30 Oktober 2016

Beberapa kali naik kereta jurusan Bogor – Tanah Abang karena urusan kerjaan, saya selalu penasaran dengan “Stasiun Mampang”. Nama stasiun ini diumumkan di setiap kali kereta lewat di antara Stasiun Manggarai dan Stasiun Sudirman. Tapi kereta tidak berhenti. Di peta jalur Commuter Line, nama Stasiun Mampang juga disebutkan, tapi ditulis “tidak berhenti”. Jadi penasaran kan, apa ini Stasiun Mampang?
Sudah "tak terlihat".
Jujur saja, sebagai penghuni Jakarta masa kini, kata “Mampang” selalu identik dengan area Mampang Prapatan yang letaknya di sekitaran Jl. Kapten Tendean dan Jl. Bangka Raya. Jadi, nama “Mampang” tapi di wilayah Menteng seperti Stasiun Mampang ini memang cukup membingungkan. Kenapa ada Stasiun Mampang tapi jauh dari areal Mampang (Prapatan)?
Berdasarkan browsing di internet, saya menemukan bahwa istilah “mampang” di bahasa setempat merujuk pada empang atau kolam. Hal yang sama juga berlaku untuk “tebet” dan “tambak” yang artinya juga mirip-mirip kolam tempat memelihara ikan. (Informasi ini saya peroleh dari (https://id-id.facebook.com/notes/tebet/asal-usul-tebet/427411684911/).
Bagian depan Stasiun Mampang.
Kalau daerah Mampang Prapatan konon kabarnya pernah jadi area empang, masuk akal juga sih. Soalnya daerah ini dilewati beberapa sungai, seperti Kali Krukut dan Kali Mampang. Kalau di jaman kemerdekaan dulu ada yang bikin tambak luas di sini, ya mungkin-mungkin saja. Nah ... untuk Stasiun Mampang, mungkin penamaan ini memang tidak ada hubungannya dengan Mampang Prapatan. Stasiun Mampang letaknya persis di pinggir Sungai Ciliwung. Siapa tahu, dulunya ada yang bikin empang di sekitaran sini. Walaupun kawasan Meteng adalah kawasan elit Belanda dari jaman dulu, daerah sekitarnya kan tetap perumahan Betawi.
Terlepas dari asal-usul penamaan Stasiun Mampang yang sudah tidak tercatat dalam sejarah, stasiun ini juga sudah mulai terhapus dari kesadaran masyarakat. Selain tidak pernah dipakai, stasiun ini hanya tinggal menyisakan dua sisa-sisa tempat pemberhentian kecil. Kedua sisa bangunan ini kini dipakai gelandangan.
Kereta hanya lewat.
Menurut Wikipedia, dulunya Stasiun ini menjadi tempat pemberhentian kereta lingkar Ciliwung di sekitar awal tahun 2000-an. Tapi karena posisinya nanggung antara Stasiun Manggarai dan Stasiun Sudirman, maka stasiun ini kemudian tidak dioperasikan lagi. Katanya sih, stasiun ini akan dioperasikan lagi, namun entah kapan.
Karena kebetulan saya diminta teman untuk membantu pameran hasil karya warga dengan disabilitas di Gereja St. Ignatius Loyola Menteng, saya berkesempatan untuk mengamati dari dekat sisa-sisa Stasiun Mampang ini.  Jarak “mantan” stasiun ini dari gereja memang hanya 5 menit jalan kaki. Itulah sebabnya saya bisa mengambil foto-foto ini.

Yang tak terpakai lagi.
Sayang juga yah, melihat reruntuhan stasiun ini. Kalau memang tidak dipakai, mungkin lebih baik bangunan ini sekalian dihancurkan biar tidak disalahgunakan. Kalau mau dipakai ... yah, semoga cepat terealisasi.

7 Komentar:

  1. wah sudah ga beroperasi lagi mas?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dianggap tidak efisien karena terlalu dekat dengan Stasiun Manggarai, makanya terus tidak dioperasikan. Btw, saya ini wanita lho ...

      Hapus
    2. oalahhh maaf mbaa, awalnya aku kira cowo makanya kupanggil mas, hadeh..
      ohh, kalo deket gitu jadi ga operasi yaa, walah sayang banget ga dipake

      Hapus
  2. Waahh... udah nggak difungsikan sebagaimana mestinya yaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ...
      Yang bikin heran, di peta jalur Commuter Line, nama Stasiun Mampang tetap terpampang. Kalau nggak dirasa perlu, kan mendingan dihapus saja ya?

      Hapus
  3. namanya Stasiun Mampang karena jaman dulu "Jl. Teuku Cik Di Tiro" yg paling dekat dengan Stasiun itu namanya "Jl. Mampang". Mudah2an ke depannya Stasiun ini diaktifkan kembali. Lumayan, untuk mengurangi kepadatan Stasiun Sudirman dan Manggarai.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oalah ... baru tahu dulu itu namanya Jl. Mampang. Banyak bener nama Mampang di Jakarta ya.

      Hapus