25 April 2020

Update 5 Agustus 2020 : Saat ini sudah ada mesin penjual otomatis yang baru yang bisa mengisi kartu JakLingko BNI, Mandiri, dan BRI. Mesinnya warnanya biru dan sudah dipasang di beberapa halte BRT.
Update 30 Agustus 2020 : Penjelasan tentang mesin yang baru ada di sini.
Sebetulnya bahan untuk artikel ini sudah ada sejak bulan Februari. Tapi kok kayaknya nggak cocok ya, menulis tentang kartu JakLingko sementara orang sudah khawatir kalau mau jalan-jalan ke luar rumah. Jadinya, sempat tertunda deh tulisan ini. Tapi daripada sia-sia, saya mau cerita pengalaman saya membeli kartu JakLingko di vending machine alias mesin penjual otomatis.
Beli kartu JakLingko di mesin penjual otomatis.
Apa sih, kartu JakLingko? Kartu JakLingko adalah kartu multiguna yang bisa dipakai sebagai alat bayar di bus Transjakarta dan angkot mikroTRans di area Jakarta. Ada dua kartu jenis JakLingko, yaitu yang didukung oleh Bank DKI dan yang didukung oleh Bank BNI. Nggak ada bedanya antara kedua jenis ini, kecuali metode top up yang melalui ATM, karena masing-masing didukung oleh jaringan ATM masing-masing.
Apa bedanya dengan kartu berbayar lainnya seperti Flazz, Jakcard, atau TapCash? Kartu JakLingko bisa dipakai di angkot mikroTrans sementara kartu-kartu yang lain tidak bisa. Kalau rumahya tidak dilewati angkot mikroTrans, ya nggak perlu-perlu amat beli kartu ini.
Nah, kartu JakLingko sekarang sudah bisa dibeli di mesin otomatis, jadi sekarang pembelian kartu bayar ini sudah bisa dilakukan kapan saja tanpa mengikuti jadwal piketnya petugas. Karena penasaran, saya jadinya mencoba untuk membeli kartu di mesin otomatis. Nah, ini caranya membeli kartu JakLingko di mesin penjual otomatis

Menemukan mesin penjual otomatis kartu JakLingko

Biasanya mesin ini ada di halte busway yang besar. Saya sendiri membeli kartu JakLingko di halte busway Dukuh Atas 1. Ini belinya malam-malam, habis pulang kantor. Jadi jangan heran kalau fotonya gelap. Karena mesin otomatis bekerja 24 jam tanpa perlu dibayar lembur, mesin ini bisa digunakan kapan saja. (Di waktu normal, sebelum pandemi, halte busway Dukuh Atas 1 memang beroperasi 24 jam.)
Mesin otomatis ini menggunakan touchscreen atau layar sentuh seperti mesin-mesin otomatis lain yang ada di stasiun kereta api, stasiun MRT, ataupun stasiun LRT. Jadi, semua proses cukup dilakukan dengan satu jari saja. Gampang, kan.

Sentuh tombol “Beli Kartu”

Karena tujuannya kali ini adalah membeli kartu, maka yang pertama saya lakukan adalah menyentuh tombol “Beli Kartu”.

Pilih jenis kartu yang dimaui

Karena mesin otomatis ini miliknya BNI, maka pilihannya hanya JakLingko yang merupakan penjelmaan dari TapCash BNI. Kebetulan nggak ada pilihan lain, jadi ya harus tekan tombol kartu JakLingko dengan harga Rp 30.000,- dengan isi saldo Rp 10.000,-.

Muncul perintah pembayaran tunai

Iya, hanya bisa dibayar pakai uang tunai. Kalau melihat di petunjuk di bawah layar, kita bisa memilih mau membayar pakai kartu debit atau tunai. Tapi, saat saya benar-benar menjalankan mesin ini, tidak muncul pilihan. Pembeli langsung diarahkan untuk membayar secara tunai.
Padahal sekarang beli minuman di vending machine di mall pakai pulsa handphone aja sudah bisa, ya. Saya menunggu jaman dimana vending machine bisa dibayar pakai kartu debit atau kartu kredit. Tapi sampai sekarang kayaknya cuma mesin penjual tiket kereta bandara yang bisa begitu. (Yang di stasiun BNI City dan di Bandara Soetta ya, yang saya tahu.) Atau ada yang tahu mesin lain yang bisa pakai kartu debit dan kredit di Indonesia?

Memasukkan uang tunai pada penerima uang

Bill acceptor adalah lubang tempat kita memasukkan uang. Letaknya di kanan bagian bawah. Lubang penerima uang menerima lembaran Rp 10.000,-, Rp 20.000,-, Rp 50.000,-, dan Rp 100.000,-. Karena saya membeli kartu yang harganya Rp 30.000,- maka saya memasukkan tiga lembar uang sepuluh ribuan. Oh ya, memasukkan uangnya harus satu-satu, ya. Nggak bisa sekaligus seperti kalau menabung lewat mesin ATM. Oh ya, siapkan uang pas ya. Mesin ini tidak bisa memberikan kembalian seperti vending machine di Jepang.
Yang harus diperhatikan adalah, lembar uang tidak boleh lecek, terlipat, atau kusut. Sebaiknya lembar uang yang dimasukkan adalah lembaran uang yang relatif baru. Berhubung saya sudah sering ditolak oleh Commuter Vending Machine (C-VIM) alias mesin top up kartu multi trip (KMT) Commuter Line karena uangnya lecek, saya sudah tidak berani coba-coba memasukkan uang lecek ke dalam mesin otomatis ini. (Eh, tapi C-VIM masih lumayan bersahabat dengan uang yang pernah tertekuk atau sudah terlihat lama. Yang parah adalah vending machine minuman di mall atau bandara. Yang satu ini biasanya benar-benar hanya mau menerima uang baru!)



Menunggu proses

Setelah seluruh lembaran uang diterima mesin, ya kita tinggal menunggu mesin memproses kartu kita dan mengirimkan datanya ke server kantor pusat bank terkait.

Ambil kartu

Setelah prosesnya selesai, maka kartu akan keluar di lubang tempat pengambilan kartu. Tinggal ambil saja kartunya.

Ambil struk bukti transaksi

Paling terakhir, struk bukti transaksi akan keluar. Jangan lupa diambil, ya. Biar nggak nyampah di situ.

Nah, sudah dapat deh, kartu JakLingko. Bisa langsung digunakan. Buat yang merasa bakalan perlu naik angkot mikroTrans atau jalur angkot OK Trip, mendingan punya kartu JakLingko. Bukan apa-apa, angkot ini tidak menerima pembayaran tunai dan hanya bisa dibayar pakai kartu JakLingko. Tapi kalau nggak bakalan pakai angkot di Jakarta, kartu ini bisa jadi alternatif untuk alat pembayaran bus Transjakarta. Praktis, kan, membeli kartu JakLingko.

11 Komentar:

  1. Oh, sampai sekarang ternyata fungsi mesin masih belum maksimal juga ya ...,nah tuh nyatanya gagal transaksi dicobain pakai credit card.

    Dulu aku juga sempat gagal transaksi pakai mesin bayar ini, kak.
    Tepatnya pas awal mulai penggunaan mesin tiket di stasiun.

    Namanya unik JakLingko.
    Singkatan Jakarta Lingkar Kota kayaknya 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah itu pasti awal-awal ada mesin otomatis ya. Seingat saya dulu sering error, makanya di stasiun kereta dulunya sering ada petugas yang didedikasikan untuk menjaga mesin. Kalau sekarang sih, pengguna Commuter Line sudah langsung mengoperasikannya dengan gampang.

      Hapus
    2. Syukurlah kalo sekarang penggunaan operasional layar monitor tiketnya udah gampil.

      Malu-maluin juga kalo sampai hari gini masih sering error juga 😄🤭

      Hapus
    3. Wuahahaha ... sudah seharusnya. Kan jaman semakin maju.

      Hapus
  2. angkot mikrotrans? wah saya baru tahu lho.. udah 4 tahun lebih ninggalin jakarta, dan selama di jkt pun jarang pake angkutan umum,, alhasil kudet wkwk..

    -Traveler Paruh Waktu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Angkotnya juga nggak banyak kok. Biasanya yang ke arah pinggiran Jakarta.

      Hapus
  3. wah mba dee... di pandemi gini masih keliling jakarta juga ya hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kerja, Pak ... Tapi nggak tiap hari kok.

      Hapus
    2. wah bener sih mba, kita ga bisa menutup mata untuk ga kerja gini. ga kerja ga bisa dapet utk makan hehe

      Hapus
  4. Cara belinya cukup mudah, tapi jadi bingung, banyak banget kartunya.
    Coba ada satu kartu buat semuanya gitu, kan asyik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sayangnya, kalau cuma ada satu kartu untuk semua, ntar kena undang-undang anti monopoli. Mau nggak mau, memang kita harus terima adanya variasi dalam hidup ini. (Eh?)

      Hapus