14 Juli 2017

Liburan ke Solo beberapa waktu yang lalu tidak membuat saya lalai untuk diet ... mengemukkan badan. Kota Solo, dengan berbagai macam makanan tradisional dan tempat makan yang menarik, akan membuat para pengunjungnya berlomba-lomba mengemukkan badan. Nah, ini dia makanan yang saya nikmati selama libur kemarin.

Kupat Tahu

Kupat tahu khas Solo beda dengan kupat tahu di tempat lain ya. Kupat tahu di Solo kuahnya manis. Tahu goreng dengan mie basah, plus potongan bakwan, menggoda lidah untuk bergoyang menikmatinya. Apalagi ditambah kerupuk. Nyam!
Kupat tahu khas Solo. Rasanya manis dan segar.
Saya makan kupat tahu di Tahu Kupat “Pak Cip” Sido Mampir yang kabarnya sudah ada sejak tahun 1962. Letaknya di depan Hotel Lampion, dekat Pasar Kembang, di Jl. Dr. Radjiman.

Gempol Pleret

Gempol pleret adalah nama hidangan penutup khas Solo. Bisa disebut minuman, karena air santan campur gula kelapanya memang bisa diminum. Bisa juga disebut makanan, karena memang di dalamnya ada bola-bola tepung beras yang harus dikunyah.
Saya makan gempol pleret di foodcourt Hartono Mall di area Solo Baru. Foodcourt ini menyediakan beberapa jenis makanan tradisional yang patut dicoba – kalau males antre panjang di warung-warung tempat jualan makanan aslinya.

Nasi Liwet

Saya makan di warung Nasi Liwet Mbak Giyem Solo Baru. Tempat ini hanya buka di malam hari. Letaknya di depan kantor PT Pondok Solo Permai. Kebetulan, di salah satu bagian dari jalan utama perumahan Solo Baru ini, ada sederetan penjual warung nasi yang ramai disatroni orang di malam hari. Salah satu warung yang sangat ramai adalah warung Mbak Giyem ini. Waktu datang saja saya harus antre berdiri selama hampir sepuluh menit. Memang luar biasa ramainya.
Nasi liwet di dalam pincuk.
Nasi liwet adalah nasi yang dimasak dengan santan. Nasi liwet bisa ditemani lauk apa saja, tapi biasanya orang Solo makan nasi liwet dengan potongan daging ayam rebus atau telur bulat. Rasanya, sudah pasti gurih dan nikmat!

Sate Buntel

Sate buntel adalah sate kambing dimana daging kambing dicacah halus dan kemudian dibungkus dengan lemak sebelum dibakar. Rasanya gurih, apalagi kalau waktu menggigit satenya, lemaknya ikut termakan. Sumber kolesterol favorit ini disukai oleh banyak warga Solo.
Saya makan sate buntel di Sate Kambing Bu Hj. Bejo, Lojiwetan Solo. Tempat yang sangat terkenal bagi penggemar daging kambing di Solo ini juga selalu ramai. Selain sate buntel, tempat ini juga menyediakan sate kambing biasa, tongseng, dan gulai kambing.

Hik

Hik adalah istilah orang Solo untuk tempat makan angkringan, dimana orang bisa memilih sendiri lauknya dan kemudian lauk itu dibakar atau digoreng sebentar sebelum disajikan. Biasanya, lauk yang tersedia memang sudah matang dan cukup dipanasi saja. Oh ya, Hik juga sering disebut Wedangan, karena kadang orang berkunjung kemari hanya untuk nongkrong sambil menikmati kopi. Hik yang kekinian sudah tidak lagi di pinggir jalan, namun mengambil bentuk kafe dan bisa menempati rumah tua.
Berbagai pilihan lauk di Hik atau Wedangan.
Hik yang saya kunjungi adalah Wedangan Omah Lawas. Hik kekinian ini terletak di Jl. Dr. Supomo no. 55. Tempatnya berupa rumah kuno yang disulap menjadi tempat makan. Ada meja lesehan dan ada juga meja biasa. Pilihan makanannya bermacam-macam dan pilihan minumannya juga banyak. Kalau mau menikmati suasana tradisional dengan kenyamakan ala kafe, tempat ini bisa menjadi pilihan.

Selat Solo

Selat Solo yang paling terkenal sudah pasti selat solo Mbak Lies. Rumah makan yang tidak pernah sepi (Ini beneran!) ini tidak hanya menyediakan berbagai macam selat, seperti selat galantin dan selat bestik. Dua-duanya khas Solo. Oh ya, untuk yang tidak tahu selat itu apa: Selat Solo adalah racikan yang diilhami oleh salad orang Eropa. Tentunya rasanya sudah jauh banget ... secara selat Solo rasanya manis. Dulunya, selat solo adalah hidangan penghuni keraton. Tentunya di jaman sekarang semua orang bisa menikmatinya.
Buat yang berminat makan di warung Mbak Lies, siap-siap antre yah. Selain itu, siap-siap gatel buat upload ke instagram atau path karena ...  tempat ini dipenuhi dengan pernak-pernik lucu. Selain keramik dengan gambar-gambar dan corak Eropa, Warung Selat Mbak Lies juga dipenuhi dengan  boneka dan gambar-gambar. Hiasan-hiasan yang ada kadang tumpang tindih dan penataannya terkesan asal penuh, tapi jadinya unik. Pengalaman tersendiri untuk makan di sini.

Lekker

Kue lekker adalah kue dadar khas Solo. Bentuknya pipih seperti umumnya kue dadar, lalu disajikan dengan dilipat menjadi dua. Di tengah lipatan, biasanya diisi potongan pisang dan gula pasir atau butiran cokelat. Di masa kini, kue lekker bisa berisikan macam-macam rasa, termasuk selai strawberry. Kue lekker yang terkenal ada di daerah Gajahan. Tapi untungnya, saat saya datang sedang ada Festival Jajanan Tradisional di The Park, Solo Baru. Berbagai makanan khas Solo ada di situ. Jadi, saya tidak perlu antre panjang di daerah Gajahan untuk makan kue kesukaan saya waktu SD ini.
Cara memasak kue lekker. Aslinya sih di atas anglo dan arang.

Sate Kere

Sate kere adalah sate yang isinya jerohan. Ada juga sate gembus. Namanya sate kere karena dulunya rakyat jelata tidak sanggup membeli sate daging yang mahal. Namun sekarang sate kere memiliki kasta yang cukup tinggi di kalangan pencinta kuliner.
Sate kere yang terkenal adalah Sate Kere Yu Rebi. Warung Yu Rebi ada di Jl. Kebangkitan Nasional. Jangan heran kalau berkunjung ke sana harus antre lama. Selain sate memang makanan yang mengundang kesabaran (karena harus dibakar dahulu), warung ini juga memang sangat terkenal. Wajarlah. Soalnya rasanya memang enak banget!

Cabuk Rambak

Cabuk rambak adalah makanan khas Solo yang terdiri dari potongan tipis kupat dan karak (kerupuk khas Solo) yang disiram dengan kuah yang terbuat dari wijen. Saat ini sudah jarang sekali bisa ditemui penjual penganan tradisional ini. Kalau mau mencari penjual cabuk rambak yang terkenal, bisa cari di kawasan Pasar Gede. Hanya saja, waktu saya menikmati makanan ini, saya tidak datang ke Pasar Gede. Saya makannya di Festival Jajanan Tradisional yang sudah saya sebutkan di atas.
Cabuk rambak.

Babi Kuah

Makanan yang sudah pasti tidak halal ini dulunya sangat populer di kalangan lulusan SD Marsudirini dan sekolah lain di dekatnya. Penjualnya saat itu, Pak Jum, sampai-sampai kadang kala dikunjungi oleh lulusan SD ini yang sudah dewasa dan sukses. Berhubung saat ini sudah tidak ada lagi keluarga Pak Jum yang melanjutkan bisnis makanan ini, maka salah satu pegawainya membuka warung babi kuah dengan nama Warung Makan Babi Kuah Mbak Mun Kampung Sewu. Warung yang tidak pernah sepi dan cepat tutup karena kehabisan ini adalah salah satu tempat kuliner orang-orang yang waktu masih SD sempat menikmati babi kuah Pak Jum yang tersohor itu.
Babi kuah sendiri sebetulnya adalah jerohan babi yang direbus dan kemudian disiram dengan kuah kecap manis yang encer. Orang bisa memilih sendiri apa isi dari porsi yang dibeli. Jadi, bisa saja orang pesan kuping dan jantung, atau usus saja, atau campuran. Tentunya, harga dan porsi ditentukan oleh jenis makanan yang dipilih.

Nah, itulah hasil wisata kuliner selama di Solo. Banyak ya? Tentu saja, Kota Solo sendiri memang membanggakan dirinya sebagai salah satu pusat kuliner. Ini masih belum semua makanan khas Solo sempat saya makan lho. Serabi, timlo, soto, dan gudeg khas Solo masih terlewatkan karena tidak sempat. Kalau saya ada kesempatan untuk berkunjung kembali ke Solo, bolehlah saya mencobai makanan khas lainnya.

0 Komentar:

Posting Komentar