7 Oktober 2016



Makanan

Dari sisi anggaran, makanan adalah pengeluaran yang paling mudah diatur. Selama saya jalan-jalan di Hokkaido, saya selalu makan pagi paket onigiri di Seven-Eleven atau Lawson. Dari onigiri isi manisan buah yang harganya 120 yen atau paket onigiri plus kushikatsu yang harganya 550 yen. Terus, biasakan bawa botol minum biar nggak banyak beli minuman di jalan. Karena waktu di Furano saya selalu harus buru-buru mengejar bus, maka saya nggak sempat beli makanan. Jadi ada dua malam dimana saya hanya makan biskuit coklat yang dibawa dari Indonesia. Walau maksudnya bukan menghemat, tapi jatuh-jatuhnya ya tetap mengurangi pengeluaran.
Paket nasi dari Lawson untuk sarapan di Asahikawa.
Nah, buat yang mau nyobain makanan khas setempat, bisa pilih-pilih untuk mencoba apa yang unik. Untuk yang satu ini, mau tidak mau kita harus mengeluarkan biaya yang lumayan. Waktu saya menginap di Goryo Guesthouse, di malam terakhir saya sengaja makan di kafenya karena mereka menyediakan sandwich dari hasil kebun sendiri. Total biaya makan malam itu 1200 yen. Apa boleh buat, kapan lagi saya makan makanan dari kebun lokal Hokkaido?
Nah, salah satu kuliner khas Hokkaido adalah sofuto, atau es krim lembut. Hampir setiap tempat wisata pasti jualan sofuto. Jadi, selama saya di Hokkaido, saya mencoba sofuto rasa cokelat di Shiroi Koibito Park, sofuto rasa melon di Tomita Melon House, dan sofuto rasa anggur di Campana Della Vigna Rokkatei. Waktu di Farm Tomita, sebenarnya ada yang jualan sofuto rasa lavender. Tapi, karena waktu itu saya udah eneg dengan es krim, saya jadinya beli minuman soda rasa lavender.
Sofuto!
Oh ya, saya juga makan jenis-jenis mie khas Jepang selama di sana. Nggak mungkin dong, jalan-jalan ke Jepang nggak mencoba kuliner otentik Jepang? Waktu di Biei, saya makan siang di warung ramen Hakkai. Masakan khasnya adalah ramen tonkatsu (babi) dengan potongan keju. Porsinya jumbo dan disajikan panas-panas. Nah, keesokan harinya saya makan siang di Biei juga tapi di Soba Ten. Saya makan soba dingin dengan kuah dan lauk sayuran segar.
Lusanya, saya makan malam sebuah warung soba tua dan sepi di Asahikawa. Saya makan soba dingin dengan lauk telur setengah matang dan potongan jamur yang berlendir. Jujur saja, kalau yang ini saya memang asal nunjuk saja. Maklum, di menu nggak ada gambarnya dan tidak ada penjelasan bahasa Inggris. Rasanya aneh, mana berlendir pula. Tapi karena lapar, ya tetap habis. Saya lihat, selama saya makan, kakek-kakek yang menjaga warung melihati dengan muka was-was. Mungkin dia khawatir saya tidak suka makanannya. Mukanya nampak lega waktu melihat saya berhasil menghabiskan soba dingin berlendir itu. Waktu saya keluar warung soba ini, ada dua ibu-ibu di halte bus yang melihati saya sambil tersenyum. Mungkin mereka senang ada orang asing yang mau mencoba makanan tradisional mereka.
Soba dengan telur setengah matang dan jamur berlendir.
Oh ya, saya makan ramen dan soba di warung tradisional Jepang. Nah, kebanyakan orang Jepang, apalagi kelas pekerja yang buka warung makan begitu, bahasa Inggrisnya kurang baik. Jadi, jangan memaksa harus ada menu bahasa Inggris. Kalau pelayannya ditanya pakai bahasa Inggris tidak menjawab, atau hanya geleng-geleng, itu artinya mereka tidak berani berbicara dalam Bahasa Inggris. Apa boleh buat, kita di negeri orang, ya kita juga harus sadar dengan kondisi budaya mereka. Google Translate adalah salah satu cara untuk berkomunikasi, selain bahasa tarzan.
Waktu di warung ramen, bapak-bapak yang saya tanyai pakai bahasa Inggris menjawab dalam bahasa Jepang, tapi sambil menunjuk menu yang ada bahasa Inggrisnya. Waktu di warung soba yang di Biei, menunya tidak ada penjelasan bahasa Inggris, tapi ada gambarnya. Jadi, pas saya masuk, saya langsung diantar ke meja dan disodori menu dengan gambar-gambar itu. Waktu saya di warung soba yang di Asahikawa, saya masuk langsung duduk. Terus, kakek-kakek yang jaga warung meletakkan menu di atas meja saya, terus buru-buru kembali ke meja kasir sambil melihati saya. Melihat gelagat seperti itu, saya langsung tahu si kakek-kakek ini sebenarnya panik karena ada orang asing masuk ke warungnya dan dia tidak tahu harus ngomong apa. Ya sudah, karena menunya tidak pakai gambar, tulisannya kanji semua, terpaksa saya asal tunjuk saja berdasarkan insting dan harga yang tertera di menu – dan dapatnya telur setengah matang plus jamur berlendir. Hahaha!

Internet

Sebagai solo traveller yang kemana-mana sendiri dan kadang kala harus jalan kaki blusukan, GoogleMaps dan GoogleTranslate adalah wajib hukumnya. Masalahnya, jarang saya nemu wifi gratisan. Selain di bandara atau hotel, hampir-hampir saya tidak menemukan wifi gratisan. Artinya kita harus punya akses internet sendiri.
Paket internet luar negeri dari provider Indonesia umumnya mahal. Jadi pilihan yang masuk akal adalah SIM Card untuk turis atau Rental WiFi/Pocket WiFi. Kalau pakai SIM Card Jepang, saya harus lepas SIM Card Indonesia saya dan saya akan sulit dikontak oleh keluarga dan teman-teman di  Indonesia. Jadi, pilihan yang menurut saya paling tepat adalah Rental WiFi/Pocket WiFi.
Di sini masih bisa update status, lho!
Dari hasil survey, saya memilih Sakura Mobile sebagai penyedia jasa Rental WiFi yang saya pakai. Kebetulan, kalau memesan paket rental 30 hari sebelum penggunaan, ada diskonnya. Inilah yang kemudian membuat saya buru-buru pesan ke Sakura Mobile. Paket yang saya pilih hanya yang basic, jadi berat banget kalau mau upload video ke YouTube. Tapi kalau cuma buka GoogleMaps dan browsing tentang museum, masih bisa banget. Caranya pesannya juga praktis: pesan online dan bayar pakai kartu kredit, terus ambil alatnya di kantor pos di bandara, dan pas pulang tinggal kirim ke perusahaannya lewat kantor pos. Cara pakainya juga gampang, karena rasanya sama seperti bawa-bawa Bolt pas jalan-jalan.
Untuk jangkauan internet dari Rental WiFi, saya jamin okeh. Jaringan internet di Jepang termasuk yang paling bagus di dunia, jadi kemana kita pergi alat kita pasti dapat sinyal. Kebetulan WiFi dari Sakura Mobile saya memakai jaringan Yahoo! Japan yang sinyalnya sampai ke puncak Asahidake dan pelosok Kami-Goryo.

Persiapan

Yang paling penting dari jalan-jalan sendiri (baik solo traveller atau barengan) adalah persiapan. Selama nggak bosen-bosen lihat peta, nyari jalan, baca-baca blog orang, cek perkiraan biaya, dan memilih-milih tempat wisata yang bisa dikunjungi, perjalanan wisata akan lancar dan menyenangkan!
(Selesai.

Yang penting, fun!

0 Komentar:

Posting Komentar