2 Juni 2018

Pelabuhan nelayan Cilincing.

Setelah wisata produksi makanan, kami lanjut ke wisata budaya. Ya, daerah Cilincing sebetulnya adalah daerah dimana berbagai agama sudah hidup berdampingan sejak ratusan tahun yang lalu. Seperti Indonesia pada umumnya, dimana tempat ibadah letaknya bisa cukup berdekatan satu sama lain. Di Cilincing, kami mengunjungi pura, masjid, dan vihara dalam satu hari.
Selanjutnya kami menuju ke Krematorium Cilincing. Krematorium Cilincing adalah tempat pembakaran jenazah untuk berbagai agama. Di sini juga ada tempat penyimpanan abu jenazah. Kompleks tempat pembakaran ini cukup luas, dan pilihan ruangannya juga banyak. Tempat pembakaran jenazah bentuknya seperti oven besar. Yang paling sering dipakai sekarang adalah yang paling modern dan paling cepat selesai, yang letaknya di dalam aula. Tapi ruangan pembakaran yang lama di pinggir juga masih dipakai. Ada yang masih model dibakar pakai kayu, lho. Entah berapa lama baru bisa selesai pembakarannya.
Ruang bakar krematorium. Ini yang lama ya. Yang modern di dalam aula.
Krematorium letaknya sudah dekat dengan Pura Segara. Tempat ibadah ini adalah tempat istimewa bagi umat Hindu di Jakarta karena pura ini adalah satu-satunya pura yang letaknya di tepi pantai. Jadi, seluruh upacara yang terkait dengan laut, tentunya dilakukan di sini. Saat kami tiba di sini, Pura Segara sedang dipenuhi oleh umat yang hendak merayakan Upacara Melasti. Upacara Melasti adalah upacara pembersihan diri untuk persiapan menjalani hari raya Nyepi, yang memang dilaksanakan di tepi laut. Berhubung penuh, kami tidak jalan-jalan, apalagi banyak foto-foto. Apalagi Bapak Gubernur ikut datang memberikan kata sambutan. Kami bahkan tidak bisa bergerak beberapa lama karena kami kebetulan berdiri di jalan yang dilewati rombongan Gubernur. Yang bisa saya ceritakan hanyalah bahwa pura ini cukup besar, ada gedung utama yang besar, dan punya pelataran yang luas dengan semacam pendapa yang mungkin memang terkait dengan upacara adatnya.
Dari Pura Sagara, kami berpindah ke Masjid Jami Al Alam Cilincing. Seperti yang sudah disebutkan di atas, masjid ini adalah masid bersejarah karena sudah sangat lama dibangun. Umurnya kira-kira 400 tahun. Kebetulan sekali kami mampir ke mari, karena yang hendak sholat bisa beribadah dan yang mau istirahat saja bisa duduk-duduk sambil melihat-lihat bagian dalam masjid. Masjid ini bagian luarnya sudah dibangun dengan tembok sehingga hampir sama dengan masjid lainnya. Perbedaan yang mencolok hanyalah atapnya yang berbentuk limasan. Tapi yang menarik adalah bagian dalamnya yang masih pakai kayu. Konon bagian dalamnya inilah bangunan masjid yang aslinya. Berada di dalam bangunan kayu membuat siang hari di Jakarta Utara terasa lebih adem.
Salah satu masjid tertua di Jakarta.
Oh ya, Masjid Jami Al Alam terletak di dekat Pelabuhan Cilincing. Pelabuhan yang dimaksud adalah pelabuhan nelayan tradisional dengan deretan kapal-kapal kayunya yang berwarna-warni. Kalau daerah pelabuhan di dekat kampung nelayan yang tadi saya sebutkan adalah daerah industrial, tempat kapal-kapal yang berukuran sedang.
Dari masjid kami bergerak menuju ke Vihara Lalitavistara. Vihara ini adalah kelenteng tertua di area Batavia, yang didirikan di sekitar abad ke-16. Vihara yang masih aktif ini sebenarnya masih satu kompleks dengan Sekolah Tinggi Agama Buddha “Maha Prajna”. Tapi saya tidak melihat kompleks sekolahnya ya, saya langsung saja masuk ke dalam vihara.
Tempat ibadah Vihara Lalitavistara dipenuhi oleh altar untuk dewa-dewa yang berbeda-beda. Karena saat saya datang itu baru sebulan setelah Imlek, lilin-lilin merah raksasa dan banyak dupa gantung memenuhi ruang doa. Nampaknya juga ada persiapan upacara karena ruangan juga dipenuhi dengan kuda-kudaan kertas yang tingginya hampir satu meter dan juga kapan-kapalan kertas yang cukup besar. Semakin penuhlah ruangan yang juga dipenuhi asap ini.
Salah satu bagian dari vihara.
Pagoda tujuh tingkat, dilihat dari Resto Babe Seafood.
Di sebelah vihara, ada tempat penyimpanan abu jenazah juga. Satu kompleks dengan tempat penyimpanan abu, ada sebuah pagoda yang terdiri dari tujuh tingkat. Pagoda tua ini adalah satu-satunya pagoda di sekitaran Cilincing. Karena cukup tinggi, bangunan ini juga cukup mudah dilihat. Dulu orang bisa masuk ke dalam pagoda. Akan tetapi, karena bangunan semakin lama semakin miring, maka bangunan ini ditutup untuk umum.
Dari vihara, kami lanjut makan siang yang terlambat di Resto Babe Seafood. Letak restoran ini cukup dekat dengan vihara, jadi tidak membuat perut keroncongan lebih lama lagi. Bangunan restoran ini terdiri dari tiga tingkat, dan tingkat paling atasnya terbuka. Dari sini kita bisa melihat pemandangan di sekitar Cilincing. Lumayan untuk foto-foto dengan latar belakang kampung nelayan.
Waktu kami sedang makan, hujan turun dengan derasnya. Beberapa anggota tour yang berminat balik ke pura untuk melihat kegiatan Melasti pun membatalkan niatnya. Kabarnya, biasanya upacara Melasti dilakukan berdekatan dengan waktu matahari tenggelam, namun mungkin karena hujan, di hari kami bertandang ke Cilincing, upacara sudah selesai sekitar jam empat sore.
Persiapan Upacara Melasti di Pura Sagara di siang hari.
Makan-makan bersama ini mengakhiri kegiatan kami wisata di daerah Cilincing. Buat yang berminat ke Cilincing dan pakai tour, bisa menghubungi Jakarta Good Guide. Kontaknya bisa cari di Internet ya. Buat yang mau jalan-jalan sendiri, ya hati-hati saja. Jakarta Good Guide memang sepertinya punya kerjasama dengan pemerintah setempat untuk mengembangkan wisata di daerah sini, jadi tak heran mereka bisa membawa kami mondar-mandir di kampung nelayan. Kalau disuruh jalan-jalan sendiri, saya mungkin juga mikir-mikir. Mana jalan kampungnya muter-muter, bisa-bisa malah nyasar. Hehehe ...
(Selesai.)

23 Komentar:

  1. Menarik sangat wisata budaya Cilincing. Banyak cerita sejarah dan budaya. Aku belum pernah ke sana. Satu kali pengen banget deh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dan ternyata ada banyak tempat bersejarah di sini. Nggak nyangka juga sih.

      Hapus
  2. Ini disatu tempat yg sama? Ada 3 tempat ibadah?

    Diluar itu, saya agak merinding saat masuk pembahasan"pembakaran mayat" hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan di gedung yang sama, ya. Letak ketiga tempat ibadah ini berdekatan. Jarak ke masing-masing tempat hanya jalan kaki 5 menit.

      Hapus
  3. Lengkap ya di cilincing,, dekat juga dari priuk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, dekat. Makanya di Cilincing ada SMK yang bidangnya adalah Kelautan/Pelayaran, yang mana lulusannya tentunya bisa kerja di, antara lain, Tanjung Priuk.

      Hapus
  4. Salut dengan toleransi beragama disana.
    Lokasi ketiganya berdekatan dan saling menghormati 👍

    Itu sayang ya pagodanya kok mulai miring bangunannya ya,kak.
    Semoga cepat di renovasi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ... pagodanya mulai miring. Makanya sudah tidak boleh dimasuki lagi. Tapi jadinya seperti punya Menara Pisa sendiri, spesial Jakarta Utara. Hehehe...

      Hapus
    2. Hehehe .. iya bener .. kayak menara Pisa jadinya.
      Semestinya ada tehnik penyangga seperti yang dilakukan di menara Pisa sana ya .. bangunan dibiarkan tetap miring,tapi ngga rubuh.

      Hapus
  5. wow clincing salah satu lokasi yg bisa dicontoh dimana semua agama bisa hidup berdampingan beratus2 tahun yg lalu. menarik !!

    BalasHapus
  6. Batu tau deh aku di Cilincing itu ada tempat beribadah dan resto enak. Ternyata daerah tersebut termasuk wilayah perindustrian ya. Kapal2 nelayan bewarna-warni menghiasi sepanjang pantai. Bisa jadi kapan2 aku kunjungi soalnya penasaran ada apa lagi ya di sana hehehe tq infonya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sip, Mbak. Cilincing adalah salah satu area hunian tertua di Jakarta. Jadi nggak heran ada banyak tempat bersejarahnya.

      Hapus
  7. Melasti. Sepertinya substansinya sama dengan kata Dzikir dalam Islam.

    Keberadaan tempat ibadah dengan varian cara ibadah dan konsistensi hidup berdampingan, semakin meyakinkan saya bahwa betapa damainya Indonesia.

    Warisan agung ini, tentu harus tetap kita jaga.

    Mba Dyah, terima kasih sudah menyajikan referensi tempat yang menakjubkan Cilincing. Meski saya jauh dari sana, tetapi semangatnya harus saya tularkan di desa saya.

    Dan yang pasti, semoga suatu saat saya dapat ke sana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya... pada dasarnya semua agama mengajarkan perdamaian. Hidup berdampingan antar agama kan sebetulnya bagian dari budaya Indonesia sejak jaman dahulu.

      Hapus
  8. wisata memang menarik untuk di lawati..

    moga saya rezeki untuk jalan-jalan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mari kita saling mendoakan supaya masing-masing dapat rejeki untuk jalan-jalan, Mas.

      Hapus
  9. Indonesia beragama budaya dan agamanya, keren aja hehe

    BalasHapus
  10. sering denger namanya, sering juga lewat-lewat doang, tapi belum pernah sengaja berkunjung ke cilincing

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah... berarti sekarang punya alasan untuk mampir ke Cilincing.

      Hapus
  11. Pas baca kata Cilincing pun ingatan saya langsung ttg rumah kremasi, karena dulu murid2 saya banyak yang Chinese. Keren mba, jadi banyak paham ttg wisata sejarah kayak gini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Ada banyak tempat wisata budaya di Jakarta. Cilincing ini salah satunya.

      Hapus