23 Februari 2019

Jalur Tanah Abang – Rangkasbitung saat ini merupakan jalur kereta terpanjang untuk Commuter Line atau KRL (Kereta Rel Listrik) yang beroperasi di Jakarta. Total jarak yang ditempuh sekali jalan adalah 123,62 km. Jalur ini mulai beroperasi sejak tahun 2017, menggantikan kereta biasa jurusan Stasiun Angke – Rangkasbitung. Dengan adanya jalur Commuter Line dari/ke Rangkasbitung, maka orang-orang dari Rangkasbitung dan sekitarnya akan lebih mudah menjangkau berbagai tempat tujuan di Jakarta, karena kini jalur kereta mereka terintegrasi dengan jalur Commuter Line lain yang melayani penumpang sampai ke arah Bogor dan Bekasi.
Stasiun kereta api Rangkasbitung.
Bulan November yang lalu, saya dan ibu saya sengaja mencoba naik kereta tujuan Rangkasbitung ini. Kami naik kereta dari Tanah Abang pagi-pagi, sekitar jam 8 pagi. Kebetulan, kami berdua sama-sama belum pernah pergi ke Rangkasbitung. Untuk jalur tujuan ujung barat ini, stasiun paling jauh yang pernah saya capai sebelumnya hanya Stasiun Maja, itupun karena penasaran saja.
Oh ya, sebetulnya, saya sudah tahu ada jalur jurusan Rangkasbitung ini sejak pertama kali dibuka, lho. Waktu itu saya sudah sempat berkunjung ke Stasiun Angke yang baru saja dibuka untuk Commuter Line, bersamaan dengan dioperasikannya kereta arah Rangkasbitung ini. Akan tetapi, memang baru tahun kemarin saya berkesempatan mencoba kereta tujuan Rangkasbitung ini.
Jangan pernah berharap mendapati kereta jalur Rangkasbitung sepi ya. Jalur ini termasuk jalur padat, yang gerbongnya selalu penuh atau hampir penuh setiap kali akan berangkat dari Stasiun Tanah Abang. Dan, kereta ini akan terus penuh sampai dengan Serpong. Setelah Serpong, jumlah penumpangnya berkurang cukup banyak. Kemungkinan, dengan bertambahnya perumahan baru di sekitar Parung Panjang, mungkin jalur ini akan menjadi jalur yang semakin padat di masa yang akan datang.
Karena jalur perjalanan ini cukup jauh, maka pemandangan yang tersaji dari awal hingga akhir perjalanan cukup beragam. Dari Tanah Abang sampai sekitar Sudimara pemandangannya perumahan dan kampung perkotaan. Habis itu, mulai ada tanah kosong, pepohonan, dan sawah. Begitu melewati daerah Serpong, kita akan melihat hamparan sawah luas dan pemandangan alam yang hijau. Lama perjalanan hampir dua jam, ya. Dan ada kemungkinan berdiri selama itu, lho. Jadi melihat pemandangan di luar itu menjadi distraksi yang bagus supaya tidak merasakan pegalnya kaki.
Sekitar jam sepuluh kurang, kami tiba di stasiun Rangkasbitung. Stasiun ini sebetulnya kecil, tapi padat banget. Penumpang hilir mudik, bahkan kadang berebutan tempat di kereta. Walau kecil, fasilitasnya lengkap, lho. Jelas ada mushola dan juga kamar kecil. Kalau haus atau lapar, ada restoran cepat saji CFC dan minimarket. Lumayan, kan.
Stasiun Rangkasbitung letaknya persis di belakang pasar. Jadi, keluar dari stasiun, suasananya nggak kalah sumpek dengan di dalam stasiun. Ada angkot yang lewat di depan stasiun, tapi saya kurang tahu jalurnya. Secara umum, kalau berminat untuk jalan-jalan di sekitar Rangkasbitung, mendingan jalan kaki dulu ke arah jalan raya sebelum memilih angkot. Jalan raya tempatnya nggak jauh, tapi mungkin tidak terlihat dari stasiun karena jalan yang membawa kita ke sana padat banget sehingga jarak pandangnya minimal.
Nah, yang berminta untuk ke Rangkasbitung dari Jakarta dengan Commuter Line, jangan lupa untuk jaga diri. Isi perut dulu sebelum berangkat biar nggak capek kalau harus berdiri selama perjalanan. Waspada juga, soalnya kita semua tahu daerah Tanah Abang selalu rawan copet. Untuk yang mau tahu tempat wisata apa yang dikunjungi di tengah kota Rangkasbitung, bisa lihat postingan berikutnya tentang nampak tilas jejak Multatuli.

25 Komentar:

  1. Karena saya bukan orang Jakarta dan Sekitar, saya menunggu tulisan berukutnya tentang tempat wisatanya mbak.. Menarik niihh...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rangkasbitung punya museum Multatuli yang merupakan salah satu tempat wisatanya. Masih baru sih. Tunggu artikelnya minggu depan ya. :)

      Hapus
  2. Saya selalu penasaran naik commuter line itu rasanya kaya apa haha
    Saya pernah beberapa kali naik kereta jarak dekat sama jarak jauh, tapi apa kecepatannya sama ketepatan waktunya apa sama mbak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang jelas, semakin jauh jaraknya, ya semakin lama waktu tempuhnya ya. Kalau menurut saya sih, kecepatan kereta commuter line ya segitu-gitu aja. Nggak pernah ngukur, sih.

      Hapus
  3. Pernah naik komuter line waktu tinggal di jkt tapi ga pernah sendiri musti ada temen, takut kena jambret dan juga ga tau kalo turunnya di peron mana soalnya pernah waktu SMA salah turun dari pintu krl paling belakang malah gak kedapetan peron jadi melompatlah diriku, kaki langsung sakit deh sebel banget

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aduh, pasti sakit tuh. Iya, kalau turun di stasiun yang kita nggak kenal, kadang-kadang kena zonk.

      Hapus
  4. Saya pernah naik KRL dari Pasar Senen ke stasiun di daerah Bekasi(tidak tahu namanya)...:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, arah Bekasi ada beberapa stasiun, ya... Itu jalur padat, tuh.

      Hapus
  5. Wahhh sudah lama gak naik kereta, dalam seumur hidup baru 2 kali naik kereta api, perjalanan yang kulakukan kebanyakan touring sendiri menjelajah Indonesia ini, mulai dari berkendara motor sampai minta boncengan mobil whahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahaha... saya sih, memang suka naik kereta.

      Hapus
  6. Lho mba udah balik dari Jepun yah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sudah, Pak... habis ini cerita Jepangnya tinggal sisa-sisa perjalanan saja.

      Hapus
  7. Beberapa kali ke Jakarta belum pernah nyoba naik KRL karena sering dianter sama keluarga. Mungkin lain kali harus berani blusukan biar terasa jalan-jalannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Kereta semakin lama semakin bagus, kok.

      Hapus
  8. Wah, aku belum pernah muter2in daerah sana, mbak :) Ngeri juga kalau sendirian wkwkwkwkwk.... Paling naik CL sekitar Lenteng Agung ke Tebet dll, ke Bekasi pun baru sekali dan rasanya...jauuuuuuuuuhhh haha. Tq infonya, mb Dyah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bekasi dan Rangkasbitung memang jauh, sih...

      Hapus
  9. Penasaran sama Museum Multatuli-nya, Kak. Namanya unik ya. Membaca ini jadi ingat masa-masa dulu waktu ke Jakarta hahaha :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waktu di Jakarta, sering naik KRL juga ya?

      Hapus
  10. jalur ini padet banget emang,, dulu pernah naik di jam pulang kantor pula,, ampuuun..

    -Traveler Paruh Waktu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahahaha... naik kereta setiap jam pulang kantor, bisa bikin gampang sakit darah tinggi.

      Hapus
  11. Wajar kalo rame, soalnya deket sama pasar. Kayak stasiun Cikarang yang deket sama pasar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener. Memang jaman dulu stasiun dibangun di dekat pasar. Untuk mempermudah bisnis. (Atau kebalik, ya? pasar muncul di dekat stasiun? Hmm ...)

      Hapus
  12. rangkasbitung ya. beberapa x berencana krl an kesana gak jadi2.selalu pakai moda transportasi lain padahal mayan sering kesana hehe.next harus dicoba ini.makasih inpohnya ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Kak. Bolehlah kali-kali cobain.

      Hapus