24 September 2014

Penginapan

Kami menginap di Than Thien the Friendly Hotel (alamatnya 10 Nguyen Cong Tru Street). Kami memesan hotel ini melalui booking.com. Harganya lumayan; saat kami menginap, semalamnya USD 15.20 untuk kamar superior twin bed satu malam. Bisa dibayar cash atau kartu kredit, bisa dalam USD atau VND (Dong). Makan pagi di sini enak dan ada banyak pilihan. Untuk vegetarian juga bisa. Tapi untuk makanan halal, saya meragukan, karena di antara hidangan yang disediakan ada beberapa hidangan yang menggunakan daging babi.
Hotel ini menyediakan jasa pick-up dari dan ke bandara. Biayanya USD 18 sekali jalan, untuk satu mobil (7 seaters). Karena kami tiba di bandara sekitar jam 9 malam, memang tidak ada pilihan lain. Menurut saya hotel ini luar biasa, karena begitu saya konfirm pemesanan di booking.com, saya langsung menerima email yang menawarkan jasa airport pick-up sekaligus harganya. Setiap saya mengirim email, selalu dibalas dengan cepat (dalam waktu 1x24 jam). Kami menyewa mobil untuk keliling kota Hue juga dari hotel ini.
Jalan-jalan di Pham Ngu Lao waktu malam.
Oh ya, Than Thien hotel terletak di sudut jalan yang relatif sepi. Kiri-kanannya toko, warung tradisional, rumah makan, rumah penduduk, atau hotel kecil lain. Kesan kota kecilnya terasa sekali. Tempat nongkrong yang ada adalah lapak lokal yang cuma terdiri dari meja dan bangku plastik kecil di bawah pohon. Klab malam dan pub adanya sekitar 10 menit jalan kaki dari hotel. Untuk yang ingin hura-hura sampai malam, kayaknya mendingan cari hotel di Pham Ngu Lao – jalan ini penampakannya hampir sama dengan Jalan Jaksa di Jakarta.

Transportasi dari/ke Luar Kota

Saya tiba dengan pesawat. Hue punya bandar udara, dan ada penerbangan yang menghubungkan Hue dengan Ho Chi Minh. Ada beberapa pilihan penerbangan. Tapi supaya lebih aman dan tentram, kami memutuskan untuk membeli tiket Vietnam Air dari Jakarta tujuan ke Hue. Transit di Ho Chi Minh City.
Karena bandara di Hue kecil, baggage conveyor juga hanya satu.
Saat meninggalkan kota Hue menuju Hoi An, kami memutuskan untuk menyewa mobil dari hotel. Selama perjalanan, kami bisa berhenti di tiga tempat tujuan wisata dan satu tempat makan siang. Paling tidak kami bisa lebih leluasa dalam mengatur waktu kunjungan kami. Harga sewa mobil dari Hue ke Hoi An (di hotel kami) adalah USD 70. Katanya, lebih murah kalau ikut paket tour atau naik bus antar kota. Tapi tentunya harus mengikuti jadwal yang sudah ditetapkan oleh penyelenggara transportasi tersebut.

Transportasi dalam Kota

Sepertinya hampir semua keluarga di Hue punya sepeda motor. Di mana-mana motor berseliweran. Ada taksi, tetapi tidak banyak. Ada juga mobil, tetapi jumlahnya tidak sebanding dengan sepeda motor dan sepeda. Cyclo, yang bentuknya seperti becak tapi lebih kecil, juga sering terlihat. Selama saya di Hue, saya tidak melihat kendaraan umum (bus kota atau angkot) yang menaik-turunkan penumpang. Nampaknya memang tidak ada alternatif itu di sini.
Untuk memaksimalkan hasil dari biaya yang dikeluarkan, transportasi yang dipilih harus disesuaikan dengan tujuan wisata. Kalau tujuannya adalah jalan-jalan di sekitaran The Citadel ataupun keliling kota Hue, upayakan mencari hotel dengan posisi strategis – jadi tinggal menyewa sepeda atau jalan kaki seharian. Ada beberapa tujuan wisata yang bisa dicapai dengan menyewa kapal di Perfume River. Tapi kalau tujuannya adalah mengunjungi kompleks makam kaisar (Royal Tombs), alternatifnya adalah menyewa mobil atau sepeda (kalau minatnya cross-country biking). Bisa juga menggunakan ojek, apalagi kalau tujuannya ke tempat-tempat yang lebih terpencil. Tukang ojek bisa merangkap tour guide, tapi jangan lupa untuk pintar-pintar menawar supaya kedua belah pihak tidak dirugikan. Kalau kita terlalu pelit, jangan-jangan dia malah berjalan pelan-pelan dan membuat kita tidak bisa mencapai banyak tujuan. Kalau menyewa mobil atau menggunakan jasa ojek, tujuan wisata dan lamanya mengeksplorasi masing-masing tempat akan ditentukan di depan, sekaligus dengan harga pengantarannya.
Salah satu perempatan di Hue. Mayoritas kendaraan adalah sepeda motor.
Biasanya di hotel ada peta tempat-tempat wisata. Gunakan peta tersebut untuk mengetahui perkiraan alur perjalanan supaya efektif. Pemahaman tentang peta bisa juga menjadi alat bantu dalam negosiasi harga sewa mobil atau ojek. Oh ya, taksi dan cyclo bisa menjadi pilihan, kalau tujuannya sudah jelas dan relatif dekat.
Bisa juga ikutan tour. Di semua hotel dan semua pusat informasi turis, pasti ada tawaran untuk one day tour ke tempat tujuan pilihan. Untuk yang ingin mengunjungi DMZ (Demiliterized Zone) dan melihat-lihat sisa-sisa kamp militer Amerika waktu perang Vietnam di tahun 60-an, day tour adalah satu-satunya pilihan. (Konon kabarnya di sana masih ada daerah di mana ada ranjau yang belum dijinakkan.) Kalau yang saya baca di internet, banyak orang kecewa dengan tour sehari karena mereka hanya punya waktu terbatas untuk mengeksplorasi masing-masing tujuan wisata.
Karena kami berempat, sudah pasti kami memilih menyewa mobil. Berapapun harganya, bisa dibagi empat orang. Dan supaya tidak pusing dengan tawar-menawar, kami menyewa mobil dari hotel. Walau harganya mungkin lebih mahal daripada di luaran, paling tidak kami tidak perlu khawatir permintaan yang tidak perlu dari si sopir. Kami sewa mobil dua hari. Harga per hari ditentukan oleh jumlah tujuan dan jaraknya satu sama lain. Untuk  4 tempat tujuan yang standar dalam sehari, harganya sekitar USD 40 – tergantung jarak. Kalau salah satu tujuannya relatif jauh (misalnya ke Gia Long Tomb) bisa lebih mahal lagi.
Keuntungan sewa mobil, tentu saja bisa mengeksplorasi setiap tempat wisata dengan tenang. Kalau dirata-rata, kami menghabiskan satu setengah jam di setiap kompleks makam kaisar. Kami bisa duduk-duduk ngobrol di pinggir danau, membaca papan-papan penjelasan yang ada, dan berjalan-jalan santai tanpa takut ditinggal tour.
Salah satu jalan utama ke arah luar kota Hue. Seperti di kota kecil di Indonesia kan?
Satu-satunya masalah yang sempat kami hadapi adalah ketika jam makan siang, kami sudah lapar, tetapi si sopir tidak mau berhenti di warung di pinggir jalan karena dia ngotot mau membawa kami ke tempat yang katanya enak (yang tentunya adalah rekanannya). Jadinya kami lalu memaksa dia (dengan galak) untuk berhenti di sembarang warung di pinggir jalan. Di satu sisi, mungkin dia khawatir karena warung di pinggir jalan rasanya kan bisa sembarangan – mungkin tidak sesuai dengan selera orang asing; tapi di sisi lain, kan kami sudah dijanjikan boleh memilih tempat makan – jadinya ya urusan kami kalau kami memilih makan di warung kecil yang nggak mungkin memberi tips ke sopir. Tadinya dia nggak percaya kami bisa makan, karena makanan yang disajikan adalah sop nasi dengan lauk jerohan (usus, ampela, ati, jantung, paru-paru, dan lain-lain) rebus yang rasanya hambar (tanpa bumbu). Tapi, setelah kami ternyata terbukti bisa makan makanan lokal dengan tenang dan bahagia, si sopir ini malahan terkagum-kagum dengan kami yang bisa makan makanan kampung di Hue. Hahaha!

Kehidupan di Hue

Sore hari di hari kedua kami di Hue, kami menyempatkan diri untuk jalan kaki keliling kota Hue. Tujuan kami adalah melihat-lihat suasana kota Hue yang sesungguhnya. Walau sebelumnya kami juga sudah sempat melihat sepintas kehidupan penduduk Hue, di saat jalan-jalan inilah nuansa kota kecil yang tenang lebih terasa.
Kehidupan di Hue sangat santai. Sepanjang hari selalu terlihat ada bapak-bapak yang nongkrong di lapak pinggir jalan sambil minum kopi. Semakin malam, semakin banyak yang nongkrong. Bisa bapak-bapak, remaja, atau keluarga. Lapak-lapak ini juga banyak yang hanya buka di malam hari. Laki-laki di Hue juga sering terlihat meminum bir di lapak, tapi jangan harap Anda bisa melihat perempuan Vietnam minum bir.

Nongkrong di lapak di tepi jalan.

Di Hue ada banyak banget kedai kopi. Banyak di antaranya punya koneksi internet wi-fi gratis. Jadi kalau lagi jalan-jalan merasa perlu update status, bisa mampir di salah satu kedai kopi. Harga satu gelas kopi khas Vietnam di kedai-kedai ini cukup murah, antara 7.000 Dong sampai 10.000 Dong. 
Keistimewaan Hue, dibandingkan kota-kota lain, adalah pengaruh budaya dan turisme Perancis. Mbak-mbak di hotel dan pusat informasi wisata bisa berbahasa Inggris dengan baik, tetapi lebih cas-cis-cus waktu ngobrol dengan turis dalam bahasa Perancis. Semua petunjuk di tempat-tempat wisata dituliskan dalam tiga bahasa: Vietnam, Inggris, dan Perancis. Budaya Perancis ini juga yang muncul di kebiasaan nongkrong minum kopi di pinggir jalan dan makan baguette (dalam bahasa Vietnam, disebut banh mi).
Sama seperti kota-kota kecil di Indonesia, kendaraan yang paling banyak bersliweran adalah sepeda motor. Tentu saja kuantitasnya kalah jauh dengan kota padat penduduk seperti di Yogyakarta. Di trotoar, sepeda motor dan sepeda bisa berjubel parkir tanpa ada yang mengatur. Di sini tidak ada Pak Ogah atau tukang parkir. Kalau mau parkir, tinggal berhenti saja.
Di sepanjang jalan ada banyak toko dan ruko. Penampakan toko dan ruko ini sama seperti kalau kita jalan-jalan di Malang atau Surakarta. Di antara toko-toko ini juga sering terselip rumah makan khas Vietnam. Bentuk bangunan kebanyakan sudah modern. Ruko bertingkat, perkantoran, sampai rumah mewah bertingkat juga ada. Cuma beberapa rumah tua saja yang bentuknya masih bernuansa kolonial Perancis. Di beberapa tempat, ada kanal banjir. Kanal banjir di Hue bersih banget! Memang secara umum, Kota Hue bersih. Hampir-hampir tidak ada sampah di pinggir jalan.

Kanal banjir di Hue. Bersih banget!
Waktu jalan kaki di Hue inilah kami malah berkesempatan untuk mengunjungi dua gereja yang cukup terkenal di Hue, yaitu Hue Cathedral dan Phu Cham Church. Hue Cathedral hari itu tutup, karena itu kan hari Senin. Tapi, Phu Cham Church buka di sore hari untuk ibadat harian. Jadinya kami sempat berfoto-foto di dalamnya, meskipun dibawah pandangan aneh dari beberapa nenek-nenek yang datang ke situ untuk berdoa.

(bersambung)

2 Komentar:

  1. Mba mau tanya kalo transport dari bandara hue ke hotel/kota ada alternatif lain? Kalo dari hotel usd18/orang ya? Thx

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau menurut info yang berseliweran di internet, ada taksi dan bus bandara di Hue. Tapi taksi di Vietnam terkenal sebagai tukang peras turis, jadi saya waktu itu nggak berani pakai taksi. Ada bus bandara yang mengantar ke hotel-hotel tertentu tapi kalau malam banget atau pagi banget tidak beroperasi. Kalau pesawatnya datangnya siang, mendingan pakai bus bandara saja.
      Oh ya, dulu waktu kami ke Hue, biaya pick up dari hotel itu USD 18 per mobil. Dibayarnya setelah sampai di hotel pas check in.

      Hapus