31 Juli 2017

Walaupun tujuan utama saya waktu berkunjung ke Museum Tekstil adalah untuk melihat-lihat koleksi kainnya, namun berkat rayuan Pak Satpam yang sedang giliran jualan tiket, saya jadinya menghabiskan waktu hampir setengah jam lebih belajar cara membuat batik. Dan ternyata, membatik itu nggak mudah lho ... butuh kesabaran, ketelitian, dan juga kemampuan teknis yang cukup.
Hasil belajar membatik. Ada gambar tetesan lilin karena kesalahan memegang canting.
Kelas membatik dilakukan di Pendopo Batik. Letaknya di bagian belakang kompleks museum. Walaupun letaknya di belakang, namun tempat ini justru yang paling sering dikunjungi. Nampaknya belajar membatik adalah salah satu kegiatan yang cukup banyak peminatnya. Sementara bangunan utama museum nampak sepi, Pendopo Batik ramai dengan penjaga dan juga murid kelas batik.
Waktu saya datang, ada sepasang turis asing dan beberapa anak-anak yang sedang belajar membatik. Salah satu anak kecil – yang selalu berbicara dalam bahasa Inggris meskipun dijawab oleh orang tuanya memakai bahasa Indonesia – mengatakan bahwa dia pernah belajar membatik di sekolah dan dia pasti bisa membatik dengan baik. Sayang sekali, saya yang menghabiskan masa kecil di kota batik Solo, malahan tidak pernah belajar membatik.
Pendopo Batik, tempat berlatih membatik.
Dengan membayar Rp 40.000,- untuk sekali datang di kelas membatik, kita mendapatkan selembar kain putih berukuran 34x34 cm, kesempatan untuk menerakan lilis yang sudah dipanasi, dan juga kesempatan untuk memilih satu macam warna untuk kain batik kita. Nggak bisa warna-warni ya, soalnya menempelkan lilin berulang-ulang untuk pencelupan warna yang berbeda-beda itu membutuhkan waktu lama dan kemampuan yang sudah super advanced.
Setelah menerima kain, saya diminta untuk memilih contoh pola yang sudah tersedia. Contoh pola tersebut berupa gambar-gambar di atas kertas. Gambar-gambar tersebut ada bermacam-macam, ada gambar burung atau bunga yang terkesan batik tradisional, ada juga gambar dinosaurus dan hewan-hewan lain yang lucu-lucu. Yang jelas, tersedia berbagai bentuk pola untuk berbagai usia dan minat. Setelah memilih contoh pola yang disukai, kita diminta untuk menjiplak pola tersebut pada kain kita. Untuk itu, sudah disediakan pensil dan juga meja berlampu khusus untuk menggambar pola.
Lilin cair dan canting, perlengkapan utama saat membatik.
Setelah selesai membuat pola, kita kemudian diminta untuk duduk di dekat lilin cair yang “dimasak” di wajan kecil di atas anglo. Petugas kemudian menyediakan canting (alat untuk menerakan lilin pada kain) dan mengajarkan cara memegang canting dan “menuliskan” lilin pada pola kain. Cara memegangnya harus benar, karena kalau tidak, lilin bisa menetes ke tempat-tempat yang seharusnya tidak terkena lilin. (Kalau melihat kain batik saya, pasti ketahuan kalau saya meneteskan banyak lilin di tempat-tempat yang tidak tepat. Hahaha!)
Menerakan lilin pada kain tidak hanya di satu sisi ya, namun juga di sisi lainnya. Jujur saja, hal ini baru saya ketahui saat belajar membatik ini. Jadi, setelah kita sukses melukiskan lilin pada pola di satu sisi, kita juga masih harus memberi lilin di sisi kain yang satunya. Kenapa? Soalnya, tujuan lilin adalah untuk menutup kain saat dilakukan pencelupan warna. Kalau cuma satu sisi, ya zat warnanya tetap bisa menyentuh kain. Ternyata perjuangan membatik tidak sesederhana itu!
"Memasak" kain untuk melunturkan lilin.
Setelah seluruh bagian pola selesai diberi lilin, kain kita serahkan kepada bapak-bapak yang bertugas melakukan pencelupan dan pewarnaan. Pertama, kain diberi parafin di pinggirnya, supaya menjadi bingkai gambar kita. Kain kemudian dicelupkan ke dalam air yang sudah diberi pewarna alami. Ada tiga pilihan warna, yaitu biru, kuning, dan ungu. Saya memilih warna biru untuk batik saya. Setelah selesai diwarnai, kain kemudian dicuci dan “dimasak” di dalam air mendidih untuk melelehkan lilin. Setelah selesai, kain kemudian dijemur. Nah ... sudah jadi deh batiknya.
Buat yang berminat untuk mencoba membatik, boleh mampir ke Museum Tekstil di sekitaran Tanah Abang. Apalagi yang punya anak usia SD atau SMP. Lumayan, selain diperkenalkan pada tradisi nusantara, anak-anak juga belajar untuk melatih kesabaran dan ketelitian. Oh ya, enaknya kelas membatik di Museum Tekstil adalah, tidak perlu pakai janjian. Selama masih di jam operasionalnya, pasti akan ada petugas yang membantu. Jadi, bisa langsung datang dan tidak ada jam-jam khusus seperti sekolah. Enak, kan ...

Selesai
Hasil belajar membatik sedang dijemur.

4 Komentar:

  1. mantap ya mbak kalau berkunjung ke museum terutama museum batik udah kita dapat berwisata juga menambah wawasan kita terutama kerajinan batik, maka itu jangan sampai di klaim oleh negara lain karena batik merupakan kerajinan khas negara kita. sangat lengkap blognya terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju. Mempelajari batik ternyata juga jadi mempelajari sejarah dan kehidupan sosial masyarakat di jamannya, lho. Ini juga berlaku untuk jenis-jenis kain tradisional lainnya. Sayang sekali kalau kain tradisional kurang mendapatkan perhatian.

      Hapus
  2. Kak, itu kain batik yg sudah kita gambar boleh dibawa pulang ngga??

    BalasHapus
    Balasan
    1. Boleh banget. Bahkan, petugasnya langsung menyuruh untuk bawa pulang begitu kain sudah tergantung di jemuran. Mereka juga nggak punya tempat untuk menyimpan hasil karya amatiran. Hahaha!

      Hapus