20 November 2017

Salah satu sudut di kota tua Strasbourg.
Strasbourg adalah kota tua yang sudah ada sejak sebelum masehi. Bisa dikatakan, usia kota ini sudah lebih dari 2000 tahun, dan artefak-artefak peninggalan di jaman dahulu kala masih dapat dilihat di dalam museum. Walau sekarang kota ini sudah menjadi kota modern, namun area kota tuanya tetap  terawat dan terjaga nuansa “tradisional”-nya. Daerah kota tua Strasbourg adalah pusat kota di jaman dahulu kala, dan sampai sekarang masih menjadi salah satu pusat kegiatan penduduk setempat. Kota tua di Strasbourg, sama seperti kota tua di Jakarta, juga menjadi pusat industri turisme.
Hotel tempat saya menginap terletak tepat di tengah wilayah kota tua. Dari hotel kami, kami dapat berjalan kaki ke tempat tujuan wisata utama Strasbourg seperti Palais Rohan dan gereja Cathédrale Notre-Dame de Strasbourg. Itulah sebabnya kami merasa lebih nyaman untuk bangun siang hari ini. Kan tempat wisatanya dekat, jadi nggak usah bangun pagi-pagi. Lagipula matahari juga baru terbit sekitar jam setengah tujuh. Jam 9 kami baru makan pagi di ruang makan hotel.
Rumah-rumah kuno khas Alsace. Di belakangnya terlihat puncak Katedral Notre-Dame Strasbourg.
Tujuan utama kami berjalan-jalan di kota tua Strasbourg sebenarnya adalah untuk menikmati rumah-rumah khas Alsace yang masih terawat di sekitaran kota tua Strasbourg. Alsace adalah nama suatu area di bagian timur Perancis, yang berbatasan dengan Jerman, dimana budayanya cukup unik karena merupakan perpaduan antara budaya Jerman dan budaya Perancis. Daerah Alsace sendiri memang bolak-balik jadi rebutan penguasa Perancis dan penguasa Jerman sampai dengan jaman perang dunia kedua. Setelah perang dunia kedua berakhir, area Alsace menjadi wilayah negara Perancis. Nah, Strasbourg adalah kota terbesar yang ada di daerah Alsace.
Sebagaimana umumnya kota tua di Eropa, pusat kota adalah gereja. Titik turisme utama Strasbourg adalah gereja Cathédrale Notre-Dame de Strasbourg. Persis di dekat gereja ini, terdapat Palais Rohan, yang dulunya adalah tempat tinggal uskup (kepala gereja setempat). Saat ini Palais Rohan menjadi tempat kegiatan kebudayaan dan museum.
Cathédrale Notre-Dame de Strasbourg.
Kami tidak membuang-buang waktu untuk segera antre masuk ke dalam Cathédrale Notre-Dame de Strasbourg. Antreannya lumayan panjang, karena di weekend seperti ini, turis-turis Eropa juga berjalan-jalan mengunjungi tempat-tempat wisata. Di antara yang antre, ada orang Paris, turis dari Italia, dan turis dari Spanyol. Waktu antre semakin lama, apalagi karena ada pemeriksaan tas, mengingat Perancis kan masih dalam kondisi siaga anti terorisme. Tapi begitu kami masuk ke dalam gereja, seluruh rasa capek karena antre lumayan lama itu terbayarkan. Katedral Notre-Dame Strasbourg ini memang cantik luar dalam. Di luarnya dipenuhi dengan ukiran-ukiran rumit, demikian pula di bagian dalamnya. Ada juga lukisan-lukisan yang menghiasi bagian langit-langit dari dome di atas altar. Di dalam katedral ini, juga ada kapel-kapel yang tidak terbuka untuk umum yang dihiasi dengan lukisan dan patung yang menawan.
Katedral Notre-Dame Strasbourg adalah gereja kuno yang sudah dimulai didirikan sejak tahun 1015, dan secara bertahap dilakukan perombakan dan pengembangan hingga menjadi gereja yang bisa dikunjungi sekarang. Ujung menaranya tingginya adalah 142 meter. Di sekitar tahun 1647 hingga 1874, gereja ini merupakan salah satu bangunan tertinggi di dunia. Selama perang dunia, gereja ini berkali-kali terkena bom dan rusak di beberapa tempat. Perbaikan bangunan sehingga bisa dinikmati keindahannya saat ini baru dilakukan di sekitar tahun 1990-an.
Pillar of Angels dan Astronomical Clock Strasbourg yang selalu ramai dikunjungi turis.
Kami tentu saja juga mengunjungi jam kuno yang ada di dalam katedral ini, yaitu Strasbourg Astronomical Clock. Jam kuno ini dibuat di tahun 1843 dan masih berfungsi sampai sekarang. Sesuai dengan namanya, yaitu Astronomical Clock, jam ini tidak hanya menunjukkan waktu, namun juga berfungsi sebagai kalender (jaman dulu) untuk menentukan hari raya keagamaan. Jam ini menarik karena jam ini memiliki patung-patung yang bergerak-gerak setiap satu jam dan semuanya akan bergerak bersamaan di jam 12 siang. Sementara sekarang hampir di semua mall ada jam yang punya boneka yang bergerak secara otomatis di jam-jam tertentu, di abad ke-19 hanya segelintir gereja yang punya. Jadi Astronomical Clock dengan automata, atau figur yang bergerak secara otomatis, yang beratraksi setiap jam 12 siang ini sudah terkenal seantero Eropa sejak jaman diciptakannya.
Tadinya kami hendak menunggu atraksi patung-patung di jam 12 siang itu. Tapi karena kami lapar dan masih berencana untuk mengunjungi museum-museum, maka kami memutuskan untuk keluar dan makan siang. Selesai makan siang, kami menuju ke Palais Rohan, dimana di situ terdapat tiga museum. Namun kunjungan ke Palais Rohan dan museum-museum dituliskan di artikel selanjutnya ya. Sekarang saya ingin menceritakan keindahan kota tua Strasbourg saja.
La Maison Kammerzell yang paling kiri, dan Office de Tourisme di sebelahnya.
Mengelilingi Katedral, terdapat area yang cukup luas yang dikenal sebagai Place de la Cathédrale. Arti harafiahnya adalah alun-alun katedral. Di sini terdapat banyak penjual oleh-oleh. Di antara gedung-gedung yang mengitari Place de la Cathédrale, terdapat Office de Tourisme (Pusat Informasi Turis), kantor pos, dan juga Palais Rohan. Di dekat Office de Tourisme, terdapat La Maison Kammerzell yang didirikan di tahun 1571. Alun-alun ini adalah tempat berkumpulnya turis dan juga sering menjadi tempat ajang kebudayaan, misalnya street arts atau pengamen jalanan.
Oh ya, karena alun-alun ini dikelilingi oleh bangunan yang relatif tinggi (sekitar 5 lantai) sejak tahun 1500-an, maka sering kali tempat ini menjadi perangkap angin, dimana angin berputar dengan cepat mengelilingi katedral karena tidak bisa keluar dari tempat ini. Sebenarnya ini sesuai dengan Hukum Boyle yah, dimana udara yang berada di tempat dengan volume kecil (dikelilingi gedung tinggi) akan memiliki tekanan yang lebih kuat. Tapi untuk penduduk sekitar di tahun 1500-an, angin kencang yang memutari Katedral di alun-alun ini dipercaya sebagai kuda milik Setan yang menunggui tuannya yang terpenjara di salah satu tiang gereja.
Patung Gutenberg, pencipta mesin cetak yang berpengaruh di masanya.
Strasbourg adalah kota yang bersejarah bagi Eropa. Johannes Gutenberg, pencipta mesin cetak yang disebut sebagai mechanical movable type printing, pernah tinggal di Strasbourg selama 20 tahun. Kabarnya, Johannes Gutenberg menyempurnakan mesin cetak ciptaannya di kota ini. Ciptaan Gutenberg ini nantinya menjadi salah satu penyebab bangkitnya gerakan Protestan oleh Martin Luther. Untuk menghormati Gutenberg, di Strasbourg didirikan monumen Gutenberg, berupa patung yang dibuat oleh David d’Angers di tahun 1840. Buat yang belum tahu, David d’Angers adalah pematung tersohor di Perancis yang patung ciptaannya bertebaran di museum-museum ternama di Perancis. Patung ini terletak di Place Gutenberg yang juga menjadi tempat kegiatan kebudayaan penduduk lokal.
Strasbourg terkenal dengan rumah-rumah tua khas Alsace yang masih terawat selama ratusan tahun. Nah, sebagian besar rumah-rumah itu terdapat di salah satu bagian paling tua dari Strasbourg, yaitu di La Petite France. Daerah ini sudah ditinggali sejak abad ke-16. Di sini terdapat kanal-kanal dan rumah-rumah khas Alsace yang cantik dengan rangka kayu yang terlihat. Petite France sendiri adalah bagian dari sebuah delta kecil yang disebut sebagai Grande Île yang merupakan UNESCO World Heritage Site sejak tahun 1988.
Salah satu bagian dari La Petite France.
Rumah-rumah tua di tepi kanal di La Petite France.
Buat yang suka foto-foto, pasti nggak akan puas kalau cuma diberi waktu satu jam untuk mengelilingi La Petite France. Daerah yang dikenal sebagai contoh kota jaman Medieval yang masih terawat sampai sekarang ini juga merupakan salah satu tempat yang paling instagramable di Strasbourg. Selain ada rumah tua yang cantik, di sini juga ada banyak kafe dan rumah makan yang menyediakan masakan khas Alsace. Oh ya, kalau mau sabar, kita juga bisa melihat bebek berenang-renang di kanal, lho. Grande Île memiliki beberapa kanal yang mengalir diantara rumah-rumah kuno ini.
Tak jauh dari La Petite France, terdapat Barrage Vauban. Barrage Vauban adalah dam yang dibangun sebagai bagian dari perlindungan kota. Tujuannya adalah untuk mengatur permukaan air dan dapat dipakai untuk mengirimkan banjir agar musuh tidak dapat memasuki kota. Pertahanan ini digunakan di tahun 1870 waktu tentara Prussia (sekarang Jerman) menyerang kemari. Barrage Vauban adalah salah satu peninggalan arsitektural penting karena dibangun berdasarkan rancangan Sébastien Le Prestre de Vauban yang merupakan arsitek militer dan pertahanan ternama di tahun 1600-an.
Barrage Vauban yang sekarang juga berfungsi sebagai tempat pameran benda kuno.
Sebagai kota kuno, Strasbourg memiliki banyak gereja yang indah dan tua. Cukup mondar-mandir sekitar dua jam seperti yang kami lakukan, kami sudah melewati sekitar 4 gereja, belum termasuk Katedral Notre-Dame Strasbourg. Saya sendiri sudah tidak bisa mengingat gereja apa saja yang saya lewati. Yang jelas, gereja-gereja tersebut juga memiliki peranan penting dalam sejarah Strasbourg. Misalnya, Gereja Lutheran, yaitu L’Église Saint-Thomas de Strasbourg. Gereja ini tadinya adalah gereja Katholik yang dibangun di abad ke-9. Tetapi setelah hancur akibat kebakaran hebat di tahun 1000-an, gereja ini perlahan-lahan dibangun kembali dan kemudian menjadi gereja Lutheran di tahun 1500-an. Daerah Alsace adalah daerah Perancis yang memiliki sejarah Protestan yang kuat – karena daerah ini bolak-balik dikuasai Jerman.
Malam hari kami masih jalan-jalan keluar masuk tempat penjual oleh-oleh untuk mencari beberapa oleh-oleh. Keesokan harinya kami sudah harus berangkat ke Colmar, jadi ini adalah kesempatan terakhir untuk mencari oleh-oleh khas Strasbourg. Selanjutnya, kami akan berkunjung ke salah satu desa Alsace yang sesungguhnya.
Kemanapun berjalan, pasti ketemu gereja. Yang di depan itu L’Église Saint-Thomas de Strasbourg.
Tapi sebelum sampai ke situ, di artikel selanjutnya saya akan menuliskan kunjungan kami ke Palais Rohan dan beberapa museum di Strasbourg.

(Bersambung.)

8 Komentar:

  1. semoga suatu saat saya juga diberikan kesempatan agar bsa jalan-jalan ke luar negeri, biar bisa melihat indahnya kota ini

    saya kok jadi ingat film India ya lihat foto-fotonya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Film India? Masa, sih. Nehi, nehi ...

      Hapus
  2. Cathédrale Notre-Dame antik banget ya... sampe pada antri gitu mau masuknya.
    Excellent banget liputannya (y)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maklum, bangunan tua jaman gothic. Nggak ada tempat kosong yang bebas dari ukiran, lukisan, atau patung.

      Hapus
  3. Beruntung banget mbak bisa dapet hotel yang deket sama destinasi wisata tujuan. Selain bisa bangun lebih siang, yang pasti kita ngga bakal kecapean buat jalan jauh.

    Bangunan gerejanya masih bergaya gothic banget ya? *Bener ngga sih, gotik? Hehe. Impian banget bisa foto-foto dengan latar bangunan berkanal macam foto diatas. Sayang, kalau di Indonesia kayaknya masih banyak yang kotor -___-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, iya itu gereja bergaya gothic. Kanal kotor di Indonesia? Kalau di Jakarta sih memang susah bersihnya. Tapi kalau jalan ke desa-desa, sungai-sungai masih bersih kok. Tergantung kita lagi berkunjung ke mana, sih.

      Hapus
  4. Wow seru banget mba bisa plesiran di eropa, saya jadi pengen juga ikut ke eropa dan menceritakan seluruh pengalaman lewat tulisan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pasti bisa. Semua ada waktunya, kok. Btw, jalan-jalan di pelosok Indonesia juga banyak serunya lho.

      Hapus