9 Januari 2019

Minggu ketiga bulan Desember yang lalu, saya solo travelling ke Jepang. Musim dingin? Iya sih, tapi belum turun salju. Jadi suasananya lebih mirip seperti akhir musim gugur. Nah, jalur perjalanannya sebenarnya adalah 8 hari untuk Jakarta – Narita – Matsuyama – Nara – Kyoto – Osaka – Tokyo – Jakarta. Tapi khusus untuk kali ini, saya akan menceritakan sebagian perjalanannya saja, yaitu kisah jalan-jalan di Nara, Kyoto, dan Osaka selama 4 hari 3 malam.
Ini cuma artikel tentang alur perjalanan saja ya. Jadi lebih tepat disebut sebagai deskripsi itinerary saya. Untuk detil tempat wisatanya, akan diperjelas di artikel-artikel yang lain. Untuk memudahkan, tempat wisata yang saya kunjungi ataupun yang hanya saya lewati, akan diketik bold.

Torii, gerbang tradisional Jepang.
Jalur perjalanan
Saya menginap di Osaka. Alasannya, Osaka adalah kota bisnis, sehingga pilihan harga hotelnya lebih banyak dibandingkan Kyoto, apalagi Nara. Yang penting, tempat penginapannya dekat dengan stasiun JR Shin-Osaka supaya nggak terlalu repot waktu bawa koper kalau mau pindah kota naik shinkansen. (Ini penting karena dari sini saya masih akan ke Tokyo.)
Setelah bongkar pasang itinerary, dan dengan perubahan di hari H-nya, maka jalur perjalanan saya selama menginap di Osaka adalah: Nara (hari pertama), Kyoto (hari kedua dan ketiga), Osaka (hari keempat). Kyoto sengaja mengisi jadwal dua hari karena tempat wisatanya banyak banget.
Saya datang ke Osaka dari Matsuyama (Pulau Shikoku) naik bus malam. Pagi-pagi jam 6:30, bus tiba di Osaka, tepatnya di Umeda Sky Building, yang merupakan salah satu landmark kota Osaka. Di sini saya terus titip koper dan langsung ambil kereta dari Stasiun JR Osaka menuju Nara. Kenapa kereta JR? Karena saya membeli JR Pass yang berlaku untuk semua kereta JR (Japan Railways), kecuali beberapa jenis shinkansen.
Oh ya, untuk perjalanan kali ini, beli JR Pass berguna banget. Soalnya, bolak balik ke Nara – Kyoto – Osaka dan lalu lanjut ke Tokyo, total harga tiket lepasannya hampir sama dengan harga JR Pass yang dibeli dari Indonesia. Daripada pusing beli tiket tiap kali mau naik kereta, mendingan beli JR Pass, kan.


Stasiun JR Nara. Karena punya JR Pass, kemana-mana saya menggunakan kereta JR.
Hari 1
Nara
Hari pertama, yang pertama dilakukan adalah makan pagi di stasiun JR Osaka. Beli onigiri di Lawson, terus makan di tempat duduk di dalam stasiun. Dari Osaka ke Nara, saya naik kereta JR biasa. Karena ketinggalan kereta yang langsung ke Nara, saya jadinya ke Kyoto dulu, terus nyambung kereta ke Nara. Ya sudah, lah. Yang penting sampai. Untung petugas yang ada baik hati membantu menunjukkan: ada di platform mana kereta yang harus saya ambil.
Turun di Stasiun JR Nara, saya kelaparan. Jadi saya mampir dulu ke MOS Burger untuk makan, sekalian nge-charge handphone. Biar bisa foto-foto. Jam 10 pagi, saya lanjut naik bus ke kuil Todaiji. Kuil Todaiji terkenal karena menyimpan patung Budha dari perunggu yang terbesar di Jepang. Kuil ini adalah tempat yang wajib dikunjungi oleh setiap wisatawan yang datang ke Nara. Di kompleks kuil ini ada museum, kuil utama, dan beberapa bangunan pendukung. Dari sini wisatawan biasanya jalan kaki menembus Nara Park dengan rusa-rusanya menuju ke kuil Kasuga Taisha. Jaraknya nggak terlalu jauh: setengah jam jalan kaki, itu sudah sambil lihat-lihat souvenir yang dijual dan duduk-duduk sebentar.
Kasuga Taisha terkenal karena merupakan kuil keluarga Fujiwara yang sempat berkuasa di Jepang dahulu kala. Kuil ini cantik berkat barisan lentera yang disumbangkan ke kuil ini. Setelah puas berputar-putar di kompleks ini, saya lalu ambil bus untuk turun di kuil Kofukuji.
Kuil Kofukuji terkenal karena pagodanya dan karena sejarahnya. Kuil ini termasuk salah satu monumen historis Nara kuno yang tercatat di UNESCO. Di kompleks kuil Kofukuji ini ada banyak bangunan, termasuk National Treasure Museum yang menyimpan patung-patung kuno. Untuk masuk ke setiap gedung, bayar lagi sekitar 400 yen sampai 600 yen, ya. Jadi bijaksanalah dalam memilih gedung. Saya tidak masuk ke National Treasure Museum karena saya tidak punya waktu. Soalnya, saya masih harus jalan ke stasiun untuk menuju ke tempat wisata selanjutnya.
Jalan-jalan di Nara, bisa foto-foto dengan rusa yang berkeliaran bebas.
Jalan kaki dari kompleks Kokufuji ke Stasiun JR Nara, saya sengaja melewati jalan Sanjo Dori, untuk bisa mampir ke toko penjual mochi terkenal Nakatanidou. Proses pembuatan mochi di sini ditunjukkan pada para wisatawan, dan menjadi atraksi tersendiri. Setelah membeli sekotak mochi, saya lalu lanjut ke stasiun. Berhubung lapar lagi ... ya saya mampir lagi ke MOS Burger. Hitung-hitung nge-charge handphone lagi. Terus saya lanjut naik kereta ke kuil Horyuji, yang letaknya lumayan jauh. Keretanya juga agak jarang. Dari stasiun JR Horyuji, saya masih harus naik bus sekitar 10 menit.
Kuil Horyuji adalah salah satu kuil tertua di Jepang. Kuil ini memiliki bangunan kayu tertua di Jepang dan merupakan salah satu situs warisan dunia UNESCO. Di musim dingin, kuil ini tutup jam 16:30 dan saya sampai sini sekitar jam 15:30. Persis sebelum counter tiket ditutup, saya berhasil membeli tiket masuk. Jam 16:30, saya meinggalkan kompleks dan menunggu bus yang akan membawa ke stasiun JR Horyuji, untuk selanjutnya membawa saya ke stasiun JR Osaka. Setelah ambil koper, saya lanjut ke stasiun JR Shin-Osaka untuk menuju hotel dan check in. Semua mochi yang siang saya beli, saya makan habis untuk makan malam. Laper soalnya.
Hari 2
Kyoto
Sebetulnya, tadinya saya hanya mau menghabiskan satu hari di Kyoto. Namun berhubung di hari ini saya bertemu seorang turis Indonesia yang mengomel-ngomel menyesal tidak bisa menjelajahi Kyoto karena tour yang diikuti menginap di Osaka, saya lalu memutuskan untuk menyediakan waktu dua hari di Kyoto. Dan ternyata ... sebetulnya masih kurang. Hahaha!
Deretan torii yang menjadi ciri khas kuil Fushimi Inari Taisha.
Hari ini, saya bangun kesiangan. Jam 8 pagi saya baru meninggalkan hostel. Ya sudah, lah. Makan pagi di stasiun. Terus naik kereta JR lokal dari stasiun JR Shin-Osaka, saya turun di stasiun JR Inari untuk mengunjungi kuil Fushimi Inari Taisha yang terkenal itu. Kuil Fushimi Inari Taisha adalah kuil Shinto yang termasuk sering menghiasi instagram. Barisan torii atau gerbang kayu merah yang berjajar menjadi ciri khas kuil yang juga memuja rubah, yang dianggap sebagai pembawa pesan dari dewa Inari. Saya menghabiskan waktu cukup lama karena saya juga ikutan mendaki gunung Inari sampai ke lerengnya. Akibatnya, jadwal saya untuk hari ini jadinya agak berantakan. Tapi nggak apa-apa. Belum tentu saya bisa mendaki gunung Inari lagi.
Dari kuil Fushimi Inari Taisha, saya menuju ke stasiun JR Tofukuji untuk selanjutnya jalan kaki ke kuil Tofukuji. Jalannya dari stasiun JR lumayan juga, sekitar 15 menit. Kompleks Tofukuji sangat luas, dan terdiri dari kuil-kuil lain yang masih aktif. Untuk menuju ke kuil utama Tofukuji, kita harus melewati kuil-kuil itu. Kuil Tofukuji adalah kuil utama Budha dengan aliran Zen di Jepang. Kuil ini terkenal karena memiliki taman yang cantik, terutama di musim gugur.
Dari kuil Tofukuji, saya kembali ke stasiun JR dan melanjutkan perjalanan ke stasiun JR Kyoto. Berhubung hujan deras, dan sudah jam 12:30, saya memutuskan untuk makan di stasiun. Setelah selesai makan, dan hujan reda, saya lanjut naik bus ke kuil Kiyomizudera yang termasuk landmark kota Kyoto. Di sini saya menyempatkan untuk beli cindera mata dan juga mencoba minum sake di salah satu bar lokal.
Dari Kiyomizudera, saya lanjut naik bus ke distrik paling terkenal di Kyoto: Gion. Tentunya saya juga mampir ke kuil di dekat Gion, yaitu kuil Yasaka Jinja. Gion adalah distrik hiburan yang sudah terkenal dari jaman dahulu kala. Selain ada kuil yang cantik, ada juga pertokoan, bar dan tempat minum (izakaya), rumah makan elit (yang mana beberapa di antaranya menyediakan layanan makan malam sambil menonton pertunjukan seni oleh geisha), dan juga kios pengrajin tradisional.
Salah satu sudut daerah Gion, Kyoto.
Jujur saja, waktu itu kaki saya ada yang salah urat sehingga saya tidak mau berlama-lama di Kyoto. Selain itu, sempat hujan juga sih. Jadi saya lalu memilih mampir ke pasar Nishiki Market (yang mana pakai acara nyasar segala) di dekat Gion, dan lanjut naik bus ke stasiun JR Kyoto. Langsung balik ke Osaka naik shinkansen. Saya nggak kepikiran beli apa-apa karena lebih fokus menahan sakit di kaki. Jam tujuh malam saya sudah kembali ke Osaka dan makan malam di dekat hostel. Untung ada rumah makan sushi Hiro di dekat hostel, jadi sekalian mencoba salah satu chain rumah makan sushi populer di Jepang (yang juga punya cabang di Jakarta). Di hostel, berendam di bak air panas umum, terus tidur.
(Bersambung)

15 Komentar:

  1. "Irasshaimase!"..itu torii cool banget...

    BalasHapus
  2. Ini ada kaitannya sama baju musim dingin di Jepang itu pasti ya Kak wkwkwkw. Wah solo traveling ke Jepang ... awesome!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya... sekali jalan bisa bikin beberapa artikel .

      Hapus
  3. Tempat yang menarik di dunia dengan kultur unik dan kuat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar Pak. Kultur yang kuat itu poin yang patut dicatat.

      Hapus
  4. Keren mba bersolo traveling sampe ke Jepang. Bujet sekitar berapaan nih yang musti disiapin mba ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu tergantung gaya hidup, Pak. Yang jelas, tiket masuk kuil atau museum per orang antara 400-600 yen. Tiket bus kota untuk sehari (one day pass) 600 yen per orang. One day pass untuk kereta metro Tokyo juga sama. Kalau pindah-pindah kota seperti saya, lebih hemat pakai JR Pass. Onigiri di Lawson atau Seven Eleven yang murah 130 yen. Air botolan di vending machine 130 yen, tapi air keran di dapur juga bisa diminum langsung kok. Paketan McDonald's antara 500-600 yen. Itu gambarannya.

      Hapus
  5. Waaah, enak sekali ke Jepang mbak *mupeng*.

    Aku pengen jg bisa ke sana, pengen berkunjung ke studio ghibli xD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya malah nggak sempat ke Ghibli. Pengin juga sih...

      Hapus
  6. Emang ga enak banget ya mba lagi enak2nya jalan eh kaki malah sakit, padahal banyak tempat2 instagramable di kyoto tuh spt di kuil fushimi inari & distrik Gion krn sering dipake utk syuting drama film jepang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahaha... ya gimana lagi. Untung pas di Fushimi Inari kakinya masih bener. Kalau enggak, nggak bakal naik gunung tuh.

      Hapus
  7. Duh Jepang 😍
    Negara impian saya banget. Kapan ya bisa main kesana?
    Btw disana ada binatang apa lagi mba? Kok cuma rusa yang ada fotonya. 😅

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, yang berkeliaran bebas di pinggir jalan cuma rusa. Kalau hewan lain, ya di kebun binatang. Hehehe...

      Hapus