9 November 2014


Tidak seperti Hue yang masih tradisional, Hoi An merupakan salah satu kota destinasi pariwisata favorit. Di sini ada banyak restoran dan cafe, dengan berbagai tingkatan harga: dari yang lumayan murah sampai yang mahal banget. Berbagai jenis jajanan pasar juga dijual di pinggir-pinggir jalan, dengan papan petunjuk bilingual sehingga turis yang tidak berbahasa Vietnam bisa mengerti apa yang dijual. Karena saya memang lebih banyak berputar-putar di areal turis, maka saya jadinya tidak terlalu tahu pola kehidupan penduduk lokalnya.

Pasar sentral Hoi An. Pusat wisata kuliner murah meriah.
Hoi An adalah salah satu kota favorit para turis untuk wisata kuliner di Vietnam. Bukan apa-apa, posisinya yang terletak di tengah-tengah negara Vietnam memberikan corak kuliner yang unik, perpaduan antara budaya kuliner di utara dan budaya kuliner di selatan. Selain itu, dengan banyaknya restoran dan cafe yang memanjakan lidah turis (baca: bule), tidak heran restoran dan cafe di Hoi An banyak mendapatkan rekomendasi dari travel blogger dan pengamat kuliner asing. Karena saat saya datang ke Hoi An adalah masa liburan musim panas di belahan bumi utara, ada banyak sekali remaja Amerika dan Eropa yang datang kemari. Di malam hari, cafe dan warung makan dipenuhi dengan para remaja itu.

Sebagai penikmat makanan asal Indonesia (baca: benua Asia), sudah pasti saya tidak terlalu tertarik dengan makanan asing yang disediakan di cafe. Dua hari di Hoi An, saya mencobai makanan khas Hoi An, yang disajikan full flavour! Termasuk sambalnya yah. Berikut beberapa hidangan yang sempat saya cicipi di Hoi An.

Makan pagi di hotel: Bánh mì dan telur ceplok


Banh mi dan telur ceplok kembar.
Kami menginap di sebuah hostel yang sederhana namun pelayanannya bagus. Pemiliknya ramah dan selalu siap membantu. Nama Hostelnya The Corner Homestay (alamatnya 20 Nguyen Phuc Tan Street, An Hoi, Hoi An, Quang Nam). Kami memesan kamar melalui Agoda.com. Hotelnya sih di tengah perumahan penduduk, tapi cukup dekat dengan kota tuanya. Jalan kaki paling lima menit.  Hostel ini menyewakan sepeda dan dapat membantu mencarikan mobil sewa untuk mengantar kita ke bandara/stasiun kereta api di Da Nang.

Makan pagi kami di hotel adalah french bread (banh mi) dengan telur mata sapi (dua butir). (Makan pagi di sini kena biaya tambahan.) Berdasarkan pengamatan, menu makan pagi ini adalah menu standar di semua hotel dan hostel, karena rasanya netral dan dapat diterima oleh lidah bangsa manapun juga. Biasanya pilihan keduanya adalah mie khas vietnam. (Beda hostel bisa menyediakan jenis mie yang berbeda.) Masalahnya, tidak semua lidah bisa makan yang seperti ini di pagi hari.

Phở bò


Pho, dengan jeruk nipis, lalapan, cabe, dan sambal lokal. Hmm ...
Pho adalah hidangan vietnam yang sudah dikenal luas oleh masyarakat Indonesia, berupa mie yang lebar dan tipis, berwarna putih. Pho bo adalah pho yang disajikan dengan daging sapi. Di Hoi An, pho dapat dijual sebagai makan pagi. Di pagi kedua kami di Hoi An, kami makan pagi di warung beef noodle (phở bò) di dekat hostel. Rasa pho yang otentik di Vietnam jauh lebih segar dibandingkan dengan pho yang dijual di Indonesia. Hal ini terutama disebabkan oleh daun-daun segar yang disediakan untuk dimakan bersama dengan pho. Selain itu, sambal di Vietnam agak kecut dan tidak terlalu pedas seperti sambal di Indonesia. Kalau semua itu dikombinasikan dengan kuah kaldu yang panas, nyam ...

Hampir semua hidangan di Hoi An disajikan dengan tambahan daun-daun segar. Lalapan khas Vietnam ini terdiri dari beberapa jenis daun-daunan, beberapa di antaranya tidak pernah saya temui di hidangan Indonesia. Teman seperjalanan saya yang jago memasak saja juga bingung menamai beberapa dari daun-daun itu. Yang jelas, di lalapan khas Vietnam selalu ada irisan timun, potongan selada, dan daun basil.

Di warung tempat kami makan, harga seporsi pho bo dengan minum teh dingin sepuasnya, adalah 40.000 Dong.

Cao lầu


Mie khas Hoi An, cau lau.
Cau lau adalah mie khas Hoi An. Bahkan, mie ini memang hanya disajikan di Hoi An, karena beberapa bahannya hanya ada di Hoi An. Menurut ceritanya, mie yang digunakan di dalam makanan ini dibuat dari tepung beras yang ditambahi dengan beberapa bahan lain, termasuk di antaranya abu dari kayu yang tumbuh di Pulau Cham (di utara Hoi An) dan air yang ditimba dari sumur tertentu di Hoi An. Jadi, mie yang dibuat di luar Hoi An pasti rasanya beda dan tidak bisa disebut sebagai cau lau.

Untuk ukuran mie, cau lau tergolong besar, dan padat. Cau lau selalu disajikan tanpa kuah, dengan potongan daging babi, bumbu sejenis kecap, dan sayuran segar. Menurut penulis, makan semangkuk cau lau lumayan mengenyangkan, karena mienya padat banget. Cau lau dihidangkan dengan suhu biasa, tidak panas dan tidak dingin. Untuk banyak orang lokal, makanan cau lau pasangannya adalah minuman bir lokal yang disajikan dingin.

Penulis memakan cau lau di rumah makan Trung Bắc, alamatnya 87 Tran Phu St., Hoi An. Posisinya ada di dalam kompleks Ancient Town of Hoi An. Menurut internet, tempat ini dikenal menjual cau lau yang original. Waktu penulis datang kemari, kami harus menunggu beberapa lama sebelum mendapatkan tempat duduk karena antre. Di hari berikutnya, kami juga melihat orang-orang lokal antre di sini untuk makan malam. Padahal harga makanan di sini bisa dua kali lipat harga makanan di luaran, loh ...

Quang noodle (dalam bahasa Vietnam: Mì quảng)


Makan pagi yang mengenyangkan: quang noodle.
Makanan khas Hoi An ini unik karena terdiri dari mie kuning dan mie putih. Kedua mie ini terbuat dari tepung beras, dan rasanya berbeda dengan kedua jenis mie yang sudah disebutkan di atas. Quang noodle disajikan dengan kuah kaldu hangat, dengan lauk daging pilihan (biasanya babi), dan disertai potongan kerupuk beras.

Waktu makan pagi di hotel, salah satu teman saya memesan makan pagi quang noodle ini. Quang noodle rasanya (menurut penulis) hampir sama dengan pho, hanya saja mienya lebih tebal. Kuah kaldunya enak dan daun-daun yang ditambahkan ke dalam mangkok membuatnya lebih segar.

Nasi ayam (dalam bahasa Vietnam: Cơm gà)


Nasi ayam, dengan kuah kaldu dan sambal Vietnam. Nyam!
Nasi ayam (kalau turis bule bilang: chicken rice) adalah nasi dengan lauk ayam. Tidak seperti orang di Indonesia yang senang makan nasi sambil ‘berjuang’ mengambil daging ayam dari tulangnya, di Vietnam, daging ayam sudah disuwir dan tinggal ditaburkan diatas nasi. Nasinya bukan nasi putih biasa, melainkan nasi yang dimasak dengan kaldu ayam. Rasanya enak sekali – apalagi kalau makannya sedang dalam keadaan capek, habis jalan mengelilingi kompleks kota tua di Hoi An panas-panas. Nasi ayam khas Hoi An disajikan dengan kuah kaldu ayam. Di atas nasi, selain daging ayam, juga ada potongan bawang putih besar dan daun basil. Oh ya, ayamnya ayam kampung – jadi rasanya enak. Hmmm, jadi ngiler ...

Saya makan nasi ayam di warung di pinggir jalan. Warungnya nyempil di gang dekat WC umum di dalam kompleks kota tua. Seporsi nasi ayam dan minum teh tawar dingin sepuasnya dihargai 40.000 Dong. Yah, lumayan lah ...

Nasi goreng (dalam bahasa Vietnam: Cơm chiên)


Nasi goreng ala Hoi An, dan kelapa muda.
Nasi goreng di Hoi An bentuknya lebih mirip nasi gila di Jakarta. Warna nasinya agak kuning, soalnya nggak pakai banyak kecap seperti nasi goreng orang Indonesia. Lauknya ditumpuk di atas nasi. Nasi goreng bisa disajikan dengan berbagai pilihan lauk. Yang saya makan ini adalah nasi goreng seafood. Makannya di tepi pantai Cua Dai. Tepatnya di restoran Vân Phi.

Berhubung restoran ini adalah restoran tepi pantai yang dimaksudkan untuk mengeruk uang dari kantong turis, harganya sempat bikin gondok. Apalagi, kami makan di sini karena “terpaksa”, soalnya tukang ojeklah yang mengarahkan kami kemari. Nasi goreng dan kelapa segar dihargai 120.000 Dong. Padahal nasi gorengnya hambar dan nasinya agak keras. Kelapanya juga tidak terlalu muda. Yah, nasib jadi turis di negeri asing. Padahal, di hari terakhir saya di Hoi An, saya makan pagi nasi goreng di warung dekat hostel, harganya hanya 35.000 Dong dan rasanya enak.

Rice paper crackers (dalam bahasa Vietnam: Bánh đập)


Kerupuk khas Hoi An, banh dap.
Kerupuk beras khas Vietnam ini disajikan dengan bumbu kaldu dan bawang goreng yang banyak. Kebetulan, kerupuk yang saya cobai terlalu berminyak, jadi saya tidak terlalu suka. Mungkin di tempat lain rasanya lebih enak. Kerupuk ini rasanya tawar, tidak seperti kerupuk di Indonesia yang rasanya agak gurih.

Saya makan banh dap di quán ăn Cường, alamatnya 01 Nguyễn Hoàng, An Hội, Hội An. Harga seporsinya 20.000 Dong.

White rose (dalam bahasa Vietnam: Bánh bao vac)


White rose yang digemari di kalangan turis asing.
Kudapan yang sangat terkenal di kalangan turis asing ini adalah sejenis pangsit berisi udang yang disajikan dengan saus gurih. Di beberapa tempat, isinya adalah campuran antara udang dan daging babi. White rose rasanya gurih, dan taburan bawang putih di atasnya sungguh menambah rasa nikmat. Baunya pun harum. Tapi kalau dibandingkan dengan pangsit biasa di Indonesia, sebetulnya rasanya tidak jauh berbeda. White rose adalah salah satu makanan populer di kalangan turis yang berkunjung ke Hoi An. Kalau browsing di website asing tentang Hoi An, pasti akan menemukan ulasan tentang makanan white rose ini.

Saya makan white rose di jajaran warung makan di pinggir sungai Hoai (bukan cafe, yah) dan satu porsi harganya 30.000 Dong. White rose bukan makanan yang mengenyangkan, jadi memang disajikan untuk camilan saja.

Banana pancake (dalam bahasa Vietnam: Bánh chuối)


Penjual banana pancake di tepi sungai Hoai.
Menurut internet, banh chuoi ada beberapa versi. Versi yang kami makan adalah pisang yang dilapisi tepung, diberi sedikit wijen, dan digoreng. Pisang dipotong tipis dan ditata sehingga berbentuk seperti kipas. Rasanya enak banget! Kebetulan, pisang yang dipakai saat itu adalah pisang yang manis, jadi cocok sekali dengan rasa wijen yang agak pahit.

Kami menemukan penjual banh chuoi di tepian sungai Hoai, tepat di dekat gerbang masuk utama ke areal kota tua. Bukan toko, melainkan hanya gerobak dorong yang hanya berjualan di sore hari. Penjual banh chuoi umumnya tidak hanya menjual satu macam makanan. Mereka juga menjual makanan lain seperti donat.

Spring rolls


Cara memakan fried spring roll: digulung dengan rice paper bersama sayuran.
Spring rolls adalah kudapan khas Vietnam yang banyak dijual di restoran makanan Vietnam di Jakarta. Ada dua versi spring rolls, yaitu yang disajikan segar dan yang digoreng. Yang digoreng, fried spring rolls, nama Vietnamnya ram cuốn. Yang disajikan segar, fresh salad rolls, nama Vietnamnya chả giò tươi. Isinya udang, sejenis bihun, dan sayur-sayuran segar. Disajikan dengan bumbu saus berwarna cokelat yang rasanya agak manis. Untuk fresh spring rolls, bisa dimakan langsung. Fried spring rolls dimakan bersama dengan lalapan, dan dibungkus dengan rice paper.

Saya makan kedua jenis spring rolls ini di Hoi An’s Central Market (Chợ Hội An), yang posisinya ada di dalam kompleks Ancient Town of Hoi An. Pasar ini tidak hanya menjual makanan, namun juga menjual barang-barang sehari-hari, bahan makanan mentah, bunga segar, dan juga oleh-oleh khas Vietnam. Kalau belanja di sini, jangan lupa menawar. Hanya masakan jadi yang harganya sudah pasti. Fresh spring rolls harganya 30.000 Dong dan Fried Spring Rolls harganya 40.000 Dong. Banyak turis backpacker yang makan di sini, karena harganya jelas, pilihannya banyak, dan rasanya lumayan enak.

Sate babi khas Hoi An (dalam bahasa Vietnam: Heo nướng đũa)


Penjual grilled pork skewers khas Hoi An.
Makanan ini hanya saya temui di penjual di pinggir jalan. Tidak ada restoran yang menjualnya. Sate ini unik, karena daging babi tidak ditusuk, melainkan dijepit oleh potongan bambu yang dibelah dua. Di areal kota tua Hoi An dan sekitarnya, harganya 10.000 Dong per tusuk. Cara memakannya unik. Daging sate ini dilepas dari bambunya, lalu dibungkus dengan rice paper bersama dengan lalapan segar khas Vietnam. Bungkusan rice paper ini bisa dicelupkan ke dalam bumbu kacang dan sambal sebelum dimakan. Kalau sate babinya saja, namanya thịt nướng.

Sate ini hanya dijual di daerah Hoi An dan hanya di pedagang pinggir jalan. Biasanya penjualnya tidak bisa bahasa Inggris, jadi mereka menuliskan jualan mereka di papan atau selembar kertas sebagai: grilled pork. Kalau berkesempatan berkunjung ke Hoi An, jangan lupa untuk mencari makanan yang satu ini.

(bersambung)

0 Komentar:

Posting Komentar