18 September 2016


Pemandangan di Biei, diambil di Zerubu no Oka.

Dua kota yang menjadi tempat pemberhentian bagi turis yang berminat untuk berjalan-jalan di bagian tengah Hokkaido adalah kota Furano dan kota Biei. Jarak kedua kota ini cukup dekat, sekitar 31 kilometer. Kalau naik kereta, waktu tempuhnya sekitar 40 menit. Kalau Furano lebih dikenal dengan ladang lavender, maka Biei lebih dikenal dengan spot-spot foto berupa pepohonan. Turis-turis Jepang bisa berkeliling daerah Biei hanya untuk menemukan rumpun pepohonan yang membentuk susunan unik, atau yang terkenal karena jadi tempat shooting iklan, shooting film, dan  foto kalender.
Terkait dengan pepohonan Biei yang populer di Jepang, salah satu kegiatan turistik yang sangat populer di Biei adalah naik sepeda menuju ke tempat-tempat yang populer. Rute sepedanya sudah dipetakan, dan turis cukup mengikuti peta yang disediakan. Dua rute sepeda yang terkenal adalah Patchwork Road Couse (ada pohon yang jadi background iklan rokok Mild Seven di Jepang) dan Panorama Road Course (ada beberapa taman yang terletak di bukit-bukit). Selain rute sepeda, ada juga tempat-tempat wisata lain yang juga menarik di luar rute sepeda seperti danau Blue Pond dan Shirogane Hotsprings.
Kalau dari hasil broswing, spot-spot yang populer bagi orang Jepang ini dianggap biasa saja oleh turis asing – mungkin karena mereka tidak ada ikatan kultural dengan penyebab terkenalnya pepohonan itu. (Kan jarang orang bule nonton drama Jepang atau koleksi kalender Jepang yah.) Dan karena saya juga tidak terlalu mengikuti tren budaya Jepang, maka saya juga sebenarnya tidak berminat untuk mencari pohon-pohon yang katanya terkenal itu. Saya cukup jalan-jalan sesuka hati sambil mengagumi suasana musim panas Hokkaido.
Pemandangan di perjalanan Furano - Biei dari kereta.
Sesuai dengan keterbatasan waktu yang saya miliki (kan nggak bisa pulang malam-malam, dan saya juga harus pindah penginapan dari Furano ke Asahikawa) jadi saya hanya mengunjungi tempat-tempat wisata yang jaraknya cukup dekat dengan stasiun kereta api, atau yang jadwal busnya cocok. Nah, jadwal kegiatan saya di Biei selama dua hari adalah:
Tanggal 6 Juli 2016
08:30 Naik Goryo Kyu Sen Bus dari dekat penginapan ke JR Furano Station
08:50 Sampai di Furano Station, cari makan pagi
09:58 Naik kereta ke Bibaushi Station
10:27 Sampai di Bibaushi Station, lanjut jalan kaki ke Kanno Farm
11:00 Istirahat di Kanno Farm sebentar, lalu kembali ke Bibaushi Station
12:15 Naik kereta ke Biei Station
12:23 Sampai di Biei Station, cari makan siang dan ke kantor pos
13:45 Naik sepeda ke kebun Zerubu no Oka
16:07 Naik kereta ke Nunobe Station
16:53 Sampai di Nunobe Station, jalan kaki pulang ke penginapan
Tanggal 7 Juli 2016
07:00 Check out penginapan
07:30 Naik Goryo Kyu Sen Bus dari dekat penginapan ke JR Furano Station
07:50 Sampai di Furano Station, cari makan pagi
08:20 Naik kereta ke Biei Station
08:55 Sampai di Biei Station, lanjut jalan kaki ke pemberhentian bus
09:26 Naik bus ke Blue Pond
09:46 Tiba di Blue Pond, keliling-keliling Blue Pond
10:24 Naik bus kembali ke Biei
10:53 Tiba di Biei Station, lanjut ke Asahikawa

Alkisah, waktu menunggu bus pagi menuju Furano di tanggal 6 Juli, saya baru menyadari bahwa ada tempelan kertas di halte bus yang berisikan jadwal musim panas. Ternyata, ada bus yang berangkatnya lebih pagi, yaitu jam 07:30. Nah, berbekal pengetahuan itulah saya kemudian beride untuk ke Blue Pond di keesokan harinya. Padahal, tadinya Blue Pond sudah dicoret dari daftar kunjungan karena jaraknya lumayan jauh.

Kanno Farm

Kanno Farm letaknya cukup dekat dengan Bibaushi Station, yaitu sekitar 1,5 km. Jalan kaki sekitar 25 menit. Jalannya berbukit-bukit, dan pemandangannya bagus – khas pedesaan Jepang. Kanno Farm sebetulnya adalah kebun bunga. Tapi di sini juga dijual tanaman hias (bunga-bungaan) dan sayur-sayuran. Persis seperti kebun-kebun di daerah Puncak. Turis yang datang ke sini kebanyakan turis lokal, walau saya sempat menemui beberapa turis Cina. Banyak ibu-ibu (Jepang) yang memborong buah-buahan dan sayur-sayuran lho.
Kanno Farm.
Kanno Farm ukurannya tidak terlalu besar, apalagi jika dibandingkan dengan Farm Tomita. Yah, buat saya, cukuplah untuk tahu salah satu kebun bunga di sekitaran Biei. Tapi diluar pemandangan bunga, saya mendapatkan kejutan di sini.
Jadi, waktu saya minum di kafe-nya, di dinding dekat saya duduk, ada kertas hasil print berwarna yang dilaminating biasa dan sudah kabur warnanya. Waktu saya perhatikan, saya mengenali foto-foto orang di dalam brosur itu, yaitu anggota boyband Arashi. Penasaran dong. Saya baca brosur itu, dengan dibantu google translate dan browsing sana-sini (maklum, brosurnya pakai tulisan Jepang). Alhasil saya mendapatkan informasi bahwa di dekat situ, ada pohon-pohon yang dipakai untuk iklan JAL (Japan Airlines) dengan bintang utama anggota Arashi. Penasaran, saya lalu mengikuti petunjuk di brosur buluk itu, dan tiba di sebuah spot di Kanno Farm dimana saya bisa memotret pohon-pohon yang dimaksud. Sudah pasti saya langsung foto-foto, meskipun ada beberapa ibu-ibu petani di belakang saya yang kasak-kusuk penasaran kok ada turis asing foto-foto pohon di seberang jalan. Ah ibu-ibu ini tidak tahu saja, kalau Arashi juga dikenal di luar Jepang!
Pohon iklan JAL 2013 yang dibintangi boyband Arashi.

Kota Biei

Berbeda dengan Furano yang bentuknya seperti kebanyakan kota di Jepang,  kota Biei terlihat cantik dengan bangunan-bangunan yang tertata rapi. Begitu keluar stasiun, kita langsung disuguhi pemandangan gedung-gedung yang menarik. Kelihatannya Biei memang dipoles untuk turis, terutama di sekitar stasiun kereta. Padahal, cukup berjalan 10 menit dari stasiun, pemandangannya sudah sama dengan kota-kota kecil lain di Hokkaido.
Biei. Tepat di depan stasiun.
Karena kebetulan saya memang berminat untuk mengirim kartu pos, maka saya menyempatkan diri untuk ke kantor pos. Orang Jepang masih memiliki budaya untuk mengirim kartu pos dan surat, jadi kantor pos masih laris. Kalau di Indonesia, yang paling sering kelihatan masuk ke kantor pos adalah pensiunan yang ambil uang bulanan. Di seberang kantor pos, ada rumah makan ramen yang lumayan laris, namanya Hakkai (八海). Saya makan siang di situ. Sebetulnya, di dekat stasiun, ada satu rumah makan yang terkenal dan antrenya gila-gilaan, yaitu Koiya (戀や). Tapi berhubung sudah tidak bisa menahan lapar, dan antrenya panjang banget, saya memilih rumah makan ramen.
Habis makan siang, saya memutuskan untuk sewa sepeda dan mengunjungi salah satu kebun bunga Biei. Pilihan jatuh pada Zerubu no Oka karena jaraknya paling dekat dengan stasiun (2,1 km). Kalau menurut peta, jarak ini bisa ditempuh dengan naik sepeda selama 20 menit. Kenyataannya, jalannya mendaki bo! Saya yang jarang banget naik sepeda sudah hampir patah semangat mengayuh sepeda melewati bukit-bukit di utara Biei. Untung saya tetap gigih melanjutkan perjalanan menuju tujuan. Total waktu tempuh sekitar 30 menit.

Zerubu no Oka

Kebun Zerubu no Oka adalah kebun bunga yang ditata dengan rapi. Tempat ini juga bisa disewakan untuk prewed. Karena saya sudah capek naik sepeda, maka saya memutuskan untuk naik gocart untuk keliling kebun. Bayar 500 yen untuk keliling kebun selama 10 menit. Yah, boleh lah.
Zerubu no Oka.
Di sini, kita bisa naik ke observatory deck yang letaknya di lantai 3 toko oleh-oleh. Lumayan, jadi bisa foto-foto kebun dengan cakupan gambar yang lebih luas. Sayang sekali saya datang ke sini di awal Juli, jadi bunga-bunganya baru mulai mekar. Kalau ada yang berkesempatan ke Hokkaido di akhir Juli, bolehlah datang ke sini karena pemandangannya pasti bagus banget.
Dari kebun Zerubu no Oka, saya kembali ke Biei terus pulang ke Furano. Pulang cepat supaya bisa beres-beres. Selama saya jalan kaki dari Nunobe Station menuju penginapan, saya memuaskan mata saya melihat pemandangan sawah ladang Kami-Goryo, karena belum tentu saya bisa kembali kemari.
Keesokan paginya, saya check out dan mengambil bus paling pagi ke Furano Station. Tujuan selanjutnya: Blue Pond, Biei.

Blue Pond (Aoi Ike)

Blue Pond adalah nama danau kecil yang airnya berwarna biru terang. Warnanya seperti warna pastel. Warnanya yang unik ini disebabkan oleh mineral yang terbentuk dari senyawa aluminium hidroksida. Blue Pond sebenarnya adalah danau buatan, yang dimaksudkan untuk mencegah aliran lahar ke Biei jika Gunung Tokachi meletus. Akan tetapi, yang tidak disangka oleh pekerjanya adalah, saat air mengalir ke daerah itu, warnanya menjadi biru pastel. Padahal, air Sungai Bieigawa yang jaraknya hanya sekian meter dari Blue Pond tidak memiliki warna yang unik.
Numpang nampang di Blue Pond.
Warna biru di Blue Pond bisa berubah-ubah tergantung cahaya matahari yang jatuh. Waktu saya datang, warnanya biru pastel. Tapi waktu ada awan lewat dan cahaya matahari meredup, warnanya jadi biru laut. Keren kan! Gambar Blue Pond adalah salah satu gambar wallpaper komputer Apple untuk OS X Mountain Lion (gambar diambil waktu musim dingin).
Untuk tiba di Blue Pond dengan kendaraan umum, turis harus naik bus lokal yang disebut Dohoku Bus, jurusan Shirogane Hot Spring. Harga tiket 540 yen. Walaupun namanya bus lokal, percayalah, isinya turis semua. Selama saya di sini, saya bertemu dengan banyak turis Cina dan turis Indonesia. Rupaya Blue Pond juga banyak dipromosikan oleh agen travel Indonesia – mungkin karena masuknya gratis.
Blue Pond dengan warna air yang biru laut.

Saya tidak bisa lama-lama di Blue Pond karena harus mengejar bus yang balik ke Biei. Habis makan siang, langsung ambil kereta ke Asahikawa. Sampai di Asahikawa sekitar jam satu. Lumayan kan ... waktu setengah hari masih bisa dipakai jalan-jalan. Ke mana? Yak, tunggu saja lanjutan artikel ini.
(Bersambung.)

2 Komentar:

  1. Kerennya. Kapan bisa keluar negeri kayak gini. Penasaran sama Akihabara nya Jepang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pasti bisa, lah ... Good luck!
      Btw, terima kasih sudah berkunjung.

      Hapus