6 Desember 2013

Tanggal merah dan harpitnas! Apa lagi kalau bukan waktunya untuk jalan-jalan? Berbekal tiket murah dari Tiger Airways, saya dan seorang teman sepakat untuk jalan-jalan ke Malaysia. Dua kota yang akan kami kunjungi adalah Ipoh dan Melaka. Keduanya termasuk kota yang penting dalam sejarah Malaysia. Melaka bahkan sudah diakui sebagai warisan kebudayaan dunia oleh UNESCO. Mengingat tidak bisa cuti lama-lama, maka kami hanya punya 4 hari 3 malam untuk mengunjungi  kedua kota tersebut. Berikut catatan perjalanan kami:

1.  Datang ke Malaysia

Untuk warga negara Indonesia, untuk kunjungan wisata ke Malaysia tidak perlu mengurus visa. Tinggal bawa paspor, naik pesawat, lalu antre di loket imigrasi. Dengan catatan, kunjungan tidak lebih dari 30 hari dihitung dari hari pertama tiba di Malaysia. Jadi, kalau hari ini dapat tiket murah untuk pergi besok pagi sekalipun, tidak ada masalah.

Bandara internasional yang paling sering menjadi titik tujuan penerbangan murah dari kota-kota di Indonesia adalah LCCT (Low Cost Carrier Terminal). Walaupun di website kita akan melihat tujuan penerbangan adalah “Kuala Lumpur”, namun untuk Air Asia dan Tiger Air penerbangan akan berakhir di LCCT ini. LCCT berjarak sekitar 15 menit dari KLIA (Kuala Lumpur International Airport) dengan kendaraan. Sesuai dengan namanya, LCCT ini lebih tidak “berhias” dibandingkan dengan KLIA. Konsepnya minimalis. Akan tetapi, mengingat penumpang yang datang juga biasanya “turis minimalis”, layanan yang ada juga sudah cukup.

Di LCCT ada beberapa bank dan ATM Visa (untuk yang kartu ATM-nya pakai jaringan visa). Ada toko yang menyediakan kebutuhan pribadi dan oleh-oleh, dan juga ada beberapa kafe. Kalau saya, saya cukup perlu mengingat bahwa di situ ada McDonald yang penuh banget dan antreannya panjang banget. 

Oh ya, untuk urusan imigrasi. Urusan imigrasi gampang. Tidak ditanya-tanya dan pemeriksaan bagasi juga tidak merepotkan. Masalah yang ada cuma antrean yang panjang. Tapi masih dalam kriteria wajar.

2.  Menuju Ipoh

Dari LCCT, kami mengambil bus “Star Shuttle” jurusan Ipoh. Harga tiketnya RM 42. Tiket dibeli di loket tiket bus, tepat sebelum pintu keluar gedung bandara. Jangan berharap pelayanan yang ramah dari kru bis. Kita harus aktif bertanya bis mana yang berangkat dan kapan berangkatnya. Kalau sudah tahu busnya, jangan menunggu untuk masuk. Kursi berebut dan kalau Anda tidak dapat tempat duduk, Anda harus menunggu jadwal berikutnya bus berangkat. 

Kami berangkat jam 11:45 dari LCCT. Bus sempat mampir ke KLIA, untuk mengambil penumpang dari sana. Setelah itu, langsung tancap gas ke Ipoh. Sepanjang perjalanan, kami disuguhi pemandangan pohon kelapa sawit. Hanya ketika melewati persimpangan antara jalur menuju utara dan jalur menuju Kuala Lumpur saja, kami melihat gedung-gedung apartemen dan perumahan di pinggir jalan tol. Selebihnya pohon kelapa sawit atau pepohonan biasa. Bus berhenti sekali di tempat pemberhentian selama sekitar 10 menit. Cukup waktu untuk ke toilet.

Tebing kapur di pinggiran kota Ipoh
Begitu mendekati Ipoh, pemandangan berubah. Ipoh adalah kota yang dikelilingi oleh bukit kapur. Jadi, di sepanjang jalan Anda akan melihat potongan bukit kapur.  Tepat di pinggiran kota Ipoh, Anda dapat melihat beberapa kuil cina yang didirikan di dinding tebing kapur. Ruangan sembahyangnya adalah gua-gua karst yang ada di balik dinding tersebut. Dari bus saya dapat melihat jajaran patung-patung yang sepertinya patung Dewa-Dewi. Sayang sekali, perjalanan kali ini tidak membawa saya ke sana karena keterbatasan waktu.
Kami turun di Jalan Bercham, pos tiket untuk Star Shuttle di Ipoh. Walau bus masih akan melanjutkan perjalanan ke Terminal Amanjaya Ipoh, kami sudah turun sebelumnya agar lebih mudah untuk mencapai tujuan kami. Jalan Bercham adalah daerah bisnis. Banyak penjual mobil dan perlengkapannya. Ada juga shopping center Giant yang cukup besar. Tapi di sini bukan daerah turis, dan taksi sangat jarang. Untung sopir bus kami baik memanggilkan taksi yang baru saja keluar dari pom bensin di dekat situ. Total perjalanan dengan bus, dari LCCT ke Jalan Bercham, sekitar 3 jam 45 menit. 

(Catatan: Karena saya tidak tahu bedanya kuil Budha dan kuil Kong Hu Chu, maka saya akan menggunakan istilah kuil cina untuk kuil yang disertai dengan tulisan cina/patung dewi-dewa yang bernuansa Chinese. Kalau kuil india, berarti itu adalah kuil yang disertai dengan gambar/patung-patung hindu.)

3.  Tiba di Ipoh

Kami menginap di French Hotel, di area pusat kota Ipoh. Jarak dari Jalan Bercham ke hotel dengan menggunakan taksi sekitar 15 menit, dengan biaya MR 25. Catatan untuk Anda yang berminat untuk berwisata di sekitaran Ipoh: taksi di Ipoh tidak menggunakan argo! Anda harus bertanya dan menawar. Taksi juga sering dicarter jam-jaman. Bus dalam kota ada, tapi tidak banyak. Terminal bus antarkota (Terminal Amanjaya) jaraknya sekitar 15 menit dari kota Ipoh dengan kendaraan, jadi cukup jauh. Taksi akan menjadi modal Anda untuk berpergian ke tempat-tempat wisata yang berjauhan, maupun untuk mengantar Anda ke terminal antarkota. Oh ya, taksi di Ipoh kebanyakan kendaraan tua, banyak di antaranya yang tidak ber-AC. Jadi harus cerdik dalam memilih taksi.

French Hotel terletak di area Kampung Jawa, cukup dekat dengan Old Town yang menjadi pusat warisan budaya Ipoh. Jangan tertipu dengan nama: Kampung Jawa terdiri dari barisan ruko-ruko tua yang dihiasi dengan tulisan cina dan melayu. Dari penampakannya, Kampung Jawa lebih menyerupai area Kota atau Mangga Dua di Jakarta ketimbang kampung di Jawa Tengah atau Jawa Timur. Satu-satunya yang “ke-jawa-jawa-an” di situ adalah agen jamu Sido Muncul di ruko di depan hotel.

Saat kami datang ke Ipoh, Sabtu tanggal 2 November 2013, adalah perayaan Deepavali bagi warga India di Malaysia. Tidak ada perayaan yang besar di Ipoh, orang-orang hanya berkumpul dengan keluarga dan merayakan Deepavali bersama-sama. Imbasnya adalah, jalanan sangat sepi. Kami dapat menyeberang jalan-jalan dengan mudah tanpa terganggu oleh mobil yang lewat. Walaupun menurut Googlemaps  kampung India jaraknya lumayan dekat dari hotel, namun kami tidak berminat untuk ke sana di hari Deepavali ini. Selain (menurut website resmi di internet) hanya ada pasar kaget saja, orang-orang umumnya merayakan acara keluarga di rumah.

Di Kampung Jawa juga ada banyak hotel, dari low budget hotel seperti  Tune Hotel, sampai ke hotel-hotel yang jauh lebih nyaman lagi. Rumah makan juga banyak, dan ada beberapa rumah makan 24 jam. Rumah makan 24 jam biasanya menyediakan makanan seperti nasi goreng dan nasi lemak, serta umumnya halal. Pada saat kami di Ipoh sore hari itu, rumah makan chinese food yang buka di area sekitaran hotel semuanya di-booking untuk acara keluarga (ada hiasan-hiasan, penuh dengan orang-orang yang berpakaian pesta, dan ada mobil pengantin di luarnya). Sisanya tutup. Menurut resepsionis hotel, hari Deepavali adalah libur nasional di Malaysia, jadi banyak bisnis yang libur juga. Untung Seven Eleven di sebelah hotel buka 24 jam!

Karena kami sudah beres check in hotel jam 16:00, maka kami memutuskan untuk menjelajahi Old Town Ipoh. Jarak Old Town Ipoh dari hotel hanya 15 menit jalan kaki. Rugi kalau naik taksi, karena anda akan kehilangan kesempatan untuk menyaksikan kehidupan sehari-hari para penduduk Ipoh.

4.  Old Town – Ipoh Heritage Trail

Kampung Jawa di mana ada banyak hotel-hotel untuk turis, dan Old Town yang menjadi tempat warisan budaya Ipoh, hanya dipisahkan oleh Sungai Kinta. Sungai tersebut cukup lebar, dan ada sebuah kuil cina di tepiannya. Ada jalan setapak di sepanjang sungai, dan saat kami lewat sekitar jam 4 sore, ada beberapa orang yang sedang memancing. Kalau saat Anda berjalan-jalan di Kampung Jawa, Anda menjumpai ruko-ruko yang nampaknya masih aktif berjualan (saat saya berjalan-jalan, sedang libur nasional – jadi hampir semuanya tutup), maka di Old Town Anda akan menjumpai beberapa ruko yang nampaknya terbengkalai, persis seperti beberapa ruko di daerah Kota Tua di Jakarta.

Heritage trail road marker di dekat Birch Memorial Tower
Kami mengunjungi Old Town, Ipoh dengan berbekal Ipoh Heritage Trail Map (1st Map), yang diperoleh dari lobby hotel. Kalau Anda ingin melihat seperti apa peta tersebut, boleh coba mengunjungi website ini http://www.ipohworld.org/blog dan cari Trail Map di situ. Ada beberapa peta untuk daerah yang berbeda-beda, dan kalau Anda memiliki cukup banyak waktu, mungkin Anda bisa menjelajahi semuanya. Seluruh perjalanan di area Old Town dapat dilakukan dengan berjalan kaki.

Tepat setelah menyeberangi Sungai Kinta, kami bertemu dengan gedung tua berwarna kuning di pojokan, yang kabarnya dulunya merupakan salah satu restoran tertua di Malaysia. Menurut keterangan di peta, itu adalah F.M.S. Bar & Restaurant. Nampaknya bangunan ini sudah tidak dipakai lagi. Dari situ, Anda dapat melihat Ipoh Padang, yang merupakan alun-alun kota Ipoh. Anak-anak muda dapat berlatih sepak bola di situ.

Melewati F.M.S. Bar & Restaurant ke arah utara, kami menjumpai Masjid India Muslim (atau Town Padang Mosque) yang bersebelahan dengan Sekolah St. Michael’s Institution yang merupakan bagian dari Kongregasi Katholik F.S.C. (La Sallian). Melewati sekolahan tersebut, menyeberangi pertigaan, ada bangunan modern tinggi yang bertuliskan “Perpustakaan Tun Razak”. Oh ya, di tepi Ipoh Padang, ada bangunan yang nampak eksklusif dan tertutup, yaitu Royal Ipoh Club. Sudah pasti kami hanya lewat di depannya saja.

Dari sekolah St. Michaels, kami berbelok ke utara sedikit menuju St. John’s Church. Gereja ini adalah sebuah gereja Anglikan. Bangunan ini agak bersembunyi di dekat jalan layang, jadi dari kejauhan tidak nampak. Bangunan gereja ini didominasi warna merah bata. Saat kami datang, sedang ada latihan koor. Jadi, kami hanya foto-foto di halamannya saja.

Stasiun kereta api di Ipoh
Dari St. John’s Church, kami berjalan ke selatan menuju stasiun kereta api Ipoh (Ipoh’s Railway Station). Kami melewati gedung Mahkamah Tinggi Ipoh dan gedung Dewan Bandaraya Ipoh (Town Hall). Bangunan-bangunan tersebut adalah bangunan tua bernuansa eropa yang terawat dan masih dipakai hingga saat ini.

Di depan stasiun kereta api, terdapat lahan parkir yang cukup luas dan sebuah monumen peringatan perang (War Memorial) yang berbentuk persegi. Monumen ini merupakan wujud penghargaan terhadap mereka yang meninggal untuk membela negara di beberapa periode pertempuran, salah satunya saat konfrontasi Indonesia-Malaysia di pertengahan tahun 60’an. 

Stasiun kereta apinya sendiri unik. Nuansanya eropa, namun di bagian tengahnya ada menara yang berbentuk seperti kubah. Kalau mengambil foto bangunan ini dari seberang jalan, latar belakangnya adalah bukit-bukit karst yang unik. Bangunan ini dibangun di tahun 1914 – 1917 dan sampai sekarang masih dipakai. Saat kami datang, kami melihat rombongan orang-orang yang baru saja turun dari kereta api.

Dari stasiun kami menyeberang jalan dan melewati Jalan Dato Maharajalela. Di sepanjang jalan ini, ada banyak bangunan tua yang terawat dan bagus untuk jadi obyek berburu foto. Bangunan-bangunan yang ada di sini, saat ini digunakan untuk perbankan, toko-toko, tempat nongkrong, dan juga kantor law firm. Satu-satunya bangunan yang tidak nampak “bersejarah” di sini hanyalah gedung parkiran mobil di kanan jalan yang berwarna cokelat muda.

Birch Memorial Tower
Saat kami melewati jalan, tiba-tiba kami mendengar dentang jam sejumlah 6 kali. Kami bergegas menuju sumber suara itu, dan kami tiba di Birch Memorial Clock Tower. Letaknya tetap di balik gedung parkiran mobil. Bangunan ini masih berfungsi sebagai jam. Setiap lima belas menit dia akan berbunyi, dan tepat pada jam-nya, lonceng akan berdentang sesuai dengan waktu yang ditunjukkan. Jam 6 sore di Ipoh masih terang dan matahari masih jauh dari cakrawala. Di dekat Birch Memorial ini ada kafe dimana orang bisa duduk-duduk dan menikmati senja. Sayangnya waktu kami jalan-jalan di area itu, kafe tersebut (tentu saja) tutup. 

Birch Memorial berada di antara Jalan Dato Maharajalela dan Jalan Dato Sagor. Kalau melihat ke arah Jalan Dato Maharajalela, Anda dapat melihat gedung bank OCBC dan bank Standard Chartered. Keduanya adalah gedung yang sudah ada sejak sebelum perang dunia kedua. Kalau Anda melihat ke arah Jalan Dato Sagor, Anda akan melihat Masjid Negeri. Bentuk masjid ini cukup khas, dengan kubah-kubah dan sebuah menara tinggi yang menjulang.

Kalau dari Birch Memorial kita menelusuri Jalan Dato Sagor, maka kita akan melewati rumah-rumah makan. Karena di hari perayaan Deepavali rumah makan itu tutup semua, maka kami melanjutkan perjalanan kembali melewati Jalan Dato Maharajalela. Di ujung jalan ini, ada gedung kuno yang temboknya dicat putih dan diberi aksen warna kuning emas. Gedung ini adalah gedung S.P.H. De Silva, yang merupakan salah satu tempat perdagangan tertua di Ipoh. Dibandingkan dengan gedung-gedung lain yang warnanya hanya putih, gedung ini cukup mencuri perhatian.

Dari S.P.H. De Silva, kami berbelok ke kiri, berjalan ke arah Ipoh Padang. Tepat di perempatan di ujung Ipoh Padang, kami melewati gedung HSBC yang sudah ditempati dari tahun 1931. Ipoh adalah salah satu kota bisnis yang berkembang pesat di awal abad kedua puluh, jadi jangan heran kalau bank-bank besar jaman dulu sudah punya cabang di Ipoh – dan masih berdiri sampai sekarang.

Roti panggang dengan telur setengah matang. Wow!
Hari sudah gelap namun kami tidak langsung pulang, melainkan langsung menuju Old Town White Coffee, yang terletak di deretan ruko yang sama dengan kantor law firm the Seenivasagam Brothers. Old Town White Coffee membanggakan diri sebagai pusat white coffee yang khasnya Ipoh ini. Suasananya sangat “oldies”, dan di sini tidak ada AC – adanya kipas angin. Kalau pergi ke Ipoh, jangan lupa mampir ke sini dan mencicipi original White Coffee. Rasanya memang nikmat! Kalau Anda sudah lama tinggal di Jakarta, harga makanan dan minuman di sini tidak akan membuat kaget. Kisaran harga minuman antara RM 3 sampai RM 10, dan harga makanan antara RM 6 sampai RM 15. Ada paket makan siang, atau makan malam, yang harganya dimulai dari RM 12. (Kurs saat itu, RM 1 = IDR 3.600) Oh ya, kisaran ini hanya berdasarkan ingatan semata, karena saya tidak mencatat harga-harga di menu satu-satu. Di sini saya membeli original White Coffee yang panas dan roti panggang dengan dua telur setengah matang di atasnya.

Setelah puas menikmati kopi dan roti panggang, kami pun pulang ke hotel. Sebelum sampai di hotel, kami menyempatkan makan di salah satu kedai makan 24 jam yang menjual nasi goreng dan nasi lemak. Jauh-jauh ke negeri seberang, tetap saja makannya nasi goreng. Harga makanan di situ dimulai sekitar RM 2.5 dan harga-harga makanan di menu yang ada tidak jauh berbeda. Kalau dari sepintas lalu saya melewati tempat-tempat makan, harga makanan yang murah dan mengenyangkan berkisar di RM 2.5 ini.

(... berlanjut ...)
Selanjutnya
Posting Lebih Baru
Sebelumnya
Artikel ini sudah yang terlama.

3 Komentar:

  1. Trimakasih atas ceritanya. Saya tertarik untuk ke ipoh. Sudah 2 kali ke malaysia tapi belum pernah ke ipoh. Semoga trip ke ipoh membuat pengalaman baru untuk saya..

    BalasHapus
  2. Hai mbak saya mau tanya soal turun dari bus menuju ke ipoh..kenapa mbak memilih turin di jalan bercham bukan di amanjaya.Kalau waktu itu kebetulan tidak di stopin taxi di jl.bercham apa akan mudah mencari taxi?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau dilihat di GoogleMaps, Bercham lebih dekat ke pusat kota Ipoh dibandingkan dengan Terminal Amanjaya. Lagipula, waktu itu, penumpang terakhir turunnya di Bercham juga, jadi tidak ada yang sampai ke Amanjaya. Kami yang turis ya jadinya ikutan turun di situ.

      Kalau mau aman sih, mendingan turun di Amanjaya, tapi biaya taksinya juga lebih mahal karena jaraknya lumayan jauh dari pusat kota.

      Hapus