23 Juni 2017

Selamat ulang tahun Jakarta! Walau sehari terlambat mengucapkan, tetap saja Jakarta layak mendapatkan ucapan selamat. Tidak perlu dibahas mengenai tepat tidaknya mengucapkan selamat ulang tahun Jakarta di tanggal 22 Juni. Juga tidak perlu dibahas mengenai apa masih perlu dirayakan. Yang jelas, di waktu di mana orang-orang sudah mulai bergerak meninggalkan kota Jakarta karena mudik Lebaran, saya hendak mengenang kembali suka duka naik kendaraan umum di Jakarta dari belasan tahun silam.
Yak, mengenali perkembangan suatu kota tidak hanya dilihat dari penambahan (atau hilangnya) gedung dan penambahan jalan layang dan underpass, namun juga perkembangan transportasi massal yang ada. Sebagai perantau yang sudah 20 tahun tinggal di Jakarta, saya ingin mengenang kembali perkembangan transportasi publik yang saya gunakan di Jakarta ini.
Tiket KRL. Tanggal 14 September 2000, Stasiun UI - Gambir Rp 1.000,-.
Sebelum disebut sebagai Commuter Line, orang menyebut kereta dengan KRL atau Kereta Rel Listrik. Nah, dulu tuh, tiket kereta bentuknya seperti kartu domino. Warnanya putih, dan di situ tertulis relasi yang diperbolehkan. Kalau kita beli tiket dan turun di tempat yang lebih jauh dari relasi yang diperbolehkan, akan dikenakan denda. Akan tetapi, karena umumnya penjagaan di stasiun kurang ketat, ya selalu ada yang bisa lolos. Nah, dahulu kala, jika kita turun kereta dan akan meninggalkan stasiun, di pintu stasiun ada penjaga yang mengambil tiket dan memeriksanya. Karena di jam-jam sibuk yang lewat banyak sekali, kadang-kadang si petugas nggak sempat lagi memeriksa semua tiket. Bahkan, sering kali saya lewat tanpa bisa menyerahkan tiket ke petugas karena ada banyak orang yang menghalangi.
Oh ya, seingat saya, di beberapa stasiun bahkan selalu ada jalan belakang dimana orang bisa keluar masuk dengan mudah. Jadi, orang juga bisa bebas merdeka naik kereta bahkan tanpa bayar tiket sama sekali. Jadi, jangan heran kalau saat dirazia ada banyak sekali yang tidak punya tiket. Oh ya, di awal tahun 2000-an, sangat umum melihat orang lompat ke atap gerbong untuk naik kereta. Dulu sekali, kereta saya pernah berhenti cukup lama karena tiba-tiba gerimis dan ada orang yang kena listrik lalu gosong di atas gerbong. Menyeramkan!
Mau naik Kelas Ekonomi, Depok Ekspres AC, atau Pakuan Ekspres?
Nah, di sekitar tahun 2003, bentuk tiket berganti menjadi lebih tipis. Bentuknya sih lebih bagus. Tapi dengan pola penanganan tiket yang sama, kasus orang naik kereta lebih jauh dari relasinya atau tidak pakai tiket, ya tetap ada. Tapi seingat saya di tahun-tahun ini, orang-orang yang naik ke atap gerbong sudah mulai ditangkap-tangkapi. Kalau tidak salah ingat, kereta tidak akan berangkat kalau masih ketahuan ada orang di atas gerbong. Untuk selanjutnya, penumpang dilarang keras naik ke atas atap gerbong.
Dibandingkan jaman sekarang, harga tiket kereta di sekitar tahun 2003 sampai 2010-an cukup bervariasi. Ada kereta Ekonomi, ada kereta Ekspres. Kereta Ekonomi berhenti di semua stasiun, sedang kereta Ekspress hanya berhenti di stasiun tertentu. Pakuan Ekspres adalah kereta paling elit di masanya, dan harganya lumayan mahal, Rp 11.000,-. Saya mengenal Depok Ekspres dan Pakuan Ekspres. Seingat saya, dulu ada juga Tangerang Ekspres dan Bekasi Ekspres. Tapi, saya tidak pernah naik kedua kereta itu karena bukan jalurnya. Kebetulan dulu saya tinggal di sekitaran Depok, jadi kemana-mana naik kereta.
Jaman dulu tuh ya, kalau naik kereta ekonomi apalagi di jam pulang kantor, harus tahan mental dan tahan hidung. Sudah kereta penuh sesak, bau keringat, nggak pakai AC pula. Kalau kereta berhenti terlalu lama di tengah jalan karena gangguan sinyal atau memberi jalan untuk kereta luar kota lewat ... sudahlah. Naik kereta AC, ekspres pula, jauh membantu untuk menjaga kesehatan rohani. Oleh sebab itu, kereta Pakuan yang sekali jalan sebelas ribu pun juga laris manis untuk para pekerja kantoran yang butuh pulang cepat.
Kartu Multi Trip yang sebentar lagi sudah tidak berlaku lagi.
Nah, setelah saya pindah untuk tinggal di sekitaran Jakarta Pusat, saya sudah sangat jarang naik kereta. Sekalinya mau naik kereta, ternyata sudah pakai sistem tiket elektronik. Supaya tidak terlalu merepotkan, saya jadinya membeli tiket Kartu Multi Trip yang cukup diisi seperlunya. Jadi tidak perlu antre beli Tiket Harian setiap mau naik kereta. Nah, tiket yang di gambar ini pun juga sebentar lagi sudah tidak berlaku karena akan digantikan dengan kartu chip FeliCa. Kartu yang baru belum saya beli, soalnya belum perlu naik kereta lagi. Lagi pula, saya juga punya kartu elektronik dari bank yang bisa dipakai di mana-mana, termasuk untuk naik Commuter Line.
Saat saya sudah tinggal di Jakarta Pusat, saya lebih sering naik bus Transjakarta kemana-mana. Kebetulan, dari kos ke kantor cukup naik bus sekali di sekitaran Sudirman. Jadi, dari awal ada bus Transkajarta jalur Blok M – Kota di tahun 2004, saya sudah naik Transjakarta walau tidak setiap hari. Cuma sesekali saja naik kereta kalau ada perlu di sekitaran Depok.
Oh ya, pertama kali Transjakarta dioperasikan, harga tiket bus Transjakarta Rp 3.500,- dianggap mahal. Soalnya, waktu itu harga naik Kopaja dan Metromini masih Rp 3.000,-. Waktu harga Kopaja dan Metromini naik jadi Rp 3.500,-, kemudahan naik turun di sembarang tempat juga membuat saya lebih suka naik bus-bus ini. Waktu harga Kopaja dan Metromini naik menjadi Rp 4.000,- sekali jalan, jumlah penumpang bus Transjakarta mendadak menjadi lebih banyak.
Aneka tiket yang pernah digunakan untuk bus Transjakarta.
Sampai tahun 2014, kalau naik bus Transjakarta, kita harus antre beli tiket di loket. Loket ada di setiap halte busway. Di jam berangkat kantor, antrenya bisa 15 menit sendiri. Sama seperti kalau sekarang antre Tiket Harian Commuter Line. Makanya saya cenderung berangkat pagi karena antre tiket lama, antre naik bus lama (karena busnya masih sedikit), kalau kesiangan busnya penuh banget, dan busnya sendiri juga lama kalau di koridor yang tidak steril.
Tiket naik Transjakarta jaman dulu bentuknya selembar kertas tipis saja. Supaya waktu pulang kantor tidak antre beli tiket, kadang kala di pagi hari saya langsung beli tiket dua lembar, satu langsung dipakai dan satunya untuk waktu pulang ke rumah. Pernah saya pulang nebeng teman, jadi tiket busway baru dipakai keesokan harinya ... dan sukses. Tapi itu tidak berlangsung lama, karena kemudian tiket busway diberi cap tanggal. Jadi, kalau tidak dipakai di hari yang sama, ya hangus. Tapi kadang mas-mas di gerbang masuk suka kelewatan membaca cap tanggal atau mbak-mbak di loket lupa membubuhkan cap tanggal. Jadi orang bisa menggunakan tiket di hari yang berbeda. Maka kemudian secara periodik warna dan desain tiket diganti. Walau punya tiket yang kelupaan dicap tanggal oleh mbak-mbak di loket, tapi pas keesokan harinya sudah ganti warna tiket, maka tiket yang sudah terlanjut dibeli ya hangus.
Ketika mulai ada koridor yang menggunakan kartu elektronik, saya pun mencoba menggunakannya. Kartu yang pertama kali bisa digunakan adalah JakCard dari Bank DKI. Waktu itu, uji coba pertama di Koridor 6, Ragunan–Dukuh Atas. Saya, yang bukan nasabah Bank DKI, juga punya satu JakCard. Sayangnya kartu ini gagal menjadi kartu pembayaran transportasi umum, mungkin kalah bersaing dengan bank-bank besar, jadi kartu saya lalu hanya disimpan di dalam lemari.
Tiket Bus Kopaja AC sebelum terintegrasi dengan Transjakarta.
Sampai tahun 2014, masih ada Kopaja AC yang bisa masuk jalur busway dan mengambil penumpang di halte busway. Bus Kopaja AC juga mengambil penumpang di jalan. Nah, untuk naik Kopaja AC, penumpang juga harus bayar tiket (kalau naiknya dari halte). Kalau naik dari pinggir jalan, ya langsung bayar saja ke keneknya. Waktu itu harga Kopaja AC cukup mahal, yaitu Rp 6.000,- sekali jalan. Tapi jangan salah, sementara di pagi hari Kopaja yang biasa cuma punya penumpang duduk, kenek Kopaja AC bisa menggantung di luar pintu karena busnya penuh banget!
Mulai tahun 2014, pemerintah DKI Jakarta menyediakan bus Transjakarta gratis yang berputar-putar di sekitaran Sudirman–Thamrin, tapi lewat jalur lambat. Kalau naik bus gratis ini, maka penumpang akan mendapatkan tiket Transjakarta yang bertuliskan gratis. Lumayan kalau kebetulan dapat bus ini dan tujuannya juga tidak terlalu jauh. Tapi di jam-jam macet, naik bus ini cukup menghabiskan waktu juga karena ikut kena macet.
Di tahun 2017 ini, dimana bus Transjakarta sudah cukup sering, relasinya banyak, dan kalau mau masuk cukup menyentuhkan kartu elektronik dari bank pilihan di mesin, naik bus Transjakarta sudah lebih manusiawi dibandingkan dahulu. Sebagai pemilik kartu elektronik dari bank yang bisa dipakai di Transjakarta maupun Commuter Line, saya sekarang sudah tidak terlalu bermasalah dengan antre masuk ke dalam halte atau stasiun. Bahkan, informasi tambahan biaya untuk topup kartu di loket busway juga bukan masalah untuk saya karena saya bisa topup sendiri di ATM pilihan.
Dengan pembangunan yang sekarang sedang dikerjakan dimana-mana, apakah moda transportasi massa di Jakarta akan semakin baik atau tidak? Mari kita tunggu. Untuk sementara, apakah ada yang mau share pengalaman naik kendaraan umum di Jakarta dari masa ke masa?

1 Komentar:

  1. Semoga Ibukota Negara Tercinta kita makin maju:)
    Selamat Ulang Tahun Jakarta :D

    BalasHapus