14 Juli 2018


Tepat di hari ulang tahun Kartini yang lalu, tepatnya tanggal 21 April 2018, saya tiba di Stasiun Solo Balapan sekitar jam 5:10 dini hari. Supaya menghemat waktu, saya memang sengaja naik kereta api Argo Lawu yang berangkat dari Stasiun Gambir jam delapan malam. Jadi, saya sudah sampai di Solo dini hari dan bisa mulai beraktivitas di pagi hari.
Sebetulnya, saya sudah sering kali naik kereta ke Solo dan turun di Stasiun Solo Balapan. Tapi biasanya saya buru-buru meninggalkan stasiun karena sudah ada jemputan atau karena sudah ada keperluan lain. Tapi pagi itu, saya cukup santai sehingga tidak buru-buru keluar stasiun.
Stasiun Solo Balapan.
Menurut Wikipedia, stasiun Solo Balapan adalah salah satu stasiun besar tertua di Indonesia. Stasiun yang mulai dibangun di tahun 1863 ini diresmikan di tahun 1873. Dulunya tanah tempat stasiun ini adalah lahan pacuan kuda milik Keraton Mangkunegaran. Kampung yang terletak di dekat lahan pacuan kuda ini disebut sebagai kampung Balapan. Jadi, tidak heran ketika stasiun ini difungsikan, namanya disebut sebagai Stasiun Balapan.
Stasiun ini memiliki 12 jalur rel yang terbagi menjadi dua emplasemen, yaitu utara dan selatan. (Oh ya, istilah emplasemen ini saya pinjam dari Wikipedia. Kalau saya pribadi sih mengangapnya dibagi menjadi dua bagian.) Umumnya, kereta penumpang berhenti di emplasemen selatan. Kereta api Argo Lawu juga berhenti di emplasemen selatan. Sedangkan emplasemen utara adalah untuk kereta barang dan kereta penumpang jarak dekat. Di sebelah utara stasiun juga ada sebuah Dipo Lokomotif.
Kereta Argo Lawu yang saya naiki. Di sebelahnya adalah bangunan bagian utara.
Bangunan stasiun di bagian utara dan selatan juga sedikit berbeda. Bangunan bagian selatan sudah lebih sering mengalami renovasi dan perubahan, sedangkan bangunan di bagian utara relatif tidak banyak perubahan dari dulu. Jadi, bangunan yang di bagian utara terkesan lebih kuno dan bernuansa kolonial. Sementara bangunan selatan lebih banyak dipenuhi dengan kios penjual makanan serta oleh-oleh, bangunan utara lebih banyak menyediakan fungsi layanan, misalnya toilet, mushola, dan pos kesehatan.
Bangunan bagian selatan adalah bagian “depan” dari stasiun. Wajar tempat ini paling sering direnovasi, disesuaikan dengan perkembangan jaman. Dulunya, penumpang masuk melalui lobby utama di bagian tengah. Akan tetapi, sekarang penumpang masuk melalui jalur baru di sebelah barat. Saya sendiri bisa dikatakan sudah lama tidak naik kereta dari Stasiun Solo Balapan. Jadi memang sempat kaget juga waktu menyadari perubahan ini.
Salah satu bagian dari bangunan bagian utara.
Tempat duduk penunggu di utara.
Salah satu bagian dari bangunan selatan.
Untuk yang mau berkunjung ke Solo lewat kereta, jika naik kereta semacam Argo Bromo atau Argo Dwi Pangga, pasti akan turun di Stasiun Solo Balapan. Untuk melanjutkan perjalanan, bisa dengan becak atau taksi yang ditawarkan di depan pintu kedatangan, atau dengan naik bus dari Terminal Tirtonadi. Tidak perlu khawatir mengenai cara ke terminal karena ada jembatan layang khusus yang bisa mengantar penumpang kereta menuju Terminal Tirtonadi. Kebetulan, terminal ini memang cukup dekat dengan stasiun.
Sebagai catatan tambahan, di Solo ada empat stasiun kereta api, yaitu Stasiun Solo Balapan yang paling besar, Stasiun Purwosari yang selalu ramai, Stasiun Jebres yang termasuk cagar budaya kota Solo, dan Stasiun Solo Kota yang hanya melayani kereta jurusan Wonogiri. Keempat stasiun kereta api ini aktif hingga sekarang. Untuk ukuran kota sebesar ini, adanya empat stasiun kereta api ini menunjukkan aktifnya perputaran ekonomi kota Solo dari jaman dahulu hingga sekarang. Sedangkan Terminal Tirtonadi adalah terminal utama kota Solo. Kalau ada yang hendak mengunjungi kota Solo naik bus, bisa dipastikan tempat pemberhentian terakhirnya adalah Terminal Tirtonadi.
Lobby depan yang sekarang sudah tidak digunakan lagi.
Jembatan menuju ke Terminal Tirtonadi, melewati emplasemen utara.
Adapun saya, setelah berputar-putar di stasiun dan foto-foto, maka sekitar jam enam kurang saya pun keluar stasiun dan memesan ojek online. Berhubung ojek online tidak boleh mengambil penumpang di area stasiun, maka saya harus keluar dulu. Kalau janjiannya dengan abang ojek online di Alfamart, maka keluar gerbang kita harus jalan ke kanan, sedangkan kalau janjiannya di pom bensin maka kita jalan ke kiri. Dengan bantuan GoogleMaps, niscaya tidak akan nyasar.
Nah, demikian sedikit kisah saya mengenai Stasiun Solo Balapan. Siapa tahu suatu saat nanti saya menceritakan stasiun-stasiun lain di Solo, jika ada kesempatan.
Selanjutnya
Artikel ini sudah yang terbaru.
Sebelumnya
Posting Lama

0 Komentar:

Posting Komentar