22 Oktober 2016

Karena ada undangan kondangan sepupu, maka saya harus berangkat ke Kutoarjo. Untuk yang tidak tahu Kutoarjo ada dimana, boleh cari di Google Maps. Kutoarjo adalah salah satu kota di Jawa Tengah di jalur selatan, yang termasuk kota penghubung dengan desa-desa kecil di sekitarnya. Seingat saya, tidak ada tempat wisata nasional di sekitaran Kutoarjo. Jadi kalau tidak karena kebetulan lewat, ada keluarga di daerah situ, atau ada keperluan khusus (seperti kondangan), kemungkinan besar pembaca tidak akan merasa pernah mendengar nama kota ini.
Gerbang masuk Stasiun Pasar Senen.
Nah, salah satu kereta yang bisa mengantar orang dari Jakarta ke Kutoarjo adalah kereta bisnis Sawungalih, yang trayeknya memang Jakarta (Pasar Senen) – Kutoarjo. Kebetulan, saya belum pernah naik kereta dari Stasiun Pasar Senen, jadi kesempatan ini dijadikan alasan untuk masuk ke Stasiun Pasar Senen.

Cara menuju ke Stasiun Kereta Api Pasar Senen:

Ada banyak cara untuk mencapai stasiun Pasar Senen. Bisa naik bus, angkot, Transjakarta, atau naik KRL. Tentunya ada juga alternatif lain seperti Taxi, Gojek, Uber, nebeng temen, dan lain-lain. Tapi saya di sini hanya akan membahas sebagian moda transportasi yang bisa membawa kita ke Stasiun Pasar Senen.

Kopaja/Metromini/KWK

Karena Stasiun Senen dapat dicapai dengan jalan kaki dari Terminal Senen (lewat belakang, yah), paling enak ya cari apa saja yang “jurusan Senen”. Semua bus dan angkot jurusan Senen bisa membawa kita ke Stasiun Senen.

Transjakarta

Halte Busway Sentral Senen terdiri dari beberapa tempat yang saling terhubung dengan tangga dan jembatan penyeberangan. Seluruh Transjakarta yang melewati Halte Busway Sentral Senen bisa mengantar kita mendekati Stasiun Senen:
  • Jurusan Kampung Melayu – Ancol
  • Jurusan Harmoni – Pulo Gadung
  • Jurusan Kalideres – Pulo Gadung
  • Jurusan Lebak Bulus – Senen

Nah, kalau naik jurusan Ancol, nanti turun di halte busway yang di bawah flyover. Kalau naik yang jurusan Pulo Gadung, turunnya di halte yang di depannya bioskop. Dari kedua tempat itu, kita masih harus naik tangga dan melewati jembatan penyeberangan, sebelum turun di depan Pasar Senen. Kalau naik Jurusan Lebak Bulus – Senen, bisa turun persis di depan Pasar Senen dan tingal jalan tanpa perlu naik turun tangga.

Kalau naik Feeder Transjakarta dari Lebak Bulus, langsung turun di sini.

Commuter Line (KRL)

Kereta yang bisa membawa kita untuk turun di Stasiun Senen hanya KRL jurusan Jatinegara – Bogor/Depok, tapi yang berangkat dari Jatinegara. Arah kebalikannya tidak berhenti di Stasiun Senen. Agak ribet yah, jadi kita berangkat dari Depok dan mau turun ke Stasiun Senen, kita harus ke Stasiun Gang Sentiong dulu, terus ambil jurusan sebaliknya dan turun di Stasiun Senen.

Di Stasiun Pasar Senen

Untuk mengambil boarding pass, kita harus ke ruang Check-In Mandiri. Di situ kita bisa menukar bukti bayar dengan boarding pass. Kalau kita datang dari arah belakang Terminal Senen, letaknya dekat gerbang masuk. Tapi kalau kita datang dari Jl. Letjend Suprapto, kita harus jalan ke arah belakang dulu, melewati area Boarding/tempat Keberangkatan.
Stasiun Pasar Senen punya fasilitas yang lengkap. Selain WC Umum gratis, ada juga musholla, toko serba ada, dan kafe. Oh ya, di sini juga ada ATM beberapa bank milik pemerintah.
Ruang Check In Mandiri.
Karena Stasiun Senen ukurannya relatif kecil, maka jumlah penumpang yang masuk dibatasi. Penumpang hanya bisa masuk ke bagian Keberangkatan satu jam sebelum kereta berangkat. Jadi, jangan heran kalau banyak orang duduk-duduk di sepanjang jalan masuk stasiun, karena mereka menunggu jadwal masuk ke dalam gedung stasiun.
Yang unik dari stasiun ini adalah, kereta yang akan berangkat ditempatkan di jalur 1, dimana rel kereta api dibatasi gerbang dari bagian luar stasiun. Jadi, waktu kereta mau berangkat, gerbangnya dibuka, dan setelah kereta lewat, gerbangnya ditutup. Buka tutup gerbang seperti kendaraan keluar masuk istana. Hehehe!

Gerbang rel kereta. Tuh, yang di ujung depan.

Kereta Sawunggalih

Kereta Sawunggalih Pagi adalah kereta yang saya naiki untuk menuju ke Kutoarjo. Kelasnya bisnis. Keretanya bersih, ada tempat charge handphone, dan ada layanan makan siang (bayar tambahan).
Kereta Sawunggalih melewati Bekasi, Cirebon, sebelum berbelok ke selatan melewati Bumiayu dan Purwokerto. Sepanjang perjalanan, saya disuguhi pemandangan alam nan cantik. Sawah yang hijau atau sedang dipanen, atau rumah-rumah di kampung yang masih alami. Iseng-iseng saya membuka aplikasi Pokemon Go. Dengan sinyal H+ yang relatif lemot, saya masih bisa menangkap pokemon dan berantem di Gym Pokemon Go di beberapa pemberhentian besar.

Pemandangan seperti ini, silih berganti.

Di Stasiun Kutoarjo

Stasiun Kutoarjo adalah stasiun akhir perjalanan saya. Stasiun ini tidak terlalu besar, namun cukup untuk mengakomodir kereta-kereta yang berhenti di sini. Kutoarjo adalah salah satu kota penghubung dengan desa-desa di pesisir selatan, sehingga cukup banyak kereta yang berhenti di sini. Jangan coba-coba ke sini di musim lebaran yah, bisa kaget karena banyak banget orang yang mudik ke sini.
Yay, Stasiun Kutoarjo! Pemberhentian terakhir.

Nah, itulah secuplik pengalaman saya naik kereta Sawunggalih ke Kutoarjo, dari Stasiun Pasar Senen.

6 Komentar:

  1. Ngomongin kereta,, ane belum pernah sama sekali naik kereta..
    Huuhu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduh ... sayang sekali! Coba naik kereta Api Jakarta - Surabaya tapi yang lewat jalur utara deh. Ntar bisa liat laut dari kereta. Itu pemandangannya super keren!

      Hapus
  2. kalo naek kereta yang nyaman sambil menikmati pemandangan alam yang keren bikin perjalanan jadi nyaman ya.. semoga pt kai juga bisa terus meningkatkan pelayanannya supaya pengguna jasanya semakin senang.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju! Terima kasih sudah berkunjung!

      Hapus
  3. wahhh dari pengalaman bisa jadi ilmu dan pengetahuan untuk ornag lain, makasih mbaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih juga telah berkunjung.

      Hapus