29 September 2015

Selama 4 hari jalan-jalan di Filipina, tepatnya di Manila dan di Boracay, tidak cuma pemandangan indah yang kami dapatkan namun juga kuliner lokal yang unik. Selain makanan tradisional, kami juga mencobai fastfood. Walau sama-sama ayam goreng fastfood, tetap saja ada bedanya antara negara satu dan negara lainnya.
Oh ya, karena wisata kuliner bukan tujuan utama kami, maka kami memang tidak dengan sengaja mencari makanan khas Filipina. Jadi, kalau mengharapkan ulasan tentang makanan eksotis khas Filipina (misalnya balut), mohon maaf sebelumnya. Nah ... buat yang mau backpackeran ke Filipina, mungkin pengalaman saya makan makanan di Filipina bisa jadi panduan untuk memilih makanan pas beneran jalan di sana.

Kuliner Tradisional Filipina

Ada beberapa makanan lokal yang sempat kami coba. Untuk lidah saya, makanan lokal Filipina cenderung terlalu asin. Nasinya juga tidak segurih dan sepulen nasi yang biasa saya makan di Indonesia. Tapi bukan berarti rasanya tidak enak loh ya. Buat saya, makanan Filipina unik dan tetap cocok untuk lidah orang Indonesia. Berikut beberapa makanan yang sempat kami coba:

Sinangag (garlic rice)

Ini adalah salah satu menu makan pagi kesukaan saya. Kalau warung makan di Jakarta punya pilihan nasi putih atau nasi uduk, nah warung makan di Filipina punya pilihan plain rice atau garlic rice. Garlic rice adalah nama yang ditulis di daftar menu untuk orang asing, sedangkan nama lokalnya adalah sinangag. Sinangag adalah nasi goreng dengan bawang putih yang dipotong kecil-kecil. Sinangag memang biasa dijadikan makan pagi oleh penduduk Filipina.
Sinangag, dengan lauk telur, dan tocino (kiri) atau beef tapa (kanan).

Tocino

Tocino sebenarnya adalah semacam bacon, yaitu daging babi yang dibumbui secara khusus. Untuk membuat tocino, daging babi dibumbui dan disimpan selama tiga hari di lemari es. Setelah itu, barulah tocino dimasak sesuai selera. Tocino (yang digoreng) adalah salah satu lauk favorit saya makan pagi selama di Filipina.

Longganisa

Ini adalah sosis khas Filipina. Rasanya gurih, agak manis. Biasanya terbuat dari daging babi. Longganisa biasanya dijadikan lauk, dan bisa disajikan dengan sinangag.

Beef Tapa

Beef tapa adalah daging sapi yang diasinkan dan kemudian digoreng. Kalau dimakan begitu saja, rasanya asin (ya iya, lah!), tapi kalau dijadikan lauk untuk nasi, rasanya pas banget! Beef tapa adalah lauk yang umum dipakai untuk makan pagi dengan sinangag.

Pancit

Pancit adalah istilah orang Filipina untuk mie secara umum, tapi kadang-kadang dapat langsung diartikan sebagai bihun. Pancit bisa disajikan dengan seafood atau dengan irisan daging, sesuai selera.
Pancit (kiri atas), sisig (kiri bawah), dan bulalo (di dalam panci, kanan).

Bulalo

Bulalo adalah sup tulang sumsum khas Filipina. Tulang sumsum yang dipakai adalah tulang sumsum sapi. Ini rasanya enak banget, wajib dicoba! Kuahnya segar dan gurih. Penyebab gurihnya sudah pasti sumsum yang ada di dalamnya. Selain daging sapi dan sumsum tulang, di dalam mangkok sajian bulalo, saya juga menemukan beberapa macam sayuran hijau, sepotong jagung manis, dan satu pisang utuh. Bulalo termasuk makanan paling mahal yang kami beli selama wisata di Filipina. Tapi mengingat isinya sepotong tulang besar (dengan sumsum di dalamnya) dan potongan daging sapi yang besar banget, wajarlah harganya mahal.

Sisig

Ini adalah salah satu makanan khas Filipina yang tidak ditemukan di negara lain. Sisig adalah hasil olahan daging yang ada di kepala babi ditambah dengan potongan hati babi, yang disajikan dengan telur mentah di atas hot plate. Begitu sisig disajikan, kita harus langsung mencampur telur mentah dengan potongan daging/hati yang ada; dicampur secara merata sehingga matang di atas hot plate. Rasanya? Asin banget!!  Kabarnya sisig adalah camilan favorit orang Filipina untuk teman ngobrol sambil minum bir. Tapi untuk saya, sisig adalah lauk nasi yang selevel dengan ikan asin. (Maksudnya, untuk nasi sepiring, lauknya nggak usah banyak-banyak.)

Ikan bakar

Ikan bakar adalah makanan yang wajib dimakan kalau liburan ke pantai. Karena Boracay adalah tempat wisata pulau, sudah pasti kami juga makan ikan bakar di sana. Karena penjualnya tidak tahu nama ikannya dalam bahasa Inggris, jadi kami hanya bisa menebak-nebak ikan apa yang kami makan. Ikan bakar di Boracay tidak terlalu banyak bumbu. Namun karena ikannya segar, rasanya tetap enak.

Turon

Turon adalah pisang yang digoreng dengan kulit lumpia. Biasanya turon dilapisi sirup gula karamel. Rasanya sudah pasti manis. Turon banyak dijual di pinggir jalan.
Penjual turon di Pantai Bulabog, Boracay.

Champorado

Yang ini, saya tidak sempat mencoba yang aslinya. Saya cuma sempat beli champorado instan dan mencobanya pas sudah balik ke Jakarta. Champorado adalah bubur ketan campur coklat.

Catatan untuk Makan di Boracay

Mayoritas makanan di Boracay adalah makanan selera internasional (baca: turis bule). Tidak salah juga sih, karena berdasarkan kedekatan sejarah, turis Amerika termasuk turis yang banyak datang kemari. Tentunya sekarang turis Cina, Korea, dan Timur Tengah juga banyak. Di sini mudah untuk mencari ikan bakar, pizza, dan pasta. Tapi, tidak mudah untuk mencari makanan lokal. Rumah makan di sini harganya relatif mahal. Tapi tenang, untuk yang mau makan di local fastfood chain masih bisa menikmati makanan dengan harga wajar di Jollibee dan Mang Inasal.
Oh ya, khusus untuk yang mau jalan ke Boracay, jangan lupa untuk mampir ke Jonah’s Fruitshake. Tempat ini menyediakan berbagai macam jus. Jus favorit saya adalah jus mangga dicampur dengan rum (ini alkohol beneran, bukan hanya perasa makanan). Selain mangga, ada juga pilihan jus pisang, jus kelapa, dan buah-buahan lainnya. Jonah’s Fruitshake ada di Station 1 dan di Station 2.
Jus mangga campur rum. Segar!
Buat yang ingin makan makanan halal di Boracay, ada rumah makan halal. Namanya Boracay Jannah Halal Food. Letaknya di Station 2, di pinggir jalan utama. Saya nggak makan di sini, jadi saya nggak tahu seperti apa rasanya. Tapi kalau ada yang pernah mencoba dan mau cerita, boleh kontak saya.

Fast Food di Manila (dan beberapa tempat lain di Filipina)

Buat yang ingin untuk makan dengan harga wajar dan rasa terjamin, mau tidak mau harus mencoba makan di rumah makan jaringan fastfood. Soal rasa memang sudah pasti ada sentuhan lokal. Tapi soal harga, tidak bisa dipungkiri lagi kalau fastfood bisa menyediakan makanan dengan harga yang “tidak membuat sakit hati”. Buat yang berminat backpacking di Filipina namun takut mencoba sembarang makanan, mungkin informasi tentang fastfood berikut ini cukup berguna.

Jollibee

Jolibee adalah jaringan fastfood lokal Filipina. Seperti kebanyakan fastfood lokal di Indonesia, menu utama Jolibee adalah ayam goreng krispi. Ayam goreng bisa disajikan manis, (sedikit) pedas, atau original. Ada juga menu spageti atau burger. Untuk sajian ayam goreng, biasanya disajikan dengan bumbu kaldu kental. Oh ya, di sini tidak ada saos cabe, jadi jangan dicari.
Soal harga, dijamin masuk ukuran kantong wisatawan kelas kambing macam saya. Cukup dengan modal 90 Peso, saya sudah dapat ayam goreng krispi bumbu bawang putih dengan nasi dan coca-cola ukuran small. Kalau minat makan di sini, siap-siap antre, karena selalu penuh.
Ayam bumbu bawang putih yang saya makan di Jolibee di bandara Ninoy Aquino, Manila.

Mang Inasal

Anak perusahaan dari Jolibee ini adalah spesialis ayam bakar. Jujur saja, saya malah nggak makan di sini, soalnya teman-teman jalan saya nggak ada yang mau nyobain makan di sini. Mereka malahan memilih makan di footcourt di Robinsons Place Manila. Padahal, kalau melihat daftar menu dan daftar harganya, sepertinya jaringan rumah makan ini layak dicoba. Sama seperti di Jollibee, dengan uang 90 Peso kita sudah bisa makan kenyang.

Bagnet Boy

Bagnet Boy adalah franchise rumah makan di Manila yang spesialiasinya adalah daging babi goreng. Selain daging babi goreng, di sini juga tersedia berbagai olahan daging babi, termasuk olahan sancam (daging dengan lapisan gajih dari bagian perut babi). Bagnet Boy inilah yang saya temui di dalam foodcourt Robinsons Place gara-gara nggak jadi makan di Mang Inasal. Saya makan satu paket murah (nasi + 1 lauk +  1 sayur) harganya 79 Peso.

McDonald

Yah ... ini adalah pilihan terakhir kalau bener-bener nggak bisa makan makanan lokal. Karena kemarin salah satu anggota tim jalan-jalan kami nggak bisa makan makanan lokal sama sekali, akhirnya kami mampir ke McDonald di SM Mall of Asia di Manila. Saya makan cheeseburger dengan paket french fries dan segelas coca-cola, harganya 124 Peso. Kalau dihitung dalam rupiah, harganya sama saja dengan makan McDonald di Jakarta. Rasanya juga sama saja. Mungkin karena cheeseburger adalah makanan internasional, jadi tidak ada perbedaan rasa antar negara. Oh ya, di sini tidak ada sambal yah.

Kentucky Fried Chicken

Sepulang dari jalan-jalan di Intramuros, kami makan di KFC di dalam kompleks Intramuros. Saya membeli paket ayam goreng krispi: pakai nasi, mashed potatoes, dan segelas coca-cola ukuran large. Harganya 164 Peso sudah termasuk pajak. Kalau mau minum air putih, gratis, karena disediakan dispenser di pojokan ruangan. Di sini tidak ada saus sambal, tapi ada dispenser khusus untuk bumbu kaldu kental. Berhubung saya suka rasa bumbu kaldunya, jadi saya berpuas-puas hati menyiram ayam goreng saya dengan bumbu kaldu.

Jadi, jangan khawatir soal makanan kalau pergi ke Filipina. Dari makanan tradisional sampai international fast food chain, dari yang harganya masuk akal sampai yang harganya bikin sakit hati, semuanya ada di Filipina. Yang penting, mau mencoba!

1 Komentar:

  1. Iya jalan-jalan harus di lengkapi dgn wisata kuliner krn itu kegiaatan yg menyatu ..pasti enjoy...cuman harus hati - hati juga,,,jangan salah makan...hehehehe
    btw salam kenal mbak Dyah....silakan mampir jalan jalan ke blog mini saya. thanks

    BalasHapus