19 April 2017

Blok M adalah daerah pertokoan yang terletak di kecamatan Kebayoran Baru. Daerah Kebayoran Baru adalah daerah yang memiliki sejarah penting, terutama dalam bidang tata kota di Indonesia. Kebayoran Baru adalah salah satu kota mandiri pertama yang dibangun di Indonesia. Waktu pertama kali dibangun di tahun 50-an, Kebayoran Baru masih merupakan daerah pinggiran kota. Kebayoran Baru dibangun dengan konsep “Garden City” atau Kota Taman. Jadi, rancangan tata kota area Kebayoran Baru memang mengedepankan ruang terbuka hijau sebagai ruang milik publik. Oleh sebab itu, tidak heran di daerah Kebayoran Baru banyak dijumpai taman-taman, baik yang berukuran kecil (misalnya, hanya pembatas jalan atau di tengah pertigaan) sampai yang cukup luas dan bisa mendapatkan predikat “Taman Kota”.
Taman Puring, dengan permainan anak-anak di tengahnya.
Buat yang ingin lari-lari pagi atau naik sepeda di tengah kota di Minggu pagi, sebenarnya daerah Kebayoran Baru ini bisa menjadi alternatif dari daerah Sudirman-Thamrin atau daerah Menteng. Hanya saja, banyak jalan di Kebayoran Baru yang dipasang portal, sehingga orang tidak bisa sembarangan keluar masuk kompleks. Tentunya ini terkait dengan masalah keamanan, terutama karena daerah pemukiman di sekitaran Kebayoran Baru kebanyakan adalah perumahan elit.
Nah, terkait dengan taman-taman di sekitaran Blok M, sudah pasti kita tidak bisa meninggalkan taman-taman di Kebayoran Baru, yang sudah menjadi saksi bisu perkembangan Kota Jakarta dari tahun 1950-an hingga sekarang ini.

Taman Puring

Taman Puring lebih dikenal sebagai pasar tempat orang berjualan barang bekas ataupun sepatu dengan harga murah. Persis di sebelah taman, memang terdapat pasar tempat orang-orang berjualan. Dulunya, di tahun 1960-an, Taman Puring adalah tempat bersantai penduduk sekitar. Tapi di tahun 1980-an, Taman Puring menjadi tempat transaksi jual-beli barang-barang curian. Saat ini nama baik Taman Puring sudah lebih baik dengan statusnya sebagai tempat membeli sepatu dengan harga miring.
Pancuran yang mati di Taman Puring.
Taman Puring sendiri sudah dipugar di tahun  2000-an dan sekarang sudah lebih rapi. Taman Puring tidak hanya dihiasi dengan pepohonan, namun juga tempat bermain anak-anak. Walaupun demikian, kondisinya yang kurang terawat membuatnya tidak terlalu ramah anak. Di tengah taman sendiri sebenarnya ada kolam dan pancurannya. Akan tetapi, pancuran sudah tidak berfungsi dan kolamnya kering.
Waktu saya datang kemari, ternyata ada banyak orang yang sedang berekreasi di Taman Puring. Anak-anak dari perumahan dan kampung di sekitar bermain-main di sini. Ada juga beberapa bapak-bapak, mungkin sopir atau pegawai toko yang beristirahat di sini.
Pembangunan jalan layang khusus busway koridor XIII Tendean – Ciledug di samping Taman Puring juga mempengaruhi suasana taman. Matahari yang bersinar terang tidak hanya tertutup oleh dedaunan pohon, namun juga rangka jalan layang. Secara umum, taman ini masih perlu perawatan yang lebih baik supaya menjadi taman kota yang menyenangkan.

Taman Ujung Leuser, Taman Patung Tumbuh Kembang, dan Taman Hang Tuah

Di sekitaran Jl. Pakubowono VI, dekat SMKN 30 Jakarta, tepatnya di ujung Jl. Leuser, ada taman kecil, yang disebut sebagai Taman Ujung Leuser. Taman ini kecil dan tidak masuk kualifikasi taman kota. Akan tetapi, kalau kita tiba di sekitaran taman ini, kita bisa melihat konsep “Kota Taman” Kebayoran Baru yang sebenarnya. Taman Ujung Leuser yang kecil ini berdampingan dengan Taman Patung Tumbuh Kembang, tempat patung Tumbuh Kembang buatan seniman asal Yogyakarta yang bernama Sidharta Soegijo. Di seberang taman ini, kita bisa melihat deretan pohon-pohon subur yang membatasi jalan-jalan di komplek jalan Martimbang. Deretan rumah super elit jaman dahulu yang dikelilingi pohon subur ini sudah pasti membuat senang hati saat kita lari pagi atau sepedaan di sekitaran ini.
Patung Tumbuh Kembang di Kebayoran Baru.
Dari Taman Ujung Leuser, kita bisa jalan kaki ke arah Masjid Al-Azhar, melewati rumah-rumah di sekitaran Jl. Hang Lekiu dan Jl. Hang Tuah. Daerah ini juga dipenuhi pepohonan dan di beberapa tempat ada taman-taman kecil.
Di Jl. Hang Tuah Raya, ada taman kecil yang disebut sebagai Taman Hang Tuah. Percayalah, ini bukan taman kota, karena dari ukurannya lebih cocok disebut sebagai taman kelurahan. Akan tetapi, kalau kita kebetulan sedang jalan-jalan, lari pagi, atau sepedaan di sekitar sini, tempat ini bisa menjadi tempat beristirahat.
Ketiga taman ini: Taman Ujung Leuser, Taman Patung Tumbuh Kembang, dan Taman Hang Tuah, saya jadikan satu karena letaknya cukup berdekatan dan dari ukuran mereka belum bisa dijadikan Taman Kota. Tetapi kalau bosan jalan kaki di sekitaran Sudirman-Thamrin, memang daerah ini boleh menjadi pilihan.
Taman Ujung Leuser.
Sebetulnya, di dekat Taman Hang Tuah ada  taman lain yang cukup luas, yaitu Taman Mataram. Letaknya juga cukup dekat, karena dapat dicapai dengan menyeberangi Jl. Sisingamangaraja. Akan tetapi, karena sedang ada pembangunan Monorel, maka kita tidak bisa berjalan kaki menyeberangi jalan untuk berpindah dari taman satu ke taman lain. Apa boleh buat, Taman Mataram harus dicapai dengan cara berputar melewati Jl. Raden Patah.

Taman Mataram

Taman Mataram letaknya sangat dekat dengan Masjid Al-Azhar. Jalan kaki paling 5 menit untuk sampai. Taman Mataram bentuknya memanjang, mengikuti Jl. Mataram. Dulunya, Taman Mataram ini adalah sebuah stasiun bahan bakar (pom bensin). Namun saat ini sudah dijadikan kawasan hijau yang asri.
Taman Mataram terdiri dari dua bagian, yang mana pembatas kedua bagian ini adalah Jl. Pattimura yang membelah dua taman tersebut. Bagian barat dari Taman Mataram lebih luas, lebih banyak tanaman, dan ada tempat aktivitas fisik outdoor. Ada juga tempat duduk-duduk, yang waktu saya datang menjadi tempat tiduran pegawai kebersihan Pemda.
Taman Mataram.
Sedangkan bagian timur taman, saat ini menjadi taman binaan Prudensial dan memiliki tempat permainan anak-anak yang mengedukasi masalah keuangan. Bagian timur taman ini bersebelahan dengan SMKN 15 Jakarta. Dulunya, bagian timur Taman Mataram ini disebut dengan Taman Pattimura (karena memang letaknya di pinggir Jl. Pattimura). Entah mengapa, taman ini lalu disatukan dengan Taman Mataram yang ada di seberang jalan.
Daerah di sekitaran Taman Mataram, sampai ke sekitaran Jl. Galuh dan Jl. Daksa juga rimbun dan enak untuk lari pagi lho. Tapi, daerah ini banyak menjadi tempat tinggal pejabat kedutaan asing ataupun pejabat organisasi antar bangsa, sehingga lebih eksklusif dan lebih banyak polisinya.
Di sekitaran Jl. Daksa maupun Jl. Galuh juga terdapat taman-taman kecil yang hijau. Beberapa di antaranya memiliki fasilitas aktivitas fisik outsoor, dan beberapa di antaranya hanya memiliki pergola dan tempat duduk.
Permainan anak-anak di Taman Mataram.
Oh ya, di dekat Taman Mataram ada taman kecil yang disebut sebagai Taman Doha. Letaknya, ya di Jl. Doha. Taman kecil dekat SMAN 82 Jakarta ini juga sering menjadi tempat nongkrong penjual makanan, terutama di hari dimana anak-anak sekolah.
Enaknya jalan-jalan di sekitaran sini adalah, dekat dengan tempat makan. Dari Roti Bakar Pak Eddy yang letaknya persis di dekat Masjid Al-Azhar, sampai pub dan rumah makan mewah di sekitaran Jl. Gunawarman. Tentunya kebanyakan baru buka sore atau malam hari. Hehehe ...


Yah, itulah sedikit kisah tentang taman-taman kota di sekitaran Blok M. Oh ya, konsep “Garden City” di Jakarta sebenarnya sudah ada dari lama, dilihat dari pembangunan di sekitaran Menteng (dibangun tahun 1910-an) dan Kebayoran Baru (dibangun tahun 1950-an). Setelah pembangunan perumahan di tahun-tahun selanjutnya yang lebih menekankan pada pembangunan area padat perumahan (coba lihat peta Perumnas yang dibangun di tahun 1980-an di GoogleMaps), kini Pemerintah kembali memberikan perhatian pada ruang hijau. Yah, back to 50’s ...

(Selesai.)

6 Komentar:

  1. Wah keren ya, jakarta makin berbenah, mulai banyak taman-taman yang terbengkalai mulai di berdayakan dan di percantik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Sekarang trendnya sedang kembali ke alam.

      Hapus
  2. wuaahh ngajak bebeb bisa tuh hha :v

    BalasHapus
  3. tempatnya cucok nih buat jogging, tapi kok ribet yes banyak portalnya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ... portalnya banyak banget. Tapi berhubung itu kompleks perumahan penduduk, ya suka-suka RT/RW-nya lah ya. Toh itu untuk keamanan bersama juga.

      Hapus