26 November 2017

Tadinya, kami hendak membeli Strasbourg Pass yang harganya EUR 21,5, yang mana dengan tiket ini kami bisa mengunjungi platform di atas katedral, jam kuno di dalam katedral, satu museum, dan juga boat trip. Kalau tidak pakai tiket ini, harga total yang harusnya kami bayarkan adalah EUR 26,5. Tapi waktu saya mau beli Strasbourg Pass, mbak-mbak di Office de Tourisme bilang, sayang kalau kami beli Strasbourg Pass sekarang karena ... hari ini adalah Hari Warisan Eropa (European Heritage Day atau Journées Européennes du Patrimoine) yang selalu jatuh di akhir pekan ketiga di bulan September. Di tahun 2017 ini, berarti jatuh di tanggal 16-17 September 2017. Di Hari Warisan Eropa, seluruh museum dan obyek wisata di dalam Katedral di seluruh Perancis bisa dimasuki secara gratis. Yang harus bayar hanya boat trip (karena itu milik swasta) dan tempat-tempat tertentu.
Mari masuk ... 
Begitu tahu hari ini seluruh museum bisa dimasuki secara gratis, kami langsung mengubah rencana: hari ini kami akan jalan-jalan ke seluruh museum yang bisa didatangi sampai jam tutupnya. Nggak perlu naik ke platform di atas Kathedral ataupun boat trip, karena itu semua masih bisa dilakukan di tempat serupa di kota lain. Masuk museum saat berkunjung ke Eropa adalah hal yang jarang dilakukan oleh turis backpacker Indonesia karena ... tiket masuk museum harganya paling murah sekitar EUR 6 dan bisa mencapai EUR 17 di museum ternama seperti Louvre di Paris. Lumayan menguras dompet. Kapan lagi kami bisa keluar masuk museum seenak jidat karena gratisan?
Tentu saja kami mengunjungi Cathédrale Notre-Dame de Strasbourg. Tapi kunjungan ke gereja yang singkat ini sudah diceritakan di artikel sebelumnya. Tanpa terlalu lama berputar-putar di dalam gereja dan mengagumi Astronomical Clock-nya, kami segera menuju ke Palais Rohan. Kenapa? Karena di Palais Rohan ada tiga museum yang bisa dikunjungi.
Bagian dari Palais Rohan.
Palais Rohan pertama kali didirikan di tahun 1742 oleh seorang uskup gereja Katholik yang berasal dari keluarga Rohan. Palais Rohan adalah istana tempat tinggal uskup untuk Keuskupan Khusus Strasbourg sampai dengan Revolusi Perancis, dimana bangunan ini kemudian dikuasai oleh negara. Setelah itu, bangunan ini dijadikan pusat kebudayaan dan pendidikan, salah satunya sebagai museum.
Di Palais Rohan terdapat tiga museum, yaitu Musée des Beaux-Arts (Fine Art Museum), Musée des Arts Décoratifs (Decorative Art Museum), dan Musée Archéologique (Archeological Museum). Masing-masing museum memamerkan koleksi yang indah dan mengagumkan. Beberapa di antaranya bahkan artefak kuno.
Fine Art Museum memamerkan lukisan-lukisan kuno dan modern. Sesuai dengan namanya, karya seni yang dipamerkan adalah karya-karya yang diangap berkualitas tinggi. Karya seni di sini ditata berdasarkan era dan genrenya. Jadi, saya mengagumi lukisan kuno yang mayoritas menggambarkan tokoh-tokoh keagamaan sampai dengan lukisan yang menggambarkan pemandangan dan benda kahyalan. Lukisan jaman dulu, kadang tidak hanya digambar di atas kanvas, namun juga di atas kayu dan kadang juga berbentuk lukisan timbul (semacam ukiran). Seingat saya, ada lukisan kuno yang dibuat di sekitar tahun 1300-an dan masih terlihat bagus serta awet. Lukisan di tahun 1300-an sebagian besar menggambarkan adegan di dalam kitab suci, atau menggambarkan orang-orang suci.
Menikmati lukisan dari tahun 1300-an.
Jalan-jalan di Fine Art Museum tidak hanya membuat kita menikmati lukisan indah, namun juga mau tidak mau mempelajari genre lukisan. Soalnya, lukisan-lukisan di sini dikelompokkan berdasarkan genre dan eranya. Jadi, lama kelamaan pengunjung akan tahu bahwa lukisan di suatu era kebanyakan menggambarkan pemandangan. Di era lain muncul gendre lukisan benda mati (seperti apel, buku, anggur, dan lain-lain). Tentunya ada juga masa dimana orang-orang kaya minta agar dirinya atau istri dan anaknya digambar oleh pelukis, dan muncullah lukisan wajah dan figur orang yang kini banyak disimpan di museum. Ternyata sebelum ada budaya selfie, orang juga suka pamer lukisan diri.
Decorative Art Museum adalah museum yang memamerkan bagian apartemen, atau bagian tempat tinggal dari Palais Rohan. Perpustakaan, ruang tidur, dan ruang pertemuan tetap dipertahankan sebagaimana awalnya. Walaupun konteksnya adalah tempat tinggal, namun barang-barang yang dipamerkan di sini tidak kalah indah dengan yang di Fine Art Museum. Ruang tidur orang kaya jaman dulu juga dihiasi dengan karpet super indah dan lukisan yang halus dan seperti hidup. Selain itu, hiasan dinding yang disepuh emas dan keramik yang cantik juga sepertinya menjadi hiasan wajib di kamar-kamar. Nggak heran sih, kamar tidur yang baru saja saya ceritakan ini adalah kamar tidur yang dipakai raja saat berkunjung ke Strasbourg. Raja Louis XV dan juga Ratu Marie Antoinette pernah tidur di sini. Perpustakaan juga terlihat elegan, apalagi dengan koleksi buku yang tertata rapi di dalam lemari kaca. Dindingnya juga dihiasi lukisan yang indah. Pantas saja bangsawan jaman dulu suka membaca (selain memang belum ada bioskop dan televisi, sih).
Selfie dulu di kamar tidur raja.
Perpustakaan mewah di Decorative Art Museum.
Archeological Museum adalah museum yang menceritakan sejarah kota Strasbourg dan daerah Alsace berdasarkan hasil ekskavasi di sekitaran kota Strasbourg. Di sekitar tahun 600.000 sebelum masehi, daerah Strasbourg memang sudah ditempati oleh manusia. Mungkin karena posisinya yang di dekat sungai, sehingga mempermudah orang jaman dulu untuk bertahan hidup. Sisa-sisa peninggalan mereka dipamerkan di dalam museum ini. Di museum ini, tersimpan perkakas batu dari jaman Paleolitikum, keramik dari jaman Neolitikum, dan juga patung serta batu nisan Romawi dari sekitar 500 tahun sebelum masehi. Di sini juga dipamerkan Roman Dodecahedra, artefak jaman Romawi misterius yang ada di seluruh penjuru Eropa.
Museum ini juga menyimpan pecahan hiasan dan lukisan dinding kuno. Salah satu sudutnya bahkan dibentuk, seolah-olah untuk menghidupkan kembali seperti apa rumah penduduk kaya Romawi yang hidup di tengah bangsa Galia di jaman penjajahan Romawi. (Ingat komik Asterix? Setting kisah petualangan Asterix dan Obelix adalah masa penjajahan Romawi di daerah Galia. Daerah Galia kuno meliputi wilayah negara Perancis masa kini dan sekitarnya, termasuk sekitar Strasbourg.)
Roman Dodecahedra yang sampai sekarang masih belum diketahui gunanya.
Rekonstruksi rumah orang Romawi jaman dahulu.
Keluar dari Palais Rohan, kami duduk-duduk sebentar di Place de la Cathédrale (atau dikenal juga oleh orang lokal sebagai Müensterplatz). Dari tempat duduk kami, kami melihat ada satu museum yang ternyata menyimpan seluruh barang-barang kuno yang dulunya ada di dalam Katedral sebelum restorasi. Karena faktor usia dan kelapukan, beberapa barang kuno yang dulunya ada di dalam gereja, kini disimpan di dalam Musée de l’Œuvre Notre-Dame. Museum inilah yang kemudian kami masuki.
Gedung museum ini sudah mulai dibangun dari tahun 1347 dan secara bertahap ditambahkan beberapa bagiannya. Bangunan yang kuno ini kini menyimpan barang-barang yang sama kunonya. Karena Katedral Notre-Dame Strasbourg beberapa kali kena bom, dan juga beberapa kali direnovasi, maka beberapa barang yang terlalu tua atau yang riskan jika dipajang di tempat umum, dimasukkan ke dalam museum ini.
Di lantai dasar, kami disambut oleh patung-patung tua, wadah air babtis kuno dari batu, dan juga jendela kaca patri yang dulunya menghiasi gereja. Jendela-jendela kaca patri yang rumit dan cantik ini mungkin sudah terlalu tua untuk bisa bertahan menghadapi udara bebas. Selain patung, museum ini juga menyimpan beberapa lukisan kuno, yang kebanyakan menggambarkan tokoh-tokoh keagamaan. Ada juga altar kuno dengan lukisan yang masih terlihat cantik dan terawat.
Patung kuno yang tadinya menghiasi pintu Katedral Notre-Dame.
Museum ini terdiri dari beberapa lantai, dan lantai yang paling atas menjelaskan secara detil tahapan pembangunan Katedral Notre-Dame Strasbourg, dari bangunan dasar yang mulai dibangun di tahun 1015, lalu ada penambahan menara di tahun 1130, sampai dengan bentuk yang ada sekarang ini, yang mulai dibangun di tahun 1439. Di sini juga ditunjukkan sebagian gambar desain arsiteknya lho. Hebat ya, dokumen semacam itu masih tersimpan sampai sekarang.
Kami beruntung bisa menikmati empat museum di Strasbourg. Gratis, lagi. Oh iya. Buat yang mau jalan-jalan ke Strasbourg, atau Perancis pada umumnya, dan berminat untuk ke museum, penting untuk memeriksa jadwal operasional museum. Bisa dikatakan, semua museum beroperasi di weekend. Tapi di hari kerja, biasanya ada satu hari liburnya. Nah, kalau tanggal wisatanya pas di hari kerja, mungkin perlu cari tahu dulu museum mana saja yang buka.
Alsace Museum yang sudah tutup.
Dari Musée de l’Œuvre Notre-Dame, rencananya kami mau ke Alsace Museum. Tapi karena sudah capek jalan kaki, lagi pula sudah mendekati jam tutup museum, kami memutuskan untuk nyemil di pinggir sungai saja. Kisah jalan-jalan kami di Strasbourg berakhir di hari ini, karena keesokan harinya kami sudah harus naik kereta menuju Colmar.


(Bersambung.)

4 Komentar:

  1. Wahh, beruntung banget yaa bisa masuk museum2 di sana gratis..

    Selfie dari jaman jebot udah ada ya ternyata.. Cuma medianya aja yg berbeda ahaha..

    -Traveler Paruh Waktu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huehehe ... nggak orang dulu, nggak orang sekarang, semua suka pamer diri.

      Hapus
  2. Bisa dapat akses gratisan ke semua museum rejeki yang tak di duga ya kak. Sayang masak harus nunggu september lagi biar biss dapat gratis :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya tuh, hoki banget. Untung juga jalan-jalan di musim "nanggung" (lewat musim panas tapi belum masuk musim gugur), jadi ketiban rejeki gratisan.

      Hapus