7 Maret 2020

Petra adalah salah satu warisan dunia menurut UNESCO, yang dipercaya merupakan peninggalan bangsa Nabatea sejak sebelum masehi. Petra terletak di kerajaan Yordania. Negara Yordania adalah salah satu negara yang berada di semenanjung Arab. Kebetulan saya sempat ikut tour ke negara ini dan mengunjungi warisan budayanya yang terkenal sedunia, yaitu Petra.
Bangunan paling terkenal di Petra, Al-Khazneh.
Perjalanan dari hotel di tepi Laut Mati menuju Petra melewati padang pasir dan bukit-bukit yang tandus. Hanya kadang-kadang kami melewati tanah pertanian dan perkotaan yang relatif sepi. Hiburan kami sepanjang lima setengah jam perjalanan adalah sebuah toko oleh-oleh yang menjual teh lokal dan istirahat di rumah makan yang terletak di kaki perbukitan yang dekat dengan Petra.
Toko oleh-oleh yang kami lewati, Midway Castle, menjual berbagai kerajinan Yordania, termasuk berbagai produk mozaik batu, lampu stained glass warna-warni, karpet, dan berbagai produk standar oleh-oleh seperti dompet kain, kaos, hiasan magnet, dan gantungan kunci. Yang istimewa dari seluruh barang-barang yang dipajang di situ adalah hasil mozaik batu. Bukit-bukit batu di Yordania berwarna warni, dari kemerahan hingga kuning, sehingga bisa dipotong-potong dan dijadikan mozaik yang cantik. Hal lain yang menyenangkan adalah toko tersebut menyediakan kafe yang menjual teh lokal.
Rumah makan yang kami datangi, Petra Magic Restaurant, cukup dekat dengan sebuah sumber mata air yang dipercaya merupakan tempat Nabi Musa memukulkan tongkatnya untuk mengeluarkan air bagi pengikutnya yang kehausan waktu itu. Benar tidaknya, saya tidak bisa menilai. Tapi yang jelas, mata air di tengah perbukitan tandus memang suatu berkat bagi orang-orang yang berada di dekat situ. Penduduk setempat memanfaatkan air dari sumber itu untuk kegiatan sehari-hari.
Dalam perjalanan menuju Petra.
Foto sebuah kota, diambil dari balkon rumah makan.
Petra yang dikenal orang saat ini adalah sisa-sisa kota bangsa Nabatea yang dipahat di perbukitan batu karang di daerah Jabal Al-Madbah di daerah selatan negara Yordania. Bangsa Nabatea adalah bangsa Arab yang bermigrasi ke daerah Yordania dan Siria di sekitar abad ke-6 hingga abad ke-4 sebelum masehi. Mereka mendirikan jaringan dagang yang solid dan disertai dengan pertanian intensif di sekitar oasis yang mereka kuasai. Ibu kota kerajaan Nabatea adalah Raqmu, yang saat ini lebih dikenal oleh kita sebagai Petra.
Petra dikagumi turis karena di sini terdapat bangunan-bangunan yang dipahat pada bukit-bukit karang. Tidak seperti bangunan modern yang dibangun dari batu-batu atau semen yang ditumpuk, bangsa Nabatean membangun kuil dan bangunan penting di Petra dengan cara melubangi dan mengukir bukit karang. Tinggal di gua-gua di perbukitan karang, merenovasi gua dan menjadikannya lebih layak untuk tinggal, serta mengukir bukit untuk dijadikan tempat tinggal atau tempat ibadah adalah hal yang umum dilakukan oleh orang-orang jaman dahulu di daerah utara jazirah Arab dan sekitarnya. (Hal yang sama saya lihat juga di kota-kota kuno di sekitar Yerusalem, Kanaan, dan Qumran).
Petra adalah reruntuhan ibu kota. Jadi, Petra bukan hanya satu bangunan saja, ya. Kompleks reruntuhan ini luasnya 264 kilometer persegi, meliputi perbukitan batu karang yang dihiasi dengan sisa-sisa bangunan secara sporadis. Untuk bisa mengunjungi seluruh bangunan yang ada, katanya dibutuhkan sekitar tiga hari. Petra adalah dataran tinggi di atas perbukitan, jadi jalan di sini bisa mendaki. Di musim hujan, banyak jalan setapak yang menjadi licin bagi penjelajah.
Jalan kaki menuju Al-Khazneh, Petra.
Bangunan lain yang dilewati di pinggir jalan.
Pengelola tempat wisata memberikan informasi mengenai trayek pejalan kaki yang dapat dilalui oleh umum di papan pengumuman. Ada 8 trayek atau trail yang dapat dilalui, namun hanya satu trail yang dapat dilewati tanpa guide resmi, yaitu trail utama yang melewati Al-Khazneh atau Treasury. Trail perjalanan yang lain lebih sulit dan medannya mendaki, selain itu area yang jauh relatif sepi, sehingga orang-orang yang tidak berpengalaman bisa tersesat.
Berhubung tour kami pesertanya bervariasi, maka kami hanya berjalan kaki sampai ke Al-Khazneh saja. Al-Khazheh adalah bangunan yang paling populer dari seluruh Petra. Kalau kita melihat iklan pariwisata Yordania atau melihat artikel mengenai Petra, maka gambar yang pasti ditampilkan adalah gambar Al-Khazneh ini.Dalam bahasa Inggris tempat ini disebut sebagai Treasury, karena dulunya orang menganggap perampok menyembunyikan harta di dalam sini. Akan tetapi, para arkeolog menganggap bahwa bangunan ini sebenarnya adalah mausoleum atau kuburan. Ukiran yang ada di tembok menunjukkan gambaran dunia setelah kematian menurut kepercayaan Nabatea.
Turis biasa hanya bisa berfoto-foto di depan Al-Khazneh karena tidak sembarang orang bisa masuk ke dalam sini. Hal ini mungkin diatur untuk mencegah vandalisme dan kerusakan bagian dalam bangunan. Di sekitar Al-Khazneh terdapat beberapa bangunan yang juga terukir pada dinding bukit, namun sudah rusak.
Sebetulnya, trail utama ini bisa membawa kita ke sisa-sisa pusat kota Petra. Namun, karena ketika kami datang sudah cukup sore, kami hanya boleh berjalan sampai ke Al-Khazneh saja untuk foto-foto dan kemudian kembali ke bus. Selain itu, ada peserta yang sudah cukup berumur dan mudah capek. Dari parkiran bus ke Al-Khazneh, disediakan golf cart dan kuda tunggang bagi mereka yang tidak dapat berjalan kaki. Namun dari Al-Khazneh ke pusat kota Petra pengunjung harus jalan kaki. Umumnya, rombongan wisata ke Petra hanya berhenti sampai di Al-Khazneh saja.
Pemandangan saat berjalan kaki di trail utama di Petra.
Lembah yang diapit tebing tinggi di Petra.
Jalan kaki dari tempat parkir ke Al-Khazneh menghabiskan waktu satu jam. Jadi, bolak-balik sekitar 2 jam. Itu jalan santai namun hampir-hampir tanpa istirahat ya. Kalau pakai acara duduk-duduk di pinggir jalan atau mampir ke gua-gua dan naik tangga ke atas tebing yang dilewati, ya bisa setengah jam lebih sekali jalan. Menurut papan petunjuk, kalau mau berjalan kaki sampai ke pusat kota Petra (tempat Great Temple berada), sekali perjalanan dengan jalan kaki menghabiskan waktu sekitar 2 jam. Bolak balik ke tempat parkiran bus jadi 4 jam. Dengan catatan, itu mungkin dengan kecepatan jalan orang lokal ya.
Sepanjang jalan kaki dari tempat parkir ke Al-Khazneh, saya dapat melihat banyak bangunan yang terukir di dinding bukit dan sudah rusak. Sangat mungkin bangunan-bangunan tersebut dulunya dipakai dan dihormati oleh orang, namun sekarang sudah rusak karena erosi angin dan air saat banjir. Jalan yang kami lalui juga melewati lembah yang cantik, karena kiri-kanannya adalah tebing batu karang yang berwarna merah muda atau kekuningan. Kadang-kadang kami melihat ukiran yang sudah tidak jelas lagi bentuk aslinya, mungkin sudah aus atau dirusak oleh penyerang di jaman dahulu kala.
Untuk yang mau berkunjung ke Petra, jangan lupa pakai sunblock dan topi, ya. Matahari bersinar terang di sini. Jaket juga perlu, karena berangin. Berhubung saya hanya punya waktu terbatas waktu di sini, saya tidak banyak menjelajahi bangunan-bangunan dan mempelajari detil-detil ukiran yang ada. Tapi paling tidak, saya bersukur saya pernah melihat salah satu peninggalan budaya yang besar di jaman dahulu, dari bangsa Nabatea.

15 Komentar:

  1. Keren banget mbak bisa liat Petra secara langsung. 👍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah berkunjung.

      Hapus
    2. monggo mas rudi sbg backpacker sejarah hehe. semoga bisa segera juga

      Hapus
  2. Wow, itu bagaimana caranya orang jaman dahulu sebelum Masehi melubangi batu karang untuk dijadikan tempat tinggal ya, ngga terbayang sulitnya. Makanya bisa bertahan selama dua ribu tahun lebih.

    Lihat foto pertama, itu sepertinya ada kincir angin pembangkit listrik ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya... Yordania tidak punya tambang minyak atau batu bara, jadi pembangkit listrik tenaga angin adalah salah satu alternatif yang mereka gunakan.

      Hapus
    2. Oh, padahal Yordania itu di timur tengah ya, kirain semua negara timur tengah ada minyaknya.😊

      Hapus
    3. Wakakak... enggak, Kak.

      Hapus
  3. eksotis yah mba, apalagi bukit2 batunya. Cmn saya kayaknya gak kuat tuh kesana. Gak kuat udara panas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, Bang Day bisanya tempat-tempat yang bersalju, ya. Saya malahan nggak kuat dingin. Makanya lebih suka tempat-tempat yang hangat.

      Hapus
  4. sangat artistik mba, keren banget itu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, nggak kebayang gimana mereka dulu mengukir batu karang dengan alat sederhana.

      Hapus
  5. mba dee.. ditunggu apdet nya ya hehe

    BalasHapus
  6. Hi mbak, keren banget ya petra, btw selain petra apa lagi mbak wisata di yordania? Oya mbak, ada tips traveling nggak di tengah wabah seperti saat ini? Thx

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahaha ... ini jalan-jalan di akhir tahun lalu. Jadi ini adalah kisah sebelum Covid-19 merebak. Kalau sekarang, kayaknya udah susah ke sana deh.

      Hapus