29 April 2017



Penasaran dengan Museum Pasir Angin, minggu lalu saya dan seorang teman mencoba mengunjungi museum ini. Museum Pasir Angin adalah museum yang menyimpan barang-barang peninggalan prasejaran di daerah Pasir Angin. Museum Pasir Angin terletak di Desa Cemplang, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor.
Museum Pasir Angin.
Sebetulnya, sudah beberapa kali saya mendengar tentang Museum Pasir Angin ini, tapi baru sekarang ini saya berkesempatan berkunjung. Memang kalau mau ke sini, harus bela-belain. Soalnya, tempatnya lumayan jauh dari kota Bogor. Berhubung saya tinggal di Jakarta, maka saya harus ke Bogor dulu naik Commuter Line. Dari Stasiun Bogor, saya harus ke Terminal Bubulak. Nantinya masih harus nyambung satu angkot lagi untuk bisa sampai di Pasir Angin
Dari Stasiun Bogor, menurut informasi dari internet yang sudah saya cari sebelumnya, saya harus naik angkot tujuan Bubulak. (Sembarang angkot, yang penting ada tulisannya Bubulak.) Jangan salah pilih ya, untuk ambil angkot yang menuju ke Bubulak, begitu keluar stasiun harus naik jembatan penyeberangan dulu. Kalau tidak menyeberang jalan, bisa-bisa malah dapat angkot tujuan sebaliknya (yang baru keluar dari Terminal Bubulak.)
Sesampainya saya tiba di terminal tujuan akhir, saya tidak menemukan nama Bubulak, melainkan Terminal Laladon. Lha? Mana Terminal Bubulaknya? Ternyata saudara-saudara, Terminal Bubulak dan Terminal Laladon jaraknya hanya sekitar 1 kilometer saja. Terminal Bubulak milik Pemerintah Kota Bogor sementara Terminal Laladon milik Pemerintah Kabupaten Bogor. Lha, terus angkot-angkot jurusan Bubulak ini bagaimana? Ya suka-suka mereka ... ada angkot yang berhenti di Terminal Laladon, ada yang berhenti di Terminal Bubulak, ada juga yang ngetem di jembatan sungai Cisindangbarang (yang terletak di antara kedua terminal ini). Angkot jurusan Bubulak yang saya naiki, cuma mau berhenti di Terminal Laladon saja. Jadi kami turun di sini.
Papan petunjuk "Situs Museum Pasir Angin" di pinggir jalan.
Dari Terminal Laladon, kami mencari angkot jurusan Jasinga. Di terminal ini, semua angkot warnanya biru dan tidak memasang nomer rute, jadi nggak usah terlalu memusingkan warna dan nomer angkot. Cukup bilang ke sembarang preman atau sopir kalau kita mau ke Jasinga. Kami kemudian digiring untuk naik angkot berwarna biru yang bertuliskan Bogor-Leuwiliang-Jasinga. Tidak sampai 5 menit, angkot sudah penuh penumpang dan siap berangkat.
Perjalanan menuju ke Museum Pasir Angin tidak selancar yang saya kira sebelumnya. Sekitar sepertiga perjalanan, angkot yang kami naiki hanya bergerak sedikit-sedikit karena jalanan super macet. Apalagi di sekitaran Kampus IPB Darmaga. Mana angkot penuh penumpang, jalanan penuh dan nggak ada angin. Sepertinya semua orang mandi keringat. Untungnya, setelah lewat daerah Ciampea, perjalanan menjadi lebih lancar.
Naik bukit menuju museum.
Untuk mencapai Museum Pasir Angin, kita harus turun di tengah jalan raya Bogor-Leuwiliang. Kalau berdasarkan pengalaman pribadi nih, sekitar 1 jam 20 menit dari berangkat, kami melihat papan kecil bertuliskan “Situs Museum Pasir Angin” di kiri jalan. Letaknya persis sebelum jembatan sungai yang lumayan besar (kalau tidak salah, Sungai Cianten). Papan pemberitahuan situs Museum Pasir Angin ini nampak tua dan mungkin bisa terlewatkan. Tapi masjid bertembok hijau yang terletak persis di dekat papan informasi ini pasti tidak akan terlewatkan. Setelah membayar Rp 9.000,- per orang, kami pun turun dari angkot dan berjalan menuju situs yang dimaksud.
Jarak museum ini lumayan dekat dari Jalan Raya, sekitar 5 menit jalan kaki. Tapi bukan berarti kita langsung sampai tujuan. Situs Pasir Angin terletak di atas bukit. Dan museum ini terletak di puncak bukit ini. Bukit Pasir Angin ini nampak mencolok, karena tanah di sekitarnya relatif landai. Salah satu kaki dari bukit ini langsung bersentuhan dengan Sungai Cianten, sementara bagian lainnya bertemu dengan dataran biasa. Bukit ini sendiri bentuknya lebih menyerupakai panggung karena bagian atasnya datar. Kemungkinan besar, tempat ini memang sudah menjadi tempat aktivitas ritual dari jaman dahulu kala. (Bukit dengan permukaan datar di atasnya dan terletak di tepi sungai umumnya merupakan tempat aktivitas di masa lampau, baik tempat tinggal, pemujaan, pemerintahan, maupun pertahanan – soalnya strategis, terlindungi, dan dekat sumber air.)
Sisa-sisa patung penjaga.
Begitu kami masuk ke dalam kompleks museum, kami langsung diterima oleh tetumbuhan lebat yang mungkin sudah beratus tahun hidup di sana. Di salah satu sisi bukit, ada sisa-sisa patung penjaga yang sudah tidak bisa diketahui identitasnya. Persis di tengah bukit, bangunan museum berdiri. Di dekat pintu ada sisa-sisa patung yang sudah rusak, mungkin dihancurkan di masa lampau.
Bolak-balik kami mencari penjaga museum, namun kami tidak menemukan tanda-tanda kehidupan. Pintu museum pun terkunci. Menurut bapak-bapak yang tinggal di rumah di sebelah situs, penjaganya ada tapi tadi pergi. Saat kami datang, memang pas jam 12:30 siang. Mungkin karena sangat sepi, penjaganya bosan dan memilih untuk beraktivitas di tempat lain. (Mungkin kalau kami datang jam 9 atau jam 3 sore bisa ketemu penjaganya ... lagi ngabsen. Hahaha!)
Karena penjaga yang manusia tidak ada, ya sudah, saya memuaskan diri untuk berfoto dengan patung penjaga yang sudah rusak di sisi bukit saja. Sejenak saya juga mengintip-intip isi bangunan museum yang terkunci. Di dalam terdapat sisa-sisa patung jaman dahulu yang sudah rusak. Kabarnya ada benda-benda sisa-sisa jaman perunggu yang disimpan di sini, tapi tentunya saya tidak bisa menguji kebenaran informasi ini.
Patok di tanah, mungkin sisa bangunan.
Jadi, demikianlah hasil dari perjalanan menuju Museum Pasir Angin: Saya mendapatkan foto patung penjaga yang sudah rusak, patok-patok (mungkin sisa-sisa bangunan), dan gedung museum yang tertutup.
Pulangnya, saya menyetop angkot tujuan Bogor di pinggir jalan raya. (Tulisan di angkotnya: Leuwiliang-Bogor.) Saya sempat khawatir bakalan kepanasan di dalam angkot di tengah kemacetan, seperti waktu berangkat. Untungnya, perjalanan pulang ke Bogor lancar. Dan angkot jurusan Bogor kami berhenti di atas jembatan Sungai Cisindangbarang (yang ada di antara Terminal Bubulak dan Terminal Laladon). Dari jembatan ini, kami mengambil angkot tujuan Terminal Baranangsiang. Yak, akhirnya kami kembali ke Kota Bogor.
Catatan tambahan:

  • Memang sih, kami datang di jam makan siang. Tapi kan hari Minggu, hari libur. Masa iya, petugas museumnya nggak jaga? Atau paling tidak memberi catatan seperti “Istirahat jam 12:00 – 13”00”? Atau mungkin memang minat masyarakat terhadap museum sangat kecil atau dukungan Pemerintah yang sangat kecil sehingga penjaga museum pun malas berjaga? Padahal, sebagai satu-satunya museum di wilayah Kebupaten Bogor, seharusnya ada perhatian khusus terhadap sisa-sisa sejarah masyarakat asli sekitar.
  • Kabupaten Bogor kaya dengan peninggalan masa prasejarah. Sampai dengan jaman Kerajaan Pajajaran, daerah ini kaya akan hasil karya kebudayaan. Bogor juga memiliki sisa-sisa peninggalan jaman megalitikum dan peninggalan sejarah lain yang pelan-pelan terlupakan. (Waktu saya jalan-jalan ke Sindangbarang, saya juga melihat beberapa sisa prasejarah.) Sayang kalau tidak ada yang mau merawat peninggalan nenek moyang kita ini.

(Selesai.)

0 Komentar:

Posting Komentar