2 Februari 2019


Tanggal 6 Januari 2019 yang lalu, saya ikut tour yang dilaksanakan oleh Wisata Kreatif Jakarta, yaitu keliling Kampung Tugu di daerah Semper Barat, Cilincing, Jakarta Utara. Kampung Tugu: nama yang beberapa kali saya dengar namun sebelumnya belum pernah saya datangi. Kampung Tugu adalah salah satu pemukiman penduduk tertua di bilangan Jakarta. Membaca sejarah Kampung Tugu berarti mengingat kembali sejarah Jakarta, dan sejarah Asia Tenggara.
Gereja Tugu, salah satu gereja tertua di Jakarta, yang terletak di Kampung Tugu.
Asal-usul nama “Kampung Tugu” sendiri sebetulnya kurang jelas. Namun bisa saja berasal dari Prasasti Tugu yang ditemukan di situ. Prasasti Tugu adalah prasasti Kerajaan Tarumanegara yang menjelaskan penggalian sungai untuk mencegah banjir. Prasasti ini diperkirakan dibuat di abad ke-5. Namun penduduk asli Kampung Tugu bukanlah keturunan Kerajaan Tarumanegara. Sejarah mereka justru lebih dekat dengan Portugis dan Belanda dibandingkan dengan salah satu kerajaan besar Nusantara ini.
Di tahun 1641 tentara Belanda berhasil mengalahkan tentara Portugis. Dengan demikian, berakhirlah kekuasaan Portugis di semenanjung Melaka. Budak dan pekerja dari tentara Portugis, yang terdiri dari keturunan Portugis dan keturunan negara-negara Afrika serta Asia, diambil oleh Belanda sebagai bukti kemenangan dan dibawa ke Batavia sebagai tawanan perang. Oleh Belanda, para tawanan ini ditawari kebebasan dengan syarat: berpindah agama, dari Katholik menjadi Kristen. Dan mereka kemudian disebut sebagai kaum Mardjikers, yaitu yang dimerdekakan. Mereka inilah nenek moyang warga Kampung Tugu.
Rumah tertua di Kampung Tugu, umurnya sudah 250 tahun.
Kaum Mardjikers kemudian menempati daerah yang sekarang disebut Cilincing, Jakarta Utara. Pada saat mereka pertama kali tiba, daerah sekitaran Cilincing adalah hutan. Mereka kemudian membuka lahan untuk tempat tinggal dan sawah. Untuk makan sehari-hari mereka juga menangkap ikan dan berburu celeng (babi hutan). Itulah sebabnya, sebenarnya makanan tradisional Kampung Tugu ada juga yang menggunakan olahan bagian-bagian kepala celeng. Sayangnya sekarang makanan itu sudah sangat jarang dibuat, karena memang sudah tidak mungkin berburu celeng lagi. Pepohonan sudah berganti menjadi tumpukan container dan truk-truk pelabuhan. Sedangkan sungai yang dulu merupakan jalur utama penghubung Kampung Tugu dan daerah pusat kota Batavia (sekarang daerah Kota), kini tinggal sungai kecil yang bau.
Di jaman pasca perang kemerdekaan, ada warga kampung Tugu yang masih diakui sebagai keturunan Portugis dan kemudian turut meninggalkan Indonesia. Warga yang tetap tinggal di Indonesia menyatakan diri tetap tunduk pada Pemerintahan Indonesia. Saat ini, keturunan kampung Tugu tersebar di banyak tempat: di sekitaran Cilincing, di area lain di Jakarta dan luar Jakarta, serta di luar negeri, termasuk di Belanda, Portugis, dan Suriname. Kampung Tugu sendiri diakui sebagai kantong kebudayaan Portugis oleh negara Portugis, dan ada beberapa acara penting di Kampung Tugu yang juga dihadiri oleh Duta Besar Portugis untuk Indonesia.
Kampung Tugu, bersebelahan dengan tempat penyimpanan container pelabuhan.
Kebudayaan asli Kampung Tugu memang sangat dekat dengan kebudayaan Portugis. Bahasa asli penduduk kampung Tugu sebenarnya adalah bahasa creole Portugis. Akan tetapi di jaman Belanda, penduduk Kampung Tugu yang ketahuan berbicara dalam bahasa Portugis akan dipenjara. Jadinya, saat ini penduduk Kampung Tugu hanya dapat mempelajari bahasa nenek moyang mereka dari lagu-lagu tradisional mereka yang dipelajari turun-temurun.
Musik khas Kampung Tugu adalah musik keroncong. Keroncong Betawi, begitu sering disebut, sebetulnya merupakan kelanjutan dari seni musik Fado, yang merupakan budaya Portugis-Arab. Saat dibawa ke Batavia, gaya musiknya disesuaikan dengan kebudayaan setempat. Alat musik khas keroncong adalah gitar kecil yang disebut dengan jitera. Ketika masih di Melaka, nenek moyang warga Kampung Tugu sudah membuat gitar untuk bermusik. Namun di Batavia, mereka menggunakan kayu dari pohon waru, dan gaya pembuatannya juga berubah disesuaikan dengan kondisi alam Pulau Jawa. Musik keroncong dari Kampung Tugu adalah musik asli Indonesia dan jitera juga tidak ada duanya di dunia ini.
Pembuatan alat musik keroncong, di markas grup keroncong Cafrinho.
Salah satu pusat kegiatan Kampung Tugu adalah Gereja Tugu, yang terletak di Jl. Raya Tugu no. 20, Semper Barat, Cilincing, Jakarta Utara. Gereja Tugu adalah salah satu gereja tertua di Jakarta, yang sudah berdiri dari tahun 1748. Di tahun 2018, gereja ini merayakan ulang tahun yang ke-270. Perayaan ulang tahun ini juga dihadiri oleh Xanana Gusmao dari Timor Leste.
Gereja Tugu ukurannya kecil jika dibandingkan dengan gereja-gereja modern. Bentuknya juga sederhana dibandingkan dengan gereja-gereja kuno lain, misalnya Gereja Immanuel di depan Stasiun Gambir. Namun gereja ini memiliki tempat di hati warga Kampung Tugu, karena gereja ini dibangun oleh nenek moyang mereka sendiri ketika pertama kali menempati daerah ini. Di halaman gereja ini terdapat kuburan warga Kampung Tugu, yang menjadi saksi bisu sejarah mereka.
Kampung Tugu sendiri sekarang hanya tinggal beberapa gang saja, karena sudah banyak tanah yang dijual atau disewakan untuk tempat parkir truk pelabuhan dan container. Rumahnya juga bervariasi, dari yang sudah lama sampai yang baru saja dibangun. Sebenarnya, daerah ini tidak ada bedanya dengan kampung lain di Jakarta. Hanya saja, warga Kampung Tugu biasa memasang tanda-tanda perayaan Kristen di depan rumah, seperti ucapan Selamat Natal ataupun hiasan lainnya.
Kue apem kinca, makanan khas Kampung Tugu.
Rumah tertua di Kampung Tugu adalah rumah yang sekarang didiami oleh keluarga Michels, dan menjadi markas Kerontjong Toegoe, sebuah kelompok musik keroncong di Kampung Tugu. Rumah yang sudah berumur 250 tahun ini terbuat dari kayu dan memang terlihat sudah tua. Pengunjung dapat masuk ke dalamnya dan melihat foto-foto keluarga Michels. Kalau beruntung, kita juga bisa melihat anak-anak berlatih seni keroncong di sini. Kelompok keroncong lain di kampung ini adalah Cafrinho yang dimotori oleh keluarga Quiko.
Kampung Tugu memiliki perayaan khas dan juga masakan khas, yang tidak dimiliki oleh warga lain di Jakarta. Untuk merayakan tahun baru, warga Kampung Tugu merayakan rabu-rabu dan juga mandi-mandi. Rabu-rabu adalah acara bernyanyi keroncong keliling kampung di tanggal 1 Januari. Sedangkan mandi-mandi adalah ritual saling mengoleskan bedak di muka sebagai tanda saling memaafkan, seminggu setelah tahun baru. Selain itu, di perayaan-perayaan besar mereka akan menghidangkan makanan khas Kampung Tugu seperti gado-gado siram tugu, kue pisang udang, kue apem kinca, dan kue ketan unti. Makanan khas ini cuma bisa dirasakan kalau kita mengikuti kegiatan kebudayaan di Kampung Tugu.
Diolesi bedak di acara mandi-mandi.
Untuk yang penasaran dengan Kampung Tugu, bisa saja mencoba berkunjung ke Gereja Tugu. Gereja ini dilewati angkot OK-5 yang melayani jurusan Semper - Rorotan. Dari sini kita bisa jalan-jalan di sekitar gereja dan melihat kondisi Kampung Tugu saat ini. Atau kalau ingin jalan-jalan sambil makan makanan khas setempat, bisa cek jadwal tour di www.wisatakreatifjakarta.com atau cek instagramnya @wisatakreatifjakarta .

56 Komentar:

  1. Dari semua yang diceritakan betapa menariknya kampung tugu ini, sayangnya sungainya yang begitu menyedihkan. Padahal sungai merupakan satu dari sekian bukti peradaban di suatu tempat. Semoga saja sungainya dapat berubah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, kalau bicara soal sungai di Jakarta, panjang ceritanya. Semoga masyarakat dan pemerintah semakin sadar untuk menjaga sungai di Jakarta ini.

      Hapus
  2. baru tau saya..ad kampung tugu...mksh info nya..mba

    BalasHapus
  3. duh mbaaak.. aku jadi salah fokus sama apemnya nih. kayaknya enak deh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, makanan khas kampung tugu ada banyak, Kak. Apemnya itu memang instagrammable banget.

      Hapus
  4. Ternyata ada jejak portugis di Jakarta yah.
    Nice artikel mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pastinya keturunan kampung di sini pada punya hidung yang mancung yah

      Hapus
    2. Ada yang iya, ada yang enggak. Udah campuran banget sih Pak.

      Hapus
  5. arsitektur rumah tuanya nggak khas Portugis ya, mbak?
    semacam rumah tua di kampung gitu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Walau ada darah Portugis, tapi mereka kan bekas tawanan miskin waktu mendirikan kampung Tugu. Nggak ada uang untuk membangun gedung indah. Bisanya ya cuma bikin rumah kayu biasa aja. Rumah kayu berukiran indah juga gak ada, lha jaman itu mereka sendiri juga nggak punya alat-alatnya.

      Hapus
  6. Sayang juga ya pada jaman kolonial dulu, penggunaan bahasa Portugis dilarang digunakan.
    Seandainya tetap digunakan sejak dari dulu, masyarakat Indonesia sekarang fasih menggunakan beragam bahasa asing.

    Kampung Tugu ini belum pernah kudatangi sewaktu dulu kerja di Jakarta.
    Cuma sering dengar lokasinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di Indonesia dan banyak negara, melarang satu kelompok minoritas menggunakan bahasanya itu sudah lazim kan. Itu salah satu pemaksaan akulturasi supaya rakyat tidak bisa meminta dukungan negara lain untuk memberontak atau menguasai negara.

      Hapus
    2. Padahal sayang sebenarnya kalau penerapannya seperti itu.


      Sekarang untuk dapat menguasai dengan baik tulisan dan pengucapan yang baik suatu bahasa asing saja perlu pendidikan khusus, setidaknya melalui lembaga kursus.

      Hapus
    3. Iya... sayang juga ya.

      Hapus
  7. Mbayangin kalau daerah Jakarta dulu masih penuh dengan hutan dan banyak hewan liar berkeliaran. Yah, susah sih. Karena Jakarta yang sering saya lihat adalah Jakarta yang sudah berubah jadi kota metropolitan yang penuh dengan gedung - gedung tinggi dan asap kendaraan.

    Wah, nenek moyang warga Kampung Tugu malah dari luar Indonesia, mbak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Nggak ngira kan, ternyata ada kampung Portugis di Jakarta.

      Hapus
  8. Wisata-wisata seperti ini yang mungkin tidak diprioritaskan namun menyimpan banyak sejarah ya Mba. Keren keren. Ih saya kira itu tadi bubur sum sum ternyata apem hehehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makanan di sini unik lho. Tapi memang tidak diproduksi masal karena yang bisa masaknya hanya sedikit orang.

      Hapus
  9. Saya jadi penasaran sama kue Apem nya itu lho mba. Jadi pengen coba. Btw, acara mandi-mandi bedaknya boleh juga tuh. Pasti seru banget yah bisa ngelakuin aktivitas menyenangkan kayak gitu. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Acara mandi-mandi tuh seru. Habis itu terus mandi ... membersihkan diri dari bedak.

      Hapus
  10. Wahhh mending langsunng ikut tour langsung aja deh, soalnya gak tau jalan di jakarta, menarik juga tuh ada tournya wuehgehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tour ini lumayan seru, programnya biasanya soal area bersejarah di Jakarta plus kulinernya. Recommended.

      Hapus
    2. Nahhh gini aja deh lebih seru, daripada nanti nyasar di jakarta kan wueheheh

      Hapus
  11. Infomatif, Kakak. Hehehe. Kue apem kinca-nya itu bikin ngilerrrrr ...

    BalasHapus
  12. Seumur umur tinggal di jakarta belum pernah singgah ke kampung tugu,padahal sering bgt mampir ke cilincing, tj periok, sunter,dll terus tertarik sama makanannya epem kinca sama pisang udang kayaknya enak tuh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kampung tugu jadi tempat wisata juga belum lama kok. Padahal warisan Portugis di Indonesia nggak banyak lho. Tapi sepertinya kampung ini baru populer belakangan ini.

      Hapus
    2. Oalah pantesan ya mba saya juga baru tau dari mba hehe

      Hapus
  13. Bangunannya berasa ngingetin saya ke jaman kolonial, itu rumah2 tempo doeloe di Ambon juga gitu atapnya mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin itu ciri bangunan era Hindia Belanda ya?

      Hapus
  14. Wop ternyata angkot bisa juga kesini, jadi mudah deh akses kesana..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya... ada angkot yang lewat di situ. Tapi nggak terlalu banyak.

      Hapus
  15. Woaahh, prasasti dari Abad ke-5, keren sekalii..

    Keren sekali ya ada semacam negeri di dalam negeri.. hahaha, apalagi sampai didatangin sama dubes portugis ini kampung, keren!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau negeri dalam negeri, ya nggak juga sih. Kampung kuno, kalau menurut saya.

      Hapus
    2. Iya Mbak, istilah aja sih, karena dikelilingi sama budaya Indonesia, tiba-tiba ada 1 daerah yang budaya portugisnya kental sekali gitu mbak.. Hahaha..

      Hapus
    3. Ahaha, iya ... Saya juga baru tahu ternyata ada kantong kebudayaan Portugis yang diakui di negara asalnya di Jakarta ini. Nggak nyangka juga.

      Hapus
  16. Gak terbayang dulu di sana banyak celeng ;p lezat itu kalau dibakar hahahaha
    Sejarah yang jarang didengar, bahwa di Jakarta pernah ada budaya eks Portugis. Gereja apa yang dimaksud Gereja Tugu itu, Gereja Kristen atau Katolik kah?

    Saya juga baru tahu, Belanda saat itu menerapkan murtad berjamaah untuk bayaran sebuah kemerdekaan. Heran kadang, sesama satu payung iman saja koq bisa seperti itu ya dulu, pantas saja sampai saat ini hal berkaitan dengan keyakinan selalu saja jadi polemik.

    Wisata sejarah yang menarik untuk dibagikan ;p jadi nambah pengetahuan sejarah budaya dan manusia.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kepercayaan itu senjata politik yang sangat penting, lho. Jelas, kan.

      Hapus
  17. bertahun2 bekerja di jkt baru tau ada kampung ini mbak.tks sharringnya yaa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya tahunya juga baru-baru ini, kok Kak.

      Hapus
  18. Menarik ya mbak, bisa ikut tour seperti ini. jadi tahu sejarah dan budaya lokal. Apalagi kalau bertepatan dengan perayaannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, untung banget dapat infonya nggak telat.

      Hapus
  19. Udah lama tinggal di Jakarta tapi aku baru tau ada kampung Tugu ini, dan cerita sejarahnya.. seruuu.. klo ikut wisata kreatif nya lagi di tempat lain, jangan lupa posting ceritain lagi ya mba.. seru nyimak yg kaya gini, 😁

    BalasHapus
  20. Ih seru ya ada acara Rabu-rabu dan Mandi-mandi ciri khasnya. Seru juga ya bedakin muka sampai kayak mau main lenong gitu hehehe. Wah, kita mesti tau budaya semacam ini nih. Makanannya juga enak2 udah jarang eksis ya kecuali di perayaan hari2 tertentu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh iya, makanannya enak-enak. Tapi yang bisa masaknya tinggal sedikit.

      Hapus
  21. Waahh asyik banget mba, bisa keliling2 kampung penuh sejarah.
    Betewe itu semacam bedak dingin aka masker ya mba hihihi

    Ternyata di balik megahnya Jakarta, masih banyak kampung-kampung kayak gini ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya... itu bedak dingin. Nggak tahu panitianya nyetok berapa kaleng.

      Hapus
  22. Sebuah sejarah yang panjang ya mbak. Dan saya sangat tertarik banget setelah membaca tulisan ini..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jakarta ternyata punya banyak cerita.

      Hapus
  23. Jakarta itu benar-benar diverse ya! Nggak cuma Little Tokyo di Blok M, juga ada kampung Portugis di Kampung Tugu yang nggak dimiliki ibukota Asia Tenggara yang lain. Andai saja kawasan ini ditata dan dipromosikan, niscaya Kampung Tugu akan menjadi salah satu daya tarik wisata sejarah di Jakarta.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya... sayang sekali promosi wisatanya masih minim.

      Hapus
  24. Udah lama ga makan apem kinca hehe enak kan tuh. Btw seru juga ada acara rabu-rabu dan mandi-mandi. Lucu pastinya ya jadi belepotan putih2 begitu. Menyenangkan banget mbak bisa main2 ke Kampung Tugu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau pas nggak ada acara sih, kampungnya sama seperti kampung lain di Jakarta. Tapi acara mandi-mandi itu seru banget.

      Hapus