26 September 2016



Asahikawa adalah kota terakhir yang saya kunjungi pada perjalanan di Hokkaido, Jepang ini. Asahikawa adalah kota terbesar kedua di Hokkaido, setelah Sapporo. Kota modern khas Jepang ini juga masih menyimpan artefak-artefak kuno peninggalan suku Ainu, penghuni asli pulau Hokkaido.
Saya menginap di Asahikawa selama dua malam. Tujuan utama saya mengunjungi kota Asahikawa sebenarnya adalah untuk mempermudah saya mengakses Asahidake Ropeway, yang dapat membawa kita mendekati puncak Asahidake. Asahidake (atau nama Inggrisnya adalah Mount Asahi) adalah puncak tertinggi pulau Hokkaido dengan tinggi 2.291 meter. (Jangan dibandingkan dengan gunung-gunung di Indonesia yang tingginya bisa lebih dari 3000 meter, yah!)
Puncak Asahidake.
Waktu saya masih di Furano, perkiraan cuaca di sekitaran Asahikawa di waktu kedatangan saya adalah hujan badai. Waduh, jadinya saya sempat membuat skenario jalan-jalan indoor, termasuk ke museum dan mall. Untungnya, di pagi hari pas mau berangkat, saya lihat perkiraan cuaca menunjukkan langit yang bersih. Selama saya di Hokkaido, saya tidak pernah mengalami hujan – meskipun awal bulan Juli adalah puncaknya musim hujan di Jepang.
Berikut jadwal acara saya selama di Asahikawa:

Tanggal 7 Juli 2016
10:53 Tiba di Biei Station, makan siang dulu, baru cari tiket ke Asahikawa
12:23 Kereta berangkat menuju Asahikawa
13:01 Tiba di Asahikawa Station
13:20 Check in di hotel, terus balik ke stasiun
14:10 Naik bus ke Asahiyama Zoo
14:43 Tiba di Asahiyama Zoo, keliling-keliling
16:20 Naik bus kembali ke Asahikawa Station
17:00 Sampai di Asahikawa Station, bersantai
Sore itu, saya masih sempet mampir ke Ainu Cultural Information Center yang letaknya ada di dalam stasiun, terus makan malam di Aeon Mall yang letaknya persis di dekat stasiun, dan jalan-jalan santai.

Tanggal 8 Juli 2016
08:00 Eksplore suasana daerah di sekitar hotel, makan pagi
09:30 Naik bus ke Asahidake Ropeway
10:56 Sampai di pemberhentian Asahidake Hot Spring, langsung ke Asahidake Ropeway
14:15 Naik bus dari Asahidake, kembali ke Asahikawa
15:41 Sampai di Asahikawa Station, pulang ke hotel sebentar
16:30 Jalan kaki ke Tokiwa Park
18:00 Makan malam

Tanggal 9 Juli 2016
08:30 Jalan kaki ke Kawamura Kaneto Aynu Memorial Museum
09:10 Tiba di Kawamura Kaneto Aynu Memorial Museum
09:31 Jalan kaki ke hotel, beres-beres, check out
11:30 Naik bus ke bandara (Asahikawa Airport)
13:25 Naik pesawat ke Tokyo
Asahikawa Station.

Waktu saya menyusun itinerary sebelum berangkat, perkiraan cuaca di Asahikawa berubah-ubah terus, dari gerimis, cerah, sampai hujan badai. Oleh sebab itu, saya memang sudah mempersiapkan beberapa alternatif tujuan jikalau cuaca tidak menguntungkan. Kalau hujan, Tokiwa Park dan Asahidake Ropeway sudah pasti tidak akan saya kunjungi, dan yang saya datangi mungkin malah beberapa museum yang tidak ada di daftar di atas. Namanya solo travelling yah, persiapannya harus matang. Nah, ini dia tempat-tempat yang akhirnya saya kunjungi selama menginap di Asahikawa.

Asahiyama Zoo

Asahiyama Zoo adalah kebun binatang kebanggaan warga Asahikawa. Walau saya datangnya sudah sore, kebun binatang ini tetap ramai, lho. Tidak hanya keluarga yang membawa anak kecil, saya juga bertemu dengan beberapa grup study tour dari sekolah.
Pinguin ngerumpi di ruangan terbuka.
Uniknya kebun binatang ini, bagi saya, adalah hewan-hewan yang khas negara empat musim yang bebas berkeliaran. Contohnya, pinguin yang berjalan-jalan di bawah sinar matahari dan beruang kutub di tempat terbuka, dan monyet salju khas Hokkaido yang duduk-duduk di bukit buatan. Selain itu, museum ini sendiri memang didesain secara menarik sehingga pengunjung bisa melihat hewan-hewan tersebut dengan lebih baik. Penjelasan tentang masing-masing hewan juga lengkap, termasuk makanan kesukaan dan kebiasaannya. Tentunya, semua penjelasan ini dalam bahasa Jepang. Buat yang suka beli oleh-oleh, di Asahiyama Zoo ada toko oleh-oleh yang menjual berbagai pernak-pernik, dan juga ada kios kartu pos dan perangko dengan gambar khusus Asahiyama Zoo.
Oh ya, Asahiyama Zoo adalah salah satu tempat wisata favorit para penghuni pulau Honshu (mis. Tokyo, Kyoto, Nara) yang berwisata ke Hokkaido lho. Terutama sekali yang jalan-jalan dengan anak-anak. Sampai-sampai ada satu kereta wisata dari Sapporo ke Asahikawa yang dihiasi dengan gambar-gambar binatang yang dimaksudkan untuk mengantar orang-orang yang menginap di Sapporo untuk mengunjungi kebun binatang ini.
Beruang kutub yang bernama Iwan.

Ainu Cultural Information Center

Ini adalah sebuah kios tanpa penjaga yang letaknya di ujung Asahikawa Station. Tujuan kios ini adalah memberikan informasi kepada turis asing mengenai obyek-obyek wisata yang terkait dengan budaya suku Ainu. Waktu saya lihat-lihat di sini, yang ada saya malah dilihati oleh orang-orang kantoran yang lewat yang mau naik kereta. Mungkin jarang yah, ada turis mengunjungi tempat ini. Kios ini kecil, dan isinya hanya satu layar LCD yang memutar film tentang suku Ainu, sebuah poster, peta museum-museum yang ada di Asahikawa, dan brosur-brosur. Oh ya, untuk yang belum tahu, suku Ainu adalah penghuni asli pulau Hokkaido. Mereka punya budaya dan bahasa yang berbeda dengan orang-orang Jepang lainnya. Jumlah mereka sekarang semakin sedikit, dan kebanyakan sudah tidak bisa dibedakan lagi dengan orang Jepang dari pulau lain.

Heiwa-dori Shopping Park

Heiwa-dori Shopping Park adalah nama kompleks pertokoan yang letaknya persis di seberang Asahikawa Station. Heiwa-dori (jalan Heiwa) adalah jalan utamanya, yang dikhususkan untuk pejalan kaki. Jadi, hanya pejalan kaki dan pengguna sepeda yang bisa melewati Heiwa-dori ini. Di sepanjang jalan ini ada banyak bangku dan patung-patung. Cocok untuk jalan-jalan santai. Jalan ini pula yang menghubungkan stasiun dengan hotel saya, jadi saya sudah puas jalan bolak-balik di sini.
Heiwa-dori. Di ujung depan jauh adalah Asahikawa JR Station.
Asahikawa adalah surga belanja untuk turis. Apalagi waktu musim panas. Selama saya di sini, sepanjang Heiwa-dori yang saya lihat adalah tulisan “Sale”. Mall paling mewah tetap Aeon Mall yang posisinya menempel dengan Asahikawa Station. Kalau jalan kaki di Shopping Park ini, kita bisa melihat toko-toko besar macam Seibu dan Lotte. Ada juga toserba barang-barang sehari-hari yang sepertinya sudah tua tapi laris banget (memang harganya murah). Di sini juga ada kafe, salon, butik, karaoke (banyak!), tempat makan, dan juga tempat minum-minum.
Waktu saya jalan-jalan sekitar jam 8 malam, saya menemukan ada satu jalan yang isinya bar dan izakaya (tempat minum-minum khas Jepang), dan melihat mas-mas serta mbak-mbak yang masih pakai baju kantoran rapi antre untuk masuk ke tempat-tempat ini! Izakaya lebih banyak antreannya daripada bar, mungkin karena sekalian makan malam untuk para pekerja kantoran. Berhubung saya cuma luntang-lantung sendirian, saya nggak berani nyobain masuk ke izakaya di sekitaran ini. Sayang yah! Oh ya, jam 8 malam begini, saya masih menemui anak-anak sekolah berseragam SMA naik sepeda bersliweran loh. Sepertinya mereka baru pulang sekolah, mungkin habis ada kegiatan.
Salah satu sudut di Heiwa-dori.

Asahidake Ropeway

Asahidake Ropeway adalah kereta gantung yang mengantar wisatawan ke tempat pemberhentian pertama bagi orang-orang yang akan mendaki puncak Asahidake (Gunung Asahi). Tempat pemberhentian pertama ini sering disebut juga dengan Asahidaira. Asahidaira juga menjadi titik awal bagi orang-orang yang mau main ski di musim dingin. Asahidake sendiri adalah bagian dari Taman Nasional Daisetsuzan, yang menyimpan berbagai satwa dan tanaman khas Hokkaido. Nah, kejutan buat saya selama di sana adalah ... saya berada di bulan Juli, musim panas untuk belahan utara, namun saya masih bisa melihat dan memegang salju! Betul-betul kejutan yang membahagiakan diri saya yang seumur hidup nggak pernah melihat langsung salju. (Norak yah?)
Asahidake dengan Sugatami Pond yang masih bersalju.
Di Asahidaira, terdapat rute jalan kaki (trekking) yang membawa wisatawan untuk dapat melihat fumarol, yaitu retakan yang mengeluarkan asap (gas beracun). Di sini, juga terdapat danau yang terkenal, yaitu Sugatami Pond (Sugatami Ike). Sayangnya pas saya di sana, Sugatami Ike masih sebagian tertutup salju. Jadi, saya tidak bisa membuat foto pantulan Asahidake di permukaan Sugatami Ike macam di brosur-brosur wisata itu. Nah, rute Asahidaira ini adalah rute yang pas untuk wisatawan pemalas macam saya yang tidak punya perlengkapan mendaki gunung. Rute trekking Asahidaira bisa ditempuh dalam waktu sekitar satu jam dengan jalan kaki santai. Buat yang memang minat mendaki gunung, bisa melewati Asahidaira menuju ke Susoaidaira (tempat pemberhentian yang lebih tinggi) terus lanjut ke Kaldera Hachidaira, atau menuju ke puncak Asahidake di ketinggian 2.291 meter. Ada juga jalur trekking lain menuju ke pemandian air panas. Semua tujuan itu mensyaratkan perlengkapan mendaki gunung yang okeh, yah. Berhubung saya tidak punya, ya muter-muter di Asahidaira saja sudah cukup.
Hutam konifer di sepanjang perjalanan dengan ropeway.
Waktu saya berkunjung di sini, matahari bersinar terang dan hampir-hampir tidak ada awan. Tidak panas sih, namun terik. Kulit saya menghitam dan pecah-pecah – padahal sudah pakai tabir surya. Apa boleh buat, resiko naik gunung. Yang membuat saya kagum, di sini saya banyak bertemu turis lokal yang sudah berusia lanjut. Nenek-nenek dan kakek-kakek yang bawa tongkat hiking dan tas ransel, walau jalannya tidak cepat, namun masih sigap ... dan mereka tidak hanya muter-muter di Asahidaira, melainkan lanjut ke jalur trekking yang lain! Kalau turis Indonesia (ada banyak) dan turis Cina (lebih banyak lagi) biasanya cuma muterin Asahidaira dalam waktu satu jam dan balik ke Ropeway Station untuk turun ke tempat parkir/halte bus.
Kalau dalam perjalanan menuju/dari Asahidake Ropeway, jangan lupa menengok keluar jendela untuk melihat Danau Chubetsu (Lake Chibetsu) yang pemandangannya okeh banget!

Tokiwa Park

Tokiwa Park letaknya masih di tengah kota, dan bisa ditempuh dari Asahikawa Station dalam waktu sekitar 20 menit jalan kaki. Tokiwa Park adalah taman kota yang didesain cantik untuk menjadi pusat kegiatan warga kota Asahikawa. Di sini ada beberapa museum dan perpustakaan, yang sayangnya tutup di jam 17:00. Jadi pas saya sampai di sana, pas tutup.
Salah satu sudut di Tokiwa Park.
Di tengah Tokiwa Park ada danau yang menyegarkan pemandangan, namanya Chidorigaike. Danau kecil ini dikelilingi oleh pepohonan dan bunga-bungaan yang cantik. Berjalan-jalan di taman kota di Jepang di musim panas memang menyenangkan!

Kawamura Kaneto Aynu Memorial Museum

Museum ini baru saya ketahui keberadaannya saat melihat-lihat brosur yang tersebar di atas meja makan hotel. Museum ini istimewa karena didirikan oleh seorang kepala suku Ainu yang bernama Kawamura Kaneto. Museum milik keluarga ini, menyimpan barang-barang pribadi keluarga Kawamura Kaneto, termasuk baju dan perkakas rumah tangga. Museum ini adalah museum kebudayaan Ainu tertua di Jepang, yang didirikan pada tahun 1916.
Beberapa koleksi museum: Perlengkapan suku Ainu.
Dari luar, museum ini seperti tidak ada kehidupan sama sekali. Tidak ada orang, tidak ada tanda-tanda kehidupan. Setelah bengong sekian lama di depan pintu museum, akhirnya saya memutuskan untuk melihat-lihat bangunan lain sekaligus mencari tahu bagaimana caranya beli tiket masuk. Di sebuah rumah, saya menemukan seorang yang agak berumur, dengan jenggot yang lebat dan panjang sampai sedada. Saya langsung tanya tentang tiket.
Orang itu lalu mengantar saya ke loket, mengambil uang 500 yen saya, dan menukarnya dengan selembar karcis. Terus dia menunjuk ke arah sandal-sandal di depan pintu, memastikan saya membuka sepatu dan mengenakan sandal saat masuk museum, terus meninggalkan saya. Orang itu tidak mengeluarkan sepatah katapun. Mungkin karena saya turis asing, dia juga bingung mau ngomong apa. Hahaha! Jujur saja, orang Jepang umumnya tidak berjenggot, apalagi panjang dan lebat begitu. Mungkin dia masih anggota keluarga pemilik museum ini.
Di kompleks museum ini terdapat rumah asli suku Ainu, toko suvenir (yang harganya lumayan mahal) dan teater mini tempat diadakannya kegiatan kultural. Karena hampir-hampir tidak ada petunjuk dalam bahasa Inggris, saya agak susah memahami beberapa penjelasan tentang budaya Ainu di situ. Tapi dari foto-foto dan pajangan di sana, paling tidak saya mendapatkan gambaran umum tentang kehidupan suku Ainu di jamannya.
Rumah Suku Ainu.
Oh ya, saya ke sini jalan kaki dari hotel sekitar 45 menit lho. Itu pulangnya pakai acara nyasar segala. Jalan kaki keluar masuk kompleks rumah dan kampung Asahikawa membuat saya melihat dengan lebih jelas kehidupan penduduk di Asahikawa. Di tempat dimana jalannya sedang digali untuk perbaikan infrastruktur, ada petugas khusus yang membungkuk hormat setiap kali ada mobil lewat. Di daerah padat perumahan, ada ibu-ibu bersih-bersih rumah. Di bantaran sungai Ishikari, orang-orang tua jalan-jalan menghabiskan waktu. Kalau naik bus, apalagi taksi, yang beginian tidak akan saya sadari – tahu-tahu sampai saja di tujuan.

Asahikawa Guesthouse – Tempat saya menginap

Guesthouse yang menyediakan kamar untuk 6 atau 8 orang per kamar ini, punya kamar khusus wanita dan kamar campuran. Ada dapur dan ruang makan. Kamar mandi satu untuk ramai-ramai. WC juga hanya satu. Tempatnya memang cukup strategis, karena hanya 10 menit jalan kaki dari stasiun kereta. Guesthouse ini tidak menyediakan makan pagi sehingga penginap harus lihai mencari cara untuk bisa makan pagi. Di hari terakhir, saya baru lihat ternyata di sebelah hotel ini ada warung ramen yang seporsi harganya tidak sampai 500 yen. Ramen tanpa isi apa-apa yah. Tapi itu sudah cukup murah, cocok untuk kantong backpacker. Sayang saya sudah terlanjur makan di tempat lain.
Asahikawa adalah kota terakhir yang saya kunjungi selama jalan-jalan seminggu di Hokkaido. Di artikel selanjutnya, saya akan berbagi tentang makanan, biaya yang dikeluarkan, transportasi, dan lain-lain yang saya gunakan untuk membantu kenyamanan saya selama jalan-jalan di Hokkaido.
(Bersambung.)

10 Komentar:

  1. Kerja dimana mbak, enak ya bisa travelling terus๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di kantor biasa, kok. Rajin mengatur cuti dan browsing tiket murah saja ... Hahaha!

      Hapus
  2. wah lengkap sekali catatan perjalanan nya. mantap

    www.travellingaddict.com

    BalasHapus
  3. Suka banget membaca catatan perjalanannya ke asahikawa ini mbak. Lengkap. Serasa ikut jalan-jalan. Dari membaca ini jadi ingat kembali tentang Suku Ainu. Dulu waktu SMP SD ya sering menghafal dalam pelajaran IPS soalnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha! Saya malah nggak inget ada suku Ainu di pelajaran SMP.

      Hapus
  4. Asyik nih buat panduan ngetrip disana ,... infonya awesome lah...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah berkunjung!

      Hapus
    2. Sama-sama mbak... jadi pengen lihat postingan sebelumnya... mantep nih cerita2nya...seru abis..

      Hapus