7 Juli 2018


Dimana itu Kutoarjo? Kutoarjo adalah salah satu kota kecil di Jawa Tengah, yang dilewati oleh jalur selatan kereta api. Kota Kutoarjo cukup ramai dibandingkan dengan kota-kota kecil di sekitarnya karena kota ini menjadi tempat transit banyak desa-desa di sekitaran Purworejo dan Kebumen. Seperti yang pernah saya ceritakan di sini, saya pernah beberapa kali mengunjungi kota ini untuk urusan keluarga.
Kali ini saya hendak menceritakan beberapa makanan khas daerah di sekitar Kutoarjo. Siapa tahu suatu saat nanti di antara pembaca ada yang iseng mau naik Kereta Sawunggalih ke Kutoarjo dan keliling mencobai makanan-makanan khas setempat.

Kue Lompong

Waktu saya bawa makanan ini ke kantor, semua orang curiga. Bukan apa-apa, makanan yang dibungkus daun pisang ini warnanya hitam seperti arang. Tapi jangan salah, begitu ada satu yang berani mencoba makan, semua orang langsung ambil. Kue yang manis dan gurih ini adalah salah satu primadona kuliner di sekitaran Kutoarjo.
Kue lompong, dibungkus daun pisang kering.
Kue lompong dibuat dari tepung ketan dan air abu merang, dan diisi dengan campuran kacang tanah dan gula merah. Abu meranglah yang membuatnya menjadi berwarna hitam. Dulunya, warna hitam diperoleh dari daun talas kering (lompong) yang dibakar. Tapi karena bahannya cukup jarang, warna hitam bisa juga diperoleh dari merang yang dibakar. Kue lompong umumnya dibungkus dengan daun pisang kering dan tahan sekitar satu minggu. Kalau kuenya mengeras, cukup dikukus ulang.
Kue lompong yang terkenal di Kutoarjo dijual di Kue Lompong King, Jl. P. Diponegoro 159, Kutoarjo.

Lanthing

Lanthing juga merupakan makanan yang umum ada di Jawa Tengah. Tapi lanthing di masing-masing daerah memiliki kekhasannya sendiri. Lanthing di Kutoarjo umumnya tidak keras. Kalau ada yang pernah coba lanting buatan daerah lain, umumnya lantingnya keras banget. Tapi lanthing Kutoarjo tidak keras dan mudah digigit. Keistimewaan lainnya adalah, lanthing di Kutoarjo sering kali dicampur dengan bawang putih goreng yang banyak. Jadi rasanya lebih gurih.
Lanthing dibuat dari tepung singkong dan digoreng menjadi seperti kerupuk. Lanthing biasanya dijadikan camilan kalau sedang iseng, bukan untuk dimakan dengan nasi. Lanthing versi modern sudah diberi macam-macam bumbu tambahan seperti keju atau bumbu balado. Tapi favorit saya tetap yang original.
Lanting bisa dibeli di pasar atau di toko-toko yang jualan oleh-oleh. Biasanya, keluarga saya beli lanting di salah satu toko oleh-oleh di Jl. Raya Kutoarjo – Kebumen, yang letaknya ke arah barat dari Kota Kutoarjo. Tapi sayang sekali, nama tempatnya saya lupa.

Dawet Ireng

Ireng adalah bahasa Jawa dari kata hitam. Jadi dawet ireng adalah dawet yang berwarna hitam. Dawet ireng sebenarnya adalah makanan khas Desa Butuh, yang jaraknya cukup dekat dengan Kutoarjo. Warna hitam pada dawet ini berasal dari abu merang bakar.
Penjual dawet ireng asli di dekat jembatan desa Butuh.
Kalau ada pembaca yang jalan-jalan di sekitaran alun-alun Kutoarjo, pastilah akan menemui banyak pedagang dawet ireng. Tapi, kedai asli penjual dawet ireng adalah warung Dawet Ireng Jembatan Butuh. Bentuknya hanya bangunan bata sederhana dengan tenda yang bertuliskan “Dawet Ireng Jembatan Butuh”. Letaknya, ya di dekat jembatan di desa Butuh, di Jl. Raya Kutoarjo – Kebumen.
Dawet ireng disajikan dengan kuah campuran santan dan air gula jawa. Kalau di warung yang saya sebutkan di atas, kuahnya sudah didinginkan di freezer sehingga rasanya dingin. Rasanya manis dan segar.

Kupat Tahu

Kupat tahu sebenarnya adalah makanan khas Jawa Tengah. Pada dasarnya, makanan ini adalah campuran ketupat dan tahu goreng dan diberi kuah. Ada beberapa kota yang memiliki kupat tahu khas masing-masing, termasuk kota Solo dan Yogyakarta. Tapi kupat tahu di Kutoarjo memiliki kekhasan sendiri.
Kalau di Solo, tahunya hanya digoreng sebentar, jadi warnanya masih putih. Tapi kalau di Kutoarjo, tahunya digoreng sampai berwarna kecoklatan. Ketupat dan tahu goreng disajikan dengan kuah gula merah yang sangat encer, tentunya dengan berbagai bumbu lainnya yang saya kurang tahu. Selain itu, ada ditambahkan bawang goreng, daun seledri, dan tauge.
Kupat tahu khas Kutoarjo. Dijamin pedas.
Nah, ciri khas lain dari kupat tahu di Kutoarjo adalah rasanya yang cenderung pedas. Jadi kalau pesan, sebaiknya menginformasikan dengan benar, mau pakai cabe berapa buah. Kalau cuma bilang sedang, bisa-bisa ditambahi ulegan cabe rawit tiga buah.
Kupat tahu yang saya coba adalah kupat tahu yang dijual di warung Kupat Tahu Peturunan yang terletak di daerah yang disebut sebagai peturunan. Daerah ini berada di jalan penghubung Kutoarjo dan Kemiri, dan warung ini letaknya di dekat lampu merah Kalianyar.

Sate Pak Selo

Pak Selo adalah pedagang sate keliling yang berjualan sate dengan bumbu yang dia ramu sendiri. Bahan bumbunya menyerupai bumbu sate ngambal (khas daerah Ambal) tapi lebih encer dan dicampur dengan lemak ayam. Rasanya gurih dan pedas. Menurut saudara saya yang lama tinggal di Kutoarjo, sate buatan Pak Selo memang dijual untuk kaum keturunan Tionghoa yang tinggal di tengah kota Kutoarjo yang kurang cocok dengan bumbu tempe khas Ambal. Jadi Pak Selo membuat bumbu yang lebih encer dan lebih gurih.
Sayang sekali, untuk sate Pak Selo ini, tidak bisa diberikan alamatnya karena dia seorang pedagang pikulan keliling. Kalau beruntung, pembaca bisa menemukannya sedang berjualan sate di tengah kota Kutoarjo.
Pak Selo sedang berjualan sate.

Sate Ambal

Nah ... Sate Ambal (atau sate ngambal) adalah sate khas daerah desa Ambal, Kabupaten Kebumen. Dari jarak, Desa Ambal cukup dekat dengan Kota Kutoarjo, sekitar 25 kilometer. Jadi, tidak heran, banyak orang Kutoarjo yang juga suka makan sate Ambal. Kalau ada yang berkesempatan ke Desa Ambal, bisa dilihat warung-warung sate khas tersebut berjajar di tepi jalan Deandels
Keunikan sate ini adalah, bumbunya dibuat dari bahan dasar tempe. Umumnya juga, bumbu disajikan dengan dicampur sambal. Kalau kita makan sate Ambal, kadang masih terlihat ada tekstur tempe di antara bumbunya. Rasanya gurih, dan pastinya pedas. Sate Ambal bisa sate ayam atau sate kambing. Tapi sepanjang saya makan sih, saya selalu makan sate ayam.
Waktu saya berkunjung ke Kutoarjo terakhir ini, saya tidak mencoba Sate Ambal karena waktunya mepet. Jadi nggak ada fotonya ya. Tapi percayalah, saya sudah beberapa kali makan di Desa Ambal, sembarang warung sate pun enak rasanya.

Roti Bagelen

Sebetulnya roti bagelen sebenarnya adalah roti semir yang dikeringkan dengan semacam oven. Hitungannya, masih masuk kategori kue kering. Jenis kue ini sebenarnya sih ada di mana-mana. Jadi, kalau ada yang browsing tentang makanan tradisional Kutoarjo atau Purworejo atau Kebumen, nama roti bagelen pasti tidak akan masuk. Tapi sebetulnya, Roti Bagelen sudah diproduksi dan terkenal di Kota Kutoarjo sejak tahun 1906. Kebayang nggak sih, kota kecil begitu ternyata sudah kondang dengan kue khas eropa sejak jaman penjajahan Belanda. Dan nama toko yang memproduksi roti bagelen di Kutoarjo ini adalah Toko Bagelen. Jadi nama ini memang sudah digunakan sebagai merk dagang roti tersebut, jauh sebelum muncul kue-kue bagelen dengan merk dagang lainnya.
Toko Bagelen masih ada sampai sekarang, yaitu di Jl. P. Diponegoro no 171A, Kutoarjo. Jalan P. Diponegoro adalah jalan utama di Kutoarjo, jadi tidak sulit mencari toko roti ini.

Sebetulnya, masih banyak lagi makanan-makanan khas Kutoarjo. Tapi berhubung waktu saya berkunjung kemari tidak bisa mencicipi semua makanan, maka cukup penganan khas di atas yang saya ulas. (Kalau harus mencicipi sekitar belasan makanan dalam dua hari, maruk banget yah?) Siapa tahu, kalau saya berkesempatan berkunjung kembali, ada tambahan makanan yang bisa saya ulas.

30 Komentar:

  1. Lanting kayaknya sekarang oleh-oleh sejuta ummat kak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ... kalau saya bawa lanthing sebungkus ke kantor, sehari pasti langsung habis.

      Hapus
  2. Aku suka banget kue Lompong itu,kak.
    Warnanya hitam, begitu digigit kerasa rada keras tapi bagian tengahnya enak banget ... kerasa potongan2 kasar kacang tanahnya.
    Aku kalo makan lompong bisa 5 bungkus sekaligus 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, ada penggemar kue lompong! Keluarga saya semua suka kue lompong. Tapi ternyata hanya orang Jawa Tengah saja yang tahu jenis makanan ini. Waktu saya bawa makanan ini ke kantor (di Jakarta), waktu pertama-pertama, benar-benar tidak ada yang mau menyentuh. Padahan, begitu dicoba, semua langsung mau lagi.

      Hapus
    2. Xixixi .. tampilan warnanya yang hitam pekat kadang bikin ragu duluan sebelum memakannya.
      Padahal .. itu enaaak banget !.

      Teman-teman kak Dyah selanjutnya pasti pada mau nitip dibawain oleh-oleh lompong 😁

      Hapus
  3. Pilihan gua jatuh pada dawet,bikin ngiler hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beneran itu enak banget. Dan karena warnanya hitam, jadinya khas banget. Manis dan gurih. Wajib dicoba.

      Hapus
  4. gak semua makanan saya kenal, hanya ada beberapa saja :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itulah yang disebut makanan khas. Tidak ada di semua tempat.

      Hapus
  5. wah yang lanthing itu suka banget deh mba, kemaren liburan pas lebaran bawa oleh oleh ke belitung hha :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang banyak penggemarnya. Di kantor, kalau bawa lanthing juga termasuk yang nomer satu dihabiskan orang-orang.

      Hapus
  6. Aku pengggggeeennnnn banget dawet ireng, enak banget pas hari lagi panas panasnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Emang enak dan seger banget! Mana santannya gurih pula. (Jadi ngiler sendiri.)

      Hapus
  7. favoritku kupat tahu,, tapi belom pernah makan kalau kupat tahu kutoarjo ini. sepertinya enak juga ... #lapermendadak

    -Traveler Paruh Waktu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Enak dan pedes. Kalau pecinta pedas, pasti suka.

      Hapus
  8. Lanting di tempatku buanyaaaak dan bervariasi aneka rasa . Kebumen punya hehehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah, Kebumen kan masih "tetangga dekat"-nya Kutoarjo. Memang sepertinya kota-kota di daerah selatan Jawa Tengah punya lanting khas masing-masing.

      Hapus
  9. Mbak Dyah asli Purworejo to? *seketika orang Purworejo asli langsung kepo setelah baca tulisan ini xD

    Hampir semuanya sudah pernah saya coba sih, tapi yang paling bikin penasaran sampai sekarang adalah Dawet Ireng yang asli dari Jembatan Butuh. Selama ini pol-polan cuma nyicip dawet ireng di pinggir-pinggir jalan di daerah Purworejo Kota doang. Satu lagi mbak, makanan khas daerah Purworejo yang belum masuk ke list, Clorot.

    Oiya, Bagelen sindiri juga jadi nama kecamatan di Purworejo, lho *yakali belum tau--tapi sepertinya udah tau, ding*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masnya ini asli Purworejo? Kita berarti tetanggaan dong. Soalnya keluarga saya ada yang di Kutoarjo. Iya, saya tidak menulis tentang clorot, soalnya saya nggak terlalu suka. Hehehe ... Nanti kalau ada kuliner tahap 2, saya akan tulis juga tentang clorot.

      Nah, soal kecamatan Bagelen, saya tahu. Tapi saya tidak pernah dengar ada pabrik atau toko roti bagelen di Kecamatan Bagelen. Apa ada/pernah ada pengusaha roti Bagelen di kecamatan Bagelen?

      Hapus
    2. Oh, rumah saya masuknya di Kecamatan Loano, mbak. Lumayan jauh kalau dari Kutoarjo. Kalau masalah pabrik roti, kurang paham juga saya ^^

      Hapus
  10. Baru roti bagelen doang yang pernah nyobain, hiks...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuk, yuk, nyobain yang lainnya juga ...

      Hapus
  11. roti bagelen itu sepertinya enak, tapi sayang kapan saya bisa ke sana yak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, kalau cuma nyari roti bagelen, kayaknya ada di banyak tempat. Tapi memang kalau mau yang aslinya, memang harus coba yang di Kutoarjo ini.

      Hapus
  12. wiih dawet irengnya itu lho bikin kangen dengan suasana di jawa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ... adem, lagi. Walau warnanya hitam, tapi rasanya manis dan segar.

      Hapus
  13. Jadi inget waktu kecil sering dikasih oleh2 roti Bagelen. Enak rotinya saya suka sekali.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Manis, kan. Dulu saya juga sering dibawakan roti bagelen oleh keluarga di sana.

      Hapus
  14. Suami sya asli purworejo mb,tiap mudik pasti mampir di dawet jembut alias jembatan butuhπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ emang rasany mantabbbπŸ‘πŸ»πŸ‘πŸ»πŸ‘πŸ»

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahaha.... saya berusaha keras tidak menyingkat kata "jembatan butuh". Tapi memang rasanya enak banget dan seger.

      Hapus