26 Oktober 2014


Ada dua tempat wisata yang saya kunjungi di Hoi An: pertama, daerah kota tua yang juga disebut sebagai Ancient Town; kedua, pantai Cua Dai.

Ancient Town of Hoi An


Ancient Town of Hoi An adalah daerah pemukiman pedagang (mayoritas bangsa Cina) dari jaman dahulu kala yang masih terjaga kelestariannya hingga saat ini sehingga dapat menjadi saksi hidup kejayaan Hoi An sebagai pusat perdagangan di masanya. Bangunan yang dijadikan tempat kunjungan turis antara lain adalah Japanese Covered Bridge, rumah-rumah keluarga pedagang kuno, dan kuil serta gedung pertemuan komunitas pedagang Cina. Jujur saja, kalau menurut saya, Ancient Town of Hoi An sama saja dengan China Town di banyak negara. Rumah-rumah di sini bentuknya jaman dulu banget, dan rata-rata dibangun di abad ke-17 dan abad ke-18. Ancient Town of Hoi An tercatat sebagai World Heritage di tahun 1999.

Japanese Covered Bridge. Simbol kota Hoi An.
Karena areal ini adalah areal perumahan kuno, ada banyak jalan masuknya; dari jalan umum yang lebar sampai jalan tikus yang melewati area tempat tinggal penduduk lokal. Di setiap jalan masuk utama, ada loket penjual tiket masuk. Kalau di jalan masuk yang bukan jalan utama, hanya ada petugas yang berdiri di pinggir jalan sambil membawa tiket dan memerika turis yang lewat. Harga tiket masuk 120.000 Dong untuk seharian penuh. Kalau penduduk lokal, bisa keluar masuk area kota tua sesuka hati.

Karena tiket berlaku satu hari, maka turis sering keluar masuk kompleks hanya dengan membeli tiket di pagi hari. Akibatnya, kalau datang siang hari, sering kali mudah lolos pemeriksaan tiket karena menyaru dengan turis-turis yang sudah keluar masuk kompleks Ancient Town dari pagi hari. Kalau pagi hari dan sore hari, petugas di ujung jalan-jalan tempat masuk kompleks Ancient Town waspada dan kadang menanyakan tiket ke turis-turis yang lewat. Tapi kalau siang hari sekitar jam 12 atau jam 2 siang, saya lihat di jalan-jalan masuk yang bukan jalan utama, petugasnya sering tidak ada. Mungkin karena Hoi An di siang hari panas banget (!) dan di jam-jam ini relatif jarang ada turis jalan-jalan. Tapi kalau di jalan-jalan utama yang ada loketnya (petugasnya nggak hanya berdiri di pinggir jalan), dari jam 6 pagi sampai jam 10 malam pasti ada petugas yang jaga.

Salah satu sudut Ancient Town of Hoi An di siang hari.
Untuk setiap pembelian tiket masuk areal Ancient Town, turis berhak untuk masuk ke lima dari dua puluh dua gedung tujuan wisata pilihan yang ada. Gedung tujuan wisata ini adalah rumah atau bangunan yang dirawat oleh pemerintah dan tercatat sebagai bangunan bersejarah nasional. Termasuk di dalamnya adalah rumah kuno yang masih ditinggali oleh pemiliknya, kuil Cina, gedung pertemuan pedagang Cina, dan museum serta bangunan kesenian. Selain gedung tujuan wisata, di kompleks Ancient Town ini juga ada toko-toko dan rumah makan. Di malam hari, turis dan penduduk lokal datang ke dalam kompleks untuk makan di rumah makan dan nongkrong di cafe. Semua toko, rumah makan, dan cafe di area ini juga merupakan rumah-rumah tua yang dilindungi oleh pemerintah Vietnam.

Sehari saya habiskan berjalan-jalan bersama teman-teman di Ancient Town ini. Gedung tujuan wisata yang saya kunjungi selama saya di Ancient Town of Hoi An adalah:

1.    Japanese Covered Bridge

Untuk dapat menyeberangi jembatan ini, pengunjung harus memiliki tiket masuk kompleks Ancient Town, dan mereka harus merelakan satu jatah masuk ke dalam gedung yang ada di dalam tiket tersebut. Jembatan ini adalah simbol kota Hoi An. Dulunya dibangun oleh komunitas pedagang Jepang untuk menghubungkan area pemukiman pedagang Jepang dan area pemukiman pedagang Cina di pusat kota. Di tengah jembatan, ada kuil pemujaan yang masih digunakan sampai sekarang.

2.   Assembly Hall of the Cantonese Chinese Congregation (Quang Trieu)

Bangunan yang indah ini adalah tempat perkumpulan dan persinggahan sementara bagi para pedagang dan pelaut Cina dari daerah Guandong (suku Kanton). Hingga sekarang, gedung ini masih digunakan oleh komunitas Cina Kanton di sekitar Hoi An. Di beberapa tempat, ada tempat-tempat penghormatan kepada dewa-dewa dan leluhur. Di taman, terdapat beberapa patung dan ukiran yang indah.

3.   Old House of Phung Hung

Ruang tamu di rumah kuno keluarga Phung Hung.
Rumah kuno yang masih ditinggali oleh keluarga pemiliknya ini sudah berdiri sejak abad ke-18. Rumah ini dibangun berdasarkan arsitektur Jepang, dengan sentuhan lokal dan Cina di bagian atapnya. Sebagian besar bangunannya terbuat dari kayu. Pemilik rumah juga berjualan baju, sarung bantal, dan taplak meja dari bahan sutera.

4.  Quan Cong Temple

Kuil yang mencuri perhatian dari kejauhan karena warna merahnya ini merupakan kuil tempat pelaut jaman dulu berdoa sebelum pergi berlayar. Hingga sekarang, kuil ini masih dipakai berdoa. Kompleks kuil ini menyambung ke bangunan Museum of Hoi An History and Culture. Jadi, meskipun cuma dipotong satu jatah kunjungan gedung, kami juga bisa mengunjungi gedung tambahan, yaitu museum sejarah dan budaya. Museum kecil ini menceritakan perkembangan Hoi An dari masa ke masa, sekaligus beberapa peninggalan dari masing-masing jaman, seperti meriam kecil, lonceng kuil dan tempat pembakaran persembahan, peta kota Hoi An jaman dulu, keramik, dan juga daun pintu rumah kuno dengan ukir-ukiran yang cantik.
5.   Fukien Assembly Hall

Fukien Assembly Hall.
Bangunan ini adalah tempat perkumpulan merangkap tempat ibadah untuk orang-orang Cina Hokkien di Hoi An. Bangunan dengan halaman yang luas ini didirikan di abad ke-17 dan sampai sekarang masih aktif digunakan. Memang, suku Hokkien adalah suku Cina terbanyak di daerah Hoi An. Di sini terdapat kuil pemujaan terhadap dewi-dewi pelindung pelaut. Mulai dari gerbang depan sampai taman di belakang, pengunjung akan dapat melihat koleksi patung-patung yang indah dan terawat.


Selain gedung-gedung di atas, Ancient Town juga memiliki rumah-rumah kuno yang kebanyakan sudah berubah fungsi menjadi toko, cafe, atau rumah makan. Di tengah kompleks ini ada pasar yang menjual berbagai masakan tradisional.
Kalau malam, di beberapa sudut areal kota tua, diselenggarakan acara-acara seperti tarian tradisional atau pasar malam. Ada juga paket makan malam di atas kapal dan melepas lampion di sungai Hoai.

Pentas lagu-lagu tradisional dan door prize untuk pengunjung di malam hari.
Jalan-jalan di Ancient Town asik banget, tapi kalau siang hari panasnya bukan main. Sepi pula. Turis-turis asing (baca: bule) cuma kelihatan di pagi dan sore hari. Tadinya saya pikir turis-turis itu ngadem di dalam kamar hotel di siang hari. Ternyata, mereka pergi ke tempat lain di siang hari.

Cua Dai Beach


Yak, turis-turis itu, di siang hari, bermain-main di pantai! Cua Dai Beach adalah pantai yang indah dengan pasir putih dan air laut yang biru, persis seperti di kartu pos. Saya dan teman-teman saya pergi ke pantai Cua Dai keesokan harinya setelah seharian berputar-putar di Ancient Town of Hoi An. Dua orang teman yang tidak bisa naik sepeda memilih untuk naik ojek. Sementara saya dan satu orang lagi menyewa sepeda dari hostel tempat menginap.

Jarak pantai Cua Dai dari Hoi An sekitar 4 km. Dengan sepeda, jarak itu dapat ditempuh selama sekitar satu jam. Pemandangan sepanjang perjalanan menarik juga. Kami dapat melihat kota Hoi An modern (yang bukan daerah wisata) dengan deretan toko-toko dan kafe, serta penduduk lokal yang sedang beraktivitas. Kadang-kadang kami juga bertemu dengan turis-turis yang bersepeda. Menjelang pantai, pemandangannya berubah menjadi pemandangan alam dengan sungai dan sawah. Kalau berwisata ke Hoi An, sebaiknya sempatkan untuk keliling kota naik sepeda. Tidak akan menyesal!

Kursi santai di sepanjang pantai Cua Dai.
Pantai Cua Dai memang cocok untuk menjadi tempat wisata. Pasirnya putih, lautnya biru, dan deretan pohon kelapa di tepian membuat kami merasa nyaman bersantai di sini. Lautnya tenang, tidak terlalu berombak. Banyak turis datang ke sini untuk berenang atau melakukan olah raga air lain. Pemandangan khas pantai dengan turis-turis berpakaian renang juga menjadi bagian yang tak terpisahkan di sini.

Di sepanjang pantai ada kursi-kursi malas yang disewakan seharga 25.000 Dong per kursi untuk seharian. Tadinya mbak-mbak yang ada di situ bilang harganya 100.000 Dong per kursi, tapi setelah nego, jadinya 100.000 Dong untuk empat kursi. Setelah nguping kiri-kanan ke turis-turis lain, ternyata si mbak-mbak ini memang suka menawarkan harga yang nggak masuk akal. Dan semua turis menawar harga menjadi antara 20.000 Dong sampai 30.000 Dong per kursi untuk seharian. Sepertinya memang menawar harga wajib hukumnya di pantai ini. Pedagang keliling yang ngotot menawarkan barang-barangnya juga selalu menawarkan agar kami membeli dan menawar harganya.

Pantai Cua Dai yang tenang dan cantik.
Kami makan siang di tepi pantai Cua Dai, tepatnya di restoran Van Phi. Kami makan di sini karena tukang ojek kedua teman saya mengantar mereka kemari dan “memaksa” kami untuk memarkirkan sepeda di sini. Terpaksalah, kami makan di sini. Harganya mahal dan rasanya biasa saja. Kami makan nasi goreng seafood yang nasinya agak keras, dan minum air kelapa yang daging kelapanya sudah keras. Waktu kami minta sendok untuk mengerok daging kelapa, pelayan restoran bingung. Rupanya, di situ orang hanya minum air kelapa, tapi tidak memakan dagingnya. Makanya buah kelapa yang disajikan bisa tua bisa muda – tergantung adanya. Saya dapat kelapa yang masih cukup muda, kalau teman-teman saya dapat kelapa tua yang bisa dibuat santan. Hahaha!
(bersambung)

0 Komentar:

Posting Komentar