18 Mei 2015

Akhirnya bisa jalan-jalan ke luar Jakarta juga! Bermodalkan cuti di hari Jumat kejepit minggu lalu, saya ikutan tur jalan-jalan ke Ujung Kulon. Yup, kali ini saya tidak jalan sendiri, melainkan ikutan tur yang diselenggarakan oleh www.tukangjalan.com. Maklum, lagi males bikin itinerary sendiri, maunya sudah diurus oleh orang lain saja.
Stiker di pintu kantor jagawana di Pulau Handeleum.
Taman Nasional Ujung Kulon adalah salah satu taman nasional yang dikelola dan dilindungi oleh Pemerintah. Maskot Taman Nasional Ujung Kulon adalah badak. Akan tetapi, badak bukan satu-satunya hewan yang dilindungi pemerintah di sini. Beberapa jenis kera dan anjing hutan langka juga berstatus terancam punah dan dilindungi. Terumbu karang di kawasan ini juga menjadi obyek perlindungan Pemerintah. Menurut Wikipedia, Taman Nasional Ujung Kulon adalah taman nasional pertama di Indonesia, dan sudah diakui sebagai Situs Warisan Alam Dunia oleh UNESCO sejak tahun 1991.
Kami berangkat dari Jakarta hari Kamis (14 Mei 2015) malam, sekitar jam 22:00. Kami naik bus sewaan menuju ke Desa Sumur di Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Perjalanan menuju Desa Sumur ditempuh dalam waktu sekitar 7 jam, melalui jalan yang berliku dan seringkali rusak. Memang beginilah kondisi jalan di area yang jauh dari kota besar. Hari Jumat pagi, sekitar jam 5 kami sudah tiba di Desa Sumur, dan menumpang makan pagi di rumah penduduk yang menyewakan kapal kepada rombongan kami. Istirahat sejenak, cukup untuk meluruskan kaki setelah sekian lama tertekuk di kursi penumpang di dalam bus.
Salah satu sudut di Desa Sumur.
Desa Sumur adalah salah satu desa nelayan yang paling dekat dengan Taman Nasional Ujung Kulon. Kebanyakan wisatawan yang akan mengunjungi Taman Nasional Ujung Kulon akan bertolak menggunakan kapal dari desa ini. Karena desa ini memang desa yang terpencil, jangan harap ada penginapan mewah, adanya hanya perumahan penduduk. Makanan juga seadanya, karena sepanjang mata memandang, tidak ada rumah makan. Untuk wisatawan yang berduit, mereka dapat menginap di resort di Pulau Umang yang berjarak lumayan dekat dengan Desa Sumur ini. Tapi untuk wisatawan backpacker macam grup kami, ya cukuplah mampir sebentar di rumah penduduk sebelum melanjutkan perjalanan ke tempat menginap kami, yaitu Pulau Peucang.
Rugi dong, kalau berkunjung ke Ujung Kulon langsung nongkrong di penginapan. Sebelum tiba di Pulau Peucang, rombongan kami muter-muter dulu ke pulau-pulau lain. Kami mampir ke Pulau Badul dan Pulau Handeleum. Dari Desa Sumur ke Pulau Badul, perjalanan ditempuh selama sekitar satu jam. Dari Pulau Badul ke Pulau Handeleum sekitar kurang dari satu jam.
Snorkeling di sekitaran Pulau Badul. Pasir putih itu Pulau Badulnya.
Pulau Badul sebenarnya adalah karang laut yang menyembul ke permukaan dan tergerus arus laut sehingga menjadi pulau mungil berpasir putih. Diameter Pulau Badul ini (sepertinya) tidak sampai setengah kilometer. Di tengah pulau ada sedikit tanaman yang memberi aksen khusus pada penampilan gosong karang ini.
Pulau Badul adalah salah satu spot snorkeling favorit di area Ujung Kulon. Karena Pulau Badul dikelilingi karang yang tajam dan sangat dekat dengan permukaan laut, kapal tidak dapat merapat ke pulau. Kapal hanya dapat berhenti sekitar 50 meter dari pulau, dan wisatawan harus berenang sendiri ke pulau.
Tentu saja, rombongan kami berhenti di sini untuk mengintip keindahan dasar laut di sekitar Pulau Badul ini. Karena keterbatasan waktu, grup kami hanya snorkeling di sekitaran pulau, dan tidak naik ke atas pulau. Namun tanpa perlu berjuang melawan arus dan bermanuver di antara karang tajam di sekitaran pulau demi foto narsis di atas pasir putih, wisatawan tetap bisa menikmati alam Pulau Badul: mengapung sambil menikmati terumbu karang dengan ikan-ikan badut yang menari-nari di sela-selanya.
Siap-siap bersampan di Sungai Cigenter.
Dari Pulau Badul, kami melanjutkan perjalanan ke Pulau Handeleum. Tujuan: muara sungai Cigenter. Daerah muara sungai Cigenter tidak dilengkapi dengan dermaga, jadi kapal ukuran sedang tidak dapat merapat ke sana. Untuk sampai ke daratan, pengunjung harus dijemput dengan kapal speedboat yang penampakannya mirip kaleng. Kalau penumpang kebanyakan gerak, kapal bisa oleng ke kiri dan ke kanan (dan bisa menjadi bahan bercandaan petugasnya).
Obyek wisata di Pulau Handeleum adalah canoing alias naik sampan di sungai Cigenter. Paket kami adalah satu jam bersampan di sungai yang kiri-kanannya ditumbuhi pohon nipah dan pohon bakau ini. Selain pohon nipah dan bakau, ada juga banyak tumbuh-tumbuhan lain, hanya saja saya tidak tahu namanya. Kabarnya, badak bisa ditemui mampir ke sungai ini untuk minum. Tapi kami bukan termasuk orang yang beruntung bisa melihat hewan langka itu. Hanya jejak kakinya saja yang bisa kami lihat. Konon kabarnya juga, sungai ini juga merupakan habitat buaya rawa. Untungnya, kami tidak melihat satupun buaya selama perjalanan. Yang kami lihat hanyalah ular yang melingkar-lingkar di dahan-dahan pohon di atas kepala kami.
Suasana Sungai Cigenter.
Untuk bisa menikmati tur sampan, grup wisata harus ditemani oleh jagawana (ranger) setempat. Bukan hanya untuk melindungi jika ada hewan buas, jagawana juga membantu mendayung sampan. Mendayung sampan ternyata bukan perkara mudah, karena kalau salah koordinasi, sampan tidak bergerak maju melainkan berputar-putar di tempat. Dari sungai Cigenter, kami langsung menuju ke kapal kami dengan menggunakan sampan. (Yup! Sampan yang untuk canoing di sungai itu bisa juga mengantar kami ke kapal yang menanti di laut.)
Sampan yang sama juga bisa mengantar kami ke kapal di lepas pantai.
Dari Pulau Handeleum, kami langsung menuju ke Pulau Peucang, tempat menginap kami. Lama perjalanan sekitar dua jam. Di sela-sela perjalanan inilah kami makan siang. Entah karena lapar atau memang enak, ikan goreng dan sayur sop yang disajikan habis dilahap.
Pulau Peucang adalah gerbang utama Taman Nasional Ujung Kulon dan merupakan pulau yang paling sering dikunjungi oleh wisatawan. Pulau Peucang memiliki fasilitas yang cukup lengkap dibandingkan dengan pulau-pulau lain, antara lain dermaga, penginapan (walaupun sederhana), dan orang masih bisa beli minuman botolan (walau stoknya tidak banyak). Paling tidak, kapal ukuran sedang masih bisa merapat sehingga pengunjung tidak perlu berenang atau menyewa sampan untuk sampai ke bibir pantainya.
Melewati dermaga utama di Pulau Peucang.
Tempat penginapan kami lebih mirip barak daripada asrama. Bentuknya rumah panggung yang terdiri dari kamar-kamar yang hanya dibatasi oleh papan tipis. Apa yang diobrolin di satu kamar, bisa terdengar di kamar sebelahnya. Kasur-kasur berjajar di masing-masing kamar, siap menampung sekitar 10 orang berbaring berdesak-desakan. Colokan listrik hanya satu per kamar, dan siang hari listrik dimatikan. Untungnya, saya bawa powerbank yang bisa untuk nge-charge hape full sebanyak tiga kali dan satu baterai cadangan untuk kamera. Jadi, selama wisata kali ini, saya tidak perlu was-was ngecharge peralatan elektronik.
Jujur saja, saya senang menginap di Pulau Peucang, karena saya merasa sangat dekat dengan alam. Hewan-hewan liar dari sekitaran kompleks penginapan bisa mondar mandir di dekat penginapan dan tidak canggung saat bertemu dengan manusia. Pemandangannya pun indah. Nggak usah jauh-jauh dari tempat menginap sudah bisa mengejar-ngejar ikan dan udang di pantai. Seperti apa menginap di Pulau Peucang? Tunggu lanjutan kisahnya di postingan berikutnya.
Kera di Pulau Peucang. Sabar menanti ...
(Bersambung.)

2 Komentar:

  1. Kunjungan balik nih :)
    Saya juga pernah ke Pulau Peucang ini,emang alami banget. Waktu itu, kami tidurnya di tenda.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ... alami banget! Pas bangun pagi, kaget ada rusa dan anak babi liar berkeliaran di depan tempat menginap. Terima kasih sudah berkunjung!

      Hapus