15 Februari 2020

Sebelumnya saya pernah membahas tentang M Bloc, yang merupakan bagian dari program optimalisasi asset Perum Peruri. Gudang yang sudah tak terpakai dijadikan tempat nongkrong dan kegiatan seni. Nah, sepertinya sekarang semakin banyak optimalisasi aset pemerintah, baik milik Pemerintah Daerah, BUMN, ataupun Pemerintah Pusat. Yang terbaru adalah Thamrin 10 Food & Creative Park, yaitu tempat makan dan nongkrong terbuka yang letaknya persis di pingir Jl. M.H. Thamrin.
Tadinya areal ini adalah tempat parkir. Sewaktu saya lewat di depannya di bulan November, memang ada pengumuman bahwa tempat parkir ini akan tutup dan pelanggan diminta mencari tempat parkir lain. Tapi tentunya saya waktu itu tidak tahu akan diubah menjadi apa lahan parkir ini. Tadinya saya kira akan dijadikan bangunan perkantoran. Lumayan heran juga ketika awal Januari saya mendengar bahwa tempat ini sudah diubah menjadi areal pujasera sejak tanggal 21 Desember 2019.
Begitu masuk area Thamrin 10, langsung disambut tulisan besar ini.

Cara menuju ke Thamrin 10 Food & Creative Park
Thamrin 10 Food & Creative Park terletak di Jl. M.H.Thamrin no 10, Jakarta. Posisinya di depan Gedung BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) / Kementerian Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi. Sedangkan di sebelah Thamrin 10 adalah Wisma Mandiri (kantor Bank Syariah Mandiri). Tidak akan sulit mencari tempat ini, karena terlihat jelas dari jalan raya. (Ya iya, lah. Di antara gedung-gedung tinggi ada ruang terbuka dengan tenda-tenda. Mencolok banget kan?)
Untuk datang kemari, bisa naik bus Transjakarta. Kalau naiknya BRT (Bus Rapid Transit) alias bus yang lewat di jalur busway, maka turunnya di halte busway Sarinah atau halte busway Bank Indonesia. Posisi pujasera Thamrin 10 persis di tengah kedua halte ini. Kalau naiknya bus non-BRT, alias feeder busway atau bus Transjakarta yang lewat pinggir jalan raya, bisa turun persis di depan Thamrin 10. Bilang saja mau turun di Thamrin 10, sebelumnya hotel Sari Pan Pacific.

Nyobain makanan apa saja?
Kalau sudah tahu caranya datang ke sini, sekarang saatnya lihat ada apa di Thamrin 10. Saya datang ke mari di pertengahan bulan Januari 2020. Waktu itu hari Sabtu, kira-kira jam satu siang. Tempat ini terlihat lengang, meskipun mayoritas penjual tetap buka lapak. Saya yakin di hari-hari kerja tempat ini pasti penuh, apalagi di jam makan siang. Akan tetapi area Thamrin di hari Sabtu memang relatif sepi. (Gedung-gedung di sekitar sini adalah gedung instansi pemerintahan dan perkantoran yang pegawainya jarang masuk di hari Sabtu.) Jadi tidak heran kalau saya bisa lenggang kangkung memeriksa pilihan makanan yang ada tanpa terganggu pengunjung lain.
Menurut saya kebanyakan makanan yang dijual di sini adalah minuman kekinian dan camilan. Ada minuman boba, susu, kopi, juga es krim. Tapi untuk yang ingin makan kenyang, jangan khawatir. Di sini ada penjual variasi nasi goreng, mie, bakso, sate, gudeg, nasi kapau, nasi Bali, dan juga warteg. Waktu saya datang kemari, pilihan saya jatuh pada kios Combrang, yang menjual nasi lidah sambal kecombrang. Kebetulan lidah sapi termasuk makanan favorit saya. Untuk minumnya, saya memesan es dawet ireng dari kios dawet ireng Dolphin. Es dawet ireng adalah minuman khas sekitaran Kutoarjo. Sebetulnya tadinya pengin mencoba salah satu minuman kekinian di situ, tapi kok sudah kenyang ...
Ada banyak pilihan makanan, lho.

Fasilitas lainnya
Thamrin 10 adalah areal terbuka. Kios-kiosnya berjajar di pinggir areal, dan meja-meja makan ditata di antara kios-kios tersebut. Meja-mejayang ada dilindungi oleh tenda-tenda transparan yang diharapkan dapat menjaga ketenangan makan pengunjung di saat gerimis. (Tapi kalau hujan deras, kayaknya tendanya mengkhawatirkan banget.) Pada dasarnya tempat ini adalah tempat terbuka yang lebih cocok dinikmati di sore hari (setelah cuaca tidak terlalu panas) dan tidak di waktu hujan. Selain meja makan di bawah tenda transparan, ada juga meja-meja di bawah payung taman dan juga tempat duduk di atas kios-kios. (Kios di sini banyak yang bentuknya balok. Bagian atasnya datar, jadi bisa dijadikan tempat nongkrong juga.)
Di tengah areal Thamrin 10 terdapat areal panggung dimana live shows dapat digelar di situ. Kebetulan waktu saya datang tidak ada live music, namun musik yang menggema sampai ke seluruh sudut area membuat saya tahu bahwa sound system yang dipakai keren. Suara yang dihasilkan cukup kencang, dan suara bassnya tidak terlalu mengganggu.
Tentunya, tempat ini memiliki fasilitas umum seperti toilet dan wastafel. Tempat sampah juga ada di mana-mana, jadi jangan malas buang sampah ya. Di Thamrin 10 tidak ada tempat parkir. Buat yang datang dengan kendaraan pribadi, sebaiknya parkir di Sarinah atau di Skyline Building/Djakarta Theater. Tinggal jalan kaki sedikit, kok.
Seluruh pembayaran di Thamrin 10 harus menggunakan Jakcard. Kartu prabayar milik Bank DKI ini sepertinya memang dijadikan moda pembayaran di berbagai tempat wisata milik pemerintah daerah Jakarta. Selain sebagai alat pembayaran di Thamrin 10, Jakcard juga bisa dipakai untuk tap in di halte busway (halte BRT), tap in di stasiun MRT dan stasiun LRT, serta masuk ke Monas, kebun binatang Ragunan, dan museum-museum milik Pemda DKI. Buat yang belum punya kartu Jakcard, bisa beli di kios Jakcard di Thamrin 10 dengan harga Rp 20.000,- tanpa saldo.
Ada juga kursi-kursi di bawah payung taman.

Gimana, penasaran dengan Thamrin 10? Yuk, jalan-jalan sambil kulineran di Thamrin 10 Food & Creative Park.

6 Komentar:

  1. Mbakkkk

    Udah lama banget gak main ke sini yaolo....

    Lu mah, tau aja deh tempat makan baru sama rute buswaynya. Lu pegawe busway yah?

    Wkwkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah, gue nggak pernah diterima jadi pegawai Transjakarta nih...

      Hapus
  2. mana nih mba foto makanan nya hehe. masa berkunjung aja nih tanpa makan makan hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahaha... berhubung ke sana udah laper banget, lupa foto makanannya.

      Hapus