4 Juli 2016



Salah satu obyek wisata wajib bagi turis yang berkunjung ke Cirebon adalah keraton. Keraton adalah tempat tinggal raja-raja dari kerajaan dahulu dan para keturunannya saat ini, yang merupakan penerus tradisi Cirebon dari jaman pertama kali berdirinya kerajaan di sekitaran Cirebon ini. Hingga saat ini, seluruh keraton tersebut masih mengelola kegiatan-kegiatan adat tahunan yang menjadi salah satu ciri budaya Cirebon.
Petunjuk jalan ke Keraton Kasepuhan.
Ada empat Keraton di Cirebon, yaitu Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, Keraton Kacirebonan, dan Keraton Keprabon. Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, dan Keraton Kacirebonan dikepalai oleh seorang Sultan; sedangkan Keraton Keprabon dikepalai oleh seorang Pangeran. Dari keempat keraton ini, menurut internet, Keraton Keprabon merupakan satu-satunya bangunan yang lebih menyerupai rumah dan tidak memiliki kelengkapan bangunan keraton pada umumnya.
Karena keterbatasan waktu, dan juga karena memang bangunannya bukan keraton pada umumnya, maka pada perjalanan kami kali ini, Keraton Keprabon tidak kami kunjungi. Jadi isi postingan kali ini adalah kisah perjalanan kami mengunjungi tiga keraton dari tiga kesultanan di Cirebon.
Ketiga keraton di Cirebon sebenarnya jaraknya berdekatan. Kalau naik sepeda motor, jarak antar masing-masing keraton hanya 10 menit perjalanan. Sebenarnya cukup aneh juga, di dalam satu kota ada cukup banyak keraton. Saya bayangkan kalau kerajaan-kerajaan jaman dulu itu masih ada sampai sekarang dan kita tidak mengenal negara Indonesia, maka orang-orang Cirebon ini bisa-bisa harus cap visa di paspor di tiap belokan di pusat kota Cirebon.


Keraton Kanoman

Keraton yang pertama kami kunjungi adalah Keraton Kanoman. Keraton Kanoman letaknya persis di belakang Pasar Kanoman. Pasar Kanoman adalah salah satu pasar tua di Cirebon yang ramai dan macet. Jalan-jalan di sini satu arah. Jadi, kalau nyasar, bisa-bisa harus memutar jauh untuk menemukan jalan yang benar. Dan itulah nasib kami yang harus memutari area pasar untuk menemukan jalan masuk ke Pasar Kanoman. Waktu masukpun, kami sempat mengalami kesulitan karena masih banyak orang hilir mudik sambil membawa barang belanjaan. Mana jalannya sempit pula! Untung kami naik motor. Kalau naik mobil, bisa lebih sengsara lagi tuh.
Museum Keraton Kanoman.
Keraton Kanoman memiliki alun-alun yang cukup luas (dan panas), museum, dan bangunan keraton yang masih dipakai oleh keluarga Sultan hingga saat ini. Karena keraton ini masih ditinggali, maka pengunjung hanya bisa mengunjungi museum, pendopo depan, dan tempat singgasana sultan saja.
Tidak banyak yang bisa dilihat di dalam gedung Keraton. Di pendopo terdapat beberapa kursi untuk duduk-duduk menerima tamu, dan begitu masuk terdapat singgasana yang dipakai Sultan di upacara-upacara adat. Selain pintu masuk ke dalam ruangan yang diukir dengan indah, tidak ada yang menarik perhatian saya.
Di dalam museum yang ukurannya kecil, pengunjung dapat melihat kereta kerajaan Kereta Paksi Naga Liman dan Kereta Jempana (kabarnya dibuat di tahun 1428). Selain itu, terdapat juga senjata kerajaan, pintu kuno dengan ukiran-ukiran yang indah, gamelan, dan beberapa kotak perhiasan.
Area alun-alun dan halaman keraton justru lebih menarik dibandingkan barang-barang yang dipamerkan di dalam bangunan. Di halaman keraton ada lonceng yang bentuknya mirip lonceng gereja. Lonceng ini merupakan hadiah dari Sir Thomas Raffles, Gubernur Jendral Inggris saat berkuasa. Di alun-alun, ada pintu gerbang yang tertutup, yang di pinggirnya dihiasi dengan mangkok-mangkok keramik kuno. Bangunan Siti Hinggil di tengah alun-alun juga dihiasi dengan keramik yang indah.
Secara umum, area Keraton Kanoman bisa dibilang bersih dan rapi. Namun sayang, nampak kurang terawat dan terlalu sederhana. Kesan yang tertinggal di hati saya adalah seperti melihat sisa-sisa kemegahan yang sudah lama lewat. Sayang sekali.
Siti Hinggil di Keraton Kanoman.
Oh ya, Keraton Kanoman letaknya persis di balik Pasar Kanoman. Jadi, kalau naik motor melewati Jalan Kanoman, jangan ngebut. Begitu melihat ada pepohonan di sebelah kanan, harus mulai pelan-pelan sambil lihat ke arah kanan. Di antara pepohonan ini, terdapat gapura yang letaknya persis di tengah dua bangunan pasar. (Gapuranya putih dan nggak ada namanya.) Nah, langsung belok kanan melewati gapura, terus ikuti jalan melewati pasar, dan akhirnya akan sampai di Keraton Kanoman. Jalan Kanoman itu satu arah, jadi pengunjung yang kelewatan harus ikuti jalan lumayan jauh untuk bisa kembali ke Pasar Kanoman.
Tiket masuk museum Keraton Kanoman Rp 7.000,- per orang. Harga buku sejarah keraton Rp 30.000,-. Wajib menggunakan jasa tour guide lokal untuk mengantar keliling keraton, tips seikhlasnya.


Keraton Kasepuhan

Jarak Keraton Kanoman ke Keraton Kasepuhan kira-kira 10 menit pakai motor. Untuk menuju ke Keraton Kasepuhan dari Keraton Kanoman naik motor, tidak perlu masuk ke Pasar Kanoman lagi. Persis habis alun-alun, sebelum masuk ke area pasar, ada jalan ke arah kiri menuju ke perkampungan. (Jalan ini cuma bisa dilewati motor, bukan untuk mobil.) Nah, ikuti saja jalan itu sampai nanti tiba di Jl. Pulasaren, yang merupakan jalan cukup ramai. Dari situ tinggal belok kiri sampai bertemu petunjuk ke Keraton Kasepuhan. Entah karena merupakan keraton tertua atau karena memang keraton ini adalah keraton yang paling komersial, petunjuk jalan ke Keraton Kasepuhan cukup jelas. Google Maps juga bisa dijadikan patokan yang akurat.
Bagian utama Keraton Kasepuhan.
Keraton Kasepuhan ramai dikunjungi pengunjung di hari kami datang. Karena kebetulan hari sebelumnya adalah hari Isra Mi’raj, Sultan dan keluarganya juga membuka diri untuk kunjungan pribadi. Tentunya hal ini tidak berlaku untuk kami yang hanya turis biasa. Jadi, kami cukup berjalan-jalan mengitari kompleks keraton, masuk ke gedung museum, dan keluar masuk daerah-daerah yang diijinkan untuk dijelajahi turis.
Berbeda dengan Keraton Kanoman, Keraton Kasepuhan memiliki kompleks yang cukup luas. Itu belum termasuk alun-alun dan masjid agung yang posisinya di luar gerbang pemeriksaan tiket masuk. Di dalam kompleks keraton terdapat banyak bangunan, baik gedung keraton inti, bangunan Siti Hinggil, bangunan museum, beberapa pendopo, rumah-rumah keluarga Sultan, dan reruntuhan Dalem Agung Pakungwati.
Dalem Agung Pakungwati adalah bagian tertua dari Keraton Kasepuhan. Walau berupa reruntuhan, namun daerah tua ini tetap menarik untuk didatangi. Di sini terdapat beberapa sumur, salah satunya adalah Sumur Kejayaan, yang hanya boleh dimasuki oleh laki-laki. Jadi, saya dan teman saya tidak bisa tahu bagaimana wujud sumur itu. (Kabarnya sumur ini dulunya tempat mengambil wudhu Sunan Gunung Jati dan para murid-muridnya, jadi agak wajar sih kalau dulunya tempat ini tidak boleh dikunjungi wanita.) Orang sering mengambil air dari Sumur Kejayan untuk kepentingan ritual tradisional Sunda. Tidak jauh dari Sumur Kejayaan terdapat Sumur Upas yang ditutup.
Gerbang masuk Sumur Kejayaan : Wanita dilarang masuk.
Museum di kompleks Keraton Kasepuhan menyimpan barang-barang keraton seperti kereta kencana, senjata-senjata kuno, barang-barang pecah belah, perlengkapan upacara dari perunggu, dan juga beberapa set gamelan. Dari ukuran dan banyaknya barang yang dipamerkan, museum Keraton Kasepuhan bisa dibilang baik.
Keraton Kasepuhan sebagai tempat wisata boleh dibilang terawat secara profesional. Dari bagian penjualan tiket sampai pembagian tugas tour guide, bisa dikatakan semuanya teratur. Tidak heran pengunjungnya banyak dan keraton ini masuk ke itinerary banyak turis yang berkunjung ke Cirebon.
Harga tiket masuk kompleks Keraton Kasepuhan Rp 20.000,- per orang. Tidak perlu ada pembelian tiket lagi, dan tidak wajib menggunakan jasa tour guide lokal. Di sini adalah satu-satunya keraton dimana turis bisa membeli topeng khas Cirebon. Kalau mau lihat-lihat saja, boleh datangi penjual hasil seni di dekat loket tiket masuk.


Keraton Kacirebonan

Keraton ini jaraknya cukup dekat dari Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman. Naik motor hanya sekitar 10 menit. Dari Keraton Kasepuhan, kita cukup lurus saja melewati Jl. Jagasatru, lalu sebelum pasar belok kanan masuk ke Jl. Kacirebonan. Seingat saya jalan di sekitaran keraton-keraton ini banyak yang satu arah, jadi kalau salah jalan, harus muter cukup jauh.
Bagian depan Keraton Kacirebonan.
Keraton Kacirebonan relatif kecil – mungkin ukurannya lebih kecil dari Keraton Kanoman. Jujur saja, petunjuk Keraton Kacirebonan hampir-hampir tidak ada. Kami pun masuk ke halaman depannya (alun-alun kecil) juga sambil ragu-ragu, apakah ini betul Keraton Kacirebonan atau bukan. Yang membuat kami berani mencoba masuk adalah papan petunjuk yang bertuliskan “Wisata Kuliner Pawon Bogana Keraton Kacirebonan”. Dan untungnya, memang betul – restoran Pawon Bogana memang merupakan bagian dari Keraton Kacirebonan.
Keraton Kacirebonan tidak memiliki banyak bangunan. Museumnya jadi satu dengan bangsal utama, tidak di gedung tersendiri. Di bagian belakang museum terdapat tempat berjualan kain-kain batik khas Cirebon. Harganya cukup mahal – mungkin karena dijual di keraton. Di sini kami juga diijinkan berfoto dengan topeng tari cirebon yang memang dipakai di kegiatan seni keraton.
Waktu kami berkunjung kemari, kucing milik putranya Sultan mondar-mandir di dekat kami dan menjadi tontonan tersendiri. (Kucingnya jadi lebih menarik dibandingkan dengan pajangan museum, hehehe!)
Pendopo di Keraton Kacirebonan.
Tiket masuk Keraton Kacirebonan Rp 10.000,- per orang. Wajib menggunakan jasa tour guide lokal untuk mengantar keliling keraton, tips seikhlasnya.


Perbandingan Tiga Keraton

Saya sebenarnya tidak mau banyak membandingkan rumah orang satu dengan orang lain. Tapi sebagai turis, sepertinya kurang afdol kalau tidak memberikan beberapa pendapat tentang tujuan wisata yang dikunjungi.
Menurut saya, Keraton Kanoman adalah keraton yang paling terbengkalai. Barang yang dipajang di museum paling sedikit. Waktu kami masuk pun, yang menyambut kami adalah beberapa “abdi dalem” yang sedang duduk-duduk tanpa kerjaan. Untungnya, di sini masih ada alun-alun yang cukup luas dimana terdapat gerbang dan siti hinggil yang memiliki hiasan keramik yang menarik.
Keraton Kasepuhan adalah keraton yang paling siap untuk menerima turis. Dari pelayanan secara umum sampai manajemen wisatanya, bisa dikatakan, paling profesional. Dari sisi luas area dan jumlah barang yang dipamerkan, Keraton Kasepuhan juga unggul. Plus, spot-spot untuk foto-foto cantik ada banyak banget. Tidak heran, banyak yang berkunjung ke mari.
Salah satu sudut di Keraton Kasepuhan.
Keraton Kacirebonan tidak seindah kedua keraton yang lain. Alun-alunnya kecil dan jumlah bangunannya lebih sedikit. Tapi paling tidak, mereka berusaha menaruh banyak barang (termasuk meja kursi tua, gambar-gambar, bendera, kain-kain, dan lain-lain) agar banyak barang yang bisa dipamerkan. Di sini jumlah orang yang kerja lebih sedikit, namun semua ada kerjaannya. Oh ya, walau tidak ditangani oleh tim manajemen turisme profesional, namun keraton ini cukup berbenah diri untuk menarik pengunjung. Antara lain, dengan membuka rumah makan dan menyediakan halaman depannya untuk acara-acara sekolah.
Secara umum, saya merekomendasikan pembaca untuk mengunjungi ketiga keraton ini. Termasuk untuk beli oleh-oleh (topeng Cirebon di Keraton Kasepuhan) maupun mencoba hidangan ala kesultanan di Keraton Kacirebonan. Paling tidak, kita belajar sejarah Bangsa Indonesia, termasuk seluk beluk salah satu titik pusat perkembangan Islam di Indonesia.

(Bersambung.)

0 Komentar:

Posting Komentar