19 November 2022

Gerbang masuk area pemandian Taman Sari

Taman Sari yang terletak Yogyakarta adalah bagian dari keraton Yogyakarta yang dulunya adalah taman istana, dimana di sini terdapat tempat pemandian raja. Tempat ini sekarang adalah tempat wisata yang cukup populer di kalangan turis, terutama seusai direnovasi setelah gempa tahun 2006.

Bangunan di areal Taman Sari aslinya selesai dibangun di tahun 1765. Sesuai dengan namanya, ini taman beneran, ya. Kabarnya, taman ini sangat luas, dimana di dalamnya, selain tempat pemandian, juga terdapat danau buatan, masjid, dapur, panggung terbuka, dan lorong bawah tanah. Areanya tidak hanya mencakup pemandian yang ada sekarang, namun juga meliputi kampung-kampung di sekitarnya. Namun lama-lama, Taman Sari tidak lagi difungsikan sebagai tempat bersenang-senang keluarga kerajaan. Di tahun 1867 area ini mengalami kerusakan yang cukup parah karena gempa.

Tiket dapat dibeli di gerbang masuk, dengan harga Rp 5.000,- per pengunjung. Kalau pengunjungnya orang asing, harganya bisa beda. Gerbang masuk turis ini sebenarnya adalah pintu belakang area pemandian. Jaman dahulu, keluarga raja dan para tamu masuknya lewat pintu depan, yang gerbangnya dibangun tinggi menjulang dan dihiasi dengan ukir-ukiran berbentuk bunga dan burung yang indah. Tapi gerbang utama ini sempat rusak karena gempa, sehingga akses masuk utama turis dipindahkan ke pintu belakang.

Bangunan tempat pemusik di masa kejayaan Taman Sari. Di depannya ada pohon kepel.

Jadi turis masuknya lewat pintu belakang, ya. Dari pintu masuk, sebelum penjual tiket, ada dua bangunan kecil yang merupakan bangunan penjaga kompleks. Terus ke dalam, kita akan tiba di gerbang masuk yang menyerupai pintu benteng. Tembok gerbang ini tebal dan tinggi. Wajar, lah. Karena tembok pembatas kompleks pemandian ini juga merangkap benteng pertahanan dan jalur penyelamatan darurat keluarga raja. Tentunya jaman dahulu hanya abdi dalem, para staf kerajaan, yang diperbolehkan lewat sini.

Dari sini, kami sampai di sebuah kompleks yang terdiri dari empat bangunan kecil. Keempat bangunan kecil ini adalah tempat pemusik dan penyanyi yang menghibur keluarga raja kalau sedang berjalan-jalan di daerah sini. Menurut pemandu kami, bangunan di area hiburan ini termasuk yang pertama kali dibuat saat Tamansari dibangun. Bata untuk membangunnya dibuat menyilang, sehingga tahan gempa. Kabarnya hanya kompleks hiburan ini yang selamat dari beberapa kali gempa.

Pemasangan bata yang menyilang. Perekatnya adalah putih telur dan gula jawa.

Dari sini kami beranjak ke istana ar. Istana air adalah tempat pemandian yang saat ini menjadi bintang utama wisata di areal ini. Di area khusus yang dikelilingi tembok tebal ini, terdapat tiga kolam. Kolam pertama adalah untuk anak-anak raja, kolam kedua untuk para istri raja, dan kolam terakhir yang terletak di dalam bangunan adalah kolam khusus raja. Kolam di sini bukan tempat mandi ya, ini adalah tempat berendam. Mungkin konsepnya sama seperti sentō di Jepang, dimana orang membersihkan diri dulu sebelum masuk ke kolam untuk duduk berendam, dan tidak wara-wiri berenang.

Menurut guide kami, kolam ini dulunya dibangun di atas sumber air. Tapi waktu gempa di abad ke-19, sumber air ini mati. Ketika gempa tahun 2006, sumber air ini muncul lagi dan airnya cukup deras. Oleh sebab itu, di dasar kolam dipasang katup untuk menahan air agar tidak keluar di kolam. Takutnya, kalau sumber air ini tidak ditutup, maka sumur warga jadi kering.

Bangunan tempat kolam raja dibangun bertingkat. Konon kabarnya, dahulu raja akan menonton para istri yang berendam di kolam, dan kemudian dia akan melempar bunga. Istri yang berhasil memenangkan perebutan bunga, akan diundang raja untuk berendam bersama di dalam kolam yang terpisah, yang khusus untuk raja tadi. Tapi bisa juga sih, raja memilih istri yang disuka tanpa perlu lempar bunga. Oh ya, jangan berpikir para istri ini bugil di kolam ya. Mereka pakai kemben yang memang khusus untuk berendam, dan di pinggir area kolam ada tempat ganti bajunya. Tapi kalau terpilih untuk masuk ke dalam kolam khusus raja, ya bisa dalam kondisi apa saja ya ...

Pemandian anak dan istri raja jaman dahulu.

Melongok ke dalam ruang tidur raja.

Di dekat kolam pemandian khusus raja, ada ruang peristirahatan raja lengkap dengan tempat tidurnya. Tempat tidurnya besar dan terlihat kokoh. Di bawah tempat tidur ada perapian untuk menjaga kehangatan di ruangan ini. Nah, ruang tidur ini terhubung dengan sebuah anteroom sebelum kemudian menyambung ke pintu menuju kolam. Di ruang anteroom ini, ada jendela-jendela yang disusun sedemikian rupa sehingga ruangan di sini terasa sejuk meskipun tidak ada AC maupun kipas angin.

Dari Taman Air, kami menuju ke halaman kompleks yang berupa lapangan pasir. Keraton jaman dulu sepertinya selalu memiliki halaman yang diisi pasir. Mungkin karena jaman dulu orang jalan tanpa alas kaki ya. Berjalan di atas pasir lebih menyenangkan dibandingkan berjalan di atas batu-batuan atau rumput. Di sini terdapat gerbang utama Taman Sari, yang sempat roboh waktu gempa tahun 2006. Gerbang ini sudah dibangun kembali, sehinga para pengunjung bisa melihat keindahan bangunan kuno ini. Gerbang ini disebut sebagai Gapura Agung, dan dari sini raja dahulu menikmati keindahan danau buatan. Danau buatannya sekarang menjadi perumahan penduduk.

Waktu saya berjalan di perkampungan di dekat Gapura Agung ini, saya melihat sisa-sisa tembok pembatas jaman dahulu, yang terlihat tebal dan sebagian sudah menjadi bagian dari rumah penduduk. Di sepanjang jalan, saya beberapa kali melihat lubang pembuangan air (drainage) yang akan menyalurkan air keluar area jika terjadi banjir. Jadi di bawah jalan-jalan ini, terdapat gorong-gorong saluran air yang dulunya membantu pembuangan limpahan air dari danau.

Menuju ke lorong bawah tanah di Pulo Cemeti. Lagi hujan deras, jadi nggak bisa menjelajah di sekitar sini.

Kebetulan, saat saya dan keluarga saya berjalan-jalan, tiba-tiba hujan deras. Kami berteduh di sebuah toko lukisan. Jalan setapak di antara penduduk dalam waktu singkat berubah menjadi sungai dangkal dimana air mengalir dengan deras. Memang daerah ini lebih rendah dari tempat lain, karena dulunya kan dasar danau. Tapi setelah hujan selesai, “sungai” dadakan ini juga menghilang, masuk ke dalam lubang pembuangan menuju gorong-gorong.

Perjalanan kami ditutup dengan jalan masuk ke lorong bawah tanah di sekitaran Pulo Cemeti, dan kemudian kembali ke area parkir Taman Sari. Sebetulnya, saya ingin melihat-lihat reruntuhan di sekitaran Pulo Cemeti ini. Sayangkan, pas ke sini hujan menjadi deras kembali sehingga guide kami langsung mengarahkan kami untuk masuk ke dalam lorong bawah tanahnya saja.

Karena masih masa pandemi dan sedang direnovasi, Sumur Gumuling masih tertutup untuk umum. Jadi saya tidak bisa masuk ke situ. Tapi nggak apa-apa. Sepanjang perjalanan saya kali ini saya sudah cukup puas menyaksikan salah satu peninggalan kejayaan kerajaan Mataram. Oh ya, saran saya, kalau berkunjung kemari, sewalah tour guide. Selain bisa memberikan penjelasan yang detil mengenai Taman Sari, dia juga bisa menjadi fotografer kita. Dia tahu banget sudut-sudut pemotretan yang oke, jadi hasil fotonya dijamin cantik.

Hasil foto di Taman Sari oleh tour guide kami.

6 Komentar:

  1. Liat pasangan bata dengan perekat putih telur, jadi ingat katanya juga ini dipakai sebagai perekat batu pada Candi Borobudur. Kebayang brp banyak telur yang dihabiskan ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dan kebayang berapa banyak warga yang tiap hari makan kuning telur karena sayang kalau dibuang.

      Hapus
  2. Saya terakhir ke sini masih tahun 90an, dari foto2nya Mba Dee kelihatannya masih asri dan sama spt yg saya lihat dulu, artinya memang segaja dijaga originalitasnya mungkin ya Mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Pak. Tour guide yang menemani kami memberitahukan kalau saat ini pemerintah Yogyakarta memang sedang mengusahakan agar Sumbu Filosofi Yogyakarta diterima UNESCO sebagai warisan budaya. Itu artinya semua area bersejarah di sekitaran Yogyakarta harus dirawat dengan sangat baik supaya waktu pemeriksaan dari UNESCO, seluruh area sumbu filosofi ini (termasuk situs di area keraton dan sekitarnya) dianggap layak untuk dicatat secara internasional.

      Hapus
  3. Nggak kebayang gimana mereka bisa ngebangun bangunan semegah itu di jaman dulu. Keren banget sih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, dan konon kabarnya dulu lebih megah lagi dibandingkan sekarang.

      Hapus