12 November 2017

Jam 05:30 pagi, alarm handphone kami sudah berbunyi semua. Begitu di negeri orang, kami jadi rajin. Padahal, umumnya, kami semua biasa bangun jam delapan di hari libur. Berhubung hari ini kami harus check out pagi-pagi dan naik kereta menuju Strasbourg jam 07:44, kami semua tetap semangat bangun pagi. Seluruh kereta keluar Paris yang menuju ke arah timur berangkat dari Gare de l’Est, jadi tak salah kalau malam sebelumnya kami memilih untuk menginap di dekat stasiun tersebut.
Strasbourg, kota tujuan kami pagi ini.
Jarak dari Paris ke Strasbourg adalah sekitar 490 kilometer, yang dapat ditempuh oleh kereta TGV (Train à Grande Vitesse atau Kereta Cepat) selama 2 jam. Yah, bayangkan saja naik kereta Jakarta – Semarang bisa sampai hanya dalam waktu 2 jam. TGV adalah kereta kebanggaan perusahaan kereta api Perancis (SNCF - Société Nationale des Chemins de Fer Français) yang memang dimaksudkan untuk perjalanan jarak jauh. Nah, untuk mempersingkat waktu dan menambah pengalaman, hampir seluruh perjalanan antara kota kami ditempuh dengan menggunakan TGV.
Kalau kita naik kereta dari Jakarta ke Yogyakarta, kita akan disuguhi pemandangan yang cukup bervariasi. Ada sawah, gunung, lembah dan ngarai, dan juga sungai besar. Perjalanannya juga lebih “menantang” karena kontur tanah Pulau Jawa yang bervariasi. Kita bisa kadang naik ke atas bukit, masuk terowongan, atau menuruni lembah landai.
Ladang gandum di pinggir rel kereta. Susah memotret di TGV karena kecepatannya tinggi.
Tapi kalau naik kereta dari Paris ke Strasbourg, pemandangannya relatif sama di mana-mana: tanah datar yang umumnya sudah menjadi ladang gandum atau tanah lapang untuk memelihara kambing dan sapi. Kadang ada hutan kecil yang warna daun-daunnya sudah mulai sedikit menguning, dan kadang juga melewati desa-desa yang dari kejauhan bentuknya mirip seperti desanya Belle di film Beauty and The Beast. Tapi yang jelas, kontur tanah di sepanjang perjalanan cenderung datar sehingga tidak ada gunung dan ngarai. Nggak heran kedua teman saya memilih tidur sepanjang perjalanan. Sementara saya berusaha untuk tidak tidur selama perjalanan karena tidak mau kehilangan kesempatan melihat pemandangan alam khas Eropa ini.
Kami tiba di Strasbourg jam 09:43. Tepat waktu. Tanpa terburu-buru bergerak menuju hotel, kami memilih untuk menikmati gedung Stasiun Strasbourg yang sudah berdiri sejak tahun 1880-an ini. Tapi di tahun 2007, bagunan tua ini “diselubungi” bangunan kaca untuk memperbesar kapasitasnya tanpa terlalu banyak mengganggu bangunan aslinya. Tapi memang akibatnya, kalau mau di foto dari luar agak susah, karena yang terlihat hanya bangunan kacanya.
Di sebelah kiri itu TGV kami dari Paris. Ini bagian dalam stasiun Strasbourg.
Hotel kami letaknya lumayan juga dari stasiun, yaitu 20 menit jalan kaki. Kenapa kami memilih hotel itu? Karena, hotel itu letaknya sangat dekat dengan la Cathédrale Notre Dame de Strasbourg yang merupakan pusat kota tua Strasbourg. Hotel kami yang nyaman dan berada persis di tengah kota tua merupakan salah satu faktor penting yang membuat kami dapat berjalan-jalan dengan nyaman.
Tapi, di hari pertama kami tiba di Strasbourg ini, kami tidak langsung menjelajahi kota tua. Bukan apa-apa, ada satu tujuan lain yang kami ingin kunjungi – dan letaknya bukan di Perancis, melainkan di Jerman. Ya, tepat sekali! Stasbourg adalah kota yang berbatasan langsung dengan Jerman. Kota di Jerman yang berbatasan dengan Strasbourg adalah Kehl. Dan kota kecil bernama Kehl inilah yang akan kami kunjungi hari ini.
Lanjut ke Kehl, Jerman. Dari nama jalan, sudah jelas ini bukan Perancis.
Mulai tahun 2017 ini, orang bisa naik trem dari Strasbourg, Perancis dan turun di Kehl, Jerman. Tanpa ada pemeriksaan paspor dan tidak ada cap visa. Langsung saja melewati batas negara, sama seperti naik kereta melewati perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Nah, kapan lagi kami bisa melewati batas negara sebebas itu? Sudah pasti kami juga mau mencoba naik trem ke Kehl.
Jadi, setelah bertanya kepada petugas hotel yang baik hati, kami memutuskan untuk naik trem dari terminal Langtross/Grand Rue dan akan berhenti di Kehl Bahnhof. Naik trem untuk pertama kalinya juga menjadi pengalaman menarik. Petugas hotel sudah sempat menerangkan bahwa ada satu tiket yang bisa dipakai oleh satu sampai tiga orang sekaligus sepuasnya selama 24 jam. Harganya lebih murah dibandingkan satuan. Sudah pasti kami memilih tiket ini dengan mengeluarkan uang sebesar EUR 6,80. Lumayan kan, bisa dipakai bertiga. Kamipun naik trem sekitar 48 menit menuju Kehl Bahnhof.
Kehl adalah kota kecil yang hampir-hampir tidak ada tempat wisatanya. Ada beberapa bangunan menarik, namun memang kalah banget dengan Strasbourg. Tapi tujuan kami di sini adalah jalan-jalan antar negara, mumpung bisa. Nggak salah dong, mampir sebentar ke Jerman.
Mall di Kehl.
Oh ya, untuk tambahan informasi ya, harga barang-barang di Jerman lebih murah dari pada di Perancis. Sudah menjadi hal biasa untuk warga Strasbourg belanja kebutuhan sehari-hari di Kehl. Buat kita yang turis, kalau mau membelikan oleh-oleh berupa cemilan, cokelat, atau permen, disarankan untuk belinya di Kehl saja. Harga barang selisih 20 sen, kalau belinya banyak juga lumayan jadi penghematan. Waktu kami ke Kehl, kami mampir ke Woolworth (salah satu jaringan supermarket Jerman) untuk belanja makanan dan oleh-oleh yang berupa makanan. Oh ya, kalau mau belanja baju, murahan di Kehl dibandingkan di Strasbourg.
Kalau Strasbourg penduduknya lebih modis dan rumah-rumahnya lebih berwarna, kota Kehl terlihat lebih sederhana. Rumah-rumahnya lebih terlihat kaku dan tidak banyak pernak-pernik. Waktu di Kehl, kami menghabiskan waktu kami untuk berjalan-jalan di sekitaran pusat kotanya: belanja oleh-oleh, melihat-lihat mallnya (CCK atau City Center Kehl), dan tentunya nongkrong di sebuah Cafe Bar untuk minum bir. Iya lah, kapan lagi kami berkesempatan minum bir di Jerman.
The Friedenskirche.
Kami nongkrong di sebuah cafe yang letaknya tepat di dekat The Friedenskirche atau The Church of Peace. Gereja ini didirikan di tahun 1817. Disebut sebagai gereja perdamaian karena sebelum tahun 1914, gereja ini dipakai oleh umat Katholik dan umat Protestant. Jadi, sementara di bagian lain di Jerman kedua aliran keagamaan ini berseteru, di Kehl mereka “terpaksa” harus berbagi gereja karena pemerintahnya waktu itu tidak mengijinkan adanya pembangunan gereja baru. Nantinya di tahun 1914 ada gereja Katholik baru dibangun, yaitu The Church of St. John of Nepomuk.
The Friedenskirche bentuknya sederhana namun cantik. Tidak ada terlalu banyak ukiran. Tahun 2017 rupanya merupakan 500 tahun setelah reformasi Martin Luther, dan sebuah spanduk kecil di gereja ini menunjukkan perayaan mengenang 500 tahun referomasi gereja tersebut. Di seberang gereja ini, ada patung Mother Kinzig yang merupakan salah satu artefak peringatan perang antara Perancis dan Jerman di tahun 1870. Tadinya patung ini ada di sebuah jembatan yang ikut hancur waktu perang tersebut. Untung saja patungnya selamat, jadi masih bisa dinikmati hingga saat ini.
Patung Mother Kinzig. Kafe di sebelah kanan itu tempat kami minum bir.
Pulang ke Strasbourg, kami memutuskan untuk jalan kaki menyeberangi perbatasan Jerman – Perancis dengan melewati jembatan Passerelle des Deux Rives di taman Le Jardin des Deux Rives. Passerelle des Deux Rives adalah jembatan pejalan kaki yang menghubungkan sisi sungai Rhine yang di Jerman dan sisi yang di Perancis. Kedua taman indah yang ada di kedua sisi sungai ini disebut bersamaan sebagai Le Jardin des Deux Rives atau Garten der Zwei Ufer.
Jembatan pejalan kaki yang terkenal ini menjadi tempat jalan yang menyenangkan bagi warga kedua kota yang ingin berkunjung satu sama lain. Tempat ini juga menjadi obyek turisme, terutama untuk yang mau foto-foto cantik tepat di perbatasan Perancis dan Jerman. Oh ya, penduduk lokal juga ada yang duduk-duduk di jembatan ini. Yang paling sering kami lihat saat kami menyeberang jembatan sih, anak-anak sekolah yang main-main sepeda dengan teman-temannya. Sungai Rhein juga masih aktif dilewati kapal. Ada kapal pesiar yang lewat saat kami di situ.
Passerelle des Deux Rives, dilihat dari sisi Perancis.
Inilah titik perbatasan Perancis dan Jerman. Sebelah kiri Perancis, sebelah kanan Jerman.
Yang di depan jauh adalah jembatan rel trem.
Duduk-duduk di taman juga menyenangkan. Tentunya kami menyempatkan diri untuk duduk-duduk di pinggir sungai. Menikmati suasana santai di pinggir sungai Rhine. Duduk-duduk di sisi Jerman sambil memandang ke seberang sungai dan memperhatikan orang-orang yang jalan-jalan di sisi Perancis, dan duduk-duduk di sisi Perancis sambil melihat anak-anak yang sedang bermain di sisi Jerman. (Kami semua jadi orang udik. Ini baru bertama kalinya bisa melewati batas negara jalan kaki. Kalau orang Atambua mungkin sudah biasa ya.)
Untuk yang penasaran dengan obyek turisme di kota Kehl, bisa mengunjungi website resminya di http://marketing.kehl.de/marketing-en/tourismus/Tourist-Sites.php
Dari Le Jardin des Deux Rives yang di sisi Perancis, kami jalan kaki ke terminal trem terdekat dan kemudian kembali ke sekitaran hotel. Waktu kami turun trem di dekat bioskop Vox, kami melihat banyak orang, terutama remaja, antre di depan bioskop. Penasaran, saya pun mengintip-intip. Oh, ternyata sedang ada Festival Européen du Film Fantastique de Strasbourg, alias Festival Film Fantasi Strasbourg. Remaja di seluruh dunia sama-sama menyukai festival film. Jadi ingat waktu kuliah juga antre untuk menonton film di JIFFEST (Jakarta International Film Festival).
Bioskop di Strasbourg.
Setelah muter-muter di sekitaran Kathedral sambil memilih-milih oleh-oleh khas Strasbourg, kami lalu memutuskan untuk makan malam dan tidur. Bersiap untuk petualangan di hari selanjutnya!

(Bersambung.)
Selanjutnya
Artikel ini sudah yang terbaru.
Sebelumnya
Posting Lama

2 Komentar:

  1. Gila, jarak Jakarta - Semarang hanya dalam 2 jam..

    Rugi yah kalau jauh2 ke Eropa eh tidur, karena pemandangan dari kereta pun beda dg negara kita, syg untuk dilewatkan..

    Kehl?? kampung bapaknya cinta laura kali ya itu? :D

    Boleh juga nih kalau ke Perancis nginep di sini, biar sekalian mengunjungi 2 negara :)

    -Traveler Paruh Waktu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bapaknya Cinta Laura? Waduh, saya nggak ngikutin gosip artis.
      Tapi, kalau mau bolak balik perbatasan Perancis Jerman dengan mudah, Strasbourg nih yang paling oke. Gue rekomen banget, soalnya tempatnya juga keren.

      Hapus