25 Mei 2014

Kali ini, saya akan mengisahkan tentang pengalaman saya, yang tidak bisa berenang, snorkeling untuk pertama kalinya. Jadi kalau judulnya adalah “terapung-apung”, itu tidak salah! Soalnya saya memang cuma mengapung-ngapung saja dengan pelampung sambil menikmati keindahan terumbu karang di pulau-pulau di barat pulau Flores ini.

Dua teman saya bisa berenang dan memang gemar snorkeling. Mereka minat banget untuk melihat-lihat terumbu karang di sekitaran Flores yang konon kabarnya aduhai. Saya, yang tidak bisa berenang, tadinya cuma berminat untuk duduk-duduk di tepi pantai saja atau trekking di dekat-dekat situ. Untung saya berubah pikiran dan jadinya ikutan snorkeling. Rugi besar, jalan-jalan di lepas pantai Labuhan Bajo tanpa mengintip keindahan taman lautnya!

Pulau-pulau di barat Flores, dilihat dari pesawat.

Hari I : Labuan Bajo (Gua Batu Cermin dan Wisata Kuliner Kampung Ujung)


Saya memang sudah membeli tiket jauh-jauh hari. Di bulan Agustus 2013, saya sudah membayar tiket PP Jakarta – Labuan Bajo untuk perjalanan ini. Paling tidak harganya masih masuk akal. Dan, masih ada sekian bulan untuk mengumpulkan uang untuk membiayai seluruh kebutuhan selama jalan-jalan.

Labuan Bajo terletak di bagian barat Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Dulunya kota ini adalah kota nelayan biasa. Berkat Taman Nasional Komodo yang menyimpan keindahan alam dan fauna yang dikenal di seluruh dunia, turis-turis berdatangan meramaikan kota ini. Kota ini merupakan pintu masuk wisatawan yang akan berkunjung ke Pulau Komodo.

Pesawat berangkat dari Jakarta jam 6:20 WIB dan tiba di Denpasar jam 09:10 WITA. Transit. Berangkat dari Denpasar jam 10:20 WITA dan tiba di Labuan Bajo jam 11:40 WITA. Untung tiba di Labuan Bajo siang hari. Masih ada waktu untuk jalan-jalan di sekitaran Labuan Bajo sebelum bersiap berangkat ke pulau-pulau esok hari.

Saat saya tiba, Bandara Komodo Labuan Bajo sedang renovasi. Rencananya bandara akan diperluas agar dapat menerima pesawat yang lebih besar dan dapat menampung lebih banyak pengunjung. Karena sedang renovasi, saya maklum kalau suasananya sangat tidak nyaman. Pintu keluar bandara lebih mirip seperti pintu keluar pasar karena jalannya sempit dan kiri-kanannya seng. Orang-orang yang berkerumun menambah kesan “pasar”-nya.

Jenis pesawat yang bisa mendarat di Bandara Komodo, Labuan Bajo.
Memang saat ini hanya pesawat ukuran kecil saja yang dapat mendarat di Labuan Bajo. Itu, pesawat yang ada baling-baling besar di sayapnya. Pesawat yang saya naiki adalah jenis ATR-72 500 yang total jumlah kursi penumpangnya hanya 78. Di setiap barisnya, hanya ada empat kursi: dua di kiri jalan dan dua di kanan jalan. Pintu penumpang hanya ada di bagian belakang, dan orang-orang benar-benar harus antre untuk keluar ataupun masuk ke dalam pesawat.

Untung sekali ada kenalan yang bersedia menjemput kami dari bandara. Taksi yang ada di sini adalah mobil sewa. Jangan harap bisa melihat armada taksi yang umum dilihat di bandara-bandara besar. Tidak terlihat tanda-tanda kendaraan umum seperti bus atau angkot di dekat-dekat bandara. Kalau tiba di Labuan Bajo dengan pesawat dan tidak dijemput siapa-siapa, mau tidak mau pilihannya hanya taksi tembak atau ojek.

Seluruh kegiatan turisme di Labuan Bajo berpusat di sekitar pelabuhan. Artinya, seluruh operator tur, penyelenggara kursus dan tur diving, tempat makan-makan, dan hotel-hotel juga adanya di sini. Kalau tujuannya adalah untuk liburan ke pulau-pulau (P. Rinca, P. Komodo, P. Bidadari, dan lain-lain) maka Anda pasti akan menginap di dekat pelabuhan. Bahkan, untuk tujuan lain seperti Kelimutu atau Wae Rebo, kemungkinan akan menginap dahulu di sekitaran pelabuhan. Perjalanan dari bandara ke pelabuhan lamanya sekitar 15 menit.

Pelabuhan di Labuan Bajo.
Karena dijemput, maka kami bisa berjalan-jalan dulu ke tujuan lain sebelum masuk hotel. Tujuan kami siang itu adalah ke Gua Batu Cermin. Gua Batu Cermin letaknya masih di dalam kota Labuan Bajo, sehingga cukup dekat dari bandara. Perjalanan dari bandara ke Gua Cermin Batu dapat ditempuh dalam 15 menit.

Gua Batu Cermin pertama kali ditemukan tahun 1951 oleh Theodore Verhoven, seorang pastor dan arkheolog Belanda. Ia menemukan fosil-fosil hewan laut dan koral, lalu mengambil kesimpulan bahwa dulunya daerah ini berada di dasar laut. Menurut guide kami, saat pertama kali ditemukan, gua ini memang masih tergenang air. Gua Batu Cermin sendiri sebenarnya adalah lorong di bawah bukit batu yang gelap. Bukit batu yang menjulang dengan ketinggian sekitar 70 m ini terlihat seperti sebongkah batu karang raksasa.

Pohon bambu khas Flores.
Untuk menuju ke gua, kami harus melewati taman dengan pohon-pohon bambu yang merupakan tanaman endemik Flores. Tanaman bambu ini unik, karena cabang-cabangnya saling menyilang sehingga dari jauh bentuknya menyerupai semak berduri raksasa. Bambu yang berada di kiri kanan jalan setapak membentuk semacam lorong bambu yang bisa melindungi pejalan kaki dari sinar matahari.

Dari taman bambu, kami tiba di bukit batu dan mulai menaiki tangga batu untuk menuju ke mulut gua. Untuk masuk ke dalamnya, kami harus ditemani oleh seorang guide dan harus membawa senter serta menggunakan helm. Senter dan helm disediakan oleh guide. Senter dibutuhkan karena di dalam gua sangat gelap, sedangkan helm karena langit-langit gua kadang sangat pendek sehingga kalau salah gerak kepala bisa terantuk stalagtit. Karena gua ini gelap dan relatif sempit, maka jumlah orang yang masuk tidak bisa terlalu banyak. Untuk rombongan besar (misalnya 20 orang) pasti akan bergiliran.

Bukit batu, dengan celah menuju ke Gua Batu Cermin.
Yang istimewa dari gua ini adalah celah di langit-langit di salah satu bagian gua yang dapat menjadi pintu masuk berkas cahaya matahari yang nampak kebiruan. Kabarnya, kalau musim hujan, air yang merembes di dinding gua dan menggenang di dasar gua akan memantulkan cahaya sehingga menjadi seperti cermin. Itulah sebabnya gua ini disebut sebagai Bua Batu Cermin. Fenomena berkas cahaya ini juga tidak terjadi setiap saat, hanya di pagi hari menjelang siang saja.

Kebetulan, kami datang pada saat yang tepat! Saat itu sekitar jam 11 siang, dan ada satu titik cahaya yang muncul. Berkas cahaya yang jatuh ke dasar gua menjadi semacam spotlight di panggung. Berkas cahaya yang berwarna kebiruan memang menjadi pemandangan yang indah setelah bergelap-gelap di dalam gua. Kalau musim hujan, mungkin refleksi cahaya yang ditimbulkan akan lebih bagus.

Berkas cahaya matahari yang jatuh ke dinding gua.
Selain berkas cahaya, hal menarik lain dari gua ini adalah fosil-fosil hewan laut dan koral yang ada di dinding gua. Ada fosil penyu, fosil ikan, dan juga fosil koral. Sayangnya, belum ada penelitian ilmiah yang mendalam tentang asal-muasal fosil-fosil tersebut. Di dalam gua, kita juga bisa menjumpai beberapa ekor kelelawar dan laba-laba besar. Kalau berminat berkunjung ke Gua Batu Cermin, disarankan pagi atau menjelang siang supaya bisa melihat masuknya berkas cahaya matahari ke dalam gua.

Kami makan siang di rumah makan bernama Pesona Bali. Lho? Kok Bali? Kurang tahu juga kenapa pemiliknya justru memberikan nama pulau lain. Yang jelas, makan siang di sini tidak rugi karena pemandangannya yang bagus. Rumah makan ini berada di atas bukit dan menghadap ke pantai, jadi pengunjung bisa makan sambil memandangi kapal-kapal yang hilir mudik di pelabuhan.

Setelah makan, kami langsung menuju ke hotel. Untuk malam ini, kami menginap di Hotel Gardena. Kamar-kamar di sini bentuknya lebih berupa bungalow. Hotel ini terletak di sisi bukit yang menghadap langsung ke pelabuhan. Pemandangannya dijamin membuat terpukau. Tapi, karena ini kompleks bungalow di bukit, jangan harap ada lift yang mengantar kita ke kamar dengan santai. Kamar kami terletak di atas bukit. Untuk mencapai kamar, kami masih harus mendaki kurang lebih 8 menit. Tapi begitu kami sampai di depan kamar, kami langsung disambut oleh pemandangan pelabuhan yang mantap! Yah, tidak rugi kami harus naik turun bukit untuk keluar masuk hotel.

Pemandangan pelabuhan, dilihat dari depan kamar kami.
Setelah istirahat sejenak dan mandi, kami lalu turun bukit untuk jalan-jalan di sekitar pelabuhan. Pelabuhan ini adalah pusat kegiatan di Labuan Bajo. Kapal barang, ferry, kapal pesiar, dan kapal nelayan semuanya ada di sini. Ada pasar ikan dan tempat lelang ikan juga. Di sepanjang jalan ada banyak hostel dan operator tour. Bahkan ada beberapa pengumuman seperti “Depart to Komodo Island every morning” atau “Need one more person for Rinca tour tomorrow at 8”. Ada juga toko barang oleh-oleh, tetapi jumlahnya tidak banyak. Justru lebih banyak toko-toko kebutuhan umum (untuk penduduk) seperti toko tas, toko baju, toserba, bank, atau barang-barang plastik dan besi. Di sepanjang jalan, yang banyak bersliweran adalah turis asing dan penduduk lokal. Agak sedih juga kenapa turis Indonesia masih kurang jumlahnya di sini.

Wisata Kuliner Kampung Ujung.
Kami makan malam di Kampung Ujung. Nama lengkapnya Wisata Kuliner Kampung Ujung. Di sini pedagang baru mulai buka lapak sekitar jam 6 sore. Ada banyak pilihan makanan. Ada ikan bakar, sop ikan, bakso, mie ayam, nasi goreng, ayam goreng, juice, dan es buah. Ikan bakar sudah pasti menjadi favorit turis di sini. Kalau berminat, kita dapat memilih sendiri ikan yang akan dibakar atau dibuat sop. Ikan-ikan itu disusun di dalam coolbox atau kotak kaca dengan es, dan pengunjung tinggal menunjuk ikan mana yang diplih. Semua ikan di sini enak, karena masih segar dan hidupnya di air yang tidak terkena polusi. Ikan bakar disajikan dengan lalapan, sambal plecing lengkap dengan sayurannya, dan terong goreng. Untuk hidangan pencuci mulut, buah yang paling sering disajikan adalah pepaya.

Sop ikan dan ikan bakar, hidangan utama di Kampung Ujung.
Tapi favorit saya adalah es teler. Es teler di sini tidak sama dengan Es Teler 77 di Jakarta. Es teler di sini terdiri dari agar-agar, kelapa, dan kacang, yang dicampur dengan serutan es, susu kental putih, dan susu kental coklat. Kacangnya keras seperti camilan biasa, jadi kriuk-kriuk di mulut. Rasanya enak sekali. Di Labuan Bajo tidak ada makanan lokal khas, kecuali ikan bakar. Ikan bakar di sini pun, sambalnya hampir sama dengan sambal ikan bakar di Bali. Jadi, es teler itu saja yang menjadi satu-satunya kenangan kuliner khas Labuan Bajo bagi saya.

Di luar Kampung Ujung, ada juga beberapa tempat makan lain. Kalau hobi minum bir, di Labuan Bajo terdapat beberapa bar dan tempat minum. Kalau ingin makan makanan barat, ada dua rumah makan Italia yang memang dimiliki oleh orang Italia. Tapi tempat makan warungan adanya ya di Kampung Ujung.

Salah satu sudut di dekat pelabuhan Labuan Bajo.
Di luar deretan tempat makan di Kampung Ujung dan toko serta kantor agen travel di sekitar pelabuhan, saya rasa tidak ada banyak tempat yang bisa dilihat di sini. Ada beberapa titik sunset yang bagus, misalnya Paradise Bar and Restaurant (agak jauh dari pelabuhan) atau di Laprima Hotel dan Jayakarta Hotel (juga agak jauh dari pelabuhan). Akan tetapi di daerah pelabuhan sendiri, sunset tidak terlalu bagus. Masalahnya, pelabuhan dikelilingi oleh beberapa pulau kecil sehingga matahari biasanya turun di balik salah satu pulau itu. Jadi tidak ada pemandangan sunset, adanya adalah langit senja yang berangsur-angsur menjadi gelap.

Sunset. Matahari tenggelam di balik pulau, dilihat dari Kampung Ujung.
 (bersambung)

2 Komentar:

  1. Halo, kenapa tidak di info rincian biaya? Saya ada rencana kesana, tapi buta soal rincian biaya mengenai trip 1 day snorkeling dan keliling pulau. Ada info harga dan tips nya? Terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo Adri! Untuk info harga bisa lihat di bagian 4 dari tulisan ini yah. (Ini baru bagian 1). Saya ambil paket yang sewa kapal semalam, karena kalau mau ke Pulau Komodo memang harus menginap - jaraknya lumayan jauh.
      Kalau cuma mau snorkeling + lihat hewan komodonya sehari (tidak menginap di kapal), ya hanya bisa ke Pulau Rinca. Harga paket bervariasi, lebih murah kalau rombongan (tidak private). Kalau nggak salah, di pinggir jalan bisa ada penawaran group (ke Rinca) yang harganya cuma USD 20 per orang, tapi itu mungkin karena pesertanya banyak.

      Hapus