24 Maret 2018


Apa sih yang membuat hidup ini bahagia? Untuk saya, yang membuat hidup ini bahagia adalah: makan enak, tidur nyenyak, dan teman yang baik. (Tentunya dengan tambahan: sewajarnya. Kalau makan enak terus, bisa kena kolesterol dan diabetes. Kalau tidur terus, bangun siang, susah dapat kerja. Teman yang baik, kalau tidak hati-hati, bisa jadi ternyata menikung dari belakang.) Tapi kalimat yang di dalam kurung jangan dipikirkan berat-berat. Intinya adalah, untuk bahagia, kita perlu menjaga perut, otak, dan perasaan.
Mengenai “makan enak”, kita sebagai orang Indonesia tidak perlu pusing untuk mencari makanan yang membawa nikmat sekaligus penasaran. Dari Sabang sampai Merauke, negara kita diberkati dengan berbagai jenis bahan makanan segar dan inteligensi yang luar biasa untuk mengolahnya menjadi masakan yang mengundang selera.
Makan enak lesehan di Solo. Nasi liwet malam-malam.
Karena makanan Indonesia umumnya menggunakan bumbu khas yang sifatnya lokal, maka tidak heran kalau satu jenis makanan bisa berbeda rasanya kalau dimasak di tempat yang berbeda. Bukan apa-apa, ada beberapa jenis bumbu yang memang hanya ada di daerah tersebut. Bumbu khas inilah yang membuat, misalnya, beberapa pengusaha lapo di Jakarta impor bumbu khas yang disebut andaliman dari tanah Batak. Katanya, kalau digantikan dengan tanaman serupa yang tidak tumbuh di Sumatera Utara, rasanya tidak akan enak. Hal yang sama juga berlaku untuk rujak cingur, masakan Jawa Timur yang salah satu bumbu utamanya adalah petis. Kalau mau coba-coba membuat rujak cingur, jangan salah beli petis khas Semarang – konon bisa berbeda hasilnya.
Buat yang memang suka penasaran dengan masakan khas suatu daerah, nggak salah dong, kalau jalan-jalan ke penjuru Indonesia sekaligus mencobai makanannya. Wisata ke berbagai tempat di Indonesia, adalah salah satu cara untuk mengenali (dan merayakan) kebhinekaan kita, baik dalam hal budaya, kebiasaan, maupun juga kuliner. Kebayang kan, kalau kita bisa mencicipi cita rasa khas Indonesia di tanah asalnya masing-masing. Betapa sedapnya! Saya belum setajir itu untuk bisa melesat ke Jayapura hanya untuk mencobai sate ulat sagu. Harapannya sih, dengan ikutan #JelajahNusantaraSkyscanner bisa dapat tambahan modal untuk touch down langsung ke Bandara Sentani. Hehehe ...
Sekali waktu saya dan beberapa teman jalan-jalan ke Padang. Maksud hati, kami mau lanjut untuk mengunjungi Istana Pagaruyung dan Jam Gadang di Bukittinggi. Tapi waktu jam makan malam, begitu kami tiba di Simpang Kinol, hati kami langsung berpaling ke ... es durian Ganti Nan Lamo dan sate Danguang Danguang. Sebagai pecinta durian, saya tidak bakalan bosan bolak-balik ke Sumatera. Durian Sumatera memang enak banget! Beda dengan durian montong yang diimpor dari Thailand.
Es durian Ganti Nan Lamo yang lama menempel di hati.
Cabuk rambak, khas Solo. Ada yang pernah makan?
Pernah ke Ambon? Dulu saya mampir ke Ambon dalam perjalanan ke Banda Neira. Orang Ambon juga makan papeda, lho. Makanan yang bentuknya seperti jenang dan terbuat dari sagu ini memang merupakan makanan khas wilayah Indonesia Timur. Rasanya sih hambar. Tapi lauknya, ikan kuah kuning, rasanya enak banget! Walau makanan ini juga dijual di Jakarta, tepatnya di sekitaran Kemang, tapi cita rasa aslinya di Ambon tidak tergantikan.
Tidak hanya kota-kota di luar Jawa, wisata kuliner di dalam pulau Jawa juga oke. Di Solo, saya ikutan antre di Warung Selat Mbak Lies, yang terkenal menjual selat Solo. Hampir-hampir saya tidak pernah menemukan warung atau orang yang berjualan selat Solo di luar kota Solo. Jadi untuk makan kudapan yang satu ini, ya memang harus terbang ke Solo. Untungnya, tidak hanya selat yang bisa menjadi tujuan kuliner di sini. Serabi Solo dan cabuk rambak – yang juga tidak pernah saya temui di luar kota Solo, juga menjadi sensasi tersendiri di lidah.
Tahun lalu saya sekeluarga wisata ke Belitung. Ngapain di sana? Minum kopi di Kota Manggar, yang disebut sebagai  Kota 1001 Kopi. Berhubung berpergian dengan orang tua yang sudah cukup berumur, tentunya kenyamanan menjadi prioritas. Nggak heran yang dikejar waktu itu adalah tiket pesawat Garuda Indonesia. Berhubung semua angota keluarga sudah punya pekerjaan dan kegiatan masing-masing, maka yang penting adalah tanggal yang disetujui oleh seluruh keluarga. Soal harga tiket pesawat Garuda, ya tinggal dilihat di tanggal segitu pilihannya apa.
Nah, kalau untuk urusan membanding-bandingkan harga dan tanggal, memang nggak salah kalau menggunakan Skyscanner. Bisa pakai website atau aplikasi android di handphone, Skyscanner bisa diandalkan untuk membantu menemuan pilihan tiket pesawat yang tepat, baik dari segi harga atau kenyamanan. Untuk yang masih penasaran cari-cari tiket pesawat untuk jalan-jalan keliling Indonesia, coba saja download aplikasi Skyscanner dan pilih tiketnya, bisa berdasarkan harga termurah, atau perjalanan tercepat. Oh ya, nggak cuma tiket, kita juga bisa cari hotel lho di sini.
Cari tiket pesawat lewat Skyscaner.
Masih banyak tempat-tempat wisata di Indonesia yang belum saya kunjungi. Masih banyak juga masakan khas yang belum pernah saya cicipi. Memang perlu menjadwalkan penggunaan cuti yang efisien supaya bisa tetap keliling Indonesia tanpa dipecat bos karena kebanyakan bolos. (Ini curcol pegawai kantoran biasa.) Baiklah, mari kita berburu tiket!
Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh ID Corners dan Skyscanner.

2 Komentar: