10 Desember 2022

 

Jaringan jembatan di Pantai Pasir Kadilangu.

Beberapa minggu yang lalu, kami sekeluarga jalan-jalan ke pantai pasir Kadilangu. Lokasinya di kecamatan Temon, Kabupaten Kulon Progo. Tempatnya di area paling barat provinsi DI Yogyakarta, dan sangat dekat dengan Bandara Internasional Yogyakarta.

Walaupun namanya pantai pasir, namun tempat wisata utama di sini justru bukan pantai yang berpasir. Tempat wisata ini lebih dikenal sebagai tempat foto-foto di jembatan bambu di area mangrove. Tentunya memang ada pantainya yang berpasir. Lebih banyak orang foto-foto di area jembatan bambunya dibandingkan dengan di pantainya.

Area mangrovenya lumayan luas juga. Dan di area mangrove inilah dibangun jaringan jembatan bambu yang diselingi spot-spot foto yang menarik. Dari pertama kali masuk saja sudah kebayang pasti fokus wisata di sini adalah lokasi foto yang instagrammable. Dari tempat jualan tiket masuk, kita sudah diarahkan untuk berjalan melewati jembatan bambu yang tinggi dan dicat berwarna-warni. Berjalan sebentar dari situ, sudah terlihat di kejauhan ada bangunan-bangunan bambu tinggi yang bentuknya menarik. (Setelah lebih dekat, baru ketahuan bangunan tinggi itu semua jembatan juga yang menjulang menjadi seperti menara.)

Di awal perjalanan, kami melewati area tambak-tambak udang. Kolam-kolam luas yang diberi pelapis plastik ini memang bukan obyek foto yang menarik. Namun mungkin di waktu panen kegiatan di sini bisa menjadi obyek foto yang menarik juga. Nantinya setelah melewati area mangrove, akan ada lagi tambak udang sebelum berjalan ke arah pantai.

Tapi sebelum tiba di area mangrove, kami melewati area pembibitan pohon bakau. Mangrove adalah sekumpulan pepohonan yang tahan garam dan umumnya berada di area rawa-rawa air payau, yaitu tempat pertemuan air laut dan sungai. Kebetulan area pantai pasir Kadilangu memang persis di tepi muara sungai Bogowonto. Untuk pantai pasir Kadilangu, area mangrove ditumbuhi oleh pohon bakau yang memang merupakan salah satu spesies utama mangrove di Indonesia. Area mangrove di sini nampaknya merupakan hasil pengembangan manajemen, dan area pembibitan tentunya tempat mempersiapkan pohon mangrove baru untuk revitalisasi.

Bakau kecil yang sedang tumbuh di kawasan mangrove.

Waktu kami datang kemari, pihak manajemen Pantai Pasir Kadilangu sedang berbenah diri. Mungkin untuk persiapan waktu Nataru. Bibit-bibit bakau ditumpuk-tumpuk di dekat jembatan dan nampaknya sedang ada persiapan untuk penanaman. Kalau kami ke sini di awal tahun depan, mungkin mangrovenya akan lebih hijau dan rapat.

Ya, memang waktu kami berkunjung kemari, area mangrovenya terkesan kurang lebat. Ada beberapa tempat yang masih belum rimbun. Jadinya di beberapa tempat lebih berasa seperti berjalan di atas rawa-rawa biasa saja. Padahal kalau rimbun, akan terasa lebih refreshing untuk jalan-jalan di sini. Oh ya, ada juga beberapa tempat yang bakaunya masih pendek. Kayaknya harus menungu beberapa bulan lagi untuk bisa melihat hutan bakau yang lebih rimbun.

Tapi buat pengunjung yang lebih fokus untuk mencari tempat foto-foto, mungkin akan lebih peduli dengan spot-spot foto yang terletak di atas jaringan jembatan bambu. Ada spot foto yang bentuknya seperti sangkar burung, ada yang dihiasi bentuk hati, ada yang dibuat seperti ayunan, dan juga ada yang berupa bangunan-bangunan tinggi. Ada juga papan-papan dengan tulisan yang mengundang perhatian. Waktu kami berkunjung di sini, kebetulan hampir semua spot foto sedang diperbaiki. Ada beberapa tempat yang terlihat terbengkalai dan hampir rusak, tapi mungkin itu hanya menunggu giliran untuk diperbaiki oleh pekerja yang sedang ada di sana.

Karena kebanyakan spot foto sedang dalam perbaikan, kami lebih banyak jalan-jalan saja di jaringan jembatan-jembatan area mangrove tersebut. Bahkan jembatan yang ke arah pantai pasir juga sedang dalam perbaikan sehingga kami tidak ke pantainya. Walau area pantai pasirnya relatif sempit, sebetulnya sayang juga nggak bisa sampai ke sana.

Sedang ada perbaikan di sana-sini.

Salah satu tempat spot foto yang sudah dirapikan terlebih dahulu adalah tulisan “Kulon Progo”. Paling nggak masih ada tempat foto dimana kami bisa foto-foto bersama. Jembatan ke arah bentuk seperti menara eiffel sedang diperbaiki juga, jadi kami tidak bisa ke sana. Sedangkan jembatan ke arah gardu pandang tidak sedang diperbaiki, akan tetapi terlihat sangat tua dan sangat curam. Karena di rombongan kami ada yang sudah lanjut usia, kami mengurungkan niat untuk naik ke atas.

Sebetulnya di sini juga ada jasa sewa kapal untuk berwisata menyusuri kanal yang memotong area mangrove. Kanal ini adalah cabang dari Sungai Bogowonto yang mungkin dimaksudkan untuk membantu irigasi tambak di sepanjang pantai. Tapi mungkin karena pengunjungnya sedikit sekali, tidak ada kapal yang beroperasi.

Kalau mau berkunjung kemari, sebaiknya pakai baju yang nyaman dan pakai topi. Soalnya sebagian area di atas jembatan tidak ada atapnya, jadi panas banget. Lagian itu di tepi pantai kan ya, jadi udaranya memang panas. Yang jadi kendala di sini sebenarnya adalah kalau hujan. Jembatan bambunya kadang menanjak sangat curam. Kalau sedang atau habis hujan, pasti licin. Apalagi, ada satu jembatan yang tidak ada pegangan di kiri-kanannya (mungkin untuk estetika foto-foto). Kalau tergelincir, ya susah cari pegangan. Kalau sedang jalan-jalan di sini dan tiba-tiba hujan, pastikan tidak lari-lari mencari tempat berteduh (tapi hati-hati juga kalau buka payung karena sebagian besar tanaman lebih pendek dari kita). Jembatan bambu kalau basah pasti licin.

Tapi di luar semua hal di atas (kesulitan untuk melewati jembatan yang terlalu curam, cuaca panas, atau spot foto yang masih diperbaiki), ada satu hal yang sangat saya sukai di sini. Di waktu-waktu tertentu, pesawat yang lepas landas dari Yogyakarta International Ariport akan lewat di atas kita, dan pemandangan ini menjadi hiburan yang menyenangkan. Menurut saya, akan sangat menyenangkan duduk-duduk di sekitaran jaringan jembatan mangrove ini dan melihat pesawat terbang rendah di atas kita.

Pesawat lepas landas dari bandara.

Pantai Pasir Kadilangu memiliki area parkir yang cukup luas. Di area parkir ini ada juga penjual makanan dan minuman. Biaya meletakkan kendaraan di area parkir untuk sepeda motor Rp 3.000,- dan untuk mobil Rp 10.000,- dan dibayar di counter tiket. Ini di luar biaya layanan tukang parkirnya. Tiket masuk per orang harganya Rp 8.000,-. Semua transaksi (kecuali layanan tukang parkir) akan mendapatkan tiket sebagai bukti pembayaran.

Menurut saya, pantai pasir Kadilangu masih perlu banyak bebenah (tapi memang waktu saya ke sana juga lagi diperbaiki, sih). Akan lebih baik kalau bagian yang menanjak tidak terlalu curam, terutama jembatan yang ada di tengah-tengah jaringan jembatan bambu di area mangrove. Kan daerah ini dilewati semua orang, termasuk yang bawa anak kecil dan orang tua. Mungkin saya harus coba mampir lagi ke sini tahun depan, siapa tahu hutan mangrovenya sudah semakin rapat dan hijau.

0 Komentar:

Posting Komentar