27 Desember 2013

Sekali-sekali, pengin ngerasain natalan di Singapura. Jadinya, berangkatlah ke Singapura tanggal 22 Desember kemarin. Tentunya, beli tiket sudah jauh-jauh hari ... maklum, peak season! Walau cuma di sana empat hari, namun sudah puas menjelajahi daerah-daerah wisata di Singapura, terutama di daerah selatannya. Tentunya, mengingat jalan-jalan saya di musim liburan, saya sudah mengatur rencana tujuan saya sebelumnya dan semua tiket sudah dibeli secara online untuk mencegah antrean yang terlalu lama. Lumayan loh. Beli tiket untuk atraksi di Sentosa Island, misalnya, kadang-kadang ada diskonan khusus untuk pembelian online.
Hari 1
22 Desember 2013
Kampong Glam, Bugis, Esplanade Park, Merlion Park, Singapore Flyer, Marina Bay: Jalan kaki!

Dengan Tiger Air, saya mendarat di bandara internasional Changi sekitar jam 10 pagi. Setelah lepas dari imigrasi dan pengurusan bagasi, saya langsung menuju ke stasiun MRT di bawah. Sebelum jalan-jalan, pertama-tama wajib membeli kartu EZ-Link. Harganya SGD 12; SGD 5 untuk biaya kartu, dan isinya SGD 7. Isinya refundable; jadi kalau sudah tidak butuh lagi, bisa ditukarkan uang. Dengan kartu ini, naik MRT atau bus tidak perlu repot-repot – cukup scan kartu dan tinggal jalan.
Masjid Sultan, dari arah Kampong Glam Cafe
Dari stasiun MRT Changi Airport, transfer di Tanah Merah, lalu turun di Bugis. Kenapa? Karena saya hendak menginap di area Kampong Glam, lebih tepatnya di Arab Street. Saya menginap di Shophouse the Social Hostel. Hostel yah, satu kamar bisa untuk 8 – 12 penghuni. Alasan saya memilih hotel ini adalah karena ada satu lantai yang dikhususkan untuk perempuan. Jadi, bisa mondar mandir dari kamar tidur ke kamar mandi dengan tenang. Oh ya, yang namanya hostel murah di Singapura, umumnya adalah ruko yang disulap menjadi tempat penginapan. Jadi tidak ada lift. Jangan membawa tas yang merepotkan untuk naik turun tangga, yah! Harga untuk tiga malam, sekitar IDR 790.000,- lewat Agoda.com. Jarak dari Bugis MRT Station ke hostel sekitar 15 menit jalan kaki.
Setelah check in dan beres-beres, jam 12 siang saya mulai bergerak! Pertama, isi perut dulu ... Kebetulan, hostel saya sangat dekat kafe dan rumah makan. Karena daerah ini adalah daerah pemukiman islam, makanan di sini sebagian besar halal. Di salah satu perempatannya, ada Kampong Glam CafĂ©, yang menjual nasi dan lauk a la warteg. Makan nasi sayur dan telur, dan air mineral botolan, dengan harga SGD 3,5 di sini sudah cukup kenyang. Oh ya, di area sini ada beberapa warung makan 24 jam, yang semuanya menyajikan makanan halal a la warteg. Jadi kalau pulang malam dan kelaparan, tinggal mampir ke sini saja. 
Istana Kampong Glam
Selesai makan, saya jalan sekitar 10 menit dan tiba di Masjid Sultan. Masjid yang menjadi fitur utama Kampong Glam ini didirikan oleh Sultan Johor yang dulunya menjadi penguasa di Singapura sebelum jamannya Raffles. Kubahnya yang berwarna kuning menjadi ciri khas yang dapat terlihat dari kejauhan. Tak jauh dari situ, ada Istana Kampung Glam (Malay Heritage Center), yang merupakan pusat kebudayaan setempat.
Selain warung makan asia tenggara halal dan rumah makan dengan menu timur tengah, di sekitar Kampung Glam juga banyak warung bir dan warung shisha. Tapi yang terakhir ini saya nggak nyobain yah … mau berhemat!
Oh ya, hal lain yang menjadi ciri khas daerah Kampong Glam, terutama Arab Street, adalah penjual kain. Di sepanjang jalan, terdapat ruko dimana pedagang-pedagang kain menawarkan dagangannya.
Dari Arab Street, saya berbelok ke Victoria Street, langsung ke Bugis Junction. Cuma lewat sih. Soalnya nggak terlalu minat belanja. Dari situ tinggal jalan sedikit dan sampai di Bugis+. Bugis+ adalah mall yang cukup banyak dikunjungi oleh orang Indonesia untuk belanja.
Patung di muka Sri Khrisnan Temple
Di belakangnya Bugis+ ada sebuah kuil hindu yang berdekatan dengan kuil cina. Kuil hindu Sri Khrisnan Temple didirikan tahun 1870, dan merupakan penghormatan kepada Sri Khrisna. Didekatnya adalah Kwan Im Thong Hood Cho Temple yang didirikan tahun 1884, merupakan salah satu kuil cina tertua di Singapura. Sesuai namanya, kuil ini didirikan untuk menghormati Dewi Kwan Im. Kedua kuil ini masih aktif hingga sekarang, dan saat saya ke sana (sekitar jam 1-an) keduanya dipenuhi oleh orang-orang yang berdoa. Yang menarik adalah, ada beberapa umat salah satu kuil, kalau lewat di depan kuil lainnya, membungkuk sebagai tanda hormat di depat gerbang kuil lainnya itu.
Kwan Im Thong Hood Cho Temple yang ramai
Dari kuil-kuil itu, saya kembali ke Victoria Street dan tiba di St. Joseph’s Catholic Church. Tujuannya sih, memang untuk mencari tahu kapan misa Natal di situ diadakan. Soalnya, memang maunya merayakan Natal di Singapura, jadi sudah pasti dong ... ikut misa natalan setempat. Menurut jadwal, ada misa berbahasa latin di tanggal 25 Desember siang hari, jadi saya bisa datang ke misa tersebut. Gereja St. Joseph adalah salah satu monumen nasional Singapura, yang pertama kali didirikan oleh misionaris Portugis.
St. Joseph's Church di Victoria Street
Dari situ, tinggal jalan sedikit lalu berbelok ke Bras Basah Road dan saya tiba di Singapore Art Museum. Gedungnya bagus banget dan asyik buat foto-foto.  Tapi saya nggak masuk yah, soalnya bayar SGD 10. Saya malah jalan sedikit lagi dan masuk ke St. Peter and Paul’s Catholic Church. Gereja ini didirikan di sekitar tahun 1860-an.
Dari situ, saya kembali ke Victoria Street dan lanjut melewati Good Sheperd Cathedral, katedral gereja Katholik di Singapura. Gereja ini sedang direnovasi, jadi tidak ada yang bisa dilihat di sini. Diseberangnya, ada rumah makan dan klub mewah, Chijmes, yang gedungnya mirip gereja. Gedung itu dulunya adalah biara yang sudah berubah fungsi.
Chijmes, yang dulunya adalah biara, sekarang rumah makan dan klub.
Dari Chijmes, saya terus mengikuti Victoria Street sampai di Stamford Road. Mengikuti Stamford Road, saya tiba di St Andrews Cathedral. Ini adalah gereja Anglikan dan pertama kali didirikan tahun 1837. Salah satu gereja bersejarah di Singapura, gereja ini memiliki halaman dan lahan parkir yang luas dan bersih.
Dari St.Andrews Cathedral, saya sudah bisa melihat Marina Bay Hotel. Tinggal jalan sedikit, dan saya sudah tiba di Esplanade Park. Di seberang ada the Padang, yang merupakan lapangan rumput luas, dan dari kejauhan terlihat City Hall serta Singapore’s Supreme Court.
Esplanade Park
Saya tiba di sini hari Minggu, jadi Esplanade Park penuh dengan orang-orang yang duduk-duduk dan bersantai. Oh ya, Esplanade Park di hari Minggu adalah tempat berkumpulnya TKW dari Indonesia dan Philippina. Jadi, merekalah yang duduk-duduk di hampir seluruh penjuru taman tersebut. Saya tiba di sini jam 4-an, jadi sekitar 3 jam jalan kaki dari Kampong Glam. Itu sudah termasuk nyasar-nyasar, muter-muter di jalan yang sama sampai dua-tiga kali, berhenti buat foto-foto, dan berhenti di halte bus buat istirahat. Waktu di hari keempat mencoba jalan ke Fort Canning Park di dekat situ, jadi nyadar kalau sebenarnya cukup 1 ½ jam jalan biasa (tanpa berhenti) juga sudah nyampai.
Tempat Sir Raffles pertama kali mendarat. Dengan Clarke Quay di latarnya.
Di Esplanade Park terdapat banyak monumen dan area bersejarah. Berikut yang saya kunjungi: Tan Kim Seng Fountain, the Cenotaph, Indian National Army Marker, Civilian War Memorial, Lim Bo Seng Memorial, Queen Victoria’s Walk. Saya lalu melewati underpass ke tepi Singapore River dan melewati Dalhouse Obelisk, Anderson Bridge, The Art House, Singapore Asian Civilization Museum, dan patung Sir Raffles. Patung itu didirikan tepat di tempat dimana Sir Raffles pertama kali mendarat di Singapura. Diseberang terlihat deretan kafe di Clarke Quay.
Patung Merlion, dengan Marina Bay Sands di latarnya.
Saya lalu kembali ke Esplanade Park, melewati Esplanade Bridge dan tiba di Merlion Park. Disitu terdapat patung Merlion yang merupakan maskot Singapura. Saya lalu kembali ke gedung Esplanade, mampir untuk makan es potong seharga SGD 1 yang enak di pinggir jalan, lalu melewati Queen Elizabeth Walk menuju Singapore Flyer.
Singapore Flyer
Singapore Flyer adalah sebuah ferris wheel raksasa yang dimaksudkan sebagai tempat observasi. Pengunjung dapat melihat Singapura dari ketinggian 165 meter. Sebelum tiba di kapsulnya, kita disuguhi diorama yang menjelaskan dasar-dasar ilmiah dari konstruksi Singapore Flyer ini, sekaligus sejarah pembangunannya. Alat-alat peraganya menarik dan interaktif. Ada buku yang kalau kita buka, bisa menjadi alat pandu untuk video interaktif yang diputar di atasnya. 
Marina Bay Hotel dilihat dari Singapore Flyer.
Di Singapore Flyer, kita bisa melihat laut dan juga pulau-pulau kecil di selatan Singapura. Bahkan, kita juga bisa melihat wilayah perairan Indonesia. Pemandangan yang paling saya suka adalah pemandangan Gardens by the Bay dan Marina Bay Sands dari titik tertinggi Singapore Flyer. Harga tiket untuk Singapore Flyer, kalau beli online, dapat diskon 10% jadi SGD 29.70 termasuk pajak.
Di bawah Singapore Flyer ada Singapore Food Trail, yang merupakan food court yang mengumpulkan tempat-tempat makan tradisional terkenal di Singapura. Saya makan prawn noodles ukuran sedang seharga SGD 8. Kenyang!
Gardens by the Bay
Dari Singapore Flyer, saya jalan kaki ke Gardens by the Bay. Saat itu sudah sekitar jam tujuh lebih. Jadi sudah cukup sore. Baru sebentar berjalan-jalan, sudah gelap. Saya langsung menuju ke Supertree Groove, dan menaiki OCBC Skyway, lalu menikmati OCBC Garden Rhapsody. OCBC Garden Rhapsody adalah sajian tata lampu dan lagu di area Supertree Groove. Tiket naik OCBC Skyway adalah SGD 5.
Supertree Grove di malam hari.
Jam setengah sepuluh saya pulang kembali ke hostel naik MRT, dan langsung tidur. Untung hostel saya sangat dekat dengan klub dan kafe. Semalam apapun saya pulang, saya masih menemukan banyak orang nongkrong dan lalu lalang. Jadi terasa aman.
(...bersambung...)

1 Komentar:

  1. bugis street memang tempat belanja untuk oleh-oleh
    informasi menarik terima kasih

    BalasHapus