25 Mei 2017



Beberapa bulan yang lalu saya berkesempatan untuk berkunjung ke Singapura. Alih-alih jalan-jalan di sekitaran pusat kota yang tersohor seperti Orchard Road, saya malahan memanfaatkan kesempatan ini untuk mengintip daerah sub-urban di daerah utara Singapura. Dengan alasan ingin mengunjungi River Safari, saya sengaja berputar-putar ke arah utara, sekalian melihat-lihat daerah perumahan di negara Singapura.

Melewati daerah Sub-Urban

Saya jalan melewati daerah Yishun, Woodlands, Sembawang, dan kemudian mampir sebentar di Kranji, sebelum akhirnya tiba di River Safari. Tempat-tempat yang saya sebutkan di atas adalah daerah perumahan penduduk. Selintas melewati daerah-daerah itu, saya melihat beberapa hal yang memang berbeda dengan apa yang biasa saya lihat di Jakarta. Bukan masalah mana yang lebih baik atau yang lebih buruk ya, soalnya kan setiap negara memiliki karakteristiknya sendiri-sendiri.
Tempat parkir sepeda yang penuh di stasiun MRT.
Yang jelas, setiap daerah yang saya lihat selalu bersih dari sampah. Selain itu, perumahan dan bangunan apartemen tertata rapi. Hampir di setiap area, ada taman publik yang bisa dipakai untuk berkumpul para warga. Bisa dikatakan, saya tidak menjumpai rumah yang terbengkalai atau rusak.
Jarak pemukiman dan moda transportasi tidak pernah terlalu jauh. Sepertinya hal ini menjadi perhatian pemerintah saat membangun jalur-jalur transportasi. Banyak orang yang naik sepeda dari rumah ke stasiun MRT (kereta). Sepanjang perjalanan, saya berulang kali melihat tempat parkir sepeda yang penuh di depan stasiun MRT. Bus juga bisa menjadi pilihan untuk orang yang hendak bepergian.
Semua pengemudi taat peraturan. Memang mobil di jalanan Singapura tidak sepadat di Jakarta. Tapi, jalur dari/ke pusat kota tetap macet dan kendaraan tetap merayap lambat. Hanya saja, hal ini tidak membuat para pengemudi ugal-ugalan. Oh ya, saya tidak menemukan sepeda motor. Mungkin karena kebetulan saya tidak melihat, atau memang hanya sedikit sepeda motor bergengsi yang bisa mondar-mandir di jalanan.

Kranji War Memorial

Ini adalah semacam Taman Makam Pahlawan, namun lebih dikhususkan untuk pahlawan dan korban yang menjadi bagian dari tentara Commonwealth (Persemakmuran Inggris Raya) yang berjuang melawan Jepang saat perang dunia kedua, termasuk yang berjuang di Malaysia atau Indonesia. Namun, ada juga beberapa yang meninggal saat perang dunia pertama.
Kranji War Memorial.
Deretan batu nisan yang sangat rapi dan seragam (hanya beda tulisannya saja) tanpa membeda-bedakan siapa yang dikuburkan di dalamnya ini paling tidak memberikan sekilas pelajaran sejarah Singapura bagi saya. Daftar nama yang tertulis di dalam Memorial Walls memberikan gambaran tentang pasukan Commonwealth yang turut berjuang di saat perang dunia kedua.
Tempat yang jelas bukan tempat wisata santai ini cocok untuk yang memang berminat terhadap sejarah. Tapi sebetulnya, kalau memang hanya duduk-duduk santai saja, tempat yang bersih dan asri ini sebetulnya juga cocok.
Jujur saja, kadang-kadang mengunjungi pemakaman (baik di Indonesia maupun di luar negeri) bisa memberikan gambaran tentang sejarah bangsa (baik bangsa kita maupun bangsa lain). Dan jangan salah lho, kita bisa mengira-ngira komposisi bangsa, harapan hidup, dan juga tempat-tempat penting yang mungkin tertulis di situ. Kita juga bisa mendapatkan informasi tentang kejadian-kejadian penting yang terjadi di saat orang-orang tersebut meninggal. Setiap kali saya mengunjungi pemakaman kuno atau taman makam pahlawan, saya selalu teringat bahwa hidup dalam damai itu bukan hal yang mudah diperoleh – dan hanya orang gila yang mau merusak ketenangan hidup orang banyak.

River Safari

Ini sih tempat wisata yang sudah dikenal oleh banyak orang Indonesia. River Safari letaknya masih satu kompleks dengan Singapore Zoo. Berhubung saya tipe orang yang bisa berjam-jam melihat ikan di dalam akuarium, maka River Safari menjadi tujuan wisata pilihan saya. Di dalam tempat ini, kita bisa melihat hewan-hewan sungai dari berbagai penjuru dunia – termasuk yang jarang dijumpai seperti Chinese Giant Salamander dan Piranha. Oh ya, entah mengapa, River Safari juga menyimpan panda. Ada panda merah dan juga panda raksasa yang sebetulnya hanya hidup di China.
Asyik kan ... melihat ikan-ikan mondar-mandir di akuarium.
River safari menjadi tempat yang menyenangkan untuk bersantai – terutama karena ada akuarium-akuarium raksasa yang menyimpan hewan-hewan sungai yang berputar-putar mengelilingi akuarium. Setiap area pameran tidak hanya menjelaskan nama hewan, namun juga penjelasan tentang fakta unik yang terkait dengan hewan-hewan tersebut.

Mustafa Center

Yak, saya mampir ke sini karena perlu membeli oleh-oleh. Mustafa Center adalah tempat belanja kebutuhan sehari-hari yang harganya cukup terjangkau dan buka 24 jam. Jadi, kita turis yang hanya punya waktu terbatas, bisa mampir ke sini untuk membeli coklat atau barang lain untuk oleh-oleh. Oh ya, Mustafa Center ini gede banget lho ... jadi sebaiknya sudah tahu mau membeli apa waktu datang. Kalau tidak, bisa-bisa kalap memborong macam-macam.
Mustafa Center.
Yah ... begitulah sepintas lalu jalan-jalan di Singapura. Sekali-sekali jalan-jalan yang tidak mainstream. Paling tidak, kita bisa melihat kondisi lain di luar area turistik di negara tersebut.

0 Komentar:

Posting Komentar