26 Mei 2018


Walau saya sudah bertahun-tahun di Jakarta, tapi tetap saja ada beberapa daerah yang saya belum pernah kunjungi. Cilincing salah satunya. Memang daerah ini bukan tujuan wisata yang umum dikenal orang. Tapi sebenarnya ada banyak, lho, yang bisa dilihat di sini.
Awal bulan Maret yang lalu, salah satu teman saya mengatur sebuah private tour dengan guide dari Jakarta Good Guide. Kenapa pakai private tour? Karena sebenarnya bintang tamunya adalah beberapa guru bahasa asing yang jadi kenalan si teman saya tadi. Biar enak, kita memang sengaja cari tour guide lokal yang bisa cerita tentang sejarah dan budaya secara lengkap, dalam bahasa Inggris. Nah, kami yang orang-orang Jakarta ikutan nebeng, sekalian jalan-jalan. Kebetulan, dari orang Indonesia yang ada, tidak ada satupun yang pernah ke Cilincing.
Salah satu bagian Pelabuhan Cilincing.
Cilincing berasal dari nama pohon yang dulunya banyak dijumpai di daerah itu. Konon pohon ini buahnya mirip dengan belimbing wuluh. Daerah Cilincing adalah daerah yang memegang peranan cukup penting dalam sejarah. Tentara Inggris datang ke Batavia melalui pantai di Cilincing ini. Di sini juga ada salah satu masjid tertua di Jakarta, yaitu Masjid Jami Al Alam Cilincing. Masjid Jami Al Alam Cilincing dibangun di abad ke-15 dan merupakan warisan dari Sunan Gunung Jati.
Sebetulnya, nggak afdol kalau ke Cilincing tidak mampir ke Marunda. Namun karena keterbatasan waktu, kami tidak sempat ke daerah Marunda dan mengunjungi Masjid Jami Al Alam Marunda yang lebih dikenal dengan masjid si Pitung. Daerah Marunda memang lebih populer dibandingkan dengan Cilincing, terutama karena keterkaitannya dengan tokoh legendaris si Pitung.
Nah, rute kami jalan-jalan di Cilincing cukup pendek. Rute kami adalah SMKN 36 Cilincing – Tempat Pengolahan Ikan Asin – Kampung Kerang Hijau – Krematorium Cilincing – Pura Segara – Masjid Jami Al Alam – Vihara Lalitavistara. Tidak hanya menikmati suasana baru, kami para peserta tour juga menikmati sejatinya warga Indonesia: hidup saling berdampingan meskipun berbeda-beda.
Jalan-jalan melewati Kampung Deret di Cilincing.
SMKN 36 adalah sekolah kejuruan yang lebih fokus pada lapangan kerja yang dekat dengan pelabuhan dan perkapalan. Cocok sih, secara posisinya dekat dengan Tanjung Priuk. Alasan tour guide kami mengajak berkumpul di sini adalah untuk mempermudah rute jalan-jalan kami. Bukan apa-apa, posisinya sudah dekat dengan kampung nelayan yang akan kami kunjungi.
Yang pertama kami kunjungi adalah tempat pengolahan ikan asin. Di sini ikan yang ditangkap oleh nelayan masih diolah dengan cara yang relatif tradisional. Ikan diolah dengan air garam lalu dijemur di bawah sinar matahari. Kalau matahari bersinar cerah, ikan-ikan ini bisa saja hanya disemur satu-dua hari, tapi kalau mendung, bisa lebih lama lagi. Ikan asin yang diolah di tempat ini adalah jenis ikan teri dan ikan-ikan kecil lainnya. Nah, kalau kita belanja ikan asin di pasar di sekitaran Jakarta, bisa jadi ikan-ikan dari Cilincing turut masuk ke dalam kantong belanjaan kita.
Menjemur ikan asin. Yang sedang dijemur ini adalah jenis teri.
Selanjutnya kami pindah ke kampung tetangga, yaitu Kampung Kerang Hijau. Apa itu Kampung Kerang Hijau? Kampung Kerang Hijau adalah daerah pengolahan kerang hijau yang siap digunakan untuk warung dan rumah makan di Jakarta.
Kerang hijau memang sudah dibudidayakan di daerah Cilincing sejak tahun 1981. Selain untuk memenuhi kebutuhan gizi warga Jakarta, budi daya ini juga digalakkan untuk membantu perekonomian warga Jakarta Utara. Nah, selama jalan-jalan di kampung itu, kami melihat proses pengolahan kerang hijau.
Pertama kerang dilepaskan dari mediumnya yang berupa tali tambang raksasa. Kemudian kerang dibersihkan dari kotoran yang menempel di cangkangnya. Setelah itu, kerang diolah sesuai dengan permintaan pelanggan. Ada yang merebus kerang dan ada yang mengupas kerang. Tentunya, ada juga yang memesan kerang hijau tanpa dikupas, antara lain warung-warung seafood yang tersebar di seantero Jakarta. Kami berjalan di atas pecahan kulit kerang yang mungkin sudah bertumpuk bertahun-tahun. Jadi ingat istilah kjokkenmoddinger, tumpukan fosil kerang sampah dapur dari jaman purbakala, di pelajaran sejarah SMP.
Pengolahan kerang hijau.
Oh ya, kondisi tempat pengolahan ikan asin dan juga tempat pengolahan kerang hijau sangat ... kampung sekali. Kerang diolah di bawah tenda terpal dan proses pengupasan kerang dilakukan di pinggir jalan kampung. Sebetulnya kalau dilihat jadi terasa kurang higienis ya. Tapi yang penting kan waktu akan dihidangkan dimasak lagi sehingga lebih berbumbu dan lebih sehat. (Iya, kan ya?)
Kami juga sempat mampir ke daerah pelabuhan di dekat kampung nelayan ini. Jujur saja, jalan-jalan di daerah kampung nelayan ini membuat saya melihat potret kawasan Jakarta yang terpinggirkan. Selama ini orang luar Jakarta melihat Jl. Jend. Sudirman sebagai pusat kota, daerah Kemang dan Menteng sebagai kawasan wisata, dan sekitaran Kebayoran Baru sebagai area tempat tinggal. Padahal, itu semua kawasan baru, lho. Kebayoran Baru baru dijadikan daerah pemukiman di akhir jaman penjajahan Belanda. Sedangkan Cilincing sudah menjadi tempat pemukiman dari awal masa penjajahan. Mungkin mendongkrak wisata ke daerah sini bisa turut membantu perekonomian setempat. Namun, entahlah.
Sebetulnya kami juga sempat mampir ke Kampung Deret. Kampung Deret adalah kampung yang rumahnya dibiayai untuk dicat warna-warni. Ini program dari tahun 2014 yang mungkin dimaksudkan untuk merapikan kampung sekaligus meningkatkan pendapatan dari sumber pariwisata. Tapi sepertinya program ini terkendala karena tidak semua rumah dicat dan tidak terasa sebagai tempat yang nyaman untuk wisata. Agak berbeda dengan kampung warna-warni yang ada di tempat lain.
(Bersambung.)

12 Komentar:

  1. Mungkin kurang menarik konsep warna-warninya jadi kurang menjual untuk dijadikan tempat wisata...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lagipula proyeknya juga nggak selesai, Mas. Jadi juga nggak bisa dijual.

      Hapus
  2. Seneng kalau piknik ke tempat-tempat tertentu ada guide nya. Kadang, saya lebih ingin tahu asal muasal tempat yang saya kunjungi ketimbang hanya menikmati tempatnya.

    Itu yang tempat ikannya kalau gak salah kemarin tayang di TVONE ya Mba?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh? Malahan baru tahu itu masuk TV. Saya nggak pernah nonton TV. (Ini beneran.) Nah ... itulah sebabnya kami pakai Good Guide, karena bisa dapat penjelasan tentang daerah Cilincing. Kalau main ke sini, mampir ke masjidnya deh. Yang bangunan aslinya (kayu), walau di luar panas, di dalam tetap adem banget.

      Hapus
  3. Whuaa tak terasa tau2 bersambung, ceritanya seru. Aku suka wisata sejarah soalnya, ehehe... Desa nelayan ini kalau mau dirapikan bisa menjadi destinasi wisata juga ya padahal, sayang agak kumuh padahal nilai historisnya tinggi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ... guide kami cerita kalau orang Belanda di tahun 40-an kalau mau liburan ke pantai, mereka main ke Cilincing. Di sini katanya dulu pantai yang cantik setara Bali. Tapi itu dulu ya.

      Hapus
  4. yah kok bersambung ceritanya ? panjang kayaknya ya ? hehe.. ditunggu lanjutanya nih.. kalo dah keluar kasih tau yak.. he..

    BalasHapus
  5. Wah sampai kampungnya dinamai kampung kerang hijau sesuai hasil olahan kerang hijau .. ,mantap ya.

    Baca artikel ini, jadi teringat ke pelabuhan muara angke.
    Sayangnya aku belum ke lokasi yang kak Dyah datangi ini.

    Ntar kalo lanjutannya udah posting,kabari ya,kak ... aku penasaran sama ngetripnya nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sayangnya saya belum pernah dengar ada wisata budaya di Muara Angke. Kalau ada, pasti bakalan ikutan.

      Hapus
    2. Kak, kalau ada ngga nya wisata budaya di pelabuhan muara angke aku kurang tau.
      Cuma disana ada pasar pelelangan ikan dan banyak warung makan sederhana yang menjual masakan olahan hasil laut.
      Murmer makan di warung sana,kak.

      Hapus
    3. Hmm ... boleh, lah, dicoba makan ikan bakar di Muara Angke ...

      Hapus