14 April 2018

Tahun lalu saya dan keluarga saya jalan-jalan ke Bangka & Belitung. Sebagai orang yang senang pantai, sudah pasti perjalanan itu sangat menyenangkan. Nah, di hari terakhir kami island-hopping di sekitaran Pulau Belitung. Kami makan siang di Pulau Kepayang. Pulau yang sebenarnya tak berpenghuni ini menyediakan satu rumah makan seafood untuk para traveller.
Persis setelah makan, sekitar jam setengah satu siang, saya memutuskan untuk berendam dan berenang sebentar di pantai. Matahari bersinar sangat panas. Tapi buat apa jalan-jalan di pantai kalau nggak kena matahari. Ya nggak?
Foto terakhir yang saya ambil sebelum terkena sengatan ubur-ubur.
Nah, pas saya sedang berenang, sekitar 5 meter dari tepi pantai, tiba-tiba saya merasa kaki saya sakit, seperti dicambuk atau diiris pakai silet. Kontan saya histeris, dan teriak-teriak. Adik saya, yang sedang berdiri di tepi pantai, cuma melihat saja sambil ketakutan. Di dekat situ ada seorang mas-mas yang sedang berdiri. Waktu teriak-teriak, saya juga melihat kearah si mas-mas itu. Tapi si mas-mas cuma melihat sambil tersenyum aneh. Mungkin dia bingung mau ngapain.
Untuk saya, rasanya seperti berjam-jam badan saya terasa kaku, dan otak saya berhenti berpikir. Padahal menurut adik saya, itu paling hanya semenit. Untung badan tetap mengapung karena saya memang rutin berenang. Nah, tiba-tiba adik saya berteriak, “Panggil mas guide kita!” Terus dia lari ke arah rumah makan. Kebetulan waktu itu kami memang ikut private tour, jadi ada tour guide yang mendampingi kami. Begitu saya mendengar suara adik saya, saya tiba-tiba seperti disadarkan. Saya langsung mulai menggerakkan tangan dan kaki, berenang ke tepi pantai.
Saya lalu mengikuti adik saya ke rumah makan dan menemui tour guide yang sedang mengobrol dengan orang tua saya. Adik saya datang ke mas-mas guide lalu mengatakan bahwa saya terkena ubur-ubur. Rupanya waktu saya teriak-teriak, adik saya sempat berlari ke arah saya tapi terhenti karena melihat ada ubur-ubur di sebelah saya.
Mas-mas guide kami langsung bergerak cepat. Saya disuruh kembali ke tepi pantai. Kaki saya disiram dengan banyak air laut. Lalu dia minta ijin mengamati kaki saya, untuk mencari apakah ada duri ubur-ubur yang menempel di kulit. Untungnya, tidak ada duri ubur-ubur yang tertancap. Bahkan, di kulit kaki, saya hanya melihat garis-garis tipis berwarna merah muda saja. Hanya saja, untuk memastikan, saya diminta untuk mengubur kaki dengan pasir. Katanya, kalau ada duri yang tertancap, duri akan keluar sendiri kalau kaki kita disiram air laut dan ditimbun pasir.
Mas-mas guide juga mencari beberapa helai daun sejenih tanaman merambat, yang katanya bisa membantu menghilangkan bisa ubur-ubur. Nama tanamannya saya lupa. Yang jelas, tanaman merambat itu ada banyak di Pulau Kepayang. Setelah saya mengangkat kaki dari benaman pasir, saya diminta untuk mengoleskan meremas daun-daun itu dan mengoleskan ke bagian yang terkena sengat ubur-ubur.
Tanaman merambat yang dipakai guide saya untuk mengobati sengat ubur-ubur.
Waktu saya masih sibuk mengurusi kaki saya, adik saya melihat ubur-ubur yang tadi menyerang saya berenang menuju ke arah beberapa anak-anak yang sedang main-main air. Adik saya teriak-teriak, “Ubur-ubur!” ke arah anak-anak itu, tapi mereka tidak peduli. Nah, adik saya tidak bisa berenang dan orangnya memang gampang panik. Jadi dia hanya teriak-teriak saja. Tiba-tiba ... salah satu anak di situ menjerit histeris, dan satu anak lari ke pantai. Si mas-mas yang tadi melihati saya sambil senyum-senyum langsung panik dan lari ke arah anak-anak itu. Ternyata, si mas-mas itu adalah ayah dari kedua anak itu! Dan ... waktu adik saya teriak-teriak tentang ubur-ubur ke arah anak-anak itu, si ayah ini berdirinya di tidak jauh dari adik saya lho. Ya sudahlah ...
Karena saya bisa tenang selama menangani kaki saya, si tour guide jadinya menolong anak kecil tadi. Saya lihat tangan anak tadi bengkak dan berwarna merah. Tangannya disiram air laut. Tapi kemudian kedua orang tuanya membawa si anak ke dalam rumah makan, jadi saya tidak melihat apa lagi yang dilakukan terhadap anak itu.
Setelah saya membersihkan kaki dari pasir (dengan air laut) barulah kaki saya semakin berwarna kemerahan. Menurut tour guide saya, itu artinya racunnya mulai keluar. Kalau menurut saya sih, artinya badan saya sudah bereaksi terhadap sengat ubur-ubur itu.
Waktu itulah, ibunya anak-anak tadi datang ke saya dan bertanya tentang efek ubur-ubur terhadap saya. Dia melihat kaki saya dan membandingkan dengan tangan anaknya yang bengkak besar dan merah. Saya bilang ke ibu itu kalau kulit anak-anak masih peka dan mudah teriritasi. Jadi tidak heran kalau kaki saya tidak bengkak. Keluarga muda itu lalu memilih untuk buru-buru pulang kembali ke Belitung.
Tour guide saya pun berkata kalau sengat ubur-ubur yang saya alami tarafnya masih biasa saja. Kebetulan yang menyengat saya adalah ubur-ubur yang berwarna bening agak kebiruan, yang mana racunnya tidak mematikan, dan saya kebetulan tidak alergi terhadap racun tersebut. Jadi tidak berakibat fatal. Dia pun bertanya ke kedua orang tua saya, apakah mau lanjut berkapal ke pulau berikutnya, yaitu Pulau Kelayang, atau pulang ke Belitung. Saya berkata kalau kaki saya hanya terasa perih, dan kena ubur-ubur di pantai adalah hal yang wajar. Jadi, kami memutuskan untuk tetap jalan ke Pulau Kelayang.
Sisa sengatan ubur-ubur, sekitar tiga jam setelah serangan.
Saya baru kembali ke hotel sekitar jam 3 sore. Tentunya kami langsung mampir apotik untuk beli obat. Obat yang dianjurkan oleh ayah saya, yang berprofesi sebagai apoteker, adalah Betason-N yang berbentuk krim. Jadi, walau saya kena sengat ubur-ubur jam satu kurang, luka sengatannya baru diobati sekitar jam 3 sore. Obat ini saya oleskan secara rutin setiap sebelum tidur selama sebulan.
Walaupun kejadian itu sudah berlangsung sekitar 7 bulan yang lalu, tapi bekas sengat ubur-ubur di kaki masih ada sampai sekarang. Memang hanya tinggal guratan cokelat muda tipis, sih. Tapi tetap saja menjadi catatan terhadap sengatan ubur-ubur.
Terkait dengan pengalaman saya terkena ubur-ubur, berikut beberapa hal yang sepertinya perlu dipersiapkan jika akan berenang di pantai, apalagi di pulau-pulau kecil:
  • Selalu waspada dan lihat-lihat sekeliling. Jangan remehkan setiap hal yang ada di depan mata. Kalau ayah dari dua anak itu langsung waspada melihat ada cewek teriak-teriak kesakitan sambil berenang, mungkin dia akan langsung mendekati kedua anaknya dan bisa menyelamatkan mereka sebelum ubur-ubur melewati mereka. Untung yang lewat ubur-ubur. Kalau hewan yang lebih berbahaya?
  • Berusaha untuk tenang. Adik saya panik dan sempat mematung karena takut waktu melihat saya teriak-teriak. Dia bilang, tadinya dia pikir saya terseret arus. Karena dia tidak bisa berenang, jadi dia tidak berani maju. Untung tiba-tiba dia melihat ada ubur-ubur di samping saya, jadi dia tiba-tiba sadar untuk memanggil mas-mas guide kami. Kalau dia panik dan menangis, mungkin dia tidak bisa melihat si ubur-ubur tadi.
  • Selalu memastikan ada penduduk lokal atau tenaga profesional. Di kasus saya, saya beruntung sedang jalan-jalan sambil ditemani tour guide. Keluarga muda yang anaknya kena ubur-ubur juga terbantu dengan si mas-mas itu. Kalau sedang backpacking sendiri, mungkin perlu mencatat dalam hati siapa saja orang lokal di sekitar. Misalnya: pelayan rumah makan atau warung, penjual gorengan, dan lain-lain.
  • Jangan menganggap remeh apapun. Di kasus saya, ubur-uburnya tidak terlalu berbahaya. Tapi tetap saja bisa berbahaya bagi orang lain yang mungkin alergi terhadap racun ubur-ubur. Saya tidak tahu nasib anak kecil yang juga kena serangan ubur-ubur. Kalau dilihat dari kulitnya yang merah di tangan dan sampai ke badan, mungkin dia bisa sampai demam malam harinya.
  • Kalau bawa anak-anak, jangan dibiarkan berenang sendirian. Walaupun ayahnya para anak-anak itu mengamati, tapi kan dia melihatnya dari kejauhan. Lha kalau ada arus bawah yang menyeret mereka, atau ada ubur-ubur seperti di kasus kami, kan susah menolongnya. Apa susahnya sih, ikut duduk panas-panas di air bersama anak-anaknya?
  • Kalau jalan-jalan di pantai, sebaiknya mempersiapkan obat sederhana untuk mengatasi racun ubur-ubur. Menurut salah satu sumber rekan saya, bawa cuka atau alkohol, karena campuran cuka atau alkohol bisa membantu menangani racun.

Saya waktu itu tidak pergi ke dokter, karena tour guide saya pernah terkena sengat ubur-ubur itu, dan memang ada beberapa temannya yang juga pernah, dan mereka aman-aman saja. Jadi, ketika setelah semua reda, dia melihat saya bisa duduk di rumah makan, minum teh manis dan makan pisang goreng, ya berarti baik-baik saja. Tapi jangan pikir semua orang sama, ya. Selalu ada kemungkinan alergi atau kemungkinan jenis racun lain yang kita tidak tahu. Yang penting waspada.


22 Komentar:

  1. hati hati lho mbak. ada juga yang berbahaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya... Mas-mas tour guide kami bilang, dia pernah disengat ubur-ubur besar di tengah laut yang membuat dia pingsan di tempat. Untung dia berenang ramai-ramai, jadi dia masih tertolong. Memang ada yang berbahaya juga.

      Hapus
  2. Wah ngeri ya gan,, lain kali ati ati gan pas maen ke pantai...
    salam kenal ya.. salam travellers...

    BalasHapus
  3. Di sengat ubur-ubur... Ga bsa di bayangkan deh, kalo saya di sengat...

    Ngerrriii . Harus ttp wasapa kalo main di pantai. Kadang suka lupa terlalu asik,jadi mengabaikan keadaan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya... Tapi ubur-ubur tuh kan transparan ya. Kalau di air ya memang susah kelihatan. Waspada itu memang kuncinya.

      Hapus
  4. Karena bentuknya yang transparan memang susah ngedeteksinya, tapi biasanya klo snorkling / berenang di laut, dikasih tahu yg ada lokasi ubur-uburnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah ... menurut tour guidenya, seharusnya saat itu bukan musim ubur-ubur. Mungkin memang sedang sial saja.

      Hapus
  5. Astaga, ngga kebayang sakitnya kayak gimana disengat ubur2 ...
    Untung segera tertangani,kak.
    Padahal kan sangat berbahaya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe ... sakit banget sih. Tapi untung masih bisa nyemplung ke laut lagi.

      Hapus
    2. Wow .. kuat juga fisik kak Dyah.
      Berarti kak Dyah termasuk wonder woman 👍

      Hapus
    3. Ahahaha.... namanya beruntung .

      Hapus
  6. haii kak.. luka nya masih bekas sampe sekarang?? hehehehe..
    saya juga waktu itu kena ubur-ubru juga di kaki *itu pas kelas 4 sd, kira-kira udah 5 tahun yang lalu :v lukanya juga sampe sekarang masih ngebekas, warnanya kecoklatan gituu jadi keliatan banget kalo pake sendal hahahaha.. ada saran gak kak untuk ngilangin bekasnya?? thanks :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sudah 5 tahun yang lalu masih ada bekasnya? Wah, gue jadi panik sendiri. Gue sih masih ada bekasnya, lha tapi kan baru 8 bulan yang lalu kan. Katanya, kalau bekasnya mau bener-bener hilang, harus ke dokter kulit. Tapi kalau gue sih, berhubung bekasnya warnanya cokelat muda, ya sudah lah. Nggak perlu repot ngeluarin biaya dokter.

      Hapus
  7. Wah ngeri banget ya mbak.. bisa sampai kayak gitu.. musti hati-hati kalau maen ke pantai..

    BalasHapus
  8. haduh mba bagaimana ya rasanya...anak2 saya kemarin dua2nya juga tersengat ubur2 saya gak tahu hrus bgmn...yg gede kelas 3 sd yg kecil umur 5 tahun...sampai hri ini msh rengek2 terus...sakit banget ya mba...cuma Alhamdulillah gak banyak baretnya,trus tolong berbagi pengalamannya dong mba...kira2 buat ngobatin nyeri nya itu yg masih di rasa pake obat apa ya??salep apa minum?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya yang dewasa saja waktu itu ngerasa kesakitan. Apalagi yang masih umur 5 tahun. Saya dulu pakai krim betason-N yang diusap ke kulit. Tapi saya kan orang dewasa berkulit normal, yah. Jadi tidak ada masalah. Anak kecil kan kulitnya lebih peka. Jadi lebih baik sih, ke dokter saja Bu. Takutnya anaknya punya reaksi alergi terhadap obat tertentu. Terus juga harus diperiksa, takutnya masih ada duri ubur-ubur yang menancap. Semakin cepat dibawa ke dokter semakin baik, Bu.

      Hapus
  9. Aduh, bayangin rasanya seperti disilet-silet itu gimana ya. Ngeri juga bayanginnya. Itu sampai bekas tipis juga ya... Harus waspada nih kalau berenang di air.
    Kadang saya pernah lihat ubur-ubur tapi terdampar di bibir pantai. Katanya kalau yang sudah sampai pasir itu nggak bakal nyengat. Meski gitu saya ya takut nyentuhnya. Padahal menurut saya itu hewan unik karena badannya transparan kaya jeli.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Walaupun terdampar di pantai dan sudah mati, sengatnya tetap berbahaya. Yang aman dipegang cuma bagian atas badannya saja. Tapi untuk bisa memegang itu, harus yakin kaki tidak akan menginjak tentakel. Paling aman sih, kalau ada ubur-ubur, walau sudah terdampar, jauhi saja.

      Hapus
  10. Saya juga kena sengatan tapi saya tidak tau kalo itu sengatan ubur" bekas nya masih ada apakah ini masih ada racunnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, kalau sudah lama sih, mestinya racunnya sudah tidak ada, ya.

      Hapus