7 Mei 2017

Setiap kali saya naik Commuter Line, saya selalu penasaran dengan stasiun di peta (di atas pintu gerbong) yang diberi kode merah. Merah artinya kereta tidak berhenti di situ. Penasaran kan, stasiun macam apa yang dilewati oleh Commuter Line namun tidak dijadikan tempat pemberhentian?
Salah satu stasiun yang diberi kode warna merah adalah Stasiun Cipinang. Nah, minggu lalu, saya sengaja naik kereta ke Jatinegara, untuk selanjutnya naik angkot ke arah Cipinang demi bisa melihat dari dekat Stasiun Cipinang.
Stasiun Cipinang yang nampak tak terurus.
Saya sengaja turun di depan Kantor Imigrasi, lalu jalan kaki di sepanjang Jl. Bekasi Timur Raya menuju ke arah Lapas Cipinang sambil berharap siapa tahu bisa menemukan jalan menuju ke Stasiun Cipinang. Di sepanjang jalan, saya hanya melihat pagar tembok. Sudah diduga, memang Stasiun Cipinang ditutup dari mata banyak orang – seolah-olah sudah tidak ada lagi. Menurut GoogleMaps, saya harus jalan kaki  terus ke arah pertigaan, dan lalu mengambil gang kecil di sebelah kiri yang dapat membawa saya ke Stasiun Cipinang. Untungnya, persis di depan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Cipinang, dekat proyek pembangunan jalan, ada celah di pagar tembok. Celah itu cukup untuk dilalui orang. Dari celah itu, saya melihat stasiun yang saya cari-cari: Stasiun Cipinang.
Tepat sebelum melewati celah, saya sempat dihadang oleh seseorang mas-mas berbaju lusuh dengan anting-anting di hidung yang mengingatkan agar saya selalu menengok ke kiri dan ke kanan sebelum menyeberangi rel kereta. Dan memang benar, persis setelah dia berbicara, kereta asal Yogyakarta lewat dengan cepat di depan saya. Karena daerah ini bukan daerah dimana orang boleh menyeberang rel sesuka hati, kereta tidak wajib membunyikan peluit saat lewat. Jadi, memang kita yang harus ekstra hati-hati ketika melewati tempat ini. (Kalau mau aman, lebih baik melewati pertigaan Jl. Bekasi Timur Raya – Jl. I Gusti Ngurah Rai dan belok ke gang kecil di pertigaan ini. Ini lebih aman karena kita saat menyeberangi rel, kita akan melewati palang kereta yang akan berbunyi saat ada kereta yang mau lewat.)
Mengintip stasiun dari celah-celah pagar tembok.
Stasiun Cipinang letaknya memang persis di seberang Lapas Cipinang. Menurut Wikipedia, stasiun ini didirikan di tahun 1887. Jadi, bangunan stasiun ini sebenarnya dapat dikategorikan sebagai bangunan bersejarah. Dan jangan salah, sampai sekarang stasiun ini masih aktif lho. Stasiun ini membantu memberikan sinyal kepada kereta yang lewat, terutama jika ada kereta yang harus berhenti atau mendahului. Biasanya hal ini terjadi saat ada kereta Commuter Line yang harus mengalah memberikan jalan untuk kereta jarak jauh. Hanya saja, stasiun ini memang bukan tempat menaikkan dan menurunkan penumpang.
Menurut bapak-bapak yang bertugas di stasiun ini, stasiun ini merupakan bangunan bersejarah yang cukup sering dikunjungi oleh para penggemar kereta api. Dia pun menunjukkan atap yang ditutup kayu, yang katanya merupakan tempat rantai-rantai pengontrol sinyal di menara. (Menaranya sudah tidak ada.) Jaman dulu, sinyal kereta pakai tanda warna dan untuk mengoperasikannya harus menggunakan mesin besar dengan rantai dan tuas.
Celah kayu di atas adalah tempat mengatur sinyal kereta jaman dahulu.
Saat saya datang, di dalam bangunan ini ada tiga orang yang sedang berjaga. Mereka memang bertugas di sini, antara lain untuk memberi tanda pada kereta yang lewat. Mereka sendiri sepertinya sudah terbiasa dengan tamu yang datang untuk foto-foto. Salah satu dari bapak-bapak itu malah berkata, “Foto-foto saja, Mbak. Tahun depan gedung ini akan dirubuhkan. Mau dibangun Dipo ...”
Memang benar, saat ini Pemerintah sudah memulai pembangunan Dipo di area Cipinang ini. Dari bangunan ini saja, saya sudah bisa melihat tanah kosong yang sudah diratakan dan dipersiapkan untuk menjadi tempat-tempat pemeliharaan lokomotif. Dan karena akan ada jalur tambahan untuk mempermudah perjalanan kereta jarak jauh, maka gedung stasiun cipinang – yang letaknya memang menghalangi pembangunan rel tambahan ini, akan dirobohkan. Sayang sekali sebetulnya, mengingat gedung ini adalah gedung bersejarah.
Tahun 2017 ini mungkin adalah kesempatan terakhir untuk melihat Stasiun Cipinang.
Gedung Stasiun Cipinang sendiri memang sudah terlihat lusuh dan tidak terawat. Mungkin karena memang sebentar lagi akan dihancurkan. Ruang tempat penjaga juga seadanya. Karena tidak menjadi tempat melayani penumpang, maka memang peralatannya tidak serumit stasiun yang lain. Untung juga saya berkesempatan mengunjungi stasiun ini sebelum dihancurkan.

Buat yang berminat berkunjung kemari, bisa naik kereta sampai Stasiun Jatinegara dan dilanjutkan dengan angkot no. 27 (Kampung Melayu – Pulo Gadung), no. 32 (Kampung Melayu – Klender), atau no. 31 (Kampung Melayu – Pondok Kelapa). Lebih baik berhenti di pertigaan setelah Lapas, supaya lebih aman saat menyeberang rel kereta api. Bisa juga naik busway, turun di Halte Busway Imigrasi Jakarta Timur (K11-11, bagian dari koridor Kampung Melayu – Pulo Gebang), lalu jalan kaki. Jangan lupa berhati-hati saat menyeberang rel kereta api.
Calon Dipo Cipinang.

4 Komentar:

  1. Terjawab rasa penasaran dengan stasiun yg cuma lewat doang ini. Thx ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, gara-gara penasaran ini makanya saya bela-belain ke sini. Dan ternyata banyak penggemar kereta yang ke sini untuk lihat-lihat, lho!

      Hapus
  2. Jaman medio 90an-2000an awal kalo kalo malam 'horor' dekat stasiun cipinang ini... karena jadi tempat prostitusi seadanya saat itu...banyak PSK dan banci2 berkeliaran...

    BalasHapus