Jadi, tidak heran kalau di kejauhan terlihat gunung-gunung berbaris.
Berbeda dengan Strasbourg yang merupakan tujuan akhir, kereta yang kami naiki menuju Colmar adalah kereta TGV jurusan Strasbourg – Marseille. Colmar adalah pemberhentian ditengah-tengah. Jadi, telinga kami harus waspada, karena begitu ada pengumuman kereta akan berhenti di Colmar, kami harus siap-siap turun kereta.
Berhubung saya dulu (banget) pernah kursus bahasa Perancis, paling tidak saya masih bisa mengartikan pengumuman sederhana seperti informasi di kereta. (Yang penting jangan disuruh bicara, deh.) Tapi kalau tidak pernah belajar bahasa setempat, pastikan sebelumnya sudah berusaha mencari rekaman YouTube dimana nama kota tujuan kita disebutkan oleh penduduk lokal atau native speaker. Paling tidak, kalau ada pengumuman di kereta dan di stasiun, telinga kita sudah cukup peka dengan nama kota tujuan kita. Untungnya, di dalam kereta jarak jauh di Perancis, ada WiFi gratis dan ada website yang menunjukkan posisi kereta yang kita naiki. Jadi tidak terlalu susah untuk menentukan kapan kita harus siap-siap turun. Di kondisi seperti ini, saya sih tidak terlalu berharap bisa bertanya pada sesama penumpang. Mereka mungkin juga sama-sama turis (lokal atau internasional) yang tidak tahu jalan.
Stasiun Colmar. Kelihatan banget kalau stasiun kota kecil ya.
Oh ya, kereta jarak jauh di Perancis hanya berhenti sebentar di stasiun yang disinggahi. Jadi, kalau ada pengumuman bahwa kita sudah mendekati stasiun tujuan, langsung saja siap-siap bawa koper dan beranjak ke arah pintu. Orang-orang lokal kebanyakan juga sudah berdiri di dekat pintu saat kereta menjelang memasuki stasiun.
Stasiun Colmar sendiri terlihat tua namun terawat. Bangunannya adalah bangunan kuno yang cantik, yang sudah berdiri sejak tahun 1907 ketika daerah ini masih menjadi kekuasaan Jerman. Stasiunnya sendiri sebenarnya sudah ada sejak tahun 1840, tapi bangunannya belum seperti yang sekarang ini. Berada di stasiun Colmar serasa berada di stasiun jaman dulu. Duduk di stasiun ini serasa duduk di stasiun Cirebon atau stasiun Kroya di Jawa Tengah, yang cukup ramai tapi terkesan agak kuno. Tentunya, kalau TGV (kereta cepat) tiba, suasana kunonya langsung hilang.
Bagian depan Stasiun Colmar yang sudah dibangun di tahun 1907.
Dari stasiun Colmar, kami jalan kaki sambil menyeret koper menuju ke daerah kota tua Colmar – pusat wisata di sini. Karena kehabisan hotel yang murah, kami menyewa apartemen yang harganya masuk akal yang terletak tepat di tengah kota tua. Belum juga jalan sampai satu kilometer, kami dicegat seseorang yang memakai rompi berwarna kuning. Ternyata dia panitia lomba lari Marathon de Colmar yang berlangsung di pagi hari itu juga. Jalan tempat lomba lari ditutup, dan kalau ada orang yang akan lewat, harus menyerahkan tasnya untuk digeledah. Sayangnya, jalan menuju apartemen kami, menurut GoogleMaps, harus lewat sini. Salah satu teman saya menolak untuk membuka kopernya dengan alasan, kalau sudah dibuka, dia akan kerepotan menata ulang barang-barangnya. Ya sudah, kami memutuskan untuk berputar sambil mencari alternatif jalan menuju ke hotel kami.
Di pagi itu, sambil menyisir jalan-jalan kecil di dekat jalur utama maraton, kami beberapa kali bertanya petunjuk arah pada beberapa bapak dan ibu panitia maraton sambil menunjukkan kertas bukti booking apartemen dari Booking.com. Maksudnya sih untuk mencari cara ke apartemen tanpa perlu melewati jalur maraton. Tapi, tidak ada yang tahu di mana letak alamat yang saya tunjukkan. Bapak ibu yang saya temui juga tidak bisa bahasa Inggris. Beberapa di antara mereka malah jadinya bercanda sendiri karena nggak bisa menjawab dalam bahasa Inggris, walaupun mereka tahu apa yang saya tanyakan. Ya sudah, berdasarkan jawaban mereka dalam bahasa tarzan dan GoogleMaps, kami berjalan menuju ke daerah kota tua.
Ternyata sedang ada Marathon de Colmar, lomba lari yang juga diikuti beberapa warga Eropa luar Perancis.
Ini catatan kalau berada di daerah pedesaan di Perancis ya: tidak banyak orang yang bisa bahasa Inggris. Kalau pelayan rumah makan atau toko oleh-oleh, kadang-kadang mereka bisa bahasa Inggris untuk sehari-hari. Tapi kalau orang lain yang kerjanya tidak terkait dengan turis, biasanya hanya bisa mendengar tapi tidak bisa berbicara. Tidak perlu khawatir. Selama kita sopan, biasanya mereka juga ramah dan mau membantu. Orang pedesaan dan kota kecil di Perancis (menurut pengalaman saya) jauh lebih ramah dibandingkan orang-orang di kota besar seperti Paris.
Tepat di perempatan sebelum memasuki kawasan wisata kota tua, kami bertemu dengan mbak-mbak dan mas-mas Policiers (polisi nasional). Di baju mereka ada tulisan besar-besar “POLICE”. Mbak-mbak cantik polisi yang kami tanya bisa berbahasa Inggris. Walau dia tidak tahu daerah situ (sepertinya dia bukan orang sekitaran Colmar), tapi dia lalu mencari polisi lain yang kenal daerah sekitar, dan kami lalu mendapatkan petunjuk jalan yang sangat akurat. Plus, kami boleh lewat tanpa perlu bongkar-bongkar koper.
Begitu kami memasuki daerah kota tua, kami langsung merasa terlempar ke abad ke-16. Kalau di perjalanan menuju ke kota tua kami melihat gedung-gedung modern, begitu masuk kota tua, kami menemui rumah-rumah kuno half-timbered dengan rangka kayu yang terlihat dan tembok yang dicat warna-warni. Berjalan di antara kafe-kafe yang romantis, dan toko kue yang memunculkan bau harum makanan, kami merasa betah berlama-lama di sini. Tapi sayangnya, kami harus buru-buru ke apartemen yang sudah dipesan beberapa bulan sebelumnya.
Pemandangan daerah "kota modern" Colmar.
Pemandangan daerah "kota tua" Colmar.
Sesampai di apartemen, kami hanya menaruh koper, lalu langsung jalan lagi ke stasiun. Lho? Kenapa? Karena kami akan pergi mengunjungi kastil kuno yang berada di atas bukit. Hari ini, kami berniat mengunjungi kastil kuno yang bernama Le Château du Haut-Kœnigsbourg yang terletak di pinggiran kota Sélestat. Berdasarkan hasil browsing, di desa-desa di daerah Alsace, baik stasiun kereta api maupun di tempat wisata, tidak ada tempat penitipan koper. Jadi satu-satunya pilihan kami memang hanya menaruh koper di apartemen lalu berangkat menuju ke tujuan.
Setelah sejenak mampir ke salah satu toko kue untuk membeli kue Bagel, kami lalu melewati jalan lokasi lomba Marathon de Colmar. Berhubung sudah tidak membawa koper, kami bisa lenggang kangkung melewati panitia lomba dan juga petugas lainnya. Tanpa ragu, kami langsung berjalan cepat menuju ke stasiun Colmar untuk naik kereta ke kota Sélestat.


(Bersambung.)

4 Komentar:

  1. Walaupun tetanggaan dg Inggris, tapi ternyata masih banyak juga ya org Perancis yg gk bisa bahasa Inggris..

    Gue juga dulu pernah belajar bahasa Prancis pas SMA, tapi 99% lupa wkwkwwk.. Susah bgt pengucapannya :D

    -Traveler Paruh Waktu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha ... iya tuh. Orang Perancis di daerah sini lebih bisa bahasa Jerman dari pada bahasa Inggris.

      Hapus
  2. sama yaa di Indonesia juga gitu biasanya lebih ramah orang desa daripada orang kota, nice share mbaak pengen banget punya kesempatan keluar negri di wilayah eropa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ya. Di Indonesia juga. Kenapa ya, orang kota umumnya lebih jutek? (Ini termasuk gue sih.)

      Hapus