4 Oktober 2016



Jujur saja, jalan-jalan di Hokkaido, terutama sekitar Furano, lebih mahal dibandingkan jalan-jalan di Tokyo, Kyoto, dan Osaka. Apalagi di waktu khusus seperti saat saya berkunjung ke sana. Penyebab mahalnya: penginapan dan transportasi.
Daerah Furano dan Biei adalah daerah wisata sepanjang musim. Dari wisata bunga sakura di musim semi, wisata bunga lavender di musim panas, hingga wisata olah raga musim dingin, bisa dikatakan daerah Furano dan Biei selalu ramai di kunjungi orang. Sudah pasti harga penginapan di sini relatif mahal. Buat yang penasaran dengan kisaran harga penginapan di sekitar Furano, boleh coba cek harga penginapan (hostel ataupun hotel) di Tokyo, Sapporo, dan Furano di tanggal yang sama. Semakin besar kotanya, semakin banyak pilihan harganya.
Maket kota Biei: banyakan hijaunya!
Terus, karena mayoritas wisatanya wisata alam, tempat tujuan wisatanya saling berjauhan. Umumnya turis ikut tour, naik bus umum, sewa mobil, atau sewa sepeda. Itu semua ada biayanya. Khusus untuk yang sewa sepeda, harus sehat jasmani rohani dan punya perbekalan cukup yah. Medannya berbukit-bukit dan tidak ada warung ataupun convenient store di sepanjang jalan. Semuanya harus dibeli di tengah kota, atau di cafe yang ada di tempat-tempat wisata.
Makanan di Hokkaido, untuk ukuran orang Jakarta, harganya masih wajar – karena hampir sama dengan harga makanan di kafe. Alternatif makanan paling murah adalah beli paket di Lawson atau Seven-Eleven, atau masak mie instan.
Oh ya, biaya yang juga harus saya keluarkan adalah untuk masuk ke tempat wisata. Tempat wisata di sekitar Furano sih, gratis. Tapi kebun binatang, museum, dan ropeway di sekitaran Asahikawa, semuanya harus bayar. Kalau mau hemat, datangi saja tempat-tempat yang gratisan – tapi jangan nyesel kalau ada hal-hal spektakuler yang terlewatkan.

Penginapan

Selama jalan-jalan di Furano, saya cukup beruntung bisa dapat penginapan murah (model asrama) di Goryo Guesthouse, yang harganya sekitar Rp 250.000,- per tempat tidur per malam. Satu kamar isinya delapan tempat tidur. Tidak pakai makan pagi. Konsekuensinya, ya tempatnya di desa terpencil. Kalau cari kamar hotel di kota Furano atau Biei, siap-siap dengan harga sekitar satu juta rupiah per malam.
Pagi hari di Goryo Guesthouse.
Alternatif buat yang mau jalan-jalan ke sekitar Furano atau Biei, menginap di Sapporo adalah pilihan yang lebih murah. Bisa berangkat pagi dan pulang malam naik kereta ke Furano. Karena Sapporo adalah kota besar, pilihan hostel backpacker dengan harga yang cukup murah lebih banyak. Tapi jeleknya, cuma bisa datang ke sedikit tempat wisata karena waktunya lebih terbatas.
Untuk mencari penginapan, tidak perlu terburu-buru. Yang penting rajin mencari. Beberapa tempat seperti Goryo Guesthouse hanya mau menerima pesanan tiga bulan sebelum check in, jadi orang tidak bisa booking jauh-jauh hari. Waktu saya mencari penginapan, saya bolak-balik memeriksa booking.com, agoda.com, airbnb.com dan expedia.com untuk menemukan harga yang pas.
Oh ya, faktor transportasi juga harus diperhitungkan waktu memilih tempat menginap. Jangan sampai biaya transportasi ke tempat lain (ke luar kota atau bandara, atau ke tempat wisata) membuat pengeluaran membengkak. Waktu menginap di Goryo Guesthouse, saya harus mengeluarkan tambahan biaya 300 yen (sekitar Rp 38.000,-) untuk naik bus dari penginapan ke Furano Station. Furano Station adalah tempat keberangkatan Kururu Bus dan seluruh kereta yang menuju ke luar kota; jadi sebenarnya kegiatan saya di Furano tidak bisa dilepaskan dari Furano Station. Sayangnya hotel di dekat Furano Station harganya mencapai jutaan, jadi memang Goryo Guesthouse adalah alternatif termurah saya.
Ruang sosial di Guest House Asahikawa. Sangat informatif!
Di Sapporo, saya menginap di International Hostel Khaosan Sapporo. Harga penginapan saya di Sapporo sekitar Rp 300.000,- per malam. Tidak ada makan pagi. Itu bunk bed, satu kamar isinya empat tempat tidur, khusus wanita. Sebetulnya ada hostel lain yang lebih murah, tapi letaknya lebih jauh dari stasiun kereta. International Hostel Khaosan Sapporo saya rekomendasikan untuk solo traveler, karena resepsionis yang jaga adalah sesama backpacker dan bahasa Inggrisnya bagus-bagus. Selain itu, tempatnya tidak terlalu jauh dari Odori Park sehingga cukup strategis. Stasiun terdekat dengan hostel ini adalah stasiun metro (subway) Susukino. Dari Susukino Subway Station ke Sapporo Subway Station, harga tiketnya 200 yen. Kalau mau keluar kota, masih harus jalan kaki sekitar 5 menit dari Sapporo Subway Station ke Sapporo JR Station.
Kalau hotel di Asahikawa, memang lebih mahal dari Sapporo. Saya menginap di Guest House Asahikawa yang letaknya memang di sekitaran Heiwa-dori Shopping Park. Kamar khusus cewek, satu kamar ada empat tempat tidur. Harganya sih lumayan mahal, Rp 400.000,- per malam. Tidak ada makan pagi. Tapi, dengan posisinya yang cuma 10 menit jalan kaki dari Asahikawa Station, saya menghemat pengeluaran transportasi kecil-kecil seperti yang di Sapporo dan Furano. Buat yang suka nongkrong di kafe, belanja di mall, atau minum sake di izakaya, hotel ini sangat direkomendasikan karena faktor lokasi.

Transportasi

Secara umum biaya transportasi di Jepang lebih mahal dibandingkan dengan Indonesia. Selain harga bensin mahal, harga tenaga kerja (sopir, tour guide, masinis, penjaga stasiun) juga mahal. Jadi, siap-siap dengan biaya transportasi yang mahal walau sepertinya cuma pergi ke beberapa tempat wisata saja.
Tiket kereta di Jepang itu mahal. Padahal, selama orang backpacking di Jepang, kereta pasti akan jadi andalan. Dengan jadwal kereta yang tepat waktu sampai hitungan menit dan jaringannya yang luas serta menyeluruh, kita pasti akan tetap memilih untuk menggunakan kereta. Tiket kereta Sapporo – Furano yang paling murah saja sekitar 3600 yen, atau sekitar Rp 470.000,-. Tiket kereta Furano – Asahikawa yang paling murah sekitar 1000 yen atau sekitar Rp 130.000,-. Jangan lupa dari bandara Chitose ke Sapporo saya juga harus naik kereta. Karena saya ganti-ganti hotel – menginap di Sapporo, Furano, dan Asahikawa – pengeluaran saya untuk kereta tidak terlalu besar.
Kereta: moda transportasi yang terpercaya.
Harga tiket bus juga relatif mahal untuk ukuran orang Indonesia. Tiket Kururu Bus untuk sehari adalah 1200 yen per orang dewasa, tapi tiket pass 2 hari harganya 1500 yen. Harga tiket bus dari Biei Station ke Aoi Ike (Blue Pond) sebesar 540 yen sekali jalan. Harga bus dari Asahikawa Station ke Asahiyama Zoo adalah 440 yen sekali jalan. Bus dari Asahikawa Station ke Asahidake Ropeway 1430 yen sekali jalan. (Ini bus antar kota yang lumayan jauh, yah.) Bus ke bandara dari Asahikawa Station harganya 620 yen sekali jalan. Sewa sepeda biasa di Biei 200 yen per jam, dan sewa sepeda elektrik 600 yen per jam.
Jadi kebayang, kan. Kalau transportasi di Jepang itu mahal. Total biaya saya untuk transport selama di Hokkaido saja bisa sampai sekitar Rp 1.600.000,-. Tentunya, kalau saya cuma muter-muter di Furano selama seminggu, biayanya akan jauh lebih murah. Atau, kalau saya tidak ke Asahidake Ropeway, pengeluaran transportasi saya akan menyusut drastis. Tapi, kalau itu yang saya lakukan, pengalaman saya di Hokkaido mungkin juga tidak akan bervariasi seperti yang saya tuliskan di blog ini.
Untuk menghitung perkiraan pengeluaran transportasi, saya menyarankan agar cek harga tiket kereta di hyperdia.com. Pastikan kita sudah tahu pilihan tempat tujuan wisata yang mau didatangi dan pilihan hotel/hostel, supaya bisa menentukan stasiun kereta terdekat. Nah, jangan malas untuk cek alternatif harga kereta dari masing-masing pilihan hotel/hostel dan tempat-tempat wisata. Jadi kita tidak kaget dengan biaya transportasinya. Untuk harga bus, sebaiknya browsing-browsing di website asosiasi wisata masing-masing daerah. Soalnya, harga bus (dan jadwalnya) bisa berbeda-beda tergantung musimnya.
Bus lokal di Furano.
Oh ya, ada pilihan pembelian tiket khusus turis seperti JR Pass. Tapi kalau mau beli, sebaiknya hitung dulu semua kemungkinan pengeluaran seperti kereta JR, bus, metro (kereta metro/subway tidak bisa menggunakan JR Pass), dan sewa sepeda atau transportasi lain – lalu bandingkan dengan harga JR Pass. Kalau di kasus saya waktu jalan-jalan, JR Pass (dan juga JR Hokkaido Pass) justru merugikan karena total pengeluaran saya untuk kereta selama tujuh hari hanya separuh dari harga JR Hokkaido Pass untuk tiga hari.
Oh ya, karena Hokkaido itu luas, perhitungkan juga kedatangan dan keberangkatan. Silakan hitung harga transportasi dari Indonesia ke Jepangnya: apakah mau transit di Tokyo terus nyambung Shinkansen? Apakah mau langsung naik pesawat ke Hokkaido? Apakah kota kedatangan dan kota keberangkatan sama atau berbeda? Saya memilih untuk naik pesawat dari Tokyo ke Sapporo, dan pulangnya dari Asahikawa ke Tokyo, karena saya memang ingin mengunjungi beberapa kota yang berbeda.
Buat yang memang mau jalan-jalan di beberapa kota di Jepang, ada wejangan khusus. ANA Air kadang-kadang punya diskon khusus turis, dimana harga tiket pesawat domestik ke mana saja sekali jalan hanya 10000 yen. Artinya, kalau pesawat dari Indonesia tibanya di Tokyo, terus mau lanjut ke Okinawa atau Fukuoka atau Sapporo, bisa menggunakan tiket diskon khusus turis ini. Harga ini lebih murah dibandingkan tiket Shinkansen, baik dari Tokyo ke Fukuoka maupun ke Sapporo. Tentunya kalau cuma ke Nara atau Osaka, ya nggak perlu memanfaatkan promo ini.
(bersambung)

2 Komentar:

  1. Hi, Mbak Dyah!
    salam kenal...
    Untuk info tiket diskon turis pesawat ANA bisa cek dimana ya?
    Thanks..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Langsung masuk ke website resminya ANA, terus cari tiket seperti biasa saja. Kalau dapat yang "ANA Experience Japan", itu harga khusus turis. Kalau tidak percaya, bandingkan dengan harga kalau masuk ke website ANA yang bahasa Jepang. Buat kita sih, memang serasa bukan diskon karena harga itu selalu tersedia untuk orang yang bookingnya dari luar negeri.

      Hapus