2 Maret 2021

Sejak April 2020 yang lalu, ada peraturan yang mewajibkan pendaftaran IMEI (International Mobile Equipment Identity) dari handphone yang digunakan di Indonesia. IMEI adalah kode yang mengidentifikasi suatu gawai dalam jaringan bergerak seluler (GSM). Setiap gawai memiliki satu kode IMEI yang unik, yang tercatat secara khusus. Setiap gawai yang tersambung ke jaringan telepon akan terbaca kode IMEI-nya. Akibatnya, penyelenggara jasa telekomunikasi dapat melacak kode IMEI suatu gawai dan memberikan perlakuan khusus. Di Indonesia, gawai yang IMEI-nya tidak terdaftar di kantor bea cukai akan diblokir sehingga tidak dapat dipakai untuk nomer telepon seluler Indonesia.

Ilustrasi gawai. (Bukan punya saya.)

Tujuan pelacakan IMEI ini sebenarnya adalah untuk mencegah peredaran gawai black market, termasuk barang selundupan. Nah, kalau kita beli barang elektronik dari luar negeri dan membawanya pulang ke Indonesia, kita mau tidak mau harus tunduk pada aturan dari bea cukai. Selain handphone yang dibeli dari luar negeri harus didaftarkan ke kantor bea cukai, ada juga batasan harga yang bebas bea cukai.

Buat kita yang nggak belanja gawai di luar negeri, tahu soal pelacakan IMEI ini juga penting, lho. Apalagi kalau kita mau beli handphone second. Pastikan handphone yang kita beli nggak kena blokir karena barang selundupan atau curian. Terus kalau kita kecurian handphone, kita juga bisa minta blokir IMEI kita supaya handphone itu tidak bisa dipakai. Tapi untuk yang satu ini saya cuma baca-baca di internet dan belum pernah mencobanya sendiri.

Oleh sebab itu, buat yang berencana untuk membeli handphone dari luar negeri dan membawanya ke Indonesia, ada beberapa hal yang wajib dilakukan:

  • Buka website www.beacukai.go.id dan cari tombol “Registrasi IMEI”. (Bisa juga langsung masuk ke https://www.beacukai.go.id/register-imei.html.) Pendaftaran dilakukan sebelum kembali ke Indonesia.

  • Daftarkan IMEI handphone dengan mengisi formulir yang ada

  • Simpan barcode yang diperoleh

  • Barcode yang diperoleh dapat dilaporkan ke kantor bea cukai di hari kedatangan sebelum keluar bandara. Saat pelaporan, kita harus membawa paspor asli, boarding pass, nomer NPWP, dan invoice pembelian. (Ingat ya, kecuali kasus khusus seperti aksi Satgas Covid-19, kalau kita sudah keluar bandara, tidak akan bisa masuk ke dalam lagi.)

  • Handphone dapat digunakan dalam satu-dua hari setelah pendaftaran IMEI di kantor bea cukai

Pendaftaran IMEI harus dilakukan sebelum keluar bandara, ya.

Nah, berikut catatan tambahan sesuai dengan pengalaman pribadi seorang rekan terkait dengan pendaftaran IMEI handphone:

  • Ketentuan bea cukai menyatakan bahwa orang masuk Indonesia dapat membawa gawai maksimal 2 buah dengan harga maksimal USD 500 untuk bisa bebas bea cukai.

  • Sayangnya, sepanjang pengetahuan kami, di Jakarta, kantor bea cukai yang bisa menginput bebas bea cukai ini hanya yang ada di bandara Soekarno Hatta Terminal 3 (kedatangan internasional). Jadi kalau kita mendaftarkan handphone di kantor bea cukai di luar bandara, yang bebas bea cukai ini nggak akan kita dapat. Makanya jangan malas mendaftarkan IMEI sebelum pulang ke Indonesia, supaya bisa langsung daftar saat tiba di bandara.

  • Untuk warga negara Indonesia, saat pendaftaran di kantor bea cukai, dia harus bisa menunjukkan NPWP dan invoice bukti pembelian. Kalau orang asing, tidak perlu pakai NPWP dan invoice pembelian, namun dia harus bisa menunjukkan jenis visa yang memang sesuai untuk tinggal di Indonesia jangka panjang (misalnya visa kerja, visa penyatuan keluarga, dll). Kalau visa turis tapi mau daftar IMEI, pasti dipertanyakan.

  • Handphone yang IMEI-nya tidak terdaftar di bea cukai masih bisa digunakan untuk nomer telepon lokal di Indonesia selama 3 bulan dari kedatangan, namun harus didaftarkan di gerai penjualan kartu seluler resmi. Artinya, untuk turis yang ingin menggunakan nomer telepon lokal, tidak perlu daftar IMEI di bea cukai karena kan visanya juga nggak akan lebih dari 3 bulan. Yang penting beli nomer teleponnya di gerai resmi.

  • Handphone yang IMEI-nya tidak terdaftar di bea cukai masih bisa digunakan untuk nomer telepon luar negeri. Jadi untuk turis yang memilih menggunakan nomer dari negara asal dengan paket roaming, mereka tidak perlu mendaftarkan IMEI handphone-nya.

  • Handphone yang IMEI-nya tidak terdaftar di bea cukai masih bisa digunakan dalam jaringan Wifi. Jadi kalau cuma dipakai untuk nyambung ke Wifi hotel, tidak perlu didaftarkan ke bea cukai.

  • Kalau menurut kantor bea cukai ternyata handphone kita kena bea masuk, ya dibayar saja. Rugi berargumentasi karena akibatnya handphone kita tidak akan bisa dipakai di Indonesia.

  • Untuk warga negara Indonesia, kalau lupa mendaftarkan IMEI handphone di bandara Soekarno Hatta, masih bisa mendaftarkan handphonenya di seluruh kantor bea cukai yang ada di Indonesia, namun tidak akan mendapatkan fasilitas bebas bea cukai sesuai ketentuan. Batas waktu pendaftaran IMEI adalah 60 hari dari kedatangan. Lewat dari itu, IMEI sudah tidak dapat didaftarkan lagi.

  • Selama masa pandemi, jika menginginkan perhitungan bebas bea cukai saat pendaftaran IMEI handphone, kita harus melampirkan surat bebas covid dari hotel tempat karantina. (Ketentuan ini berlaku di bulan Februari dan Maret 2021. Belum tahu kelanjutannya bagaimana.) Jadi kalau keluar dari batas imigasi terus disambut petugas Satgas Covid-19, menurut saja. Nanti kalau sudah keluar dari hotel tempat karantina, kita masih boleh masuk ke landside bandara Soekarno-Hatta Terminal 3 untuk mendaftarkan IMEI. Tapi bebas bea cukai USD 500 hanya berlaku selama 3 hari dari selesainya masa karantina, jadi jangan lengah. (Kalau sudah nggak ada karantina dari Satgas Covid-19, maka akan kembali ke peraturan jaman dulu dimana bebas bea cukai hanya berlaku sebelum kita keluar bandara di hari kedatangan kita.)

  • Di bulan Februari 2021, karena ada pembatasan orang asing masuk Indonesia, nggak ada layanan pembelian nomer seluler (jangka waktu 3 bulan) di gerai resmi tanpa pendaftaran IMEI di bea cukai. Karena turis kan nggak mungkin masuk Indonesia, jadi kalau ada orang asing beli nomer telepon, pasti harus bisa menunjukkan KITAS dan handphonenya harus sudah terdaftar di bea cukai.

Poster di salah satu kantor bea cukai.

Repot ya, kalau bawa handphone dari luar negeri? Kecuali kalau kita emang terpaksa pulang kampung setelah bertahun-tahun tinggal di luar negeri dan handphone kesayangan dari sana kita bawa kesini, ya. Kalau kita pada dasarnya memang tinggal di Indonesia, mendingan beli handphone dari agen resmi saja, supaya kita tidak perlu repot daftar IMEI. Belum tentu pula bisa menghindar pajak. Kalau memang inginnya punya Goldstriker iPhone 3GS Supreme, yang sudah pasti nggak dijual di Indonesia, ya bolehlah bawa pulang dari luar negeri ... tapi jangan lupa bayar bea cukainya, ya.

Selanjutnya
Artikel ini sudah yang terbaru.
Sebelumnya
Posting Lama

15 Komentar:

  1. Saya kemaren sempat khawatir karena beli HP yang tipenya tidak beredar di Indonesia. Beli via olshop sih. Tapi kemudian dapat sms jika hp saya sudah terdaftar.

    Sekarang kekurangannya gak bisa bawa ke tempat servis resmi. Gak diakui hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berarti penjual di olshop nggak abal-abal karena IMEI-nya sudah terdaftar. Yang ngeri itu kan kalau kita ternyata beli barang selundupan. Bisa rugi di kitanya.

      Hapus
  2. Kalau mau daftar imei, tapi invoicenya gag ada bisa gag ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bawa aja hapenya ke bea cukai. Nanti mereka pakai daftar perkiraan harga yang ada di database mereka. Tapi kita nggak bisa membantah kalau harga beli kita ternyata lebih rendah dari daftar mereka ya. Lha kan nggak ada buktinya.

      Hapus
  3. sekarang sih saya masih percayua beli yang resmi2 aja

    BalasHapus
  4. Begini caranya, berarti masih bisa jastip nih :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wakakakak... Asal bayar pajaknya bener sih, nggak masalah.

      Hapus
  5. kalau scan barcode ke bandara bs di wakilkan ga ya ??

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayaknya nggak bisa Pak, kan yang lapor yang punya NPWP. Lagi pula, yang bisa masuk bandara lagi hanya yang punya boarding pass.

      Hapus
  6. Seandainya invoicenya dan NPWPnya tidak ada apa masih bisa mendaftarkan IMEI?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, harus ditanyakan langsung ke petugas bea cukai, Pak. Yang jelas kalau nggak ada NPWP, pajaknya lebih mahal.

      Hapus
  7. Daftar IMEI nya bisa sebelum karantina apa mesti karantina dulu ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harus karantina dulu Kak. Soalnya pas daftar IMEI diminta surat keterangan selesai karantina.

      Hapus
  8. Wahh iya nih, ada salah satu handphone ku yang tidak bisa digunakan kkarena tidak ada IMEInya, alhasil cuma bisa hotspotan dari hape lain doang. DUH SEDIHNYAAAAA

    BalasHapus