28 Juli 2018


Tidak ada turis yang berkunjung ke Kerajaan Kamboja tanpa mengunjungi Angkor Wat. Candi yang masuk ke dalam daftar Situs Warisan Dunia UNESCO sejak tahun 1992 ini memang merupakan kebanggaan warga Kamboja. Gambarnya juga tertera di bendera negara. Bahkan, orang-orang asing mungkin lebih merasa familiar dengan nama Angkor Wat dibandingkan nama Kamboja (atau Cambodia).
Angkor Wat.
Angkor Wat memang istimewa dibandingkan dengan candi-candi lain di negara Kamboja, terutama di sekitaran Siem Reap. Candi ini tidak pernah benar-benar ditinggalkan oleh warga, meskipun fungsinya secara bertahap berubah, dari tempat pemujaan untuk agama Hindu menjadi untuk agama Budha. Ketenaran candi ini sudah terbukti sejak dahulu kala. Di abad ke-16 seorang misionaris dari Portugis mencatat tentang kehebatan konstruksi bangunannya, dan di abad ke-17 beberapa peziarah beragama Budha dari Jepang datang ke Angkor Wat.
Menurut Wikipedia, Angkor Wat adalah tempat peribadatan terbesar di dunia, dengan luas areanya sebesar 162,6 hektar. Angkor Wat terdiri dari bangunan utama yang sangat besar dan beberapa bangunan pendukung kecil, dengan hutan kecil di sekitarnya, dan dikelilingi oleh danau buatan. Susunan bangunan utama menyerupai gunung, dimana bagian tengahnya semakin lama semakin tinggi. Jadi, berkunjung ke Angkor Wat berarti juga banyak naik-turun tangga. Dan tangganya bisa dikatakan curam. Naik ke galeri di atas menara utama Angkor Wat bisa membuat hampir kehabisan nafas.
Hingga saat ini masih digunakan sebagai tempat ibadah.
Sebagai turis yang memang cuma untuk jalan-jalan santai, saya dan keluarga tidak menyewa tour guide. Jadi kami tidak banyak mendengarkan kisah-kisah lokal yang mungkin menarik mengenai candi ini. Tapi berhubung banyak turis asing yang berseliweran dengan tour guide, kadang-kadang kami curi-curi dengar juga. Hehehe ...
Untuk masuk ke seluruh candi di area Angkor (termasuk antara lain Angkor Wat, Banteay Srey, dan Bayon) kita harus beli Angkor Pass, yaitu tiket terusan harian. Jadi, ketika akan masuk ke area candi, kita cukup menunjukkan Angkor Pass itu ke petugas yang menjaga. Ada tiket yang untuk satu hari, tiga hari, dan tujuh hari. Karena kami memang berencana untuk mengunjungi cukup banyak candi dalam beberapa hari, maka kami beli tiket untuk tiga hari, yang harga per orangnya USD 62. Lumayan juga, karena bisa muter-muter ke banyak candi sepuasnya.
Sebelum saya jelaskan tentang kunjungan saya ke Angkor Wat, perlu dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan Area Angkor adalah seluruh wilayah yang dulunya merupakan kota Angkor, ibu kota kerajaan Khmer di abad ke-9 sampai abad ke-14. Seluruh area Angkor adalah Situs Warisan Dunia UNESCO, yang luasnya sekitar 40.100 hektar. Angkor Wat adalah nama candi yang paling terkenal. Jadi, yang namanya Angkor Pass adalah tiket untuk mengunjungi seluruh candi di area Angkor, bukan sekadar ke Angkor Wat saja. Kalau suatu saat berkunjung ke sini, sayang kalau sudah beli tiket pass (yang satu hari sekalipun) cuma datang ke Angkor Wat. Ada banyak banget candi yang bisa dilihat juga.
Angkor Wat di waktu sunrise.
Nah, kami sengaja datang ke Angkor Wat pagi-pagi, untuk melihat Angkor Wat di waktu sunrise. Mataharinya sendiri nggak kelihatan karena langitnya berawan. Tapi suasana Angkor Wat di waktu pagi memang keren banget. Oh ya, banyak turis yang sengaja datang pagi untuk menyaksikan Angkor Wat di pagi hari. Jadi jangan heran kalau area masuknya berdesak-desakan. Kalau mau sepi, datanglah ke Angkor Wat di siang hari. Lebih berkurang turisnya, soalnya panas banget!
Angkor Wat terletak di tengah danau buatan. Jadi, untuk mencapainya, kita harus menyeberangi jembatan. Saat kami berkunjung, jembatan utamanya sedang direnovasi, jadi kami melewati jembatan apung sementara.
Pertama kali saya melihat dari dekat candi ini, jujur saja saya sangat kagum dengan ukiran dan patung-patungnya. Rumit dan banyak detilnya. Tidak heran candi ini menarik minat banyak ahli sejarah dan seni. Selain ada banyak patung, ukir-ukirannya juga bervariasi. Nah, aslinya candi ini adalah candi Hindu. Ketika rakyat setempat beralih ke agama Budha, beberapa ukiran di tembok di-“revisi” dan disesuaikan dengan ajaran Budha. Tapi karena area Angkor Wat ini luas dan ukirannya banyak banget, maka memang baru sebagian yang berhasil “direvisi”.
Patung di tembok.

Ukiran seperti ini, gedenya nggak sampai sekepalan tangan, ada di mana-mana.

Bakan, galeri tertinggi di Angkor Wat, dan salah satu menaranya.
Tidak cuma patung dan ukiran, bangunannya sendiri juga mengagumkan. Jendela-jendela dihiasi dengan teralis dari batu yang diukir. Atap candi juga sebenarnya adalah batu-batu yang disusun-susun sedemikian rupa sehingga saling menahan berat satu sama lain. Berjalan di bawah atap batu ini membuat saya khawatir kalau ada yang teriak-teriak maka batunya akan lepas dan jatuh.
Tapi yang paling memukau adalah bentuk bangunannya secara menyeluruh. Candi ini luas banget dan mungkin butuh dua hari untuk keliling dan mengamati seluruh detilnya. Kami yang cuma foto-foto dan membahas detil-detil tertentu saja butuh waktu setengah hari hanya di sini. Bentuk bangunannya juga menarik, agak berbeda dengan bentuk candi-candi di Indonesia.
Seperti yang sudah saya jelaskan di atas, kalau mau melihat seluruh bagian dari Angkor Wat, maka kita harus banyak naik tangga. Nah, bagian utama dari Angkor Wat adalah Bakan, yaitu galeri tertinggi di situ. Tangganya tinggi banget. Tapi kalau berkesempatan ke Angkor Wat, jangan melewatkan untuk naik ke atas ya, soalnya keren banget. Di atas menara ini ada tempat pemujaan dan ada biksu yang bisa dimintai doa (dengan membayar sumbangan, tentunya) dan ada patung Budha besar yang masih sering dipakai berdoa. Ada juga patung Budha tidur, tapi sayangnya tidak boleh difoto.
Pemandangan dari Bakan.
Pemandangan dari atas menara tertinggi Angkor Wat sungguh luar biasa. Benar-benar terlihat bahwa area Angkor Wat ini luas sekali. Oh ya, seluas-luasnya Angkor Wat ini, sebenarnya ini hanya bagian kecil dari area Angkor.
Di samping kompleks Angkor Wat ada area warung-warung makan dan WC. Kalau mau ke WC, bayar KHR 1000. Di setiap warung, harga makanan ditulis di menu. Makanan semuanya harganya USD 5. Mau nasi goreng, mie instan rebus, sup, omelet, semua harganya sama. Semua minuman harganya juga USD 5. Mau sekaleng bir, kelapa segar, jus buah, air mineral, semua sama. Untungnya, karena adik saya mengenali penjual yang ketemu di depan Angkor Wat pas baru masuk, si penjual girang banget dan kami semua boleh bayar USD 5 untuk satu makanan dan satu minuman. Lumayan diskon 50%. Kalau mau hemat, disarankan bawa minuman sendiri dan makan di luar kompleks.
Buat yang jalan-jalan backpacking, supaya bisa menjelajahi candi-candi populer, disarankan untuk sewa tuk-tuk seharian (biasanya nggak sampai matahari terbenam). Biasanya sopir tuk-tuk akan menawarkan tur Small Circuit seperti di penjelasan saya di artikel sebelumnya. Harganya bisa USD 20 kalau tembak langsung di pinggir jalan. Kalau pesan dari hotel, kadang-kadang dapat diskon. Saya dapat tur dengan harga USD 15 karena pesan dari hotel, dengan catatan mereka akan minta kita makan siang di rumah makan rekanan yang umumnya nyaman dan bersih. Harga makanan di rumah makan rekanan rata-rata USD 6 dan minuman USD 3, jadi hampir sama dengan harga makanan di warungan yang berisik di dekat Angkor Wat.
Salah satu kolam (dulunya) di Bakan.
Oh ya, catatan tambahan untuk yang mau ke Angkor Wat. Ini tempat ibadah. Jadi harus berbaju sopan. Baju harus menutupi paling tidak sepertiga lengan, tidak boleh pakai rok mini atau celana pendek, tidak boleh merokok, dan tidak boleh memegang patung dan ukiran apapun. Sama seperti kalau kita ke Borobudur, lah.
Nah, selain Angkor Wat, ada juga beberapa candi lain yang kami kunjungi. Candi yang lain tak kalah menarik, lho. Ditunggu saja artikelnya, ya!

23 Komentar:

  1. Megah dan kuno banget.. Kekokohan bangunannya gmna itu mba..
    Sekilas liat foto fotonya kok seperti perlu dipugar ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahaha ... namanya juga bangunan kuno. Sudah pasti semakin lama semakin rapuh. Waktu saya ke sana, sebenarnya sedang ada proses renovasi beberapa tembok. Cuma tidak saya foto saja.

      Hapus
  2. Wah kalau berlibur kesana perlu uang jutaan rupiah iya mm.mmm

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya ... yang namanya liburan pastinya butuh biaya ya. Tapi besarnya berapa, ya tergantung minatnya si turis itu sendiri.

      Hapus
  3. Curi-curi dengar penjelasan info dari tour guide, wuih itu kreatif namanya kak 😁 ..

    Unik dan artistik sekali bangunan Angkor Wat, ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huehehe ... namanya juga usaha dapat tour guide gratisan.

      Hapus
    2. Mantaaap itu namanya, kak ...
      Menginspirasiku juga 😅
      Akan kutiru yaaa ...
      xixixxi 😁

      Hapus
  4. Angkor wat masuk salah satu situs UNESCO, Kamboja memang punya destinasi kayak thailand ya kak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Tapi memang pariwisatanya Thailand lebih maju daripada Kamboja.

      Hapus
  5. Waktu itu temen baru pulang dari liburan. Dia nunjukin foto pas di angkor wat dan fotonya itu lho, keren banget. Jadi mupeng kalau inget-inget foto itu lagi. Hahaha :(

    BalasHapus
  6. kalo menurut saya sekilas bangunan menaranya kalo dilihat dari kejauhan mirip sekali dengan candi prambanan ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pada dasarnya sama-sama turunannya budaya Hindu dari India. Mungkin pola arsitektur yang menyebar dari India ke arah timur mirip-mirip di banyak negara.

      Hapus
  7. Jadi pengen ke sana nih hahahaha

    BalasHapus
  8. Ga nyangka tempatnya luas skali. Tiga hari mengexplore Angkor Wat dan candi sekitarnya butuh energi yg super extra ya mbak?

    Ukirannya detail skali ya? ada yg lebih kecil dari kepalan tangan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tiga hari eksplore sekitaran Angkor Wat? Wah ... itu mainannya fisik. Walau sudah pakai tuk-tuk keliling ke sana-sini, tapi pas naik tangga ke bagian atas candi, tetap saja ngos-ngosan. Waktu saya dan keluarga main ke sana, ada satu candi dimana adik dan ibu saya cuma muter-muter di bawah karena tangga naiknya curam banget. Hampir semua turis naiknya merayap pelan-pelan dan turunnya sambil duduk dan turun pelan-pelan. Untung saya masih pede mencoba naik ke atas, karena pemandangan di atas keren banget. Dan ... candi yang seperti itu nggak cuma satu, ternyata!

      Hapus
    2. Pengalaman ngetrip super kece ..., merayap ke atas bagian candi.

      Memang diperbolehkan ya memanjat bagian teratas candi, kak ?.

      Hapus
    3. Eh ... bukan ke atap candi. Tapi ke platform teratas candi. Tetap hitungannya ke atas candi kan ya ...

      Hapus
  9. Wuih serasa ikut tour Angkor Wat. Berarti harus kenyang dulu sebelum masuk area Angkor Wat ya Mba kalau nggak mau beli makan di area tersebut. Hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ... dulu waktu jalan-jalan ke Vietnam, ada salah satu orang (penduduk Ho Chi Minh) yang bilang kalau jalan-jalan di Kamboja murah banget. Setelah saya beneran ke Kamboja, sempat kaget juga pas lihat semua makanan dalam dollar. Terus belakangan baru tahu, harga turis beda jauh dengan harga penduduk lokal. Karena Vietnam masih tetangga dengan Kamboja, mungkin saja mereka dikasih harga penduduk lokal juga, makanya dibilang murah.

      Hapus
  10. Mba adaaa loh turis yg ga ke angkor wat pas lg di siam rep :p. Aku ini buktinya hahahahah.. Sampe2 resepsionis hotel heran, dan nanya, 'kamu ke siam rep tapi ga ke angkor?? Kenapaaaa??? " wkwkwkwk

    Tp wkt itu dlm hati aku ngedumel, 'yaelaaah, palingan jg sama aja kyk borobudur' huahahahaha.. Pengen ditoyor memang.

    Dan aku jd tau kalo pass 1 hari dan beberapa hari itu, ternyata berlaku utk semua candi di angkor yaaaa. Aku kira cm utk angkor wat thok itu doang :D. Hadeeuuhh, emg beneran hrs kesana ini :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahahaha ... terus gue yang bingung kalau ada orang ke Siem Reap tapi nggak ke Angkor Wat. Apa cuma ke danau Tonle Sap aja? Tapi candi nggak untuk semua orang kok, soalnya ada juga yang males naik-naik tangga. Jalannya lumayan juga.

      Hapus