31 Januari 2021

Mulai tahun 2021 ini, saya akan punya tema baru untuk artikel saya, yaitu jalan-jalan di dapur. Apa maksudnya? Ya ... karena tidak bisa pergi-pergi, maka di hari libur dan weekend saya hanya jalan-jalan dari kamar tidur ke dapur terus balik lagi ke kamar tidur. Tapi jangan salah, ada banyak hal di dapur yang bisa membawa kita berkelana ke berbagai kota di Indonesia dan bahkan mancanegara. Rasa dan aroma bisa membuat kita seolah-olah berada di tempat lain. Nggak percaya?

Di bulan Januari ini, dimana sering hujan di pagi hari, udara seringkali dingin dan membuat kita malas beraktivitas. Coba seduh kopi varietas Arabika single origin Java Ijen. Kopi yang berasal dari pertanian di sekitar pegunungan Ijen, Kabupaten Bondowoso ini sudah terkenal, bahkan ke mancanegara. Saya bukan ahli kopi, ya, jadi saya nggak tahu apa bedanya aroma fruitty, nutty, atau apalah itu. Tapi yang jelas, kopi java ijen yang ada di dapur saya rasanya tidak pahit dan tidak terasa asam. Baunya harum dan menyegarkan. Cocok untuk diminum hangat-hangat di musim hujan seperti saat ini.

Menyeduh kopi.

Kopi sendiri aslinya bukan tanaman asli Indonesia. Diperkirakan kopi berasal dari sekitar Ethiopia. Berdasarkan catatan sejarah, seduhan kopi sudah dinikmati oleh penduduk Timur Tengah sejak abad ke-15. Kopi kemudian menjadi komoditas yang disukai oleh masyarakat Eropa, dan VOC, yang saat itu menguasai daerah Indonesia, mencari keuntungan dengan menanam kopi di pulau Jawa. Di abad ke-18, sebagian besar kopi yang beredar di Eropa berasal dari pulau Jawa, dan pada saat itu, kopi sering juga disebut dengan “Java”.

Ada banyak daerah di pulau Jawa yang menjadi sumber kopi dengan rasa khas yang sudah memiliki penggemar di mancanegara, dan salah satunya adalah daerah di sekitar pegunungan Ijen. Berdasarkan penelitian dari VOC, tanah di sekitaran pegunungan Ijen dianggap cocok untuk menjadi perkebunan kopi karena daerah ini tinggi, sejuk, dan subur. Di akhir abad ke-17, daerah ini mulai dikembangkan menjadi perkebunan kopi, baik untuk varietas Arabika maupun Robusta. Di tahun 1711, kopi dari dataran Ijen termasuk dalam kopi asal pulau Jawa yang pertama kali diekspor ke Eropa.

Saat ini, perkebunan kopi peninggalan Belanda dikelola oleh PT Perkebunan Nusantara XII (Persero). Namun, masyarakat di sekitaran Kabupaten Bondowoso juga menanam kopi dan mengelola hasilnya sendiri. Sejak tahun 2011, pemerintah Kabupaten Bondoswoso mengembangkan perkebunan rakyat di luar tanah milik PTPN XII dengan bibit kopi varietas Arabika. Kini masyarakat setempat juga menikmati keuntungan dari bisnis kopi. Tak heran pemerintah Kabupaten Bondowoso kemudian menyatakan diri sebagai ‘Republik Kopi’.

Berkembangnya selera masyarakat Indonesia yang menyebabkan menjamurnya bisnis kopi lokal, baik berupa berupa café atau produsen yang meramu dan mengolah biji kopi, membuat para petani semakin bersemangat untuk menanam kopi. Memang mayoritas produksi kopi dari sekitaran Gunung Ijen diekspor, namun tetap ada yang menjualnya di dalam negeri dan memberikan kesempatan bagi masyarakat Indonesia untuk menikmati kopi yang sudah memiliki sertifikat internasional sejak tahun 2013 ini.

Nah, sambil mencicipi hangatnya kopi arabika Java Ijen, kita juga bisa menengok kembali kondisi alam di pegunungan Ijen yang membuatnya dapat menghasilkan biji kopi kelas dunia. Gunung Ijen, yang namanya menjadi nama kopi ini, adalah gunung yang aktif dan terakhir meletus di tahun 1999. Kondisi ini membuat tanah di sekitarnya subur. Petani di sekitaran Gunung Ijen mengatakan bahwa mereka tidak perlu menggunakan pupuk kimia untuk membantu perkembangan pohon kopi mereka karena tanahnya sudah subur. Tak heran beberapa petani kopi mengatakan bahwa pertanian mereka adalah 100% organik.

Kopi arabika Java Ijen, pakai susu.

Gunung Ijen sendiri terkenal di kalangan wisatawan karena fenomena blue fire, atau api abadi biru yang ada di kawah Ijen. Fenomena ini terjadi karena panas dari kawah bereaksi dengan uap sulfur dan menghasilkan warna biru. Kadang bentuknya menyerupai api yang menyala-nyala, kadang bentuknya seperti aliran lava. Warna biru neon ini hanya terlihat di pagi hari sebelum matahari terbit.

Fenomena blue fire ini sebenarnya ada di beberapa area vulkanik di dunia yang memiliki kandungan sulfur yang tinggi. Namun, tempat yang relatif mudah dikunjungi oleh turis dan dimana fenomena ini terjadi sepanjang tahun, ya hanya di Gunung Ijen. Makanya mayoritas foto blue fire di internet diambil dari kawah Gunung Ijen. Gunung Dallol di Ethiopia juga pernah dikabarkan menyemburkan api biru yang mengalir menyerupai lava, tapi daerah ini tidak ramah turis sehingga tidak banyak orang yang mendokumentasikannya. Yellowstone Park di Amerika juga dikabarkan mengeluarkan api biru saat ada kebakaran hutan, tapi kebakaran hutan di sini tidak terjadi setiap tahun. (Lagi pula kalau ada kebakaran hutan, orang memilih untuk menyelamatkan diri daripada foto-foto, kan.)

Tuh, kan. Dari minum kopi saja bisa jalan-jalan sampai ke Gunung Ijen. (Melamun sih, maksudnya.) Nggak salah kalau di dapur kita juga bisa berwisata. Kopi Java Ijen bisa diseduh dan langsung diminum. Tapi saya lebih suka mencampurnya dengan susu. Rasanya jadi lebih gurih. Nggak perlu gula, karena kopi Java Ijen nggak pahit.

Buat yang penasaran, boleh coba mencicipi kopi Java Ijen. Lumayan buat menemani pas musim hujan begini. Tinggal nyari cemilan aja, nih. Apa ya enaknya? Hmm ...

18 Komentar:

  1. Kayaknya enak kopi + gabin

    BalasHapus
  2. macem macem ya kopi, padahal sama rasanya kopi, cuman beda tipis, mungkin beberapa orang saja yang bisa bedain rasanya hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah itu. Orang kalau promosi bisa bilang rasa ini itu. Tapi kalau kopi buat saya pilihannya cuma pahit dan nggak pahit.

      Hapus
  3. Halo Mba dyah, apa kabar? Udah lama nih aku ga mampir ke sini 😊

    Aku bukan pencinta kopi, tapi dikelilingi oleh temen2 pencinta kopi. Setuju klo Indinesia memang mengahsilkan berbagai kopi berkaulitas dan mayoritas dieskpor. Salah satunya kopi dr Kawah Ijen ini yaa.. Aku berasa ikut berpetualang ke kawah ijen dg cerita mba dyah 😍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya sih sebetulnya biasa aja dengan kopi. Adik saya tuh yang suka banget kopi. Tapi saya sepakat, Indonesia adalah penghasil kopi yang berkualitas sangat baik. Jadi sayang kalau warganya malah beli kopi import dan melupakan "rasa" lokalnya.

      Hapus
  4. Sepertinya nampak enak sekali yaa kopi Java Ijen nya, mbak. Tap sayang, saya tidak tahan minum kopi nih. Saya selalu salut kepada orang yg suka minum kopi hiihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahaha ... saya bukan fans berat kopi. Tapi kalau lagi ada, ya bisa sekalian minum juga.

      Hapus
  5. Sama mba, kadang aku bingung baca review kopi yg bilang rasanya Fruity lah, ada after taste rasa coklat dll.. pas aku coba, cuma pahit doang yg berasa. Fruity dr Manaaa :p.

    Memang lidahku ga bagus utk nyicipin enaknya kopi. Aku suka kopi tp cm kopi yg pake gula. Jd kalo hitam dan pahit, ga suka blaaas hahahahah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selera orang beda-beda ya. Tapi kopi itu menang di aromanya. Begitu diseduh di dapur, baunya sampai ke kamar tidur.

      Hapus
  6. Pasti enak dan ada rasa unik ya karena kopinya berasal dari kawasan api biru ..
    Belum pernah kucobain nih kopi Ijen.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kopi Indonesia semuanya enak. Tapi yang satu ini boleh dicoba, deh.

      Hapus
  7. Sepertinya ritual menyeduh kopinya berlangsung lama karena ngelamun jalan-jalan ke Ijen. Hahahahahaha

    BalasHapus
  8. iya juga yaa,, berasal dari bikin kopi di dapur, bisa menjelajah sampai ke daerah asalnya, walaupun hanya dalam imajinasi hehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lha gimana, masih susah mau jalan-jalan. Aturan kantor, kalau keluar kota harus karantina 14 hari plus rapid antigen sebelum masuk. Repot kan.

      Hapus
  9. Nah, camilannya juga yang bisa bikin jalan-jalan virtual. Hehehe....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masalahnya, camilannya sudah virtual, Mbak. Hahaha!

      Hapus